SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 24 SIAPA DIA


__ADS_3

Aku terus berlari hingga sampai ke meja kami. Lalu segera memeluk mas Arka yang sedang menyeruput kopi. Hingga kopinya tumpah.


Nafasku ngos-ngosan. Mas Arka segera menenangkan aku. Dan mendudukan aku di kursi sebelahnya.


Yola memberikan aku air putihnya. Aku segera meminumnya. Aku pun mengatur nafasku lagi. Lalu menyenderkan badanku di kursi.


"Ada apa sayang?" tanya mas Arka, sambil tangannya mengelus lenganku.


"Iya, ada apa Ar, kamu lari-lari kayak di kejar setan gitu. Gak sadar apa, kalau kamu lagi hamil?" tanya Yola juga.


Aku menghela nafasku. Ya, aku memang tadi lari tunggang langgang, tanpa memperdulikan perutku yang kini sedang ada isinya.


Sebelum menjawab pertanyaan mereka, aku menengok dulu kekanan dan kekiri. Aku takut, kalau laki-laki itu ada di sekitar kami.


Aku menelan ludahku yang terasa kering. Aku mengambil air putih milik Yola lagi, lalu meminumnya, untuk membasahi tenggorokanku.


"Tadi...saat aku...keluar dari toilet... aku melihat... laki-laki yang tadi menolong kita di jalan. Dia berdiri di depan musholla...dan menatapku tajam" ucapku terbata-bata.


Lalu aku meraih air putih itu lagi, dan menenggaknya sampai habis. Yola melotot ke arahku. Entah karena terkejut mendengar ceritaku. Atau karena minumannya aku habiskan.


"Yang bener kamu Ar?" tanya Yola, kelihatan kurang yakin.


Aku menganggukkan kepala. Dan menggenggam tangan mas Arka erat. Aku pun kembali menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Mungkin kamu salah lihat sayang. Orang itu kan tadi pergi menjauh. Gak mungkin tiba-tiba dia ada disini" ucap mas Arka, berusaha menenangkanku.


Aku terdiam mendengar ucapan mas Arka. Ada benarnya juga. Mungkin aku salah lihat.


Tapi aku masih sangat mengingat wajahnya yang agak menyeramkan itu. Dan tadi dia menatapku tajam.


Aku berusaha menghalau bayangan menakutkan itu. Dalam hati berharap, semoga memang aku yang salah melihat.


Yola yang tadinya mau ke toilet juga, jadi mengurungkan keinginannya. Sepertinya dia juga takut bertemu dengan laki-laki itu.


"Ayo, katanya tadi kebelet. Ntar ngompol di mobil" ajak mas Deni, sambil menggoda Yola. Yola menggelengkan kepalanya. Mungkin dia lebih baik menahan pipis, daripada harus ketemu lagi dengan laki-laki itu.

__ADS_1


Mas Deni bangkit dari duduknya, dia bilang mau ke toilet juga. Katanya, siapa tau ketemu orang itu lagi, dia akan mengucapkan terima kasih, karena tadi sudah di tolong.


Kami melanjutkan menikmati pesanan kami. Aku tadi udah di pesankan jeruk hangat oleh mas Arka. Karena aku lagi hamil, mas Arka melarangku minum kopi.


Mas Arka mencoba memecah ketegangan, dengan banyak bercerita. Ada aja yang di ceritakannya, untuk menghibur aku dan Yola.


Dari kejauhan, aku melihat mas Deni berjalan dengan wajah di tekuk. Ada apa dengannya?


Dia segera menghampiri kami, dan duduk kembali di kursinya. Wajahnya tidak secerah tadi, saat hendak ke toilet.


"Ada apa beb?" tanya Yola. Pastinya penasaran melihat wajah suaminya berubah.


"Gak apa-apa beb. Cuma capek aja" jawab mas Deni. Lalu menyeruput kembali kopinya.


Tapi aku merasa ada yang di sembunyikan oleh mas Deni. Tadi waktu pamit ke toilet, dia masih senyum-senyum menggoda Yola.


Kami semua terdiam. Bahkan mas Arka yang tadi banyak bicara pun, ikut terdiam.


Sampai akhirnya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Aku berjalan sambil memeluk lengan mas Arka erat. Pandanganku lurus ke depan. Gak berani lagi menengok kanan kiri.


Wajahnya memang terlihat sedikit pucat. Yola pun membukakan pintu tengah untuk suaminya.


Kami melanjutkan perjalanan dalam keheningan. Untung sebentar lagi, kami akan memasuki jalan tol. Jadi lebih aman buat kami. Tidak harus melewati jalanan sepi yang menegangkan.


Kami menghela nafas lega, ketika mobil kami mulai memasuki gerbang tol.


-----------------------------------------


Kami sampai di Jogja. Sekitar jam sepuluh malam. Badan kami sudah terasa sangat lelah. Kami segera mencari alamat hotel yang udah di pesan oleh mas Deni via online.


Setelah kami sampai di alamat hotel itu, kami semua tercengang. Penampakannya jauh dari ekspektasi kami.


Kami kira, kami akan memasuki sebuah hotel berbintang, yang modern. Dengan fasilitas yang memanjakan. Seperti yang sering aku lihat di internet.


Ternyata hotel itu, berupa bangunan yang cukup tua. Dan lebih menyeramkan dari restauran, tempat kami tadi istirahat.

__ADS_1


"Gak salah alamat kita ini?" tanya mas Arka.


"Alamat dan nama hotelnya sama kok Ka" jawab mas Deni.


Kami saling berpandangan. Aku menggelengkan kepala ke arah mas Arka. Bayangan laki-laki menyeramkan yang tadi aku lihat di restauran itu, melintas lagi.


Aku gak mau, tiba-tiba aku melihatnya lagi di sini. Walaupun itu sangat tidak mungkin.


"Beb, aku gak mau nginap disini" ujar Yola pada mas Deni.


Mas Deni pun kelihatan bingung. Bagaimanapun dia sudah membayarnya penuh,dua kamar, untuk tiga hari ke depan.


Mas Deni bilang, dia melihat foronya disebuah layanan online, tidak begini. Walaupun bukan termasuk hotel berbintang, tapi hotel ini menawarkan suasana alami. Khas jogja.


Foto itu menampilkan ruangan-ruangan dengan nuansa tradisional. Dengan pegawai-pegawai hotel yang mengenakan busana tradisional. Makanan yang akan di sajikan pun serba masakan jawa. Bukan seperti di hotel berbintang, dengan makanan ala-ala western.


Pokoknya semua disajikan dengan sentuhan jawa yang eksotis. Begitu penjelasan dari mas Deni.


Kami kembali berpandangan. Dan aku tetap menggelengkan kepala. Karena yang aku lihat sekarang, bukan hotel dengan nuansa jawa, tapi bangunan tua yang menyeramkan.


Yola pun menolaknya. Dia bersikeras mencari hotel lain aja. Walaupun harus membayarnya lagi.


"Ya udah bro, kita cari hotel lain aja. Daripada kita nanti gak bisa tidur. Nanti biar aku yang bayar hotelnya" ucap mas Arka mengalah.


Ya memang benar. Kita bakalan gak bisa tidur kalau harus menginap di hotel itu. Padahal kita sudah sama-sama capek. Kita buruh istirahat.


"Gimana bro?" tanya mas Arka lagi. Karena mas Deni masih diam aja.


"Beb, pokoknya aku gak mau kalau menginap disini. Di Jogja kan masih banyak hotel lain beb. Kita cari lagi aja. Pasti ada" Yola tetap ngotot menolak.


Aku berfikir, kenapa mas Deni kelihatan bingung ya? Wajahnya juga kelihatan murung. Apa dia memang benar-benar capek?


Atau karena, dia melihat laki-laki menyeramkan itu juga, di reatauran tadi?


Kami masih saling diam. Belum ada yang bersuara lagi. Masih dengan pikiran masing-masing. Sampai tiba-tiba...kami melihat seorang laki-laki, mengenakan jas hujan berdiri di depan pintu hotel itu.

__ADS_1


Serempak kami berteriak. Dan mas Arka segera memutar balik mobilnya. Menekan gas dan melesat, meninggalkan bangunan tua itu.


__ADS_2