SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 83 SEPUPU YANG MAKIN MENYEBALKAN


__ADS_3

"Sudah makan siang?" tanya Mila, saat aku baru saja sampai di mejaku.


"Sudah" jawabku sambil duduk.


"Enak banget bisa makan siang sama bos. Dia kan orangnya jutek banget. Susah ditaklukan" ucap Mila.


Aku menatap Mila. Susah ditaklukan? Apa maksud Mila? Apa Mila pernah ingin menaklukan Doni? Apa Mila tidak tau kalau Doni memiliki istri?


"Iya. Aku pernah ingin menaklukan bos Doni. Tapi dia tidak pernah merespon. Bahkan malah semakin menjauhiku." Mila seperti tau isi kepalaku.


"Aku tau kalau bos punya istri. Aku juga tidak bermaksud merusak rumah tangganya. Hanya sekedar have fun aja. Kan seru tuh kalau kita bisa main kuda-kudaan sama bos" ucap Mila lagi sambil terbahak.


Gila! Cuma sekedar have fun. Aku sih ogah. Karena aku juga masih menghargai suamiku, meski dia sudah tidak bisa berfungsi lagi.


"Gila ya aku?" Mila menertawai dirinya sendiri.Aku cuma geleng-geleng kepala saja.


"Tapi asik lho, Ar. Jangan ngaku cantik kalau tidak bisa menaklukan laki orang. Hahaha." Tawa Mila menggema, sampai seorang security menatap kami berdua.


Mila lalu menutup mulut dengan telapak tangannya.


"Kamu sih berisik" bisikku. Tidak enak kalau kedengeran si security itu lagi.


Mila memang asik orangnya. Tapi kadang suka asal ceplos kalau bicara. Bahkan terlalu vulgar menurutku.


Doni keluar dari lift. Aku pikir dia mendengar tawa Mila tadi. Walau pun itu tidak mungkin.


"Ar, tolong kalau ada yang mencariku, bilang aku lagi keluar" ucap Doni kepadaku.


"Baik, Pak" sahutku. Lalu Doni meninggalkan loby. Entah mau kemana dia. Aku hanya memandang punggungnya hingga menghilang.


Mila menatapku. Aku hanya melirik sekilas saja pada Mila.


"Kelihatannya bos Doni akrab banget sih sama kamu, Ar?" tanya Mila.


"Iya" jawabku singkat.


"Apa kalian pernah saling kenal sebelumnya?" tanya Mila lagi.


Bukan cuma saling kenal. Tapi kami pernah saling suka. Pernah merasakan ciuman Doni yang hangat, saat sekolah dulu.


"Dia teman sekolahku dulu" sahutku. Aku tak mau menceritakan pada Mila tentang masa lalu kami.


"Owh. Pantesan" sahut Mila.


Tak lama, datang seorang perempuan cantik dengan dandanan super seksi.


Aku jadi ingat dengan sahabatku, Yola. Cara berpakaiannya persis Yola. Penampilannya juga mirip. Rambut keriting panjang berwarna coklat. Dan make up yang tebal.


Dia mendatangi meja resepsionis. Mila yang menyambutnya, karena aku sedang sibuk membuka laptopku. Tepatnya laptop hotel.

__ADS_1


"Selamat siang, Bu Doni. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mila.


Aku menatap perempuan itu, karena Mila memanggilnya dengan nama bu Doni.


"Saya mau ketemu suami saya!" sahutnya ketus.


"Maaf, Bu. Pak Doni nya barusan saja keluar" sahut Mila dengan ramah.


"Tadi saya sudah mengabarkan padanya, kalau saya akan mampir ke sini!" ujar perempuan yang mengaku istrinya Doni itu, masih dengan nada ketus.


"Maaf, Bu. Tadi Pak Doni keluar. Tapi maaf, kami tidak tau kemana." Aku yang gemas karena mendengar nada ketusnya, ikut menjawab.


"Kamu karyawan baru, ya?!" tanyanya padaku. Aku mengangguk sambil tersenyum.


Dia menatapku dengan sinis. Ih, judes amat tuh orang. Batinku.


Lalu dia meninggalkan meja kami, dan menuju ke sofa. Lalu dia terlihat menghubungi seseorang dengan ponselnya.


Tak lama, dia pun pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun pada kami.


"Tadi istrinya Doni?" tanyaku pada Mila.


"Iya. Judes banget kan? Makanya aku sebel banget. Kalau saja aku tidak kerja di sini, udah aku tabokin dia!" jawab Mila ketus.


"Eh, ketusnya sama dia dong. Jangan sama aku" sahutku.


"Iya maaf. Habisnya aku kesel banget. Itu juga salah satu alasanku pingin menaklukan suaminya. Biar kapok tuh perempuan!" Mila masih kesal saja.


"Karena pak Doni ganteng abis. Aku penasaran gimana rasanya" jawab Mila pelan. Kali ini sepertinya dia tidak mau dipelototin security lagi.


"Memangnya permen pake rasa segala" sahutku.


"Iya. Permen lolypop!" Mila lalu tertawa pelan sambil menutup mulutnya lagi.


Emang dasar gila nih orang. Aku menggelengkan kepalaku lagi.


Aku dan Mila menunggu meja resepsionis sampai jam empat sore. Lalu akan digantikan oleh resepsionis laki-laki. Karena shif selanjutnya sampai tengah malam.


Saat aku dan Mila baru saja berkemas, mas Teguh sudah ada di depan meja resepsionis.


Aku menatapnya dengan kesal. Kenapa harus masuk sampai sini sih? Kan bisa nunggu di jalan depan hotel atau di parkiran.


"Sudah selesai kan?" tanya mas Teguh.


Mila menyenggol tanganku. Karena aku cuek saja. Aku memberi kode pada Mila untuk diam saja. Mila pun hanya menatapku patuh.


"Tunggu saja di parkiran. Sebentar lagi aku ke sana" ucapku pada mas Teguh.


Dan tumben-tumbenan dia menurut. Aku bernafas dengan lega.

__ADS_1


"Suami kamu? Atau pacar?" tanya Mila, saat mas Teguh sudah tidak terlihat lagi.


"Sepupu suamiku" jawabku. Lalu aku beranjak meninggalkan mejaku, diikuti oleh Mila.


"Baik banget sepupunya" ucap Mila.


Baik dari mananya? Yang ada juga menyebalkan.


"Sudah punya bini belum?" tanya Mila lagi sambil berjalan ke parkiran.


Mila juga ikut ke parkiran, karena katanya dia pulang dengan motornya.


"Duda. Istrinya sudah meninggal dunia" sahutku. Aku makin bete karena mas Teguh menungguku sambil berdiri menyandar di mobilnya.


Mata Mila yang memang suka jelalatan kalau melihat lelaki, langsung tertuju pada mas Teguh.


"Kenapa? Mau?" tanyaku iseng.


"Boleh" sahut Mila dengan enteng.


"Ganteng juga" ucap Mila lagi berbisik di dekat telingaku.


Dasar Mila, mata keranjang. Tidak bisa melihat lelaki ganteng dikit.


"Ambil!" sahutku. Lalu meninggalkan Mila sendirian.


Mas Teguh membukakan pintu mobil untukku, seperti biasanya. Dan seperti biasanya juga aku naik tanpa berkata apa-apa.


Saat mobil mas Teguh mulai meninggalkan area hotel, aku melihat mobil Doni yang terbuka kacanya, memasuki area hotel. Rupanya dia baru kembali.


"Lihat siapa?" tanya mas Teguh, karena aku menatap lama ke arah mobil Doni.


"Bukan siapa-siapa" jawabku. Lalu aku buang pandanganku ke samping.


Kesal aku sama mas Teguh, dia selalu saja mengikutiku dengan alasan yang tidak jelas.


Bahkan mas Arka yang jadi suamiku pun, dulunya tidak gitu-gitu amat.


"Capek?" tanya mas Teguh, sok perhatian. Namanya kerja dimana-mana juga pasti capeklah.


"Biasa saja" jawabku.


"Kalau capek, nanti dirumah aku pijitin. Kakimu pasti pegal seharian pakai sepatu hak tinggi" ucapnya lagi.


Mijitin kakiku? Gila kali nih orang. Bukan muhrim. Batinku jengkel.


"Nanti bi Yati saja yang mijitin. Kamu urus mas Arka saja" sahutku.


Ya, jika bukan karena mas Arka, aku tak sudi dekat-dekat dengan manusia aneh ini.

__ADS_1


Sayangnya aku masih membutuhkannya untuk mengurus suamiku yang belum juga sembuh.


Aku selalu berdoa semoga mas Arka sembuh kembali, dan aku bisa terlepas dari sepupunya yang makin menyebalkan ini.


__ADS_2