
Hari ini, hari pertamaku kerja. Pagi-pagi aku sudah bersiap sebelum anakku terbangun.
Aku menyiapkan semua keperluan anakku selama aku tinggal kerja.
"Bi, jangan lupa nanti susunya jangan sampai telat. Biar Arya tidak rewel" ucapku pada bi Yati. Aku memang lebih suka memanggil nama anakku Arya. Biar lebih simple.
"Iya, Bu. Den Arya tidak pernah rewel kok" sahut bi Yati.
Lalu aku segera sarapan. Di sana sudah ada mas Teguh. Dia duduk di kursi makan dengan tenang. Dia juga sudah kelihatan rapi.
Biasanya jam segini, mas Teguh sedang menemani suamiku. Dia akan mendorong kursi roda mas Arka, dan membawanya berjalan-jalan.
Apa dia juga akan berangkat pagi? Aku malas bertanya. Aku hanya diam menikmati sarapanku.
"Aku akan mengantarmu" ucap mas Teguh sambil menyuap makanannya.
Aku hanya diam. Pura-pura asik dengan makananku. Padahal sebenarnya aku sudah tak nafsu makan lagi.
"Arka sudah bangun. Sudah aku mandikan juga" ucapnya lagi.
"Iya. Makasih" sahutku datar tanpa sedikit pun menatapnya.
Aku memang belum melihat mas Arka pagi ini. Bukan tidak sempat, tapi aku malas bertemu dengan mas Teguh.
Selesai makan, aku kembali ke kamarku untuk mengambil tasku. Lalu aku pamit pada bi Yati, dan menitipkan anak dan suamiku padanya.
Aku berjalan menuju kamar yang dipakai mas Arka tidur. Aku lihat dia masih terbaring di tempat tidur. Tapi sudah rapi.
"Mas, aku pamit berangkat kerja ya. Ini hari pertamaku kerja. Doakan aku biar semuanya berjalan lancar."
Lalu aku mencium kening suamiku dan mengambil tangannya untuk menciumnya.
Saat aku berbalik hendak keluar kamar, mas Teguh sudah berdiri di pintu kamar. Dia menatapku tajam.
Seperti ada rasa tidak suka melihat aku berpamitan pada suamiku. Aku mengabaikannya dan berjalan melewatinya.
Mas Teguh mengikutiku dari belakang. Aku mendengar suara langkahnya.
Di luar masih agak gelap. Waktu masih menunjukan jam enam kurang. Aku memang akan memulai jam kerjaku pagi.
Jam enam nanti aku akan menemui pak Budi sesuai instruksi Doni, pimpinan di hotel tempatku bekerja.
Mas Teguh membukakan pintu mobil untukku. Dengan malas aku naik ke mobilnya.
"Kenapa mesti pagi sekali kamu berangkat?" tanya mas Teguh, saat kami sudah di dalam mobil dan dia sudah melajukannya.
"Aku harus bertemu pak Budi dulu, yang akan memberikan pengarahan. Sesuai instruksi pimpinan hotel" jawabku tanpa menyebutkan nama Doni.
__ADS_1
Aku malas menjawab kalau dia bertanya tentang siapa Doni.
"Pimpinanmu lelaki atau perempuan?" tanyanya. Ini yang bikin aku malas menjawab. Pasti dia akan curiga atau bertanya lebih banyak lagi.
"Laki-laki. Kenapa?" sahutku dengan ketus. Aku juga pingin tau alasannya bertanya hal yang tidak penting.
"Masih muda?" tanyanya lagi. Aku memutar mataku dengan malas.
"Iya. Seumuran denganku." Ups, aku keceplosan. Pasti dia akan bertanya lagi.
"Oh. Pasti ganteng ya orangnya?" Pertanyaan yang sangat tidak bermutu, menurutku.
"Iyalah. Masa laki-laki cantik" sahutku asal.
Dia malah tertawa. Kelihatannya dia bahagia bisa bicara banyak padaku. Sementara aku menahan rasa kesalku.
"Bisa saja kamu. Pagi-pagi sudah melucu" sahutnya setelah puas tertawa.
Aish, aku semakin malas mendengar komentarnya. Siapa yang melucu? Dia pikir aku pelawak?
Jalanan belum terlalu ramai, hingga aku sampai di hotel tempatku akan bekerja tidak terlalu lama.
Syukurlah, aku tidak perlu berlama-lama dengan manusia menyebalkan ini.
Aku segera turun dari mobil, tanpa berpamitan. Dan bergegas masuk ke dalam hotel.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk!" sahut sebuah suara dari dalam ruangan.
Aku membuka pintu ruangan itu. Terlihat seorang lelaki yang masih cukup muda, dengan pakaian rapi menyambutku dengan senyuman.
"Selamat pagi, Pak" sapaku.
"Pagi. Bu Aryani ya? Eh, saya panggil Bu atau mbak saja?" tanyanya sambil tetap tersenyum.
"Apa saja, Pak" sahutku sopan.
"Bu saja ya? Kita kan sedang bekerja" sahutnya, lalu mulai bertanya tentang identitasku.
Entah pertanyaannya berkaitan dengan tugasnya memberi pengarahan padaku atau tidak. Bagiku sama saja, yang penting tujuan utamanya tidak terlupakan.
"Silakan ikuti saya ke loby" ucapnya, lalu berjalan keluar ruangannya menuju ke loby hotel.
__ADS_1
Di loby aku diperkenalkan dengan resepsionis laki-laki yang mendapat shif sebelumku.
"Nanti akan ada seorang lagi yang akan menemani. Namanya Mila" ujar pak Budi.
"Nanti bu Aryani bisa bertanya pada Mila, kalau ada yang belum paham" lanjutnya.
"Oke. Selamat bekerja. Semoga betah bekerja di sini" ucap pak Budi lagi, lalu keluar dari hotel. Entah dia mau kemana.
Aku menemani pak Tio dulu sebelum jam kerjaku dimulai pukul tujuh nanti.
Pak Tio orang yang sangat ramah dan baik. Dia tidak pelit ilmu. Apa yang aku tanyakan tentang dunia resepsionis, dijelaskannya dengan detail.
"Kalau shif malam, memang hanya sendirian. Yang shif siang baru berdua" jawabnya saat aku bertanya mengapa dia tak ada yang menemani.
"Apa saya juga akan kebagian shif malam?" tanyaku.
"Biasanya sih tidak. Aku dan pak Dimas yang bergantian shif malam" jawabnya.
Lalu kami terlibat pembicaan yang tak serius. Hanya ngobrol santai saja.Sampai kemudian, orang yang bernama Mila datang.
Dia seorang perempuan muda dengan penampilan sangat menarik menurutku. Wajahnya yang cantik, dipoles dengan bedak yang tebal.
Dandanannya sangat perfect. Beda sekali denganku yang sederhana.
Aku tidak memakai sepatu berhak tinggi seperti dia. Rok yang aku pakai pun tidak terlalu pendek dan juga tidak terlalu ketat.
"Pagi Mila. Kenalkan ini Aryani, yang akan menemani kamu di sini. Aryani, kenalkan ini Mila. Perempuan paling seksi di hotel ini" ucap pak Tio sambil tertawa.
Mila mencibirkan bibirnya lalu menyalamiku.
"Selamat datang di meja resepsionis, Ar...Aryani ya?" Mila sepertinya belum mengingat namaku dengan baik.
"Iya, Aryani" sahutku. Lalu pak Tio pamit untuk pulang.
"Para bidadari cantik, pangeran akan pulang dulu ya? Capek dan ngantuk" pamit pak Tio pada kami.
"Pangeran kodok!" sahut Mila. Lalu pak Tio berlalu dari loby hotel.
Aku mulai belajar dari Mila tentang dunia resepsionks. Dan Mila yang dandanannya cetar membahana pun tak pelit ilmu.
Dengan telaten dia menjawab setiap pertanyaan yang aku ajukan.
Kami pun mengobrol soal pribadi dan banyak obrolan seputar perempuan.
Mila ternyata bukan cuma cantik, tapi juga orang yang mudah bergaul. Seperti halnya pak Tio, yang sering mengajak becanda.
Saat aku meoleh ke arah luar hotel, aku masih melihat mobil mas Teguh masih berada di posisinya tadi memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Ngapain dia masih disini? Sedang menunggu orang, atau mau menunggui aku bekerja? Wah, gak beres nih orang. Batinku.