SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI

SUAMIKU STROKE tapi tidak MATI
Bab 141 ANAKKU AKAN DIBAWA KE LUAR NEGERI


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Roni menerima pesan dari polisi yang menangani kasus hilangnya anakku.


"Siapa, Ron?" tanya Sarah melihat wajah suaminya yang tegang.


"Dari kepolisian."


Aku dan Sarah langsung diam, fokus mendengarkan omongan Roni.


"Mereka mengabarkan kalau mereka mau membawa Aryaka ke luar negeri," lanjut Roni.


"Hah...!" Aku kaget tiada terkira. Berarti fix, Yola dan Deni ikut terlibat. Dan ini bisa jadi kasus penculikan.


"Lalu gimana, Ron?" tanya Sarah.


"Kita sekarang diminta ke bandara. Polisi sudah menahan mereka," jawab Roni.


Bergegas aku ke kamar untuk mengambil tasku. Sarah pun ke kamarnya sendiri untuk berganti pakaian.


"Ar! Kamu enggak ganti pakaian?" tanya Sarah saat aku melewati kamarnya.


"Enggak ada waktu, Sar. Kamu saja cepetan," jawabku. Karena pasti akan memakan waktu lama kalau Sarah harus mencarikan pakaian buatku.


Aku dan Roni menunggu Sarah di teras.


"Aku siapkan mobilnya dulu," ucap Roni, lalu masuk ke mobilnya.


Sarah tak juga keluar. Entah apa yang dilakukannya di kamar. Roni sampai membunyikan klakson berkali-kali.


Setelah Sarah keluar dan mengunci pintu, aku mengikutinya masuk ke mobil.


"Lama amat sih? Kita ditunggu polisi. Bukan mau ikut ke luar negeri," omel Roni.


"Aku nyiapin berkas-berkasnya Aryaka. Biar ķita bisa membuktikan kalau mereka telah menculik Aryaka," sahut Sarah tak mau disalahkan.


"Ooh. Kirain tidur dulu." Roni tertawa.


Sarah merasa kesal karena tak ada niatan Roni meminta maaf telah menuduhnya.


"Sembarangan aja, nuduh orang!" Sarah memalingkan pandangannya ke samping.


"Yah, dia ngambek!" Roni meraih wajah Sarah. Tapi tangan Roni ditepisnya.


"Ngambeknya dipending dulu, Sar. Kita fokus ngejar mereka. Takutnya mereka bisa meyakinkan polisi, dan kabur ke Australi," ucapku menengahi.

__ADS_1


"Iya tuh, Ar. Sarah sensi. Lagi dapet kali! Hahaha." Roni malah semakin tergelak.


"Kok, kali? Memangnya semalam kalian enggak...?" Aku ingin meledek tapi enggak enak meneruskan kalimatku.


"Boro-boro gituan. Tidurnya madep tembok!" sahut Roni.


"Siapa suruh kamu enggak mandi!" Sarah malah semakin sengit.


"Kalau aku mandi, entar ilang gantengnya. Hahaha." Roni terus saja tertawa. Entah senang atau untuk menutupi ketegangannya.


Tadi waktu nunggu Sarah di teras, wajah Roni terlihat sangat tegang. Apalagi saat Sarah enggak juga keluar. Emosinya seperti akan meledak. Dia membunyikan klaksonnya dengan keras berkali-kali.


"Kamu ngapain sih Ron, dari tadi ketawa mulu. Nyebelin tau!" ucap Sarah dengan kesal.


"Biar enggak tegang, Sayang. Kamu juga biar enggak manyun terus. Kita akan menghadapi masalah besar. Yang kita hadapi bisa-bisa bandit!" sahut Roni.


"Hah...? Bandit?" tanyaku dari belakang.


"Ya, siapa tau? Banyak lho orang yang berlagak bisnis apaan, tau-tau membawa orang untuk di jual di luar negeri. Yang disebut human trafficking atau perdagangan manusia," sahut Roni.


Aku jadi merinding mendengarnya. Masa iya, Yola dan Deni melakukan bisnis seperti itu. Apalagi pada mas Arka yang jelas-jelas masih saudara sepupu Deni.


"Enggak usah melebih-lebihkan deh. Apalagi nakut-nakutin," protes Sarah.


"Siapa yang melebih-lebihkan dan nakut-nakutin? Aku kan bilang banyak orang yang melakukan seperti itu," sahut Roni.


"Enggak, sebelum ada bukti," jawab Roni.


"Deni sepupunya mas Arka, Ron. Dia anak kakak atau adik bapak mertuaku, aku lupa. Apa mungkin dia bisa sejahat itu pada sepupunya sendiri?" Bukan maksudku membela Deni, tapi hubungan mas Arka dan Deni selama ini sangat baik. Meski mereka pernah terpisah berpuluh-puluh tahun.


"Kamu ingat Teguh, Ar?" tanya Roni.


"Iya. Aku tak mungkin lupa dengan kelakuan bejat dan jahatnya," jawabku. Tapi aku belum bisa mengerti maksud pertanyaan Roni sebenarnya.


"Kamu tau hubungan suami kamu dengan Teguh, kan?" tanya Roni lagi yang masih membuatku bingung.


"Maksud kamu gimana, Ron?" tanyaku.


"Iya, nih. To the point aja. Jangan muter-muter gitu!" Sarah protes lagi.


"Oke. Oke. Mereka sepupuan juga, kan? Bahkan selalu bersama sejak kecil?" tanya Roni.


"Iya." Aku masih belum paham arah pembicaraan Roni. Karena aku masih menilai sikap Deni jauh lebih baik dari mas Teguh.

__ADS_1


"Mereka saudara sepupu. Selalu bersama sejak kecil. Tapi setelah dewasa, Teguh tega melakukan kejahatan pada kalian. Hanya karena dia ingin menguasai semua harta peninggalan orang tua Arka. Lalu kenapa enggak mungkin juga Deni melakukan hal yang sama? Dan tujuan mereka tetap sama. Uang." Roni menjelaskan panjang lebar.


"Kami sudah tak memiliki apapun, Ron. Semua harta peninggalan mertuaku habis oleh mas Teguh. Apalagi yang dicari oleh Deni?" Aku memajukan tubuhku. Agar lebih jelas berbicaranya.


"Rata-rata kasus human trafficking terjadi bukan untuk meminta uang tebusan. Karena biasanya justru korban dari orang yang butuh uang atau perlindungan. Setelah diiming-imingi uang atau perlindungan yang mereka butuhkan, masuklah mereka ke dalam perangkap sang bandit," sahut Roni.


"Lalu?" Aku makin tertarik dengan omongan Roni.


"Para bandit itu membawa mereka ke luar negeri dan menjualnya di sana," lanjut Roni.


"Untuk apa?" tanyaku dengan bodohnya. Aku tak pernah berfikir ada orang yang tega menjual orang lain, apalagi saudaranya sendiri.


"Buat sate! Hahaha." Roni tertawa terbahak-bahak.


Jalanan di depan kami macet parah. Mungkin itu yang membuat Roni stres dan akhirnya mengajak bercanda.


"Ah kamu, Ron. Aku pikir kamu serius. Ternyata cuma bercanda." Aku menyandarkan kepalaku lagi.


"Ar, coba deh kamu googling. Baca soal human trafficking itu. Kamu akan tau kemungkinan apa yang akan dilakukan para bandit terhadap korban-korbannya. Kalau aku yang ngomong, nanti dianggap cuma nakut-nakutin," ucap Roni.


Aku pun menuruti ucapan Roni. Aku ketik human trafficking dan munculah keterangan tentang itu.


Tak puas membaca satu artikel, aku baca artikel lainnya. Dan jantungku berdetak sangat cepat. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku, meski Roni menyalakan ac.


"Bagaimana?" tanya Roni. Entah pada siapa, karena Sarah pun ikut googling juga.


"Mengerikan!" jawab Sarah.


"Ron, bisa lebih cepat enggak?" tanyaku. Padahal jelas-jelas jalanan macet parah.


"Itu yang bikin dari tadi aku bawa ketawa. Kita sudah terjebak di kemacetan. Mau bagaimana lagi? Maju susah, mundur enggak bisa," jawab Roni.


"Kamu sudah hubungi pihak kepolisian, kalau kita sedang otewe dan kejebak macet?" tanya Sarah pada Roni.


Roni menggeleng.


"Kamu saja yang menghubungi. Tuh, pakai hapeku. Diketik aja." Roni menunjuk hapenya yang diletakan diatas dashboard.


Tanpa menunggu diperintah dua kali, Sarah langsung mengambil hape Roni dan mengirimkan pesan chat ke pihak kepolisian.


Tak lama, ada balasan dari nomor itu.


"Apa katanya?" tanya Roni sambil terus fokus menyetir.

__ADS_1


"Mereka masih menunggu kita," jawab Sarah.


Hhh! Aku bisa bernafas agak lega. Setidaknya masih ada kesempatan untuk menyelamatkan anakku.


__ADS_2