
🍂 Semangat Rumi kau pasti bisa...kau tidak boleh cengeng kau akan menjadi perempuan yang kuat tidak apa tubuhmu lemah asalkan hatimu kuat maka dengan sendirinya tubuhmu akan mendorongmu kepada kekuatan sejatimu...semangat 🍂
* Pasar Tradisional *
Terlihat seorang anak kecil perempuan berusia sekitar 5 tahun dengan digandeng seorang anak laki-laki yang baru berusia sekitar 10 tahun.
mereka berjalan menelusuri sebuah pasar tradisional. dengan tawa senda gurau mereka sangat menikmatinya suasana terik ini. ya mereka tinggal di daerah kumuh pinggiran kota . disekitar pasar itu, setiap harinya mereka setelah pulang sekolah akan mengirimi bekal untuk kedua orang tuanya yang berjualan di pasar tradisional tersebut.
Setiap pagi hingga sore orang tua dari kedua anak itu berdagang berbagai bumbu dapur mereka tidak memiliki tempat sendiri, melainkan mereka menyewa dari seorang bos didaerah itu (orang yang punya wilayah)
pagi sebagai sarapan sang ibu akan membeli sarapan seadanya. sedangkan untuk siang dan sore setiap pulang sekolah kakak laki-laki yang berumur 10 tahun akan memasak ,ya karena segala persediaannya telah ibu siapkan di dapur.
mereka hidup saling bergotong royong, saling mendukung dan membantu satu sama lain.
Hari ini adalah hari senin sepulang sekolah seperti biasa Rumi dan Ardi membawakan bekal nasi beserta lauk seadanya yang dimasak oleh sang kakak kesayanganya Ardi.
sedangkan Rumi belum masuk sekolah ia hanya akan mengikuti kakaknya kesekolah ia akan menunggu barang dagangan yang didagangkan kakak ardi (layang-layang yang kak Ardi bikin sendiri dan dititipkan diwarung-warung kecil disekitar tempat tinggalnya). dan karena hari ini temannya banyak yang memesan jadi Ardi membawa lebih.
mereka akan membantu sang ibu dan ayah sepulang sekolah yang berjualan di pasar dari siang hingga menjelang petang hari.
"Ibu....(suara teriakkan kecil khas Rumi)...aku sudah datang (dengan senyuman manjanya)". Rumi
"kemarilah nak, duduklah dulu (tersenyum lebar)". Ibu Nana
Ibu dan ayah nampak sangat sibuk melayani para pembeli dengan sigap Ardi membantu ibu dan ayahnya.
begitupun dengan Rumi ,ketika netranya menangkap gerak langkah kakaknya iapun akan ikut-ikutan melakukanya.
"Duh....anak ibu pintar sekali ya, masih kecil sudah mengerti akan kesibukkan orang tuannya". Salah satu pembeli
"Ia bu bikin ngiri kita saja, anak saya seumuran adik belum bisa. taunya main saja ...(kagum)". Pembeli lainnya
"Alhamdulillah....bu (tersenyum ramah) ya namanya juga orang tidak punya ya harus serba prihatin". Ibu Nana
__ADS_1
_Skip_
* Rumah *
"Bagaimana sekolahnya nak apa ada halangan?". Pak Muslim
"Alhamdulillah...yah tidak ada halangan semuanya berjalan sangat menyenangkan (tersenyum simpul dengan kepolosannya)". Ardi
"Syukurlah...belajar dengan sungguh-sungguh supaya kelak kamu jadi manusia yang berhasil (dengan senyuman hangatnya) ".Pak Muslim
"Ayah...Rumi juga mau sekolah, Rumi juga mau punya buku seperti punya kak Ardi banyak gambar-gambarnya ( berceloteh ala bocah dengan duduk dipangkuan sang ayah sangat manja) ". Rumi
"Hem...ia Rumi akan sekolah tapi nanti jika sudah berumur 7 tahun, sekarang Rumi belajar dulu saja dirumah bersama kakakmu, kakak ardikan selalu juara di kelasnya". Ibu Nana
Ya mereka sedang berkumpul seperti biasa saling bertanya dan canda, mempererat hubungan diantara sang anak dan sang orang tua. dengan begitu terjalinlah suasana yang harmonis dan sikap terbuka.
Setiap hari rutinitas seperti itulah yang terjadi di keluarga kecil sederhana itu hingga pada suatu masa ,terjadi suatu insiden yang mengakibatkan kedua orang tua Rumi dan Ardi mengalami sebuah kecelakaan hingga mereka kehilangan sosok figur orang tuanya. yang menjadi pelindung dan tempat keluh kesah tempat bermanja ria kini telah berakhir sudah masa itu.
* Pukul 06:10 pagi *
"Bu ,ayah kenapa? kenapa ibu dan ayah tidak berangkat ke pasar? (Ardi dan Rumi berpamitan untuk berangkat sekolah seperti biasanya ya karena mereka ke sekolah berjalan kaki.)". Ardi
"Hem, ayah demam nak sedari malam ayahmu demam. demamnya secara tiba-tiba sepertinya ibu hari ini libur saja untuk kepasar kasian ayah tidak ada yang menemani (tersenyum menenangkan ) ayo segera berangkatlah hati-hati jaga adikmu ibu tidak mau adikmu sampai kenapa-kenapa ". Ibu Nana
"Baiklah bu, oh ya bu jangan lupa untuk segera periksakan ayah kepukesmas (tersenyum penuh semangat)". Ardi
"Hati-hati...(melambaikan tangannya)". Ibu Nana
"Eem...(mengangguk)".Ardi
Kaki dua sepasang kakak beradik itu perlahan meninggalkan rumah yang sangat minimalis itu, entah perasaan apa yang hinggap namun perasaan Ardi tidak enak ia beberapa kali menengok sang ibu yang masih setia melihat langkah kakinya dengan senyuman lebarnya.
"Ibu....!!! ya tuhan tolong jagalah ibu dan ayahku disaat mataku tidak bisa melihatnya dari jarak dekat...membatin ". Ardi
__ADS_1
Sedangkan Rumi tampak asyik berjalan sambil bernyanyi ria.
_Skip_
"Kebakaran-kebakaran ". Masa
Terlihat api menyambar tinggi-tinggi dan melahap seluruh pemukiman kumuh itu hingga tidak menyisahkan secuil bangunan yang berdiri kokoh semuanya nampak rata dengan tanah.
kejadian itu terjadi begitu cepat karena didukung dengan sang angin yang bertiup kencang hingga sang air terlambat untuk memadamkannya.
"Ibu...ayah....(Ardi dan Rumi berteriak histeris sambil berlari kearah rumah meraka yang sudah rata dengan tanah)". Ardi dan Rumi
_Skip_
Disinilah mereka berdiri di sebuah batu nisan yang masih nampak baru. ya itulah batu nisan untuk kedua orang tua Ardi dan Rumi.
Rumi masih terus menangis sedangkan Ardi mengepalkan tangannya kuat-kuat seakan ia marah dengan jalan hidup yang ia hadapi.
Dari arah belakang munculah bapak kepala desa dan beberapa anggotanya yang turut menangani korban / keluarga korban kebakaran yang terjadi di daerah itu.
"Mari nak ikut bapak pulang...(tersenyum menegarkan)". Bapak Kepala
"Aku tidak mau....(Ardi berdiri mematung meratapi kesedihannya)". Ardi
"Nak, lihatlah adikmu dia terlihat lelah adikmu perlu istirahat makan dan minum (penuh pengertian)".Bapak Kepala
Ardi menengok adiknya yang terlihat letih dengan baju yang kotor akibat memeluk tanah pemakaman dengan sesenggukan isakkannya.
" aiklah...(Ardi menuntun sang adik yang terlihat sangat kacau jelas ada trauma akan kehilangan yang mendalam dimata kecilnya.)". Ardi
Mereka melangkah mengikuti relawan-relawan itu dengan sesekali menengok kembali ke tanah pemakaman yang masih terlihat baru itu.
"Tuhan apakah ini pantas untuk kami... kenapa kau begitu tega kepada adikku yang masih sangat polos dan sangat masih kecil ini masih sangat butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya... membatin (sepanjang jalan Ardi sangat menyesali kejadian ini, kenapa ia tidak jadi berangkat sekolah saja ketika perasaannya tidak enak dan mengatakan ada sesuatu yang aneh yang hinggap dihatinya pada waktu itu.disaat ia melangkahkan kakinya bersama adik tersayangnya diwaktu pagi disaat ia akan berangkat sekolah)". Ardi
__ADS_1