
"Caca....(berteriak, dengan berusaha baik-baik mengedarkan pandangannya dengan langkah tergesa-gesanya).
ini tidak bisa dibiarkan... bergumam (dibenaknya Caca akan mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang yang mendampingi Rumi)". Dimas
Dimas berhenti dengan laju langkah kakinya di saat pemandangan yang ada dihadapannya tidak sesuai dengan apa yang ada dibenaknya, disana Dimas bisa melihat Caca yang sedang berbicara dengan seseorang berambut panjang terurainya dengan khas senyuman menenangkannya.
"Caca.... bergumam". Dimas
"setelah beberapa bulan kita tidak berjumpa nyatanya sayangku kepadamu tidaklah berubah Rumi... kau adalah wanita paling spesial di disini seperti mendiang ibu... Maafkanlah aku gladis aku belum bisa menggeser seseorang dengan netra bermanik bulat itu meskipun kini diriku sudah membuka hatiku untukmu.... membatin". Dimas
tatapannya lurus kepada seseorang yang menampakkan dengan perut buncitnya, namun itu terlihat sangat feminim dengan aura keibuanya.
"apa itu Daddymu nak, (ya mata bulat itu tengah menatapnya dengan senyuman simpulnya disaat kedatangannya mengundang perhatian bagi beberapa orang yang tadinya sedang memperhatikan Caca)". Rumi
"bukan Tante, dia adalah pamanku...(Caca menoleh kearah Dimas dengan sebuah senyuman ringannya bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja dengan lafal yang lancar dan jelas meskipun tatapanya begitu sumeringah dan sangat jelas di pelupuk matanya menyimpan sorot kerinduan)". Caca
"kau beruntung memiliki keponakan selucu dia tuan...(Rumi tersenyum simpul kepada Dimas dengan sedikit menundukkan pandangannya dan kembali beralihlah kepada Caca).
baiklah , Tante rasa pertemuan kita berakhir disini dulu ya... Tante rasa Tante harus segera pulang". Rumi
"Hem...(Dimas sedikit menundukkan kepalanya dan membalas senyuman dengan keramahan)". Dimas
"baiklah Tante, hati-hati dijalan.
dan jaga kesehatan bayi dan Tante sendiri...dah...(Caca melambai)". Caca
"anak yang sopan, pamanmu pasti mengajarimu hal demikian...". Rumi
"emm...(mengangguk, mengiyakan) bukan paman saja yang mengajarkan kebaikan kepada Caca Tante, tapi terutama untuk Daddy Caca... Tante maukah lain waktu Tante berkenalan dengan Daddyku, dia adalah sosok yang sangat lembut dan penyabar?". Caca
"hem...benarkah?!!. wah... Tante sangatlah senang berkenalan denganmu Caca kau memang gadis pintar.
Tante harap anak Tante akan sepintar dirimu.
boleh...!!!. tapi untuk lain waktu ya, Tante berharap bisa bertemu denganmu lagi...dan bisa berkenalan dengan daddymu". Rumi
"em...(mengangguk), terima kasih Tante sudah mau berkenalan dengan Caca.... sampai jumpa lagi.. dah.(melambai-lambai)". Caca
akhirnya Rumi pamit dengan bala pengawalnya yang tanpa kuasa untuk melawan kehendak sang nyonya-nya.
sebelum Rumi beranjak dari sana Rumi tersenyum kearah dimana Dimas berada pertanda sebuah sinyal pamit kepada-nya.
__ADS_1
sedangkan Dimas dengan tubuh tegapnya, berdiri diam tersenyum dengan kekakuanya.
ia tidak menyangka dengan tekad seorang gadis kecil bernama Caca dengan akting ajaibnya.
dan ia belum bisa percaya gadis polosnya yang dulu selalu menempel kepada dirinya kini berada dititik seperti ini yang hilang dalam ingatannya.
"mas... apakah Caca sudah kau temukan? (gladis yang menyusul karena rasa penasarannya yang tidak mendapati suami dan keponakannya yang kunjung kembali)". gladis
_skip_
grebbbb..... sebuah pintu mobil yang baru ditutup.
"Daddy....(Caca dan Aydan berlarian ke arah seseorang dengan wajah rupawannya hanya tengah berada diatas langit-langit ganteng)".Caca dan Aydan
"Caca, hati-hati adikmu ca....(nampak gladis mengekor dan terlihat cemas disaat Aydan ikut-ikutan berlarian)". gladis
"wah ..siapa ini yang baru datang....(nampak Satria turun dari tangga untuk berbenah memperbaiki atap rumah yang sudah perlu perbaikan karena dimakan usia)". Satria
"Daddy...(Aydan merentangkan tangannya kepada Satria)". Aydan
"jagoan Daddy... jangan pegang Daddy dulu , tubuh Daddy kotor nak...(dan beralih kepada gladis) aku membersihkan diriku dulu ya maaf sekali lagi aku minta tolong kepadamu....(Satria segera berlalu)". Satria
"mas Satria....(gladis dibuat geleng-geleng kepala. dan beralih kepada Dimas), mas masuklah dulu kita tunggu mas Satria usai dengan bersih-bersihnya". gladis
_skip_
"benarkah? (Satria mengelus rambut berkilauan milik Caca sedangkan Aydan asyik dengan acara mainnya sendiri)". Satria
"aku tidak tau apa yang sudah aku lewatkan...(Dimas melirik kepada Caca)". Dimas
"baiklah sekarang princess Daddy ceritakan apa yang sudah kau lalui di saat bertemu dengan mommy Rumi?". Satria
ada getaran yang jelas milik Satria saat bibirnya menyebutkan satu nama yang begitu ia masih cinta.
"Caca...(Caca menerawang...)". Caca
# Flash back #
"hiks...Caca mohon mom jangan terlalu cepat, tunggulah Caca untuk menemuimu mom...!.
Tante...(berteriak disaat ia bisa menyusul Rumi)". Caca
__ADS_1
"nak, apa kau tengah memanggilku? (Rumi menoleh dan memandang alam sekitar ya karena pandangan Caca menatap lurus kearahnya tengah berada namun Rumi sadar bahwa dirinya tidaklah mengenali sosok anak perempuan yang beberapa saat lalu ia perhatikan akan kedatanganya)". Rumi
"eem...(menganggukkan kepalanya)". Caca
"ini tidak bagus... membatin.
em...nyonya biarkan saya saja yang kesana , (dan beralih kepada dokter) dok...dampingi nyonya Rumi biarkan aku yang menemui anak itu...". orang kepercayaan Rama
netra Rumi melihat raut ketakutan yang berusaha Caca sembunyikan di saat orang kepercayaan suamianya mulai menghampirinya.
"tunggu... berikan sedikit waktu saja untuk anak itu (Rumi maju beberapa langkah hingga orang kepercayaan Rama berhenti dalam langkahnya dan mundur menyamping mempersilahkan sang nyonya)". Rumi
"huffftt....(Caca tidak akan membiarkan kesempatan emas ini, meskipun hanya sekedar berdialog ya karena seseorang yang akan ia ajak berdialog adalah seseorang yang berhasil ia temukan adalah seseorang yang sangat ia rindukan)... Tante apa boleh kita berkenalan? namaku Caca, apakah ini milikmu? (Caca memperlihatkan sebuah jepit rambut yang tidak sengaja Rumi jatuhkan)". Caca
Rumi memeriksa...
"tentu boleh...namaku Tante Rumi (dengan senang hati Rumi memperkenalkan diri ini adalah hal baru baginya bisa bercengkrama dengan seseorang bertubuh mungil/anak kecil) selama beberapa bulan ini, ditambah hilang ingatan yang dideritanya menjadikan ia tidak mengenal siapa-siapa selain suami dan orang-orang yang berada di kediamannya).
ah...kau benar nak, ini adalah milikku.
terima kasih (disaat Caca menyerahkan sebuah jepit rambutnya itu dengan perlahan menghampirinya) emm... namamu Caca ya, emm... nama yang manis dan mudah diingat... baiklah Tante ambil ya.
emm ...tinggal satu...ya... bergumam". Rumi
"maafkan Caca Tante , yang satunya Caca tidak menemukannya...(dengan terus menatap Rumi)". Caca
"benda ini bagi Tante memiliki arti tersendiri, karena jepit rambut ini pemberian dari suami Tante.
tapi tidak apa-apa nak meskipun ini tinggalah satu sekali lagi terima sudah menemukannya untuk Tante.
em...(Rumi mengedarkan pandangannya) apa kau sendirian, dimana orang tuamu?". Rumi
dan beberapa saat Dimas datang menyerukan namanya.
"Caca..... bergumam (Dimas yang tidak terlalu jauh dengan keberadaan Caca menjadikan gumaman milik Dimas dapat terdengar oleh pendengaran Caca dan yang lainnya)". Dimas
# Flash back off #
"Hem... seperti itu ya (mendengar cerita yang Caca bawa memberikan luka tersendiri untuk Satria... meskipun Rumi dalam keadaan hilang ingatan. kepiluanlah yang satria dapatkan...)". Satria
"Daddy....(berteriak menghampiri dan menghamburkan diri)". Aydan
__ADS_1
Aydan adalah bukti cintanya, matanya begitu mirip dengan sosok Rumi menjadikan malam yang dingin teruntuk satria disaat malam menyambut lagi.