Tangisan Suci

Tangisan Suci
Waktu yang berjalan 3


__ADS_3

# Flash back off #


_skip_


🌾 Di Kediaman Satria 🌾


🍂 Sejahat inikah takdir untuk Daddyku...?!!!.


setelah bunda meninggalkan Daddy, kenapa kini harus mommy Rumi yang juga ikut pergi....!!!


oh... tuhan tolong kabulkanlah doa Caca, kembalikanlah mommy Rumi untuk kami- Caca 🍂


gladis dan Dimas sudah pulang dikediaman Dimas beberapa jam yang lalu.


dan kini jam didinding sudah menunjukkan pukul 9 malam.


* dikamar Caca *


"mommy... maafkan Caca, Caca sudah berbohong kepada mommy...(tangan kecil Caca menarik laci yang menunjukkan sebuah jepit rambut , ya jepit rambut itu adalah milik Rumi yang ia sembunyikan satu dan ia berikan satu kepada sang pemiliknya), meskipun mommy Rumi bukanlah ibu kandung Caca, Caca sudah menganggap mommy Rumi sebagai ibu kandung Caca sendiri... Caca sungguh sangat merindukanmu mom... andai.. andai saja mommy bisa bersama Daddy Satria lagi...bisa bersama kita lagi...(Caca kecil berdiri di depan cermin dan memakai jepit rambut tersebut dengan perasaan rindunya, ia berharap suatu hari nanti mom Ruminya bisa kembali lagi bersama keluarga kecilnya).


Raka apa kabarmu ka, apa kau mengetahui apa yang Caca sudah lalui tanpamu ka... dan apakah kau mengetahui mommy kita dalam hilang ingatannya? (Caca menatap kearah dinding disana terpajang gambaran keluarga utuh kecilnya disaat Caca ,Raka mommy Rumi dan Daddy satrianya pernah hidup bersama dalam keharmonisan cinta)". Caca


ya foto itu diambil sehari disaat mereka baru sampai kesebuah desa yang dulu sempat mereka tinggali/ bisa disebut sebagai kampung yang terisolasi dan disana juga awal mula perpisahan yang tidak diinginkan terjadi, kampung /desa itu begitu menyimpan kenangan indah sekaligus tragedi.


* sementara itu dikamar yang lain *


"tidurlah yang nyenyak Aydanku, dan terus sehat dan ceria menemani harimu... Maafkan Daddy, Maafkan Daddy yang tidak bisa berbuat apa-apa selain mengalah dengan keadaan ini... Daddy kalah nak, Daddy gagal... namun jujur Daddy tidaklah rela dengan keadaan ini... ini begitu terasa berat...bergumam.


(dengan usapan teraturnya membelai sayang rambut putra kecilnya dalam tidur lelapnya).


andai kau ada disini bersamaku Rumi, menyaksikan Putra kita tidur dalam lelapnya aku yakin saat ini akulah laki-laki paling beruntung di dunia ini.... hiks..... kenapa ini semua terjadi kepada kita....(dalam diamnya setetes kristal bening itu meluncur dengan begitu saja betapa pilunya hati dan hari-harinya tanpa sosok yang begitu ia ingini)... maafkan aku... maafkan aku... yang tidak bisa berbuat apa-apa...sayang... maafkan aku...membatin". Satria


ya meskipun hanya beberapa bulan saja hidup bersama dengan sosok Rumi menjadikan pernikahannya terasa begitu sangat manis bahkan kelahiran Aydanpun adalah bukti akan pernah adanya kisah cinta diantara keduanya.


Cinta yang pernah tercipta hingga saat kini rasanya masih utuh tetap terjaga didada, lidahnya berbohong jika mampu berkata untuk menerima perpisahan...netranya juga berbohong menatap bahagia disaat seseorang yang kita masihlah sangat cintai bersanding dengan laki-laki lain...

__ADS_1


🍂 Apakah rasa cintanya kepadamu lebih besar dari rasa cintaku untukmu Rumi?...


hingga sang waktupun lebih memihaknya...


...... tidak, itu tidaklah benar, aku yakin cintaku untukmu lebihlah Besar...apa kau mendengarkan apa kata hatiku sayang????. - Satria dalam lamunan malamnya 🍂


🌾 Dikediaman Dimas 🌾


nampak Dimas berulang kali mengganti lembar demi lembar majalah yang ia pegang dan sesekali melirik pintu kamar yang masih tertutup rapat.


"huffft.... kenapa gladis belum ikut menyusul tidur juga, sebenarnya apa yang dia lakukan diluar sana...(Dimas menutup majalah yang ia acak lihat dan mulai bangkit dari kasur empuknya)". Dimas


cklekkk.... suara pintu yang dibuka.


Dimas melangkah kearah dimana ia meninggalkan gladis untuk terakhir kalinya.


ya hari ini Dimas meliburkan warung makan dan toko oleh-olehnya , kenapa bisa seperti itu?, itu hanya Dimas yang tau.


"sayang....(geleng kepala) tidak biasanya kau seperti ini... bergumam. (Dimas melangkah dan mulai membopong tubuh ideal milik gladis meskipun tubuh gladis lebih kecil dari Rumi namun tubuhnya masih bisa dikatakan ideal ya)". Dimas


"diamlah aku sudah nanggung untuk menggendongmu...". Dimas


"maaf , aku rasa tidak perlu...( gladis sedikit mendorong tubuh milik Dimas dan berusaha untuk bangkit setelah Dimas melemah dengan niatanya)". gladis


"kenapa ...dia menolakku biasanya gladis selalu menginginkan aku memanjakannya, dia terasa berbeda setelah pulang dari rumah kak Satria...membatin". Dimas


"gladis tunggu... malam ini aku menginginkanmu...(Dimas meraih pergelangan tangan milik gladis dan menatapnya penuh permohonan)". Dimas


"em... maaf mas, mas...(gladis meraih tangan Dimas) apakah aku boleh malam ini tidak melayanimu? aku rasa aku terlalu lelah mas...(menatap penuh rasa bersalah)".gladis


"Hem....(Dimas hanya diam memejamkan netranya ketika sang istri dengan perubahan sikapnya berlalu tanpa menunggu lebih lanjut jawaban darinya)". Dimas


🍂 Entah sampai kapan aku memiliki firasat bahwa kau sampai sekarangpun belum bisa menggeser nama mba Rumi dihatimu mas....


entahlah perasaanku selalu mengatakan seperti itu...

__ADS_1


apakah cintaku terlalu lemah untukmu mas...


lalu cinta seperti apa yang kau punya untuk mba Rumiku...


kenapa aku belum bisa juga membuatmu untuk mencintaiku seutuhnya... ?!! - gladis 🍂


🍂 oh tuhan ini begitu membingungkan bagiku , apa aku benar salah yang masih menyimpan nama seseorang yang aku sendiri tidak bisa untukku lupa * Arumi Fitrian* ya nama itu yang tidak bisa aku bisa hapuskan dari diriku...dari ingatanku...dari langkahku.


kenapa bisa demikian...? sekeras apapun usahaku untuk melupakannya , pada nyatanya jujur aku tidak bisa... Maafkan aku gladis Maafkan aku, aku selalu menyakitimu ...- Dimas 🍂


🌾 Di kediaman Ardi 🌾


"hahh....... kenapa ini semua bisa menimpaku... hahhhh....kau jahat Nona, kau jahat... sudah aku pernah katakan ,sudah pernah aku ingatkan, tapi apa...? kau selalu menentang apa kata yang aku bilang...hahhh.....jahat...kau adalah wanita egois... Nona egois...". Ardi


Ardi terduduk lemas meremas sebuah gambaran disebuah kertas berbentuk persegi kecil.


ia teringat dengan kejadian beberapa minggu lalu yang harus menerima kenyataan pahit, bahwa dirinya harus kehilangan calon buah hatinya.


satu-satunya harapan yang ia punya untuk tetap bersama Nona.


ya itu adalah sebuah foto calon bayinya dari hasil USG yang diambil, dan itulah dimana untuk terakhir kalinya sang calon buah hati mampu bertahan di rahim Nona.


kebiasaan buruk, dan pola lingkungan yang kurang sehat membuat calon buah hati Ardi menyerah untuk bertahan.


itu tidak terlepas dengan Nona yang sering meminum minuman memabukkan dan terkadang merokok, bahkan tidak jarang Nona seakan lupa bahwa dirinya tengah hamil muda dan melakukan aktivitas yang tidak terkendali bagi seseorang yang tengah hamil.


dengan pergaulan bebas dan gemerlapnya dunia malam menjadikan sang calon buah hati menjadi korban akan keegoisan yang tidak bisa dihilangkan meskipun hanya untuk menunggu beberapa bulan saja.


nettttt....... anggap saja suara bel yang dipencet ya.


dengan segera Ardi mengusap air matanya dan mulai bangkit dalam rasa penyesalannya.


dengan langkah yang ia coba kuatkan Ardi melangkah kearah pintu utama.


"kau..., beraninya kau datang kesini (dengan raut yang berubah mengeras)". Ardi

__ADS_1


__ADS_2