Tangisan Suci

Tangisan Suci
Waktu yang berjalan 2


__ADS_3

keduanya menatap dimana gladis berada.


kini keberadaan gladis nampak baru dianggap.


"siapa gadis kecil ini dosen, apakah ini adikmu Rumi? tapi gadis ini terlalu kecil untuk seorang Rumi pujaan tuan Rama (dengan tatapan menilai)". sosok dewasa cantik


ya sosok dewasa cantik ini telah mengetahui kisah diantara kedua adiknya Dimas seperti Ardi dan Rumi.


"tidak perlu berlebihan seperti ini, aku jadi termakan dramaku sendiri...membatin.


bukan, perkenalkan dia adalah gladis... adiknya Satria (Dimas melepaskan tangannya dari pinggang ramping itu dan mengurungkan niatnya untuk membalas kecupan milik sosok dewasa cantik itu)" Dimas


gladis sudah tidak bisa membendung perasaan anehnya itu tatapan sosok dewasa cantik itu begitu terlihat intens kepada Dimas dan begitupun dengan Dimas dengan senang hati Dimas jelas merespon sosok dewasa cantik itu.


ditambah seolah sosok dewasa cantik itu sedang menilainya bahwa dirinya tidaklah pantas berada disana (seperti penganggu) , dibandingkan dengan kesempurnaan milik sosok dewasa cantik itu untuk lebih dekat dengan Dimas.


"oh...(hanya itu ,dan beralih lagi kepada Dimas dan terkesan mengacuhkan gladis lagi) kau tega tidak memberi kabar kepadaku dosen... bukannya sewaktu sekolah dulu kita sangat dekat (dengan nada manja terkesan menggoda)".sosok dewasa cantik


"kau jahat dosen...(tanpa permisi gladis meraih tasnya dan melenggang pergi dengan langkah asal menjauh dari keduanya, gladis keluar disusul Dimas yang meninggalkan sosok dewasa cantik dengan senyuman lucunya)". gladis


"terima kasih kau memang bisa aku andalkan, tapi kau berlebihan lady... (Dimas tersenyum sinis dan berlalu mengejar gladis)". Dimas


"dasar... dosen labil... bergumam (melihat kepergian Dimas yang menyusul gladis dalam senyuman lucunya dengan gelengan dikepalanya)". sosok dewasa cantik


"jahat...bapak jahat... sebenarnya ada apa denganmu dosen kau hari ini sangat aneh dan keterlaluan, setelah kau memperlakukan diriku dengan manis dan sempat memanggilku dengan sebutan sayang...hah...entahlah...,lalu apa sekarang ....jahat...jahat....kau membawaku dalam khayalan manisku tapi kenapa kau dengan begitu cepatnya membuat khayalan manisku runtuh dengan kejutanmu itu... (dengan derai air mata dan ngedumelnya akhirnya langkah kaki gladis ia hentikan tepat ditepian jalan ia memutuskan pulang menunggu kendaraan umum)". gladis


"gladis...". Dimas


"Ahkp....,ba..bapak dosen, kenapa bapak ada disini bukanya bapak sedang bersama pacar bapak...(gladis terkejut, Dimas meraih pergelangan tangannya dengan susah payah gladis menyembunyikan air matanya itu. sungguh ia dibuat pusing dengan perlakuan Dimas hari ini yang sesaat berubah-ubah)". gladis

__ADS_1


"apakah kau tengah menangis?". Dimas


"tidak , aku tidak menangis! (gladis membuang muka)".gladis


"tapi kenapa kau bilang aku jahat dan kau malah pergi dengan begitu saja meninggalkan aku bersama lady?,


dan...pacar ! apa maksudmu lady adalah pacarku?... hei....apa kau tengah cemburu dengan kedatangan lady hingga kau merajuk seperti ini? (nadanya terkesan menuduh)". Dimas


"a..aku tidak cemburu.


dan bukannya aku dilarang untuk cemburu ya? (nadanya begitu lirih, gladis menggapai tangan Dimas dan melepaskan pegangan tangan diantara keduanya) jangan permainkan gladis..(dengan nada tegasnya) ...em... maafkan gladis tadi gladis hanya emosi saja dosen Dimas Bu... bukannya dosen belum bisa move on dari mba Rumi...tapi kenapa bapak dosen malah pacaran dengan kakak cantik itu...(dengan salah tingkahnya)". gladis


"dilarang cemburu....membatin.


belum bisa move on?.... pancaran?...kau bicara apa gladisku sayang (panggilan sayang kini begitu nyata dipendengaran gladis untuk yang kedua kalinya dengan tatapan Dimas yang kembali intens kepadanya namun tatapan kali ini Dimas begitu berbeda ada tatapan yang tidak bisa diartikan oleh kata-kata)


ini semuanya tidak ada sangkut pautnya dengan adikku Rumi...". Dimas


yang gladis hanya ingin... gladis ingin segera pulang permisi...(gladis sudah tidak kuat dengan segala prasangka dan gejolak menahan perasaan ingin menjadi yang spesial dihati Dimas, dengan segera gladis melambai ketika sebuah taxi lewat kearahnya dan berhasil berhenti didepannya, Dimas maju berebutan dengan gladis dan menghampiri sang sopir dan memberikan uang tunainya dan menyuruh sang sopir berlalu tanpa membawa gladis) apa yang bapak lakukan....(menatap tidak percaya, gladis baru mengetahui sisi absurd milik sang pujaan hati)". gladis


"kau berangkat bersamaku, maka pulangpun akan bersamaku...(Dimas mengandeng tangan gladis yang kaku dalam diamnya)". Dimas


"kenapa dosen lakukan ini kepada gladis...". gladis


"jangan banyak tanya... ikutlah pulang denganku gadis pintar menyembunyikan perasaan...(Dimas memegang lengan gladis yang diam dan membawanya menuju Dimana mobilnya terparkir dan selang beberapa waktu mendudukkan gladis di kursi penumpang disebelah kemudinya ya gladis sudah tidak bisa lagi memberontak kekuatannya seakan tertarik oleh sosok tertampan diantara pemain * TANGISAN SUCI* ini...)". Dimas


pukkk.... suara sebuah benda yang berpindah tempat.


ya sebuah buku harian mendarat di pangkuan gladis.

__ADS_1


"Bu...buku ini...(terbelalak)". gladis


"jelaskan gladis... kenapa selama ini kau melakukan ini kepadaku? (dengan tatapan mencari jawaban hakikinya)". Dimas


"a..apa dosen marah kepadaku?


kapan dosen mendapatkan buku ini...dimana...(gelagapan tanpa berani menatap pihak lawan bicaranya).


(wajahnya sudah malu dan takut bukan kepalang, perasaannya sudah diketahui sang idola...ya semua pengakuannya tentang perasaannya memanglah ia lengkap tuliskan disebuah buku hariannya itu)". gladis


"Hem... tidak penting aku mendapat buku ini kapan dan dimana (Dimas menangkap tubuh yang sedang diserang kepanikan itu, Dimas menuntun tatapan gladis masuk kedalam netra keyakinannya)


gladis jawab dengan jujur... apakah selama ini kau menyukaiku?". Dimas


diperlukan demikian dan berdekatan dengan jarak yang sangat minim membuat jiwa gladis meronta apa lagi tatapannya terkunci dengan netra seseorang yang selama ini ia puja membuat gladis susah untuk mencernanya namun anehnya anggukan dikepalah yang menuntunnya untuk mengakui keadaan seluruh jiwa dan raganya, mungkin disaat ini nafasnya terasa berhenti karena hati, perasaan dan pengelihatanya berada di titik yang sama yaitu berada kepada sosok yang begitu ia cinta.


๐Ÿ‚ pertanyaan ini yang selalu aku nantikan dari bibir manismu dosen.... mungkin inilah yang disebut sebagai kecerobohan yang mendatangkan keberuntungan...


dengan lantunan disetiap bait-bait doa, dengan kepasrahan jiwa.


dan aku yakin semua itu tidak terjadi dengan sebuah kebetulan semata, ada rahasia di balik semua kejadian ini.


ini adalah sebuah misteri yang tidak bisa mampu aku ungkap.


ini bagaikan sebuah mimpi yang bisa aku wujudkan, ya ini adalah nyata - Gladis๐Ÿ‚


๐Ÿ‚ Disaat aku menyibukkan diri untuk seseorang yang aku begitu sangat aku harap dan cintai....


tanpa aku sadari ada seseorang yang menyibukkan dirinya untuk diriku ...

__ADS_1


disaat aku tau siapa seseorang yang menyibukkan dirinya untuk diriku, aku sempat lucu dengan pemikirannya...


namun aku cepat tersadar dengan semua hal itu, mungkin gadis kecil ini mengingatkan diriku kepada diriku sendiri... yang menyibukkan diri untuk seseorang yang sangat aku cintai namun seseorang yang sangat aku cintai tidak dapat aku miliki...- Dimas๐Ÿ‚


__ADS_2