
malam yang larut menyajikan kesan tenang.
disebuah kediaman rumah yang terlihat luas dengan bangunan sederhananya terlihat hanya satu lampu sebuah ruang yang masih menyala dengan terangnya.
dan terlihat tidak jauh dari rumah luas sederhana itu berdiri sebuah rumah makan dan toko oleh-oleh yang selalu ramai dipagi dan siangnya.
ya siapa lagi kalau bukan dikediaman Dimas yang kini tinggal seorang diri namun semakin banyak saja karyawannya.
diusianya yang sudah sangat dianjurkan untuk memiliki seorang pendamping , namun entah Dimas masih betah dan bertahan dengan masa Lajangnya. apakah dia belum bisa move on seperti Adam?.....
"selesai....(sang penghuninya baru saja selesai dengan tugas-tugas nya yaitu menghitung laba/rugi pendapatan dalam setiap bulannya)". Dimas
setelah selesai dengan tugasnya Dimas sudah menata jadwalnya dengan rapi dan baik, dan ia pasti akan memutuskan langkahnya menuju kasur empuknya/di kamarnya.
namun kini langkahnya menelusuri ruang tengah entah kenapa hatinya menuntun langkahnya untuk kesana.
"Dimas sebenarnya apa yang kau fikirkan, kau salah arah...(berbicara dengan dirinya sendiri, Dimas sendiri Sampai bingung seharusnya ia segera untuk menutup matanya ya karena esok hari ia harus bangun pagi-pagi menjalani rutinitas seperti biasanya)". Dimas
disaat Dimas melangkahkan kakinya ke arah dimana kamarnya berada dan....
crang.......... Suara sebuah bingkai foto keluarga yang Dimas selama ini emas-emas jatuh bebas kelantai yang berada di ruang tengahnya, hingga bingkai keramiknya hancur berantakan.
"Rumi.....deggggg!'.Dimas
Dimas berbalik menatap bingkai foto yang bebas terjatuh itu hingga bingkainya hancur berantakan.
dan dengan mudahnya bibirnya meloloskan satu nama yang sangat ia rindukan.
"(Dimas meraih foto keluarga itu mengusap pelan wajah-wajah yang ada disana. tatapan Dimas terfokuskan kepada salah satu wajah polosnya dengan ciri khas mata bermanik bulatnya. foto itu diambil disaat dirinya masih berkuliah disalah satu universitas sedangkan Ardi dan Rumi saat itu masih berumur dibawah 15 tahun,dan ada foto mendiang sang ibu Rosa juga disana. satu keluarga yang bahagia disaat dulu) sebenarnya apa yang sudah terjadi kepadamu Rumi, (dan beralih mengusap foto sang mendiang ibu Rosa) maafkan Dimas Bu , Dimas tidak bisa menjadi seorang kakak yang baik untuk mereka... bergumam?". Dimas
ya selama berbulan-bulan ini Dimas berusaha mencari kabar dari Satria dan Rumi beserta keluarga kecilnya namun percuma saja Dimas tidak bisa menjangkaunya,
hanya saja ia masih beruntung masih dipertemukan dengan Adam berkat bantuan dari alan dengan meminta nomer ponselnya dan saling memberikan lokasi alangkah Dimas sangat bersyukur bahwa Ardi dan Caca ternyata adamlah yang menyelamatkan mereka meskipun Dimas sangat syok dengan informasi yang Adam berikan.
__ADS_1
kini Caca dan gladis tinggal serumah /di rumah milik Satria yang berada disalah satu perumahan. sedangkan Adam dan di Dimas sebagai pengasuh dua bocah ingusan itu dengan segala kerepotannya/sebagai teman dan keluarga yang saling mendukung.
sedangkan Ardi paling buruk keadaannya. kini Ardi dirawat di salah satu sebuah rumah sakit dikota tersebut ya Ardi diharuskan dirawat demi kesembuahnya.
luka yang dideritanya Ardi tidak separah Satria namun Ardi yang dulu pernah cidera akibat dikeroyok oleh anak buah Romi kini lukanya bertambah parah karena posisinya lukanya dititik yang sama.
dan mengenai biaya hidup Adam membantu dengan mengolah kafe Ardi yang sempat ditutup.dan begitupun dengan Dimas Dimas membantu akan biaya Ardi selama dirawat dirumah sakit dan kedua bocah terlantar itu.
dan dengan kedekatan Adam dan Dimas dengan dua bocah itu menjadikan dua bocah itu merasakan ketergantungan kepada keduanya dan tidak jarang kedua bocah itu sering membantu/berusaha membantu di cafe milik Ardi dan toko oleh-oleh dan rumah makan milik Dimas.
dibelahan bumi yang berbeda.
"mommy....apa kabarmu mom?, apa kabar, adik bayi?!... bergumam.
(terlihat seorang anak kecil tampan yang mempunyai tingkat kemiripan dengan tuan Romi tengah menerawang).
Caca ,Daddy Satria....(bibirnya bergetar disaat menyebutkan orang-orang yang mendapatkan perlakuan semena-mena dari daddy kandungnya Rama) apakah kalian baik-baik saja, maafkan Daddyku.
dan mommy, semoga mommy baik-baik saja disana. semoga Daddy Rama tidak membuat mommy menangis lagi...membatin". Raka
Raka menatap langit dengan awan birunya. perasaan rindunya kepada sang mommy sangat begitu terasa di saat ini juga.
"tuan muda sudah saatnya kita kembali kerumah?". Rafael
Rafael yang selalu setia mengikuti segala aktivitas dari tuan mudanya.
"aku masih betah disini paman, berikan aku sedikit waktu lagi.
hem,... o..ia apakah Daddy sudah memberikan kabar kepada paman tentang kelahiran adikku?". Raka
"belum tuan muda...!". Rafael
"Hem,....(nampak Raka yang kini kembali kepada sifat awalnya nakal dengan tetap pemikiran kritisnya dan kemauannya yang harus dituruti namun sekarang Raka jauh lebih tenang seperti gaya-gaya anak para bangsawan ya Rama memisahkan Raka dari sang mommy Rumi itu semua tidak terlepas dari kerjasama yang selalu Raka dan mommynya lakukan menjadikan Rama sulit untuk mengatur kehidupan perempuan yang begitu ia cintai *Rumi* itu).
__ADS_1
Raka akan kembali kepada mommy disaat itu Raka pastikan Raka sudah kuat untuk menentukan pilihan hidup Raka sendiri dan membela mommy...Raka mohon bertahanlah mommy....membatin". Raka
ya bagi Raka disaat ini tidak ada kuasa selain kuasa dari sang Daddy kandungnya itu *Rama Wijaya*.
๐พ Di kediaman Rama ๐พ
dokter dengan hati-hati menjalankan tugasnya. dan Rama kini memberi sedikit ruang untuk para dokter menangani sang istri tercintanya.
nampak para dokter menjalankan perannya dengan sebaik dan berusaha mendapatkan hasil yang diinginkan.
dengan pengalaman yang tidak abal-abal dan ilmu mumpuni tidak diragukan lagi ini adalah salah satu penanganan terumit disepanjang sejarah para dokter tersebut ya karena yang mereka tangani adalah seorang yang terpenting dihidup tuan yang berkuasa.
"aku mohon bangunlah sayang... aku tidak sanggup bila harus kehilanganmu untuk kedua kalinya...(lututnya bertumpu pada lantai ini mengingatkan dirinya diposisi disaat kehilangan Rumi untuk yang pertama kalinya)". Rama
* dalam lelap Rumi *
๐"mas...mas Satria... apakah itu dirimu mas...(Rumi memanggil penuh rindu dan ingin menggapai)". Rumi
"sayang, kau sedang apa disini... bangunlah...anak kita membutuhkan mu (seseorang dengan senyuman khas hangat dan tulusnya menghampirinya dan kini hanya jarak sejengkal saja diantara keduanya) cup....(satu kecupan hangat dan perlahan yang Rumi sangat rindukan dan membisik tepat di daun telinganya) sayang bangunlah.... sekarang!!!". Satria๐
"mas Satria......!!!". Rumi
Rumi terbangun dari tidur letihnya. dan menyebutkan satu nama yang selama ini begitu ia rindukan.
dengan usaha maksimal dari para dokter dibarengi doa-doa dari orang terkasih membuat ikatan batin diantara mereka saling memberikan kekuatan.
"syukurlah, terima kasih nyonya...(dengan segera namun pelan dokter memberikan minum dan menyuntikan beberapa dosis yang entah hanya para dokter tersebut yang mengerti)".para dokter
"dokter....(cemas)". Rumi
"jangan gelisah nyonya tenanglah..pelan-pelan...(nampak para dokter menuntun Rumi agar tidak cemas seperti beberapa menit lalu dan dengan mulai tenang Rumi menuruti apa arahan dari dokter)". para dokter
"sayang...(Rama tidak berani mendekat ia takut menganggu proses persalinan dan dalam kegalauan dan ketakutan hati Rama mendengar dengan jelas istrinya menyebutkan nama seseorang yang paling ia benci seseorang yang menghalangi dirinya untuk mendapatkan istrinya kembali.
__ADS_1
ada rasa lega sekaligus menyesakkan namun itu bukanlah berarti apa-apa bukannya sekarang sang pemenang adalah dirinya)sayang... bertahanlah, kuatlah demi anak kita...(Rama hanya dapat melihat dari sela-sela punggung para sang dokter)". Rama