
"apa yang kau lakukan Nona, (Ardi menepis lengan milik Nona hingga bingkisan kado yang semula dipegang kini terlepas jatuh di atas lantai dengan begitu saja )". Ardi
"kau sungguh tidak sopan Ar, (dan beralih kepada Rama) maafkan kesalahan suami saya tuan (Nona berusaha untuk mengambil kembali kado yang jatuh tersebut)". Nona
melihat Ardi merah padam membuat Rumi tidak enak hati ya karena Rumi menyadari suasana bahagia yang tercipta luntur sudah bersamaan dengan kedatangannya bersama sang suami yang dinikahinya untuk kedua kalinya.
"biarkan saya saja yang mengambilnya mba (tersenyum simpul)". Rumi
"baiklah, terima kasih (balas tersenyum)". Nona
"jangan ,biarkan aku saja yang mengambilnya". Rama
"tuan Rama sepertinya sangat benar mencintai istrinya, sampai rela mengambilkan benda yang sudah terjatuh kelantai uhu.....(tersenyum tipis dengan seringaian samar).
apakah mas Satria akan menyerah???... membantin". Nona
pemandangan itu cukup membuat siapa saja yang menyaksikan dibuat tidak percaya.
"mom...mommy (dengan tiba-tiba Aydan menyebutkan mommynya disaat mata kecilnya dapat teralihkan oleh sosok Rumi yang sedia kala asyik bermain dengan gladis)". Aydan
"sayang...(Rumi maju satu langkah namun langkahnya tercegat oleh tatapan tajam milik Satria)". Rumi
"gladis kita sebaiknya segera pamit pulang ,bawa Aydan duluan kemobil bersama Caca". Satria
"tapi mas... bagaimana dengan mba Rumi? mba Rumi juga pasti sangat merindukan Aydan?". gladis
"kau masih bocah, kau belum mengerti dengan keadaan ini... menurutlah dan jangan banyak memberiku pertanyaan gladis (dengan nada perintahnya)". Satria
melihat Satria dengan hawa yang berbeda membuat gladis merasa takut dan khawatir,ya tidak biasanya mas satrianya dengan tatapan seperti itu kepada mba Ruminya.
apakah mas satrianya tengah marah kepada perempuan yang masih sah menjadi istrinya.dan sangat dicintainya itu?.
"ba.. baiklah mas, kita duluan, ayo ca ikut bibi gladis kemobil (menurut,tanpa pamit kepada semuanya gladis membawa Aydan dan Caca kearah parkiran dengan jalan lewat pinggiran)". gladis
"bibi kenapa kita pulang, disana ada mommy Rumi Caca sangat merindukan mommy ...benarkan Aydan kita merindukan mommy? (seolah mengerti Aydan diajak bicara)". Caca
melihat pemandangan itu membuat Rumi mengigit bibir bagian bawahnya, sebenarnya apa yang ada dibenak mas Satria sampai-sampai menyuruh gladis membawa Aydan dan Caca untuk segera pergi tanpa berpamitan dengannya. namun Rumi bisa mengartikan dari tatapannya bahwa satrianya tidaklah dalam suasana hati yang baik-baik saja. ya mas satrianya terlihat begitu kecewa, marah dan benci kepadanya.
"gladis...kau mau kemana? , Satria kenapa kau menyuruh gladis untuk pulang membawa Caca dan Aydan (Dimas bingung)". Dimas
begitupun dengan Alan dan yang lainnya.
"maafkan aku kak Dimas.
kak Ardi aku pamit duluan... maafkan atas ketidaksopanaanku (dengan jarak yang cukup jauh Satria pamit tanpa mendekat ya karena disana ada Rumi dan Rama.
__ADS_1
Satria sedikit menundukkan pandangannya kepada Rumi dan berlalu meninggalkan Kediaman Ardi)". Satria
"kau tidak perlu datang Rumi jika kau membawa manusia kejam ini, lihatlah apa kau sudah benar dengan pilihanmu?". Ardi
"kak Ardi...(Rumi menggeleng menatap sedih kearah kakak yang selama ini sangat menyayanginya seolah berbalik membencinya)". Rumi
dan melihat Satria menjauh membuat Rumi bertindak cepat.
"Maafkan Rumi kak, ini bukan soal pilihan kak, tapi ini adalah kewajiban Rumi yang harus Rumi tunaikan.
(mengejar Satria meninggalkan ketiganya, Nona,Ardi dan Rama).
mas...tunggu mas...kau mau membawa Aydan kemana mas...(Rumi setengah berlari mengejarnya tanpa memperdulikan Rama dengan raut khawatir dan marahnya).
tunggu mas...". Rumi
"huh.....hah....(nampak mencoba menguasai keadaan)". Ardi
"apa yang perlu aku tunggu Rumi (Satria menghentikan langkahnya, dan menoleh kelawan bicaranya yang menyusul gladis hendak kearah mobil pribadinya)". Satria
"jangan bawa Aydanku mas, kembalikan Aydan kepadaku...!
aku tau kau sangat kecewa dan marah kepadaku mas, maaf...aku sungguh meminta maaf kepadamu mas...!
aku mohon izinkanlah aku untuk mengurus Aydan". Rumi
dan jangan pernah mengharap belas kasihan ku untuk menyerahkan Aydan kepadamu.
Aydan adalah anak kandungku, jadi akulah yang berhak atasnya.
Aydan adalah tanggunganku , tanggung jawabku". Satria
"mas...(tercekat).
tapi...tapi aku juga adalah ibu kandungnya juga mas....hiks...kumohon , Aydan masih terlalu kecil tanpa ibunya!.
marahlah padaku...kau juga pantas membenciku...tapi kumohon jangan pisahkan aku dengan Aydanku... ". Rumi
"terlalu kecil? lalu apa yang ada diperutmu? (dengan tatapan menghina , bagaikan seorang perempuan tidak baik kini Rumi dimata satria yang karena sudah lebih memilih Rama dibandingkan dirinya yang sangat tulus mencintainya, mengorbankan segalanya).
aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu Rumi (Satria kembali melangkah kalinya dan meninggalkan Rumi dalam tangisannya)". Satria
"hiks.... maafkan ku mas, ini sungguh diluar keinginan dan kemampuanku... Maafkanlah aku yang sudah berdosa kepadamu mas... berdosa kepada kalian semua hiks....(Rumi memegangi dada-nya serasa ada ledakan disana yang membuat dirinya susah untuk bernafas.
Rumi merosot tidak kuasa menahan kepedihan dan rasa bersalahnya hingga gaun yang ia kenakan kotor terkena debu yang menyambutnya dalam kekalutan hatinya)". Rumi
__ADS_1
"sayang....bergumam. (melihat Rumi dalam keadaan seperti itu karena laki-laki lain membuat dirinya cemburu dan sangat marah sekaligus sedikit ada rasa kasihan).
tunggu dosen, (dengan lantangnya).
biarkan istriku yang mengurusnya, aku jamin akan kesejahteraan Aydan". Rama
Satria nampak menghentikan langkahnya.
dan sejurus kemudian berbalik.
"seharusnya kau tidak usah selalu ikut campur dengan hubungan aku dengan nyonya Rumi, itu terdengar sangat menggelikan tuan Rama (dengan tatapan sinisnya tidak ada secuilpun rasa sungkan dan hormat)". Satria
"aku tau dosen Satria, tapi ini sudah menyangkut istriku...wanita yang sangat aku cintai (penekanan disetiap katanya membuat Satria mual dengan raut seseorang dengan wajah bekas operasianya).
kita tidak mungkin membiarkan seseorang yang begitu kita sangat cintai terus menerus menangis di hadapan kita bukan?, jadi aku minta serahkanlah Aydan kepadanya, kalau tidak....(dicegat)". Rama
"kalian sama saja, (mencibir) sama-sama tidak tau malu dan tidak tau aturan.
kalau tidak apa hah....??? tuan Rama yang terhormat, tapi sama sekali tidak menunjukkan sifat terhormatnya? (sinis dan geram).
apa kau ingin mengeroyokku lagi, memisahkan aku dengan keluargaku lagi, dan hingga membuatku kehilangan dari kesadaranku lagi??? , seperti itu hah.... ??? (menatap tajam)". Satria
semua menyimak rahasia yang selama ini hanya beberapa orang yang tau saja kini sudah menyebar luas membuat orang-orang yang baru tau menyaksikan dibuat merinding dan sulit untuk mencerna dengan tatapan kagetnya.
"itu bisa saja terjadi lagi...(tidak kalah tajam)". Rama
Dimas, Adam dan Alan maju berusaha menghalau kemungkinan peperangan yang terlihat di ujung tanduk itu.
"Kalian sudahlah, disini ada anak-anak, selesaikan masalah ini tanpa perkelahian...(Alan menepuk-nepuk pundak Satria yang terasa mengeras karena tegang menahan amarahnya)". Alan
"Rumi bawalah tuan Rama pergi dari sini, masalah Aydan biar aku yang bicara kepadanya (berusaha bijak)". Dimas
sedangkan Ardi sudah terlanjur kecewa dengan adik kecilnya hanya diam mencoba untuk menguasai keadaan.
"hiks....(Rumi menggeleng masih dalam keterpurukkannya).
mas....(Rumi perlahan bangkit dengan langkah pelannya Rumi menangkap lengan milik Rama dan menggoyangkannya ,gerakkan itu dapat Satria saksikan dengan jelas membuat hatinya semakin sakit) kita pulang ya mas...mungkin aku salah sudah meminta izin kepadamu untuk datang ke sini...!.
aku minta kita pulang, meskipun aku tidak mendapatkan Aydan.
ayo mas ..bukanya kau sudah berjanji tidak akan menyakiti keluargaku lagi hem...(nadanya begitu lirih membuat Rama menjadi tidak tega)". Rumi
"tidak Rumi, kita akan tetap pulang dengan membawa Aydan kita, bukannya kau sudah tau dengan ketulusanku... Aydan juga adalah anakku...(tatapan Rama dialihkan ke arah dimana mobil satria berada ya disana terlihat Aydan dipaku gladis yang menatap kearah orang-orang yang tengah berdebat dan disebelahnya ada Caca tengah terduduk di kursi penumpang dengan kaca yang terbuka hingga Rama masih bisa melihat dengan jelas penghuninya)". Rama
mendengar Rama menyebutkan bahwa anak kandungnya disebut dari bibir Rama adalah anaknya juga membuat seketika amarahnya meledak, di barengi melihat tatapan Rama kearah dimana Aydan membuat Satria semakin yakin untuk menyerang.
__ADS_1
"lepaskan, (Satria menghempas kasar tangan milik Alan yang berada dipundaknya dan maju kearah Rama yang tengah melangkah kearah dimana mobilnya berada).
hentikan langkahmu... manusia tanpa hati ... bugggghkk....(Satria menghadiahi Rama dengan sebuah pukulan diarea perutnya membuat seketika Rama menghentikan aktifitas berjalannya)". Satria