Tangisan Suci

Tangisan Suci
Pagi yang berbeda


__ADS_3

"akhirnya selesai juga". Rumi


Rumi membuka pintu kamar mandi dan melangkahkan kakinya ke kamar tidurnya. ia segera memakai pakaian kesehariannya seorang gadis rumahan dengan setelan kaos dan hotpants nya.


entahlah walaupun ia sudah menikah ,ia tampil seperti gadis-gadis pada umumnya dan Rama tidak mempermasalahkan dengan pakaian nya. ya karena mereka tidak pernah terlihat keluar berjalan berdua untuk menghadiri sebuah undangan pertemuan atau semacam nya.


dirumah sederhana yang Rumi tempati ini hanya memiliki 2 kamar tidur dan satu kamar mandi. Mereka tidur terpisah seperti waktu dirumah yang keduanya pernah tinggal di rumah yang berada ditengah-tengah danau buatan sewaktu dulu.


"yumm.... seperti aroma sebuah masakan... siapa yang sedang memasak bukannya itu adalah tugasku? dan eh..kok baunya jadi aneh... seperti bau gosong...(Rumi yang sudah cantik dengan makeup tipis dan natural itu dengan rambut yang biasa ia gerainya hendak melangkah kearah dapur mencari kesumber sebuah aroma yang mengganggu penciuman)". Rumi


"bagaimana ini...uh tidak berhasil, bentuk dan warnanya jadi seperti ini... ini tidak mudah seperti kelihatannya...". Rama


nampak seseorang dengan punggung lebarnya sedang berdiri membelakangi Rumi ia nampak berkutat dengan perannya sebagai chef gadungan.


"tuan kau sedang apa? apakah kau mencoba untuk memasak? sini aku bantu...(Rumi mendekat dan berdiri mensejajari Rama yang berdiri) ya ampun tuan apa yang kau lakukan dengan telurnya...(Rumi rasanya ingin tertawa namun ia tau pasti ia akan kena omelan dari tuannya)?". Rumi


"maaf aku hanya ingin membuatkan kita sebuah sarapan...(dengan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal)". Rama


"terlihat aneh .... membatin". Rumi


"biarkan aku saja tuan ,tuan pergilah untuk mandi saja...aku sudah biasa dengan ini (memberi pengertian)". Rumi


"baiklah...(dengan nada yang pelan dan tatapan yang tidak biasa Rama perlahan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi)". Rama


hufffttsss.... terdengar suara helaan nafas panjang


"sebenarnya apa yang terjadi kepada mu tuan ,... membatin". Rumi


selang beberapa waktu, kini Rumi sedang asyik menjalankan perannya sebagai seorang istri yaitu memasakkan menu-menu yang enak untuk suami tercinta. apa suami tercinta? lebih tepatnya suami palsunya.

__ADS_1


nampak Rumi sudah mematikan nyala api didapurnya,dan sedang khusyuk menaruh beberapa menu andalannya dan menuangkan air putih kedalam gelas dimeja makan yang terlihat rapi akan kesederhanaan nya.


dengan tiba-tiba sebuah tangan yang masih basah melingkar di area pinggang Rumi, dan sebuah dagu mendarat tepat di pundaknya dan membisikan sesuatu.


"ahkk....(kaget Rumi) ". Rumi


"maafkan aku Rumi... selama ini aku memperlakukan mu dengan cara yang tidak baik, aku sungguh menyesalinya... maafkan aku... aku terlalu kaku untuk menjalani rumah tangga ini... aku baru tersadar ternyata kau bukanlah perempuan biasa hingga dengan rupaku saja kau dengan mudah menerimanya. aku malu dengan semua ke egowisanku, atas semua kekeliruanku menilaimu(Rama memutar tubuhnya hingga kini posisi mereka saling berhadapan Rama menggenggam erat kedua tangan Rumi ia hanya menggunakan jubah mandinya)hem... hufff...(Rama mengambil nafas dalam-dalam) maukah engkau memulainya dari awal bersamaku Rumi , maukah engkau menjalani rumah tangga denganku dengan cara yang normal dan dengan alur yang semestinya jadilah istriku untuk selamanya dan aku akan menjadi suamimu untuk selamanya hemmm..(Rapa menatap intens dengan topeng yang sepertinya sudah melekat dengan sosoknya dan Rumilah orang pertama yang melihat rupa Rama untuk yang kesekian kalinya)...". Rama


deg....degggg.....detak jantung keduanya terdengar begitu nyata. berhadapan dalam posisi seperti ini membuat keduanya sangat dekat dan terasa begitu intens.


ini baru pertama kali nya ia mendapatkan perlakuan istimewa dari suaminya iapun hampir tidak percaya dengan kenyataan ini.


Rumi hanya diam mencoba mengumpulkan keberanian dan mencari kebenaran akan kesungguhan suaminya yang dulu semena-menanya itu.


"kenapa kau diam Hem... (dengan diamnya Rumi Rama menjadi tidak percaya diri)". Rama


"apakah benar tuan...? tuan tidak sedang bercanda kan? (dengan nada hati-hati dan sedikit keraguan)". Rumi


entah keberanian apa hingga Rumi bisa berfikiran untuk tertawa.


"haha....tuan tolong jangan seperti ini, ini membuatku merasa aneh... bagaimana bisa tuan mengatakan hal demikian kepadaku??? bukannya dulu aku hanyalah adalah alat sebuah balas dendam?". Rumi


"aku mengaku aku salah Rumi, dan aku sangat menyesalinya....menyesali segala perbuatanku dimasa lalu, aku begitu jahat memisahkan kalian (Rumi dan Romi) padahal aku tau kau dan dia saling mencintai....(ada kegetiran diucapkannya)". Rama


"cukup tuan tolong jangan sebut nama itu lagi... aku sudah mengikhlaskan dengan apa yang terjadi namun ini terlalu cepat tuan... aku takut nanti aku akan kecewa bila menaruh hati padamu... karena aku tau didalam hatimu tuan,kau masih menyimpan nama orang yang kau sangat cintai dulu, dara bukannya nama itu yang masih sampai sekarang yang berada dihati tuan?". Rumi


"tapi Rumi walau bagaimanapun kita adalah sepasang suami istri...kita telah menikah secara agama dan negara. dan aku tidak akan pernah melepaskanmu Sampai kapanpun tidak ada perceraian didalam pernikahanku....". Rama


Rumi nampak memejamkan netranya.

__ADS_1


"entahlah tuan aku....(Rumi terkaget-kaget saat Rama menarik tengkuknya dan menempelkan bibir diantara keduanya) akhp....(Rumi membelalakkan matanya dan memegang erat jubah yang Rama pakai).". Rumi


# flash back #


"Rama berjanjilah kepada mommy, jangan sakiti Rumi lagi...(dengan tatapan sedihnya)". Amanda


"Rama tau mom batasan Rama ...". Rama


"Rama perlakukanlah istrimu seperti dengan sumpah dan janjimu yang pernah kau ucapkan dulu (sebuah janji pernikahan), dan lupakanlah dendammu itu (mencerai beraikan hubungan Romi dan Rumi seperti yang Romi lakukan kepada-nya terhadap dirinya dan dara di benak Rama seperti itu) sekarang Rumi sudah menjadi istrimu maka perlakuanlah ia dengan cara yang patut...". Samuel


"aku akan berusaha....". Rama


"Rama , aku percaya padamu kau pasti bisa. aku sudah memaafkanmu tanpa kau meminta maaf padaku...dan untukmu Rumi sekali lagi aku minta maaf kepadamu ini bukanlah keinginku...(dengan mata yang berkaca-kaca)". Romi


Rama terdiam sesungguhnya ia masih sangat benci kepada saudara kembarnya itu, ia masih belum bisa menemukan dara, jadi ia belum bisa menemukan pelakunya namun kecurigaan nya kepada saudara kembarnya itu sangatlah besar hingga apapun yang berkaitan dengannya ia akan membencinya juga terutama bagi kebahagiaan Romi. karena selama ini dihidupnya hanya merasakan kepahitan dan kekecewaan yang terus-menerus hidup tanpa rasa yang lainnya.


Rumi hanya bisa tersenyum dalam kegetiran , jujur ia sendiri tidak percaya dengan dirinya sendiri jalan yang sudah ia pilih. namun keadaan tidak menunjukkan sebuah pilihan untuknya hingga dengan menuruti keinginan Rama semuanya bisa terkendalikan. ia akan berkorban demi orang-orang yang ia sayangi.


Rumi bisa membayangkan kekacauan yang terjadi bahkan pertumpahan darah mungkin saja bisa terjadi diantara keluarga Wijaya itu sendiri jikalau Rumi hanya berdiam diri tanpa ikut andil dalam sebuah keputusan.


sedangkan untuk ibu Sarah ,kak ardi nya serta Dimas kakak yang tersayangnya hanya menghargai segala keputusan dari pihak Rumi mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya.


# flash back off #


"tuan....". Rumi


setelah Rama melepaskan ciumannya kepada Rumi, Rama mempersilahkan Rumi untuk duduk dengan sangat manis.


"menurutlah...setelah aku pikir-pikir aku tidak perlu kata bersediamu, karena akulah suamimu aku berhak atas dirimu (dengan senyuman jahilnya) tunggu aku,hanya sebentar...(Rama meninggalkan Rumi yang terduduk menerka-nerka dalam kegelisahan)". Rama

__ADS_1


"apa-apaan , tidak kasar tidak lembut sikapnya selalu sama semena-mena...(melirik kesal menatap kepergian Rama) ah...bibirku (Rumi meraba bekas ciuman singkat itu) mas Romi....maafkan aku, aku belum bisa melupakanmu... membatin". Rumi


__ADS_2