Tangisan Suci

Tangisan Suci
Hari ini


__ADS_3

🌾 Disebuah pusat perbelanjaan 🌾


"ini kesempatanku untuk memberikan kabar kepada kak Dimas... bergumam". Rumi


terlihat sosok wanita dengan perut yang sudah menunjukkan buncitnya tengah berjalan dengan mengendap-mengendap disalah satu deretan toko-toko yang bersejajar dengan aneka ragam bentuk dan fungsinya.


"sayang kau ada dimana? kenapa kau tiba-tiba saja menghilang". Rama


nampak Rama dengan raut khawatirnya terlihat mencari dengan pengelihatannya yang menoleh kekanan/ ke kiri dalam keramaian Disebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, Rama nampak mengambil benda layar kecil berbentuk pipihnya dan terlihat berbicara dengan seseorang diseberang sana.


ya Rumi meminta kepada Rama supaya Rama memberikan izin kepadanya untuk pergi kesebuah pusat perbelanjaan untuk mendapatkan sebuah kudapan yang Rumi inginkan dengan cara membelinya sendiri, semua itu adalah salah satu bentuk pada umumnya seorang wanita pada waktu hamil/ngidamnya.


namun bukanya izin yang Rumi dapatkan dari Rama namun kini Ramalah yang pergi untuk mengantarnya untuk mendapatkan sebuah kudapan yang Rumi inginkan tersebut.


🌷momen ini mengingatkan Rama pada waktu silam disaat sang istri tengah mengandung Raka dan pada saat itu suasana ini adalah salah satu momen yang paling berkesan dihidupnya ya karena pada saat itu hubunganya bersama sang istri sedang harmonis-harmonisnya🌷


dan disaat Rama memesankan untuk Rumi dan cukup mengantri,Rumi yang tadinya duduk manis disebuah kursi tunggu kini lenyap dari pengelihatan menjadikan Rama kalang kabut akan kepergian istrinya.


dengan pakaian yang sedikit santai menggunakan sebuah topi dan kacamata hitamnya dan tanpa dikawal , membuat pengunjung lain tidak menyadari bahwa laki-laki yang bersinggungan langsung dengan mereka adalah tuan Rama yang menurut mereka adalah tuan yang berkuasa dengan kebaikan hatinya. ya karena amsumsi umum mengatakan keluarga Wijaya dan perusahaan yang dikelola oleh keluarga besar Wijaya adalah keluarga yang terkenal akan bala bantuannya dinegri ini.


"ayo ...angkat kak, Rumi mohon angkatlah... (sedikit menggerutu disaat nomer yang dituju tidak kunjung mengangkat panggilan darinya)". Rumi


diseberang sana.


drttttt... drttt... terlihat panggilan masuk dari sebuah nomer yang tidak dikenal.


"pak dosen Dimas, ada panggilan masuk diponsel bapak".salah satu teman Dimas


"benarkah, oh ia terima kasih...(Dimas yang asyik dengan hasil ujian dari anak didiknya sampai sedikit terlupa dengan lingkungan sekitar).


(Dimas meraih ponselnya yang ada dimeja kerjanya) nomer tidak dikenal.


siapa ini, kenapa menggunakan nomer telepon umum... bergumam". Dimas


melihat teman seperjuangan hanya melihat ponselnya tanpa mengangkat, telepon yang sedari tadi berdering membuat teman yang paling dekat duduknya dengan-nya bertanya.


"kenapa tidak diangkat pak, siapa tau telepon dari orang yang penting".salah satu teman Dimas


"hem, (Dimas menunjukkan bahwa dirinya akan mengangkat panggilan tersebut)". Dimas


📲 *"... assalamu'alaikum, siapa?".*Dimas

__ADS_1


📲 *" ini aku kak, aku dan keluarga kecilku terpisah. tolong Carikan Caca dan ...(Suara Rumi terjeda)".* Rumi


dan beberapa saat telepon mati sepihak.


deggggg.....


📲*" Rumi!, apakah ini kau?...tutttt.....(telepon mati sepihak)".*Dimas


"Rumi? terpisah dari keluarga kecilnya...bergumam.


apakah tuan Rama...!!!? degggg....". Dimas


"ada apa pak kenapa bapak terlihat kaget seperti itu".teman Dimas


sementara itu.


"apa yang kau lakukan disini Rumi, (Rama memegang tangan Rumi dan meletakkan telepon yang Rumi pegang ditempatnya) apa kau sedang mencari bantuan untuk lari dariku? (tatapan Rama yang beberapa bulan ini penuh kehangatan dan mengalah kini berubah mencekam kepada Rumi)". Rama


"a...aku hanya ingin menelpon temanku". Rumi


"apa yang kau fikirkan mengenaiku..hem? aku bukanlah Rama yang dulu sayang...Rama yang sekarang tidak akan dan tidak akan pernah akan membiarkanmu sejengkal saja melangkahkan kakimu untuk pergi menjauh dariku, apa kau sudah benar mengerti...". Rama


"kau jahat mas...yang aku tau dan selamanya aku ingin tau mengenaimu... Rama yang dulu hingga sekarang kau tetap sama mas, kau adalah tuan Rama yang selalu semena-mena kepadaku...!!!(Rumi berusaha melepaskan cekalan dari tangan yang sekarang menjadi suaminya itu)". Rumi


"tidak, aku tidak mau...tolong.... tolong...orang ini akan menculikku dia ingin menjual bayi yang sedang aku kandung...(Rumi berteriak histeris hingga mengundang masa)". Rumi


"lepaskan tuan, apa yang kau lakukan dengan wanita hamil itu...(karuan para ibu-ibu yang melihat pemandangan kurang mengenakan mata itu dengan semangat mulai mengerok Rama)". pasukan ibu-ibu


"hei... hentikan kalian salah dia adalah istriku yang tengah merajuk (disaat Rama terpisah dari Rumi dan mulai kualahan menghadapi Serangan dari ibu-ibu bersemangat itu)". Rama


melihat Rama kualahan menghadapi serbuan para ibu-ibu ,Rumi setengah berlari menjauh dengan memegangi perutnya yang sudah benar memperlihatkan buncit diarea perutnya.


"tuhan tolong berikan aku kemudahanmu...(Rumi mulai mencari taxi hanya beberapa uang tunai yang Rumi bawa ya karena Rama selama beberapa bulan ini tidak memperbolehkan Rumi untuk kemanapun, ya karena apapun yang melekat pada sosok Rumi Ramalah yang sudah mengaturnya dengan panduan yang Rama dapatkan dari seseorang mengenai kebutuhan perempuan. dan hari ini adalah hari dimana Rumi memberikan permintaan dan alangkah senangnya Rama mengabulkannya dan kesempatan ini Rumi akan gunakan sebaik-baiknya untuk pergi dari kehidupan Rama Karena Rumi yakin kandungannya di trisemester keduanya calon bayinya semakin kuat)". Rumi


"pak jalan, (Rumi memberikan arahan kemana ia akan pergi)". Rumi


"Hem, (mengangguk , mengiyakan tanpa banyak bicara)". sopir


"tunggu aku mas Satria aku akan mencari mu dan kembali padamu... bergumam". Rumi


selang beberapa waktu.

__ADS_1


"pak kenapa kita berhenti disini, eh .. pak...(Rumi kaget disaat sang sopir berhenti dipinggiran jalan dan membukakan pintu untuknya dan lebih kagetnya disaat netranya melihat sebuah mobil yang tidak asing baginya ya mobil itu adalah milik tuan berkuasa yang sekarang menjadi suaminya lagi berhenti didepan mobil taxi yang ditumpangi Rumi)". Rumi


"sudah dengan acara bermain-mainnya (Rama membuka pintu penumpang dimobilnya disebelah kemudinya dengan tanpa perlawanan Rumi masuk dengan isakkan yang tertahan)". Rama


_skip_


semenjak kejadian di pusat perbelanjaan itu kini Rama semakin menjaga dan membatasi apapun akitivitas Rumi hingga membuat Rumi semakin merasa benci kepada Rama atas rasa obsesi dan ke posesif'an nya.


kandungan Rumi semakin hari semakin membesar, dan beberapa bulan telah berlalu bagi Rama istrinya masih memiliki beberapa waktu untuk menantikan akan kelahiran dari sang buah hati mereka namun dengan cukup dengan rasa terkejut disaat Rumi memperlihatkan wajah sakitnya.


"kau kenapa sayang? apa kau tengah merasakan sesuatu...? (berusaha menjadi Daddy yang sigap atas kehamilan istrinya)". Rama


"perutku terasa nyeri mas, (nampak Rumi meringis untuk beberapa saat dengan peluh yang berkeluaran dari pelipisnya)". Rumi


"sayang apa ini tanda kelahiran anak kita? (tatapan senang dengan mengelus perut buncit Rumi dan meniup pelan pelipis dari sang istri yang terus mengeluarkan rasa gerahnya ) tapi bukannya usia kandungan mu baru genap 8 bulan!?". Rama


"entahlah aku ingin kekamar mandi mas". Rumi


Rumi bangkit dari posisi duduknya dan dengan senang dan sigap Rama membantu sang istri tercintanya, ya selama ini Rumi Adalah seorang istri yang penurut meskipun terkadang moodnya yang berubah-ubah dan tidak jarang Rama mendapatkan dampak dari badmood milik istrinya namun dengan sabar dan telaten Rama membantu akan proses kehamilan dari sang istri,ia tidak akan menyia-nyiakan moment ini. ini adalah moment yang seharusnya ia jalani bersama orang tercintanya. ini adalah sebagai tanda penebus kesalahannya dimasa silam. Rama akan berjanji akan memperhatikan dan menjalani segala prosesnya bersama sang istri dan anak-anaknya.


"ahh... sakit...!!!.


mas... Satria kau ada Dimana sekarang mas, aku akan melahirkan anak kita mas... (ya harapan Rumi untuk kembali hidup bersama satria begitu besar)...bergumam". Rumi


"sayang buka pintunya biarkan aku masuk dan membantumu...(beberapa kali Rama menggedor pintu kamar mandi yang tertutup rapat ia takut istrinya membutuhkan bantuannya)". Rama


sekitar 30 menit kemudian.


brakkkk... dengan cara terpaksa Rama mendobrak pintu kamar mandi yang tiada Rumi buka.


"sayang kenapa kau seperti ini, (Rama melihat Rumi dengan keadaan lemahnya dengan air ketuban yang sudah pecah...(Rama langsung membopong tubuh milik istrinya dan membaringkan kekasur empuknya)cepat panggilkan dokter keluargaku...(dengan bentakkan khawatirnya kepada para pelayan)". Rama


"baik tuan". pelayan


sekitar 15 menit kemudian.


"ahhh..sakit dok". Rumi


"kenapa bayinya tidak mau keluar dok nampak Rama dengan segala campur aduknya setengah memarahi para dokter yang sedang menangani istrinya)". Rama


"nyonya terlalu lemah untuk mengejan (rasa tidak enak hati dan takutnya)". dokter

__ADS_1


"sayang ...(Rama menggenggam erat tangan milik sang istri dengan beberapa kali mengecup hangat kening milik istrinya dengan linangan air mata dari sudut matanya) bertahanlah... kuatlah demi bayi kita (Rama berusaha memberikan kekuatan)". Rama


"bukan genggaman tangan darimu mas yang aku harapkan disaat ini, aku mengharapkan seorang dosen yang menawan hatiku yang sekarang ada diposisimu...mas Satria...mas anakmu menginginkanmu ada disini mas...... membatin!". Rumi


__ADS_2