
Seharian penuh Rama tidak pergi untuk keluar rumah, ia hanya terlihat sibuk di meja kerjanya,ya walaupun nampak sederhana rumah yang Rumi tinggali bersama Rama memiliki ruang cukup untuk aktivitas keduanya.
kini malam telah tiba kembali dengan rintik hujan yang mulai menyirami permukaan bumi, dinginnya udara hujan menimbulkan sejuta taktik bagi yang sedang merangkai rencana ,Rumi dia baru akan pergi untuk tidur dan berdiri tepat di depan pintu kamarnya terhenti akan sebuah Suara teguran dari seseorang.
"Rumi tunggu...". Rama
"(Rumi membalikkannya tubuhnya) ia...ada apa tuan ,apa masih ada yang tuan perlukan? (ya pasalnya hari ini tuanya sangat banyak permintaan dan terlihat sangat tergantung padanya akan segara hal sesuatunya seperti membuatkan minuman hangat, camilan, membantunya dalam mencari lembaran berkas seperti tuannya tidak mau pergi jauh-jauh darinya itu terlihat sangat janggal diingatnya namun Rumi membuang jauh-jauh segala prasangka dihatinya)". Rumi
"tolong masuklah ke kamarku, aku ingin melihatmu merapikan lagi kamar tidurku sepertinya tadi aku sedikit mengotorinya aku menumpahkan sesuatu diselimutnya (dengan pura-pura mengingat)". Rama
tanpa rasa curiga Rumi dengan santai nya masuk kedalam kamar Rama untuk memeriksanya dan melakukan dengan apa yang Rama perintahkan.
"sama seperti semula , seperti terakhir aku membersihkan dan membereskannya seperti terakhir aku meninggalkan kamar ini...(bergumam), masih terlihat rapi dan bersih...tuan...ini akh...tuan apa yang tuan lakukan?". Rumi
"maafkan aku Rumi aku hanya akan mengambil dengan apa yang seharusnya menjadi milikku...(merengkuh dari belakang dengan posesifnya dan membisik mesra ) aku ingin kita melakukannya malam ini...". Rama
deggg...deggg...detak jantung keduanya.
"lepaskan tuan...aku tidak mau melakukannya tanpa cinta, berikan aku sedikit waktu lagi tuan...(Rumi berusaha menepis rengkuhan penuh gairah itu)". Rumi
__ADS_1
"biarkan aku yang mencintaimu saja,aku rasa itu sudah cukup... (Rama menciumi tengkuk Rumi dengan penuh gairah namun dengan pelan dan kelembutan perlakuan gentle nya membuat Rumi berdiri tegang)". Rama
"tapi tuan itu tidaklah cukup...tuan.. ummm....(Rumi dengan susah payah menahan Rama dari berat badan dan perlakuan nakalnya)". Rumi
tangan Rama merayap keatas menggenggam bagian sensitif Rumi hingga menimbulkan sedikit ******* dari bibir polosnya, Rama tersenyum menang dengan gerakkan cepatnya Rama membalikkan tubuh Rumi hingga kini ia dengan mudah menggapai bibir ranum milik Rumi sepertinya ia sudah kecanduan akan manisnya bibir perempuan pemilik manik bermata bulat itu.
ahkp..... dengan sedikit penolakkan Rumi memukul-mukul dada Rama ia sudah tidak tahan akan semua perlakuan dari tuannya itu.
"emmm....ummm". Rumi
Rumi mencoba menggelengkan kepalanya dan terus memberontak, namun sejurus kemudian Rama menuntun langkahnya dan dengan perlahan menidurkan Rumi tanpa melepaskan pagutannya bibirnya dan menindihnya hingga kini posisi Rumi telah tertidur terlentang dengan Rama diatasnya Rama melepaskan ciumannya.
"aku akan melakukannya dengan cara yang lembut kau tidak perlu takut,ataupun risau Hem...(Rama menangkap wajah pemilik mata bulat jernih itu)". Rama
"sekarang atau nanti itu tetap sama saja (melihat Rumi yang terus melakukan perlawanan dan penolakkan membuat Rama semakin lama untuk menuntaskan hasrat yang sudah menggebu-gebu sejak ia berada di ruangan kerjanya, ya Rama seharian ini terlihat sibuk dengan pekerjaannya padahal sesungguhnya Rama mencoba menepis semua rasa yang membuncah dalam dadanya kenapa dihatinya ingin selalu bersama Rumi dan tubuhnya bereaksi kepada gadis polos itu, sedangkan 1 tahun penuh ia bersamanya sewaktu dulu dapat ia lewati dengan biasa-biasa saja. apakah benar ia sudah bisa mulai mencintai gadis polos itu, ataukah Rama sudah bisa membuka hatinya jalan pikirannya untuk melupakan cinta pertamanya entahlah yang Rama tau dan ia rasakan saat ini ingin memiliki seorang Rumi dengan seutuhnya ia tidak mau kehilangan sosok yang selama ini menemaninya dalam 1 tahun ini dengan setianya merawat dan menjalankan semua perintah dan kewajibannya tanpa bantahan kecuali satu yaitu melakukan hubungan suami-istri)". Rama
"tuan...aku mohon tuan beri aku sedikit waktu lagi.... hiks....(nampak sekali ia ketakutan dalam kegelisahan)" Rumi
"diamlah ini tidak semenakutkan yang kau bayangkan, ini akan terasa sangat nikmat dan kau juga pasti akan bisa menerimanya....(Rama mengikat tangan Rumi yang tidak mau diam dengan terikat dikedua sisi kepalanya dengan kain seadanya dengan sangat kuat)".Rama
__ADS_1
"tuan... apa yang kau lakukan kenapa kau mengikatku (Rumi semakin ketakutan saat Rama mengikat kedua tangannya)".Rumi
"aku terpaksa mengikatmu karena tanganmu mengganggu aktivitasku sayang...(Rama mulai melucuti pakaiannya dan tidak keterkecuali Rama juga melepaskan topeng yang mengganggu aktivitasnya itu, kini terlihat seperti seorang gadis yang dipaksa melayani sosok monster yang menakutkan)". Rama
"hiks....tuan aku mohon...". Rumi
Rumi hanya bisa menangis dan pasrah saat tangan kekar itu menyobek kain bagian depannya dan menikmati semua yang terekspos dengan mata yang terpejam dan menahan segala gejolak yang ada.
Rama sangat menikmati moment ini ia tiada henti-hentinya memanggil nama istrinya itu dengan sentuhan-sentuhan nakalnya yang merayap ke segala arah, melampiaskan segala hasrat yang terpendam meneguk segala ke indahan yang ada.
"bersiaplah ini akan sedikit mengejutkan...(dan selang beberapa menit Rama melakukanya dengan sejuta ambisi dan mendapatkan kepuasannya ini pertama kalinya ia melakukannya dengan seorang perempuan yang masih tersegel rapat, dan pertama kalinya melakukan dengan status suami-istri)" Rama
"hiks.....(entah rasa apa yang menyelimuti hatinya , rasanya bagaikan sesuatu dalam dirinya yang sangat berharga telah terenggut dengan cara paksa ya karena jujur dihatinya Rumi masih mencintai satu nama yaitu Romi Wijaya kembaran dari suaminya sendiri)". Rumi
malam semakin larut namun pergulatan panas itu semakin menjadi, Rama tidak mau menyia-nyiakan kenikmatan duniawi dengan cara yang singkat.
air mata rasanya sudah kering, dan pergelangan tangan Rumi terlihat merah terkikis kain yang mengikatnya dengan kencang.
Rama perlahan melepaskan ikatan itu dan digantikan dengan genggaman tangannya pada jemari-jemari Rumi, karena Rumi terlihat sudah menyerah dengan perlawanannya.
__ADS_1
"aku akan segera menuntaskannya sayang...bertahanlah... (dengan gerakan yang semakin menuntut dan tanpa jeda membuat dirinya lupa akan daratan...ia sungguh terpua..-kan akan permainan yang berlangsung sejak beberapa jam lalu) maafkan aku telah memaksamu dan terima kasih kau telah memberikannya untukku... semoga benihku cepat tumbuh disini (dengan nafas yang masih tidak beraturan Rama mengecup mesra perut yang masih nampak rata itu)". Rama
Rumi yang masih tidak percaya dengan apa yang sudah ia alami hanya mampu mengigit bibirnya dengan posisi membelakangi Rama ia tidak mau melihat sosok suaminya baginya Rama tetaplah laki-laki yang semena-mena.