Tangisan Suci

Tangisan Suci
Berjalan di atas Tangisan 1


__ADS_3

_skip_


* disebuah kopi shop *.


brakkkk.....suara sebuah meja yang di gebrak hingga mengundang tatapan tidak nyaman sekaligus penasaran bagi para pengunjung yang lain.


tidak ada satupun yang berani mendekat, termasuk owner kopi shop itu sendiri, baginya memiliki tamu terhormat seperti tuan besar Rama adalah kebanggaan tersendiri baginya. hingga tidak perduli dengan kemungkinan keburukkan apapun yang dapat bisa saja terjadi di kopi shop miliknya.


"jangan pernah sekali-kali lagi Anda memintaku untuk mengabulkan permintaan gila mu itu tuan (dengan dada yang terlihat mengembang dan mengempis dengan deru yang kencang dengan tatapan lurusnya kelawan bicara. laki-laki tampan dengan kegagahannya menatap elang kepada lawan dengan setelan jas rapihnya namun menyisahkan bekas operasian samar diwajahnya)". Satria


"tenanglah dosen, jangan terburu-buru. pikirkanlah dulu, aku akan membayar berapapun yang kau mau!". Rama


"jangan harap (Satria bangkit dan membelakangi Rama).


aku tidak selera dengan seseorang yang hanya mengandalkan kekuatannya menunjuk jari dengan kekuasaan dan kedudukannya apa lagi dengan uangnya". Satria


"aku mohon padamu dosen, mundurlah. bukannya kau sudah mendapatkan Aydanmu!". Rama


"b..-sat, tidakkah kau menyadari dengan apa yang sudah kau perbuat atas segalanya keburukkanmu kepada semua orang? (dengan rahang yang mengeras berbalik menatap tepat kemanik netra Rama) aku sungguh tidak ingin melihatmu tuan, aku harap ini yang terakhir kalinya aku bisa bertemu dan melihatmu...(Satria meninggalkan Rama dengan tatapan sulitnya)". Satria


"hahh.... Hem....(Rama melihat Satria membuka pintu kaca itu dan menghilang dari keramaian suasana kota)....aku memang b..-sat, aku juga memang gila, tapi bagiku Rumi dan anak-anakku adalah segalanya, mereka akan aku pertahankan... sampai kapanpun akan tetap akan sama... bergumam (disaat Rama mulai bisa menguasai emosinya)". Rama


ini adalah hal memalukan disepanjang hidupnya memohon kepada sang rivalnya disaksikan oleh orang -orang yang berada di kopi shop itu.


_skip_


jam didinding sudah menunjukkan pukul 4 sore.


"apakah kau akan menginap di sini (dengan tatapan hangatnya)" Satria


"tidak mas...(beralih kepada anaknya yang mulai aktif menggerakkan kakinya) hati-hati sayang..(Aydan yang semakin melatih kemampuannya untuk berjalan semakin hari semakin terlihat menggemaskan)". Rumi


"Aydan Allbiru...kau ingat nama itu? nama itu adalah nama yang dulu pernah aku berikan untuk buah hati kita,dan kau memberikan nama itu untuk anak kita. aku sangat berterima kasih kepada mu Rumi?!!". Satria


"jangan berterima kasih kepadaku mas, anggap saja ini adalah sebuah tugas yang aku harus kerjakan .


aku mengingat semuanya mas (ada ketidak relaan di nadanya, mengingat apa yang sudah ia alami namun Rumi berusaha tidak membuat suasana menjadi sedih) mas apakah kau benar baik dengan keadaanmu? (menatap perhatian)". Rumi


"'aku selalu merasa baik saat aku ada di dekatmu Rumi (membalas tatapan dengan senyuman menawannya, baginya ini adalah masih termasuk anugrah yang indah yang masih ia bisa rasakan setelah masa sulit yang ia jalani)". Satria


"mas... (ucapanya terjeda)". Rumi


"Satria...! kapan kau sampai, (beralih kepada Rumi) Rumi kenapa kau tidak mengajak Satria masuk? masuklah...(Ardi muncul dengan semangkuk kudapan yang berasal dari buah yang ia rebus dan haluskan)". Ardi


"aku sampai baru beberapa menit yang lalu kak, oh ia maaf aku telat untuk membantumu beres-beres. (menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan itu membuat Rumi dan Ardi tertawa lucu)". Satria

__ADS_1


hihi.... anggap saja Rumi dan Ardi sedang menertawakan Satria ya.


"Hem,...aku jadi salah tingkah...oh..ia kak, apa itu untuk Aydan?". Satria


"ya ini untuk bocah menggemaskan kalian, seperti kelihatanya". Ardi


"terima kasih kak, kau selalu perhatikan kepada anak kami.


berikan kepadaku kak, biarkan aku saja yang menyuapinya...(meraih)". Satria


"jangan mas, nanti bajumu kotor...(Rumi melarang Satria dengan berusaha mengambil mangkuk namun seakan beku keduanya dengan posisi tangan yang saling bersentuhan dengan mangkuk diantara tangan keduanya)". Rumi


"Cinta lama bersemi kembali... ehkm...! (celetuk Ardi)". Ardi


"kak... (keduanya secara bersamaan melirik Ardi)". Rumi dan Satria


"upsss.... kok jadi bisa samaan seperti itu! (mata Ardi pura-pura mencari sesuatu kedalam rumahnya)". Ardi


"kak,...(Rumi malu).


e...emmm... biarkan aku saja mas Satria... tidak apa, kau baru saja sampai kau pastilah sangat lelah...". Rumi


"adik semata wayang kakak disaat memberikan perhatiannya begitu terlihat sangat menggemaskan juga ya..(menggoda dan hal itu membuat Satria tersenyum lebar melihat Rumi dengan kedua rona dipipi)". Ardi


"aww.... cubitan mu semakin keras saja". Ardi


"hem... tidak apa, kak .. Rumi


...aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan keduaku, ekhm... maksudnya aku tidak akan membiarkan anak kandungku lepas dari kasih sayangku lagi...jadi biarkan aku saja (tanpa melepas mangkuk disertai tangan yang saling menyatu)". Satria


"Hem.. baiklah mas". Rumi


akhirnya Rumi memberikan mangkuk tersebut kepada Satria dengan perasaan campur aduknya ditambah kak ardinya yang selalu memberi kesan mendekatkan diantara keduanya. perasaan senangnya dan terharunya kian nyata suamianya yang ini..eh.. entahlah... mas satrianya memang selalu membuat hatinya meleleh dengan kelembutan dan perhatiannya, Rumi baru menyadari itulah daya tarik bagi mas satrianya wajar saja banyak yang menyukainya termasuk yang sekarang akan menjadi kakak iparnya yang pernah mencintai mas satrianya, entahlah Rumi juga ada rasa khawatir juga melihat pilihan kakak ardinya ia labuhkan kepada sang mantan rivalnya...dulu, apakah Nona tulus mau menikahi kakaknya karena sama-sama suka.


mendengar dari pengakuan sang kakak, perjalanan yang diawali dengan sebuah kesalahan dan rasa bersalahnya dan tanpa dirasa sebenarnya kakaknya seiring berjalannya waktu menaruh rasa yang lain dengan wanita yang bernama Nona.


"a... buka mulutnya tampan Daddy, ayo kalahkan mba Caca mu (artian besar dan tumbuh), Daddy berharap kau akan jadi seorang pelindung baik hati kelak nanti nak...". Satria


Rumi memperhatikan keduanya diantara Anak dan seseorang yang masih ada dihatinya dengan tatapan yang berubah-ubah.


"kak, aku akan kebelakang dulu aku ingin membuatkan minuman hangat untuk kalian". Rumi


"baiklah, satu untukku tanpa gula". Ardi


"emm...(mengangguk, mengiyakan)". Rumi

__ADS_1


"nyonya biarkan saya saja yang membuatnya". pengasuh Aydan


pengasuh Aydan yang semenjak tadi hanya menjadi penonton sedikit tidak enak hati tanpa sebuah tugas yang ia kerjakan.


"Hem, baiklah terima kasih bi..oh ya setelah ini bibi istirahlah dulu, biarkan Aydan bersama dengan Daddynya...". Rumi


"emmm...baik nyonya (dengan senyum simpulnya)". pengasuh


baginya nyonya-nya pantas mendapatkan kebahagiaan, meskipun tidak bersama dengan sang tuan Ramanya.


sementara itu semenjak tadi tanpa disadari orang-orang yang nampak bahagia disana, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan keharmonisan yang tersaji di sore itu dengan tatapan hangat saling canda tawa.


dengan suasana hati yang semakin memanas akhirnya Rama melajukan kendaraannya menjauh dari sana memutuskan meninggalkan kediaman baru Ardi dengan perasaan campur aduknya.


dilain sisi ia sangat cemburu kepada kedekatan keduanya dan rasa khawatirnya selalu ia dapatkan disetiap hembusan nafasnya. dilain sisi yang lain ia tidak mau kalau sampai lupa diri, hingga mungkin saja bisa menyebabkan pertengkaran dan baku hantam yang sang istri tidaklah sangat sukai.


_skip_


"biarkan aku yang membawa sisa makannya mas (disaat Aydan selesai disuapi Satria)". Rumi


"baiklah kalian mungkin butuh waktu untuk berdua, biarkan aku membawa Aydan masuk kedalam (Ardi meraih Aydan dari pangkuan Satria)" Ardi


"kak, tidak usah aku jadi selalu merepotkanmu ... biarkan Aydan bersamaku". Satria


"stttt.... jangan melarang niatan baikku (Ardi masuk tanpa kata yang lain dengan membawa Aydan masuk kini tinggallah Rumi dan Satria berdua di depan rumah Ardi dengan posisi saling berseberangan duduk disebuah kursi ala tongkrongan ditanam)". Ardi


"kak...(Rumi bangkit dari posisi duduknya ada rasa bersalah disaat ini juga entahlah apa rasa tidak nyaman itu karena janjinya kepada tuan Ramanya)". Rumi


"Rumi...(Satria mencegah dengan memegang lengan milik Rumi), duduklah sebentar". Satria


"emmm... baiklah mas (dengan menyelipkan anak rambut yang kurang rapih kebelakang telinganya, mengusir rasa gugupnya ya berdua seperti ini mengingatkan dimasa bahagia yang pernah ada di waktu silam, perlahan Rumi duduk kembali dan Satria pun melepaskan tangannya dari lengan milik Rumi)".Rumi


" (Satria menatap lekat pemilik netra bening bulat itu dengan tatapan sayangnya) Rumi... mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk memastikan dengan keadaan yang ada, dan bisa mengusir kegundahanku selama ini.


Rumi aku mohon jujurlah dengan apa yang ada di hatimu... (menatap intens) masih adakah cintamu untukku? ". Satria


"mas...(menunduk rasanya ia tidak kuat untuk menatap lebih lama)". Rumi


"kenapa kau menunduk, apakah memang benar kau sudah melupakan perasaan diantara kita? jawab Rumi...?".Satria


"aku tidak tau mas, ...(masih menunduk dengan saling meremas diantara kedua tangannya)". Rumi


"aku tau pasti kau dalam ancaman tuan Rama kan? sungguh keterlaluan... beraninya menindas kaum perempuan (terlihat Satria mengepalkan tangannya).


tidak apa-apa Rumi sekarang aku sudah kembali, jangan takut untuk mengungkap kebenaran katakanlah yang sebenarnya apa kata hatimu aku yakin perasaanmu akan jauh lebih lega disaat kau mengungkapkan apa yang ada dihatimu? (menatap meyakinkan dengan penuh pengertian). aku akan melindungi mu meskipun nyawaku menjadi taruhannya... aku tidak mau lagi melihatmu terus hidup dalam sangkar seseorang yang tidak tau aturan itu...aku mohon jujurlah!". Satria

__ADS_1


__ADS_2