
_Skip_
Hujan gerimis mulai terhenti, dan sang mendung mulai berjalan menjauh hingga sinar sang mentari mulai mengisi ruang yang dingin dengan kehangatannya , menghangatkan harapan-harapan yang sempat padam yang membeku tertahan karena kehampaan. ya kisah yang sudah tercipta nyatanya tidak akan mudah untuk pergi berpaling dengan begitu saja.
🍂"Turuti apapun keinginan istriku, asal tidak membahayakan istri dan calon anakku...(perintah)..". Rama 🍂
Kalimat itulah yang selalu terngiang dipendengaran para pengawal Rumi.
"Nyonya apa tidak sebaiknya kita pulang saja, kepala pelayan akan sangat dengan senang hati membuatkan untuk nyonya yang lebih sehat dibandingkan jajanan yang ada di luar sana". Dokter pendamping
"Aku tidak mau dok, bayiku begitu menginginkannya (mengelus perut dan membayangkan betapa nikmatnya jajanan viral yang dipromosikan oleh beberapa endorse /seseorang yang mempromosikan sesuatu produk atau yang lainnya)". Rumi
"Hem... huffftt... (terdengar suara helaan berat yang berusaha disembunyikan karena tidak ingin ketahuan betapa serba salahnya berada diposisinya, bukan hanya jabatan saja yang dipertaruhkan tapi bisa saja dirinya tinggalah nama jika sampai dirinya melakukan sebuah kesalahan yang fatal bagi keselamatan sang nyonya begitupun dengan yang berkaitan dengan perubahan moodnya)". Dokter pendamping
Sedangkan orang kepercayaan Rama selalu membuntuti kemana sang nyonya Rama pergi dengan aktivitas luarnya dengan mobil yang berbeda dengan cukup mengerutkan keningnya disaat mobil yang ada didepannya bukanya membelokkan lajunya kini malah terlihat dengan begitu santainya ikut membelah keramaian jalanan yang ada dengan laju lurusnya.
📲 *"Apa? (terdengar suara cukup terkejut dari seberang sana)".* Rama
📲 *"Ia tuan, mobil yang ditumpangi nyonya melaju dengan arahan yang berbeda".* Orang kepercayaan Rama
📲 *"Ikuti saja , kau hanya perlu pastikan keselamatan Istriku dan satu lagi hindarkan istriku dari jangkauan para perusuh itu , mengerti?".* Rama
📲 *"Mengerti tuan( tuttt..... panggilan diakhiri).
Sepertinya nyonya sedang membuat dokter dan diriku terkena serangan jantung lagi.... membantin".* Orang kepercayaan Rama
Ya pertemuan pertama dan terakhir kalinya dengan sosok polos tetapi berselimut kepintarannya membuat dirinya cukup merasakan akibatnya. semenjak pertemuannya dengan gadis kecil yang bernama Caca sang nyonya sering bertanya dan nampak berfikir keras, entahlah semua itu berkaitan dengan hilang ingatannya atau bagaimana kerena keadaan itu cukup membuat uring-uringan sang tuan Rama.
_Skip_
"Aku sangat puas dengan menu dan pelayanan disini apa aku boleh bertemu langsung dengan pemiliknya?". Rumi
"Bo..boleh nyonya (dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan)". Gladis
Gladis meninggalkan Rumi dengan dua orang yang sepertinya berbeda profesi dikursi pelanggan yang sudah disediakan.
"Tatapannya terasa aneh...apa perempuan tadi mengenalku tapi aku rasa aku tidak mengenalnya sama sekali ga meskipun aku akui wajahnya terasa begitu tidak asing.... (ya Rumi masih sedikit ingat dengan wajah Gladis sewaktu disebuah restoran yang tengah menggandeng sepasang anak kecil laki-laki dan perempuan namun Gladis belum pernah melakukan percakapan seperti sekarang dengan Gladis) bergumam dengan tatapan menerawang". Rumi
"Ekhm...saya rasa perempuan tadi hanya terkejut dengan kedatangan nyonya ketempat ini, nyonya tau sendiri tuan Rama adalah suami nyonya!". Dokter
__ADS_1
"Seluas itukah ketenaran suamiku dinegri ini? (tersenyum lucu)". Rumi
Beberapa saat kemudian
Rumi yang nampak asyik menikmati aktivitasnya terhenti disaat netranya melihat perempuan yang mengaku sebagai bagian karyawan ditoko oleh-oleh yang namanya sedang naik daun itu datang dengan seseorang laki-laki yang menurutnya wajahnya rupawan meskipun usianya terlihat jauh diatasnya.
"Akhirnya aku bertemu juga dengan pemiliknya (Rumi berdiri dari posisi duduknya dan menyambut akan kedatangan Dimas)". Rumi
Sejenak Dimas terpaku dengan pengelihatannya namun sejurus kemudian ia cepat tersadar.dan mulai mendekat dengan menggandeng tangan Gladis.
"Nyonya Rumi (tatapannya begitu mencirikan seseorang dengan tatapan kerinduannya sedangkan Gladis mencoba bersikap setenang mungkin)". Dimas
Ya ini adalah pertemuan keduanya semenjak kejadian itu, dimana Rumi mengalami sebuah insiden kecelakaan hingga mengalami sebuah hilang ingatan dan dimana dirinya bersama Gladis, Caca dan Aydan yang diwaktu itu berada disebuah restoran hingga Caca bisa menemukan sebelah jepit rambutnya yang tidak sengaja terjatuh.
Beberapa saat kemudian.
"Omnya Caca? ternyata kita bertemu ditampat dan waktu seperti ini tuan ...wah ternyata anda adalah pemilik toko oleh-olehnya apakah ini adalah sebuah kebetulan atau sebuah takdir (dengan tawa kecilnya)". Rumi
"Ehkm... itu bisa dua-duanya, anda ternyata seseorang yang lucu juga nyonya!.
Keceriaanmu selalu melekat dengan sosokmu disaat beban mengaku mulai kalah denganmu... ini mengingatku kepada waktu silam disaat netra polosmu baru pertama kali aku lihat, meskipun keadaanmu begitu menyedihkan kau selalu berusaha untuk tegar dengan tawa sederhana dibibirmu... membatin". Dimas
Bertepatan Dimas sedang melakukan sebuah obrolan seputar toko oleh-olehnya datanglah Satria dan mulai mendekat kearah dimana Rumi berada Satria yang baru datang dan masuk kedalam toko oleh-oleh milik saudara iparnya itu begitu terkejut dengan pengelihatannya.
"Sudah aku duga... sekarang apa lagi....membantin". Orang kepercayaan Rama
"Mas Satria...! (Gladis menoleh begitupun dengan Dimas)". Gladis
Ada kekecewaan sekaligus kerinduan dimatanya pasalnya ini adalah pertemuan pertamanya dengan Rumi kembali setelah ia dan keluarganya mendapat peringatan keras dari Rama.
Satria perlahan mendekat dengan langkah perlahannya dan dengan gerakkan cepatnya menyambar tubuh yang masih menjadi pemilik hatinya.
"Syukurlah kau baik-baik saja, aku sangat merindukanmu...maafkan aku , aku berbohong jika tidak perduli lagi denganmu karena pada nyatanya aku masih sangat memikirkanmu (Satria mendekap erat perempuan yang selalu ada diingatkannya itu dengan posisi berdiri sedangkan Rumi masih setia dengan duduknya) percayalah apa kau mendengarnya?!". Satria
Rumi begitu terkejut dengan apa yang dilakukan seseorang yang tidak dikenalnya begitupun dengan Dimas dan Gladis terutama bagi dua insan yang selalu menemani langkah Rumi.
"Akhp....(Rumi kaget namun ia cukup menguasai keadaan Rumi hanya diam disaat sosok asing menyentuhnya ada perasaan yang tidak asing namun terasa begitu tidak mungkin) perasaan apa ini mengapa aku merasakan sebuah kenyamanan... membatin". Rumi
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Nyonya...(dokter dan orang kepercayaan Rama)". Keduanya
"Lepaskan saya tuan (Rumi mulai tersadar dengan sikapnya yang menurutnya kurang pantas) maaf sebenarnya siapa anda tuan kenapa anda melakukan ini, tidak tahukah anda saya perempuan yang telah bersuami dan saya sedang mengandung anaknya (Rumi melepaskan dekapan Satria dan Satriapun melepaskannya)". Rumi
"Maaf atas kelancangnya saya nyonya, saya hanya...(kata-katanya terpotong)". Satria
"Tidak ada yang boleh menyentuh nyonyaku selain tuanku Rama bukkkkkgh....(suara kepalan tangan yang mengenai tubuh Satria dengan serangan mendadaknya)". Orang Kepercayaan Rama
"Mas....(teriak Gladis)". Gladis
"Akhp.... apa yang kau lakukan (memekik)".
Rumi
"Huhhg.... (Satria memegangi bekas serangan yang diberi orang kepercayaan Rama)". Satria
"Tuan tolong jangan berbuat keributan ditempat saya (berdiri)". Dimas
"Saya hanya menjalankan perintah nyonya (orang kepercayaan Rama menoleh kearah Rumi dan akan menyerang Satria lagi)". Orang kepercayaan Rama
"Hentikan (berdiri), aku tidak suka dengan kekerasan, apa kau mengerti? (marah)". Rumi
"Maafkan saya nyonya (mundur menunduk)". Orang kepercayaan Rama
_Skip_
"Maafkan atas tindakan yang orang kepercayaan saya lakukan kepada anda tuan (nampak Rumi duduk saling berhadapan dengan ketiganya) dan atas kekacauan ini saya akan memberikan ganti ruginya (tangan Rumi merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan secarik kertas dan menuliskan sesuatu diatasnya) apakah ini cukup untuk permintaan maaf dari saya tuan?". Rumi
"Apakah semua segala sesuatunya akan selesai dengan uang nyonya?. aku tidak mau itu tidaklah cukup!". Satria
"Hem... Huffft...lalu dengan cara apa aku harus mendapatkan maaf darimu tuan? (tatapan kecewa)". Rumi
Sedangkan dua insan yang selalu berada disamping sang nyonya diam menyimak dengan segala prasangka buruknya.
"Biarkan aku untuk lebih mengenalmu nyonya, izinkan aku untuk menjadi temanmu...!". Satria
"Terima kasih untuk segala kebaikkan dan atas pelayanan yang baik tuan Dimas saya rasa saya cukup berkunjung ke toko oleh-oleh milik anda, saya merasa sangat terkesan bisa berada disini". Rumi
"Saya merasa senang dan merasa terhormat memiliki tamu seperti anda nyonya Rumi". Dimas
__ADS_1
"Dan maafkanlah saya tuan saya tidak bisa menerima permintaan yang menurut saya aneh dari tuan, saya rasa saya tidak memiliki cukup waktu untuk berteman dengan anda (Rumi tetap menggeser sebuah cek kepada Satria) terimalah permintaan maaf dari saya, permintaan maaf saya benar-benar tulus ". Rumi