
"mas...kau sudah pulang? kau kenapa mas ? (Rumi menyambut akan kedatangan suaminya yang beberapa jam lalu meninggalkannya untuk mencari informasi terkini. Rumi yang heran dengan raut wajah suaminya yang baru kembali itu dibuat penasaran)". Rumi
"umm, tidak apa-apa (satria berusaha menetralkan perasaannya atas keterkejutannya karena ia belum siap untuk melihat Rumi menangis lagi)". Satria
sudah hampir dua bulan mereka berada di kampung ini dan Satria tau betul dengan perubahan Rumi yang terlihat lebih bersemangat dan tersenyum penuh binarnya. apa lagi sekarang Rumi tengah mengandung calon buah hati mereka.
keadaan yang tentram dan bagus mendukung mereka untuk memiliki segera calon buah hati mereka.
"tapi kau terlihatlah tengah menyembunyikan sesuatu mas...(Rumi bergelayut manja dengan tatapan menyelidiknya)". Rumi
"tolonglah tunggu aku kembali, kau tidak perlu untuk melakukankan nya (Satria melirik ke sebuah tumpukkan cucian baju yang sudah siap untuk dijemur)". Satria
Satria mengalihkan pembicaraan dan itu memanglah berhasil.
"kau terlalu memanjakan aku mas... meskipun aku tengah hamil muda aku tidak boleh bermalas-malasan, aku kan ibu dari dua orang anak (dengan nada bangganya)". Rumi
"ia..ia aku tau , tapi tidak ada salahnya aku memanjakan mu sayang...bagiku proses ini terasa menyenangkan. apa kabar satria kecil, apa kau sedang tertidur didalam sini?!! (Satria sangatlah bahagia dengan kehadiran calon sang buah hati ditengah-tengah keluarga kecilnya)...oh ya apa Caca dan Raka ada dirumah?, kemana mereka kenapa kau sendirian saja?, apa mereka tidak membantumu untuk melakukan pekerjaan rumah?". Satria
"kau selalu saja seperti itu mas ,aku sangat mencintaimu mas Satria...terima kasih mas kau selalu memperhatikanku dan membuatku jauh merasa selalu lebih baik. (Rumi menatap lekat pemilik wajah tampan bertubuh ideal itu dengan alis tebal dan tatapan khas hangatnya. entah mengapa tatapan ini mengingatkannya kepada sosok kakaknya Dimas).
satria kecil selalu baik dan Alhamdulillah, satria kecil tidaklah banyak tingkah dan tentunya ia masih nyenyak dengan tidurnya. (dengan senyuman binarnya sambil sesekali mengelus perutnya yang terlihat masih rata).
Caca dan Raka mereka main mas, setelah belajar mereka dijemput teman mereka...!!! sudahlah mas biarkan mereka menikmati masanya...". Rumi
"apapun yang terbaik akan aku lakukan untuk kalian. (entah kenapa sosok Satria selalu membuat hari Rumi lebih bersemangat dengan segala perhatiannya dan tata bahasanya yang lembut dan penuh kasih sayang).
kau benar sayang mereka berhak menikmati dunia mereka....tapi setidaknya mereka bisa menunggu Daddynya kembali terlebih dahulu dan tidak membiarkan mommynya tinggal sendirian dirumah, aku khawatirkan kau memerlukan bantuan disaat dirumah tidak ada orang (nampak Satria sedikit protes)". satria
"sudah... tidak apa - apa mas... aku yang mengizinkan mereka untuk pergi, Raka dan Caca sebenarnya mereka menunggumu pulang tapi aku tidak tega mencegah mereka untuk memendam keceriaan mereka.". Rumi
"kau selalu saja mengerti apa yang mereka inginkan. terima kasih sayang...kau adalah seorang istri yang begitu penuh dengan kasih sayang. aku sangat bangga mendapatkan hatimu!!". Satria
"apapun yang membuatku senang mas...!!! semoga merekapun demikian!!!".Rumi
"baiklah kalau itu membuatmu senang...tapi ini untuk yang terakhir kali aku melihatmu berada sendirian dirumah tanpa Caca dan Raka, aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa denganmu. mengerti...(dengan mengelus perut sang istri yang masih belum menunjukkan bahwa ia tengah mengandung dengan tatapan sayangnya memang betul mereka adalah sumber kehidupanya) , sayang jangan nakal yah Minggu depan Daddy akan menemui nenekmu. nenek sakit keras... maafkan Daddy tidak bisa mengajak kalian!!!)". Satria
"mas kau bicara apa? apa benar ibu sedang sakit? (Rumi kaget dengan penuturan sang suami)". Rumi
"ia sayang... aku baru mendapatkan kabar dari gladis sekitar seminggu yang lalu bahwa ibu tengah sakit keras dan bapak memintaku untuk menemui ibu ,bapak takut ibu tidak ada umur dan ini mungkin adalah permintaan terakhirnya... (satria perlahan menangkap kedua pipi Rumi dan menatap lekat pemilik manik bermata bulat itu) tolong berjanjilah kepadaku untuk selalu berhati-hati disaat aku tidak ada , dan untuk Raka dan Caca aku akan memberi tugas kepada mereka untuk selalu menjagamu dan menemanimu.
__ADS_1
dan satu yang tidak boleh Raka dan Caca langgar jangan terlalu jauh dari rumah kita. kau paham sayang...!!!". Satria
ya Satria baru saja kembali dari luar daerah untuk mendapatkan sinyal dan semacamnya. dan betapa ia dibuat kaget dengan kabar yang gladis kiriman terlebih ia kaget disaat notifikasi masuk dari nomer milik Dimas sehari yang lalu yang memberitahukan kejadian yang menimpa kakak iparnya.
"baiklah aku mengerti mas, aku akan ingat dengan semua pesanmu.
mas Sampaikan salamku untuk bapak dan ibu dan juga gladis maaf aku tidak bisa ikut dengan mu!!!
semoga ibu baik-baik saja dan segera disembuhkan dari sakitnya". Rumi
"terima kasih sayang aku pasti akan menyampaikannya. dan mereka pasti mengerti sayang, karena keadaan ini memanglah tidak mudah.". Satria
"eem...(mengiyakan).
Hem... mas apa kak Ardi dan kak Dimas memberimu kabar juga? (terlihat Rumi dengan raut berharap nya)". Rumi
"ada...kak Dimas memberikan kabar ,dan semuanya baik-baik saja". Satria
ya Satria memutuskan untuk tidak dulu memberitahukan Rumi dengan keadaan yang sebenarnya. ia takut Rumi dan kandungan akan kenapa-kenapa.
"syukurlah...". Rumi
"mas...kau ini, tidak ingat ada diluar rumah (sedikit protes)". Rumi
"tidak ada yang melihat, rumah kita aman (sambil mengedipkan salah satu matanya menggoda)". Satria
"dasar genit...(Rumi masuk kedalam kerumah meninggalkan satria yang mengambil alih tugasnya dan menghampiri sebuah kursi yang didesain nyaman khusus untuk bumil (ya kursi itu bisa dilipat dan di luruskan sesuai mood ibu hamil tersebut)". Rumi
dan beberapa menit kemudian Rumi keluar dari dalam rumah dengan membawakan secangkir minuman penghilang dahaga dan menaruh secangkir minuman itu disebuah kursi yang terkadang Rumi akan singgahi ketika malam hari bersantai bertukar cerita dengan canda dan tawa bersama sang kekasih hati dan anak-anaknya.
dan beberapa waktu mensejajari posisi dimana suaminya tengah berkutat dengan setumpuk jemurannya.
"mas minumlah dulu (dengan menunjukkan pandanganya kearah sebuah cangkir yang tidak jauh berada disana).
aku bantu ya...akan terasa ringan bila kita sama-sama melakukannya". Rumi
"ibu hamil jangan banyak gaya dan terlalu lelah, aku tidak mau kau dan bayi kita sampai kenapa-kenapa... (sejurus kemudian Satria menggendong Rumi dan mendudukkannya Secara pelan dan sangat hati-hati disebuah kursi yang berada diluar namun cukup teduh itu ya karena kursi itu dekat pohon yang cukup rindang, dan setelah Rumi benar duduk tangan Satria meraih secangkir minuman penghilang dahaga itu) aku minum....sruputtttttt..... ini terasa menyegarkan sayang, terima kasih cantik...semoga kebaikanmu kepada suamimu mendatangkan keberkahan didalam rumah tangga kita...". Satria
"amin....". Rumi
__ADS_1
dengan hati penuh debaran kagum dan bahagia Rumi menatap sang kekasih hati dengan rasa syukurnya.
"semoga masa ini akan selalu menjadi milik kita mas....membatin". Rumi
sedangkan Satria kembali pada tugasnya (menjemur baju) dengan sesekali menoleh kearah sang istri yang menatapnya penuh Cinta.
🌾 mansion Romi Wijaya🌾
"sabar brother...!!! (nampak Romi menepuk-nepuk pundak saudara kembar yang terlihat berupa beda itu)". Romi
"kenapa untuk mengatasi tikus kecil itu saja sangat susah. ada saja gangguannya...!!! (nampak Rama dengan raut kecewa)". Rama
nampak beberapa orang sudah terkapar dengan beberapa luka yang berasal dari timah panasnya.
"bodyguard singkirkan jasad mereka... dan bersihkan ...aku tidak mau mansionku kotor karena tikus-tikus tidak berguna seperti mereka!!!". Romi
"baik tuan,".para bodyguard
ya Rama mendapatkan kabar bahwa salah satu bodyguard mereka ada yang berkhianat dan tidak membuang jasad Ardi melainkan jasad itu ditinggalkan disebuah jalanan sepi dan ketika para bodyguard yang lain menyusul ketempat itu jasad Ardi sudah raib tanpa jejak dan saksi.
dengan tanpa ampun Rama menembak salah satu bodyguard itu (para bodyguard yang ditugaskan Romi untuk melenyapkan semua bukti akan kejahatannya) dan tidak disangka bukan hanya satu malah Rama melesatkan pelurunya kebeberapa bodyguard yang menurutnya pantas untuk dihilangkan nyawanya.
🌷 bukannya Rama sudah bertaubat untuk menjalani kehidupan yang baru ya? tapi disini kenapa Rama malah semakin mengganas dan membabi buta...!!?
hi..hi... author juga terkadang syok dengan tulisan yang sudah terangkai ini.
seiring dengan mood yang ada , semoga menghibur para pembaca.
tiada rasa paksaan, tiada rasa tertekan biarlah mengalir dengan alur dengan sendirinya...
dan yang terpenting menikmati akan segala prosesnya.
sama-sama semangat dalam berkarya. salam hangat untuk semuanya: kuda manis 🌷
"sebenarnya siapa yang melakukan ini, apakah ini ada hubungannya dengan Exel??? (nampak Rama menerawang)". Rama
"tidak mungkin brother... Exel sekarang ada dinegara....(tidak usah disebutkan ya)....bersama keluarga kecilnya, aku rasa dia sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan masalah ini.". Romi
"arggghhhhhhhhhhhhhh.....(Rama berteriak frustasi) tidak akan kubiarkan siapapun bernafas lega... orang yang mengahalangiku semuanya... mereka akan mendapatkan bagiannya (dengan aura membunuh)". Rama
__ADS_1