
"uhhhg...(Rama berjongkok menahan sakit diarea perutnya ,ya kemarin ia juga sudah cukup duel bersama kakak iparnya *Ardi* menjadikan perihnya terasa berlipat disaat mendapatkan pukulan diarea yang sama).
beraninya kau menyerangku secara tiba-tiba".Rama
akkkkh......teriakkan pemirsa , terutama bagi kaum hawa.
"selangkah lagi kau mendekat kearah anakku berada, maka aku tidak segan untuk menghajarmu lagi...". Satria
"coba saja kalau bisa...". Rama
akhirnya Satria dan Rama mengadu kekuatan mereka.
gladis menutup kaca mobilnya menyembunyikan Aydan dan Caca dari pertarungan yang tidak bisa dihindarkan itu.
"ahkh....(lagi-lagi Rama jatuh)". Rama
ya disini jagoan silat adalah milik Satria, jadi bagi Satria Rama bukanlah apa-apa bukanlah tandingannya.
"tuan, (anak buah Rama gatal ingin ikut mengadili Satria seperti beberapa tahun yang silam namun Rama melarang keras siapapun ikut campur dalam pertarungannya)". anak buah Rama
"jangan ikut campur...!". Rama
sedangkan Rumi hanya menangis tanpa bisa berkomentar lagi.
begitupun dengan para laki-laki dewasa yang hanya bisa melihat tekad dari 2 insan yang masing-masing meluapkan amarah dan ambisinya.
selang beberapa menit Rama tumbang dengan luka disekujur tubuhnya namun masih dengan kesadarannya.
"haha....(tertawa puas) apa kau akan merengek meminta bantuan kepada dayang-dayangmu? oh... sungguh manja.
(dan beralih kepada Rumi) lihatlah nyonya Rumi (dengan tatapan puasnya dan mengejeknya) jikalau disaat waktu itu tuan Rama menghadapi ku Secara jantan, tidak memakai cara mengeroyok dan menggunakan senjatanya apa dia sanggup mengalahkan diriku? jawabannya tentu tidak... dia hanyalah laki-laki lemah yang bersembunyi di balik kekuatan harta dan tahtanya saja. ini adalah bukti , dirinya tidaklah pantas untukmu nyonya...tapi apa, kau malah memilihnya... laki-laki tidak tau aturan dan semena-mena. apa kau bangga telah bersamanya nyonya Rumi...? hingga kau dengan mudah dan suka hati mengandung anaknya meskipun kau tau kau masihlah sah menjadi istriku???...(tatapan kekecewaan Satria begitu getir untuk dirasa namun Rumi hanya diam seribu bahasa dengan lelehan kristal beningnya)". Satria
"jangan mengusik perasaan istriku b..-bah , kau tidak patut menyakitinya (Rama mencoba bangkit, namun ia gagal)". Rama
"mas...(tangan Rumi terulur ingin menggapai seseorang yang bernama Rama)". Rumi
__ADS_1
melihat tangan Rumi terulur ingin menggapai seseorang yang kini jadi rivalnya menjadikan satria kalap dan membabi buta.
"akan aku tuntaskan Pembalasan ini (menatap tepat kemanik mata bulat milik Rumi) akan kulenyanyapkan dia, hingga kau tidak bisa lagi bermain dengan perasaanmu nyonya Karena perbuatan kalian terlalu tidak adil untukku dan anakku... (Satria maju dan menghajar Rama yang sudah tidak berdaya secara bertubi-tubi )". Satria
"hiks...(ingin rasanya melarang tapi Satria juga berhak mencari atas keadilannya sendiri ini mengingatkan Rumi pada kejadian yang lalu disaat Rama memisahkan dirinya dari sang suami tercintanya mas Satria nya, hingga Satria mengalami sebuah hilang ingatan.
pemandangan ini begitu membuat Rumi tidak kuasa hingga ia memilih untuk menjauhi dari tempat itu baginya 2 insan yang sedang asyik dengan amarahnya masing-masing adalah 2 insan yang sudah pernah berlabuh dihatinya ia tidak kuasa untuk memihak salah satunya)". Rumi
"mom...(tangan Aydan terulur dikaca mobil yang sengaja gladis tutup memperlihatkan Rumi yang berlari melewati mobil yang terparkir dengan rapihnya)". Aydan
"bibi, mommy Rumi mau kemana bi (Caca ingin turun menyusul namun dicegah gladis).
mommy...(berteriak)". Caca
"Rumi...(Ardi yang semenjak tadi asyik dengan pergulatan difikirannya kaget disaat adik kesayangannya berlari keluar area perumahanya dengan langkah yang cukup cepat)
Rumi... tunggu...(Ardi mengejar dengan langkah lambatnya)". Ardi
"Ar..kau mau kemana? (Nona berteriak dibarengi senyuman samarnya)". Nona
"ba..baik tuan (beberapa anak buah Rama bergegas menyusul nyonya-nya)".anak buah
begitupun dengan Satria ia menghempaskan tubuh Rama didetik akhir pukulannya, disaat orang-orang menyerukan nama sosok perempuan yang sedang diadilinya pergi meninggalkan tempat itu membuat Satria cukup puas namun ada rasa sedih juga yang terhanyut dalam Susana hatinya.
"hahh... hahhh...kau pantas mendapatkannya pec..-dang ...cih...(Satria mengusap bekas tetesan merah di sudut bibirnya dan menoleh kearah dimana Rumi semula berdiri).
Huffftt...". Satria
"om...kejar mommy om.. cepat, (Caca melongok dijendela kaca mobilnya melihat Ardi dan beberapa anak buah Rama menyusul langkah Ardi)". Caca
"tunggulah...om akan mendapatkan mommy kalina". Ardi
sejurus kemudian.
"Ardi..bergumam. (Dimas melihat beberapa orang anak buah Rama menyusul langkah Ardi dibarengi Ardi yang menghilangkan dari pandangannya).
__ADS_1
apa kau sudah puas membuat Rumi merasa bersalah? seharusnya kau tidak perlu mengusik perasaanya Satria? semua ini murni dia yang salah... Rumi hanyalah sebagai korbannya,aku yakin dengan hal itu.
(Dimas menunjuk kearah Rama yang sudah memejamkan matanya).
kau bilang mencintai Rumi tapi kenapa kau malah menyakitinya!!!.
seharusnya kau tidak perlu melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada-nya! ....(Dimas berlalu menatap kesal kearah Satria dan ikut menyusul Ardi, begitupun dengan Nona ia menatap sinis kearahnya. Dimas dapat melihat senyuman samar dari bibir perempuan yang di bencinya itu sepertinya perempuan mencurigakan itu turut senang dengan kejadian ini)". Dimas
sedangkan Adam menepuk-nepuk pundak seseorang perempuan yang dekat dengannya mencoba untuk menghilangkan syok dan itu membuat pengelihatan Caca berulang berkabut.
"ca ,kau kenapa? apa kau marah bibi gladis melarangmu untuk mengejar mba Rumi? maafkan bibi ini demi kebaikan kalian sayang... sepertinya Daddy Satria kalian memang benar sedang marah kepada mommy kalian!".gladis
"tidak bi, Caca tidak apa-apa, Caca tidak marah....Caca hanya sedih kenapa tuan Rama datang disaat Daddy dan mommy sudah bersama!!!". Caca
"Hem...kita doakan yang terbaik saja, kau lihat tadi om Ardi mengejar mommy Rumi mu?!". gladis
"eem (mengangguk mengiyakan)". Caca
"bapak dosen Dimas... bergumam.(disaat gladis melihat Dimas pun menyusul untuk mengejar mba Ruminya, derrrr.... bergetar hatinya kenapa disetiap dosen Dimasnya memberikan perhatiannya kepada mba Ruminya membuat dadanya terasa berbeda)".gladis
"semoga Daddy dan mommy Caca dan Aydan kembali baikkan. Amin. (dengan tiba-tiba)". Caca
" emmm...! Amin, kita doakan saja ya ca, semoga mba Rumi dan mas Satria cepat baikkan! ". gladis
sementara itu terlihat disebuah jalanan raya.
"nyonya...nyonya Rumi...(para anak buah berteriak-teriak)". anak buah
"Rumi...(Dimas menyusul Ardi)". Dimas
"aku mohon maafkanlah aku ,(Ardi melelehkan kristal beningnya dalam rasa kesal dan khawatirnya) kak Dimas aku mohon cepat kejar Rumi , dapatkan Rumi...(nampak Ardi bermasalah dalam langkahnya)". Ardi
"kau kenapa Ar, tenanglah aku kan segera mengirim orangku untuk membawamu. (nampak Dimas menghubungi seseorang) tunggulah disini orangku akan menjemputmu (Dimas berlalu bergegas mencoba menyusul Rumi)". Dimas
"terima kasih kak, aku mohon bawalah Rumi kembali, aku sangat menyesal menatap marah kepadanya (Ardi terduduk dipinggiran menatap kepergian Dimas).
__ADS_1
tidak bisa diandalkan...(Ardi memukul kakinya dengan umpatannya)". Ardi