Tangisan Suci

Tangisan Suci
Masa kecilku 1


__ADS_3

_Skip_


"Ibu....(jeritan sang adik membangunkan Ardi)". Rumi


"Rumi...tenanglah sayang ada kakak disini, kakak akan selalu menjagamu (mendekap erat mencoba menenangkan)". Ardi


"Hiks....tapi Rumi sangat rindu dengan ayah dan ibu kak, kemana mereka pergi kenapa mereka tidak pulang-pulang, Rumi juga ingin pulang kerumah Rumi sangat ingin pulang hu...,.aaaaa ( Rumi menangis ala bocah yang ditinggalkan orang tuanya pertanyaan dan permintaan polosnya membuat Ardi begitu bingung dan dilema ia sungguh kesakitan dengan keadaan ini)". Rumi


"Kita akan pulang sayang tapi tidak untuk sekarang (mencoba memberikan pengertian)". Ardi


Mereka tinggal dirumah kepala desa ya sang kepala desa memiliki 2 buah rumah yang satunya untuk tinggalnya sendiri bersama anak dan keluarganya sedangkan yang satunya ia jadikan rumah sewaan. namun karena Ardi dan rumi adalah keluarga korban kebakaran yang masih kecil dan rumahnyapun sudah rata dengan tanah maka dengan senang hati bapak kepala desa memberi tumpangan dengan senang hati/saling mengasihi yang dibawah.


Pagipun kembali menyambut.


Tok...tok... suara pintu di ketuk dengan tidak sabarannya.


Cklekkk...suara pintu dibuka, nampak perempuan setengah baya sedang berdiri menatapnya dengan kesinisannya.


"Selamat pagi bu?! (Ardi dengan senyumannya)". Ardi


"Pagi...apa kalian sudah membersihkan rumahnya? (wajah masam)". Ibu Keplaa


"Su..sudah bu, (nampak Ardi sedikit tidak enak hati )". Ardi


"Ini sarapan kalian ,setelah selesai sarapan kalian tidak usah sekolah kalian bantu ibu saja di tempat makan yang ibu buka. kalian sudah terbiasa kan membantu mendiang orang tua kalian berjualan? (dengan tatapan otoriternya)". Ibu Kepala


"Ya..tapi bu, bukannya kami dapat bantuan untuk pendidikan kami dari atas ? (ya disini Ardi adalah anak laki-laki yang pintar dan ia akan selalu mendapatkan nilai terbaik di kelasnya)". Ardi


"Masih kecil sudah berani menjawab (raut sang lawan bicara berubah ganas)". Ibu Kepala


"Apa ibu sudah selesai dengan apa yang bapak suruh bu?! (dari arah belakang muncullah bapak kades dengan senyuman khasnya)". Bapak Kepala


"Eh..ini sarapannya sayang ,jangan sampai lupa cepat bangunankan adikmu jika masih tidur nanti kalian akan telat kesekolah (dengan terburu-buru ibu kepala memberikan sarapannya kepada Ardi yang berdiri dengan tatapan ketidak percayaannya)". Ibu Kepala

__ADS_1


"Ayo...(melirik kearah istrinya) ayo cepat bangunkan adikmu dan segera kesekolah ". Bapak Kepala


"Eem...(mengangguk) terima kasih bapak /ibu kalian sungguh sangat baik ". Ardi


"Ini adalah sudah menjadi kewajiban kita semua kepada sesama. (tersenyum hangat ,dan senyuman itu mengingatkan Ardi dengan sosok mendiang sang ayahnya menjadikan Ardi berkabut)". Bapak Kepala


Hari -hari dilaluinya bersama adik tercintanya hingga suatu saat mengharuskan mereka meninggalkan tempat dimana mereka dilahirkan/kampung halaman mereka.


"Ibu kenapa ibu tega melakukannya tanpa sepengetahuan bapak (terdengar suara ribut dari sang bapak kepala dan ibu kepala)". Bapak Kepala


"Ibu melakukannya demi kesejahteraan anak-anak kita pak, ibu tidak mau anak kita tersingkirkan posisinya (terdengar suara isakkan seorang perempuan dari dalam bangunan yang nampak sangat sederhana)". Ibu Kepala


"Kau.... kenapa berfikiran sangat licik. mereka hanyalah anak yatim piatu yang harus kita rawat dan jaga kenapa malah ibu melakukannya kepada mereka (terdengar berbagai bentakan yang bapak kepala luncurkan untuk sang istri)". Bapak Kepala


Tok..tok...terdengar ketukan dipintu.


cklekkk...pintu dibuka memperlihatkan dua sosok bocah yang masih kecil dan begitu polosnya.


"Selamat pagi pak, ibu... tolong jangan bertengkar lagi. maafkan kami, kami yang menyebabkan semuanya tidak berjalan seperti yang seharusnya. bukan salah ibu pak,kami yang ingin untuk tinggal di panti asuhan (tidak usah disebut ya) kami tidak mau lagi membebani keluarga bapak dan ibu (dengan tegas dan setenang mungkin )". Ardi


"Hem...(bapak kepala menurunkan emosinya ,entah rasa iba yang begitu besar atau apakah ia bertekad untuk mengurus mereka seperti anaknya sendiri hingga menimbulkan kecemburuan sosial diantara anak-anaknya) apa nak Ardi benar akan mengambilnya (dengan sorot tidak tega)". Bapak Kepala


"Yah Ardi akan mengambilnya (dengan senyuman meyakinkan)". Ardi


"Baiklah jikalau nak Ardi menginginkannya bapak tidak bisa memaksa kehendak seperti yang bapak inginkan ". Bapak Kepala


"Yayyy....(senyuman kepuasan didalam hati)". Ibu Kepala


_Skip_


"Dah ...hati-hati nak,...jaga adikmu baik-baik, bapak akan merindukan kalian (melambai)". Bapak Kepala


"Dah... bapak....(Rumi juga ikut melambaikan tangannya kearah bapak kepala yang meneteskan air matanya". Rumi

__ADS_1


Lama perlahan mobil yang mereka tumpangi menjauh menembus jalan yang nampak sudah rusak itu menuju kota terbesar di negri ini.


"Kak kita mau kemana, apa benar kita akan tinggal dirumah baru (dengan wajah polosnya )". Rumi


"Ya kita akan tinggal dirumah baru sayang, kakak mohon jangan sedikitpun lepas dari jangkauan kakak ok (dengan tatapan memerintah)". Ardi


"Ok...(Rumi kecil tertawa ia kegirangan naik mobil yang cukup mewah/mobil milik panitia panti)". Rumi


Ardi bersyukur sedikit demi sedikit ia melihat perubahan sang adik yang mulai terbiasa tanpa sosok orang tua yang selalu Rumi kecil pertanyakan setiap harinya kini mulai pudar dan pada hari ini Ardi melihat senyum dan tawa dari bibir kecil Rumi apakah ini pertanda baik untuk masa depan keduanya dibenak Ardi.


Pasalnya tinggal dirumah bapak kepala Rumi nampak tertekan ketika melihat raut garang sang ibu kepala menjadikan Rumi susah untuk melupakan sang mendiang orang tuanya.


Sekitar beberapa jam perjalanan dari tempat ia tinggali kini mobil menghentikan lajunya dan mulai memarkirkan diri.


Rumi dan Ardi melebarkan mata kecil dan tatapan kagum kepolosannya melihat begitu luasnya bangunan panti yang akan mereka tempati.


banyak dari anak panti yang menyambut akan kedatangan mereka namun ada juga yang sinis akan kedatangan mereka.


* 5 Tahun Kemudian *


"Kalian sudah siap...". Pengurus panti


Terlihat anak-anak panti berdiri bersejajar sambil menampilkan sejuta senyuman manisnya ya karena pada hari ini mereka seluruh penghuni panti kedatangan tamu spesial yaitu sang pemilik panti.


Sang pemilik panti biasanya akan datang setiap tahun sekali tapi anehnya sang pemilik pada tahun sekarang membawa sang anak tertampannya.


Tap...tap... suara langkah kaki penuh wibawa dan segala kehormatannya.


Semua mata tertuju pada sosok tampan yang sangat masih muda, dan sosok perempuan yang cukup berumur dengan menenteng tas brandednya. mereka terlihat menawan dan begitu tegasnya namun senyum ramah ditampilkan sang perempuan cantik itu hingga membuat para penghuni panti tidak terlalu enggan untuk menatap.


"Langsung saja bu, aku menginginkan anak yang bernama Ardi Ramadan". Romi Wijaya


Ya Romi Wijaya adalah anak pertama dari pasangan suami istri nyonya Amanda Wijaya dan tuan Samuel Wijaya. mereka adalah salah satu keluarga terpandang dan terhormat di negeri ini.

__ADS_1


"Kakak....itukan nama kakakku, disedemikian banyaknya anak hanya kakakkulah yang bernama Ardi Ramadan!!! aku semenjak tadi tidak melihatnya, sebenarnya kemana dia...membatin". Rumi


__ADS_2