Tangisan Suci

Tangisan Suci
Ada apa denganmu mas 1


__ADS_3

hari-hari berlalu terasa begitu sama disaat Rumi mendapatkan permintaan dari Rama untuk memiliki bayi lagi disaat dirinya mengajukan sebuah izin untuk keluar dari rumah yang bak istana, meskipun hanya untuk beberapa waktu saja.


satu bulan berlalu.


"pergilah mas, aku benar tidak apa-apa...(terlihat Rumi yang menyembunyikan raut kesalnya ya keinginannya untuk keluar rumah dengan membujuk Rama sampai sekarang belum membuahkan hasil apa-apa, Rama tidak goyah dengan peraturan yang ia buat sendiri)". Rumi


"sayang jangan seperti itu,aku tidak tega meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini...(nampak Rama sedikit iba dan luluh atas permintaan sang istri tercinta yang selalu ia larang)". Rama


"sepertinya rencanaku sedikit lagi berhasil, aku harus mendapatkan kesempatan ini...membatin". Rumi


"bagaimana lagi kalau cinta dari suami sudah tidak seperti dulu lagi..., dengan waktu yang aku punya istri sepertiku harus bisa lebih bersabar lagi...(Rumi menampilkan raut sedihnya dengan mengelus pelan kedua pundaknya sendiri dengan tangan yang ia silangkan)". Rumi


"cintaku tidak akan pernah berubah sayang hatiku adalah milikmu itu satu hal yang harus kau tau dan kau percayai...(Rama menghampiri Rumi dan ikut mengelus kedua pundak Rumi dari belakang)". Rama


"bohong...". Rumi


"kapan aku berbohong kepadamu sayang? (Rama memutar balikkan tubuh sang istri yang membelakanginya hingga kini posisi keduanya saling berhadapan, dan Rama tersentuh hatinya disaat melihat Rumi dengan lelehan air matanya tanpa sebuah isakkan) sayang, kenapa kau menangis? (Rama mengusap air mata itu)". Rama


"apakah kau benar mencintaiku mas (Rumi menatap lekat manik mata yang kini Resmi menjadi suaminya lagi)". Rumi


"aku mencintaimu Rumi aku benar sangat mencintaimu Arumi Fitrian (Rama balik menatap lekat mata bermanik bulat itu)". Rama


"buktikan kalau memang kau benar mencintaiku mas (dengan tatapan menuntut)". Rumi


_skip_


"mas Satria tunggu aku mas....(dengan senyuman yang mengembang Rumi melangkah dengan semangat dan langkah pasti. membelah keramaian kota, dengan secarik kertas beralamatkan sebuah bangunan dengan deretan rumah yang berbentuk petak-petak)". Rumi


ya Rumi terlalu senang dengan perasaannya karena sang suami Rama Wijaya akhirnya mengizinkan dirinya untuk keluar rumah tanpa didampingi sang suami.


Rama hanya menyuruh salah satu orang kepercaya'anya saja untuk mengantar kemana sang istri pergi .

__ADS_1


dengan rasa syukur dan langkah penuh harapannya Rumi tiada bisa menyembunyikan rasa senangnya hingga senyuman di bibirnya dapat sangat jelas terlihat begitu manis dan menyejukkan.


Rumi tidak mengajak ikut sertakan Aydan ya Aydan terlalu kecil untuk menempuh perjalanan yang memakan cukup waktu jalur darat itu dan itu pasti sangat melelahkan.


3 jam perjalanan Rumi tempuh dengan doa dan harapan yang begitu nyata ia selalu lantunkan didalam diamnya.


hanya senyuman manis dibibir yang terukir mewakili perasaan bahagiannya.


mobil yang Rumi tumpangi mulai menepikan lajunya.


"disini saja pak (Rumi memberikan perintah kepada sang sopir dan sopir menurut)". Rumi


"hati-hati nyonya (orang kepercayaan Rama mewanti-wanti sang nyonya Rumi supaya berhati-hati karena keadaan sekitar cukup becek)".orang kepercayaan Rama


"terima kasih, aku rasa kau cukup disini saja mengantarku (Rumi melarang sang utusan dari suaminya untuk ikut lebih jauh lagi)". Rumi


"maaf nyonya saya tidak mungkin melanggar tugas yang tuan berikan kepada saya (memohon pengertian, akhirnya Rumi mengalah kepada orang kepercayaan Rama ya karena Rumi tau seperti apa suaminya ia akan menembak habis siapapun juga yang membuat keinginannya tidak terlaksana mungkin terkecuali dirinya)". orang kepercayaan Rama


"baik ,siap nyonya saya akan melakukan apapun yang nyonya suruh asal saya tetap bersama nyonya Rumi (dengan hembusan nafas leganya, ternyata nyonya Rumi baik dan mau perduli juga dengan bawahan sepertinya ya ia tau hal apa yang akan menimpanya jika ia lepas dari tanggung jawabnya)". orang kepercayaan Rama


Rumi dan orang kepercayaan Rama mulai masuk ke gang dan disana ia dapat melihat bapak-babak yang berada di sebuah tayangan di televisi.


"pak tua...ini benarkan bapak yang jamunya lagi viral? (Rumi mendekat dengan mata yang berbinar-binar)". Rumi


sedangkan orang kepercayaan Rama hanya menyimak disaat ia bisa menguasai keadaan.


"sebenarnya apa yang dicari nyonya Sampai mencari alamat bapak tua ini, apakah nyonya akan membeli produk jamu yang bapak ini buat? ... membatin".orang kepercayaan Rama


"nyonya siapa ya? (terlihat bapak tua tidak mengenali Rumi namun bapak tua bisa menebak perempuan yang ada di hadapannya adalah bukan orang dengan kedudukan yang biasa dilihat dari pakaian dan seseorang yang mengekor dibelakangnya)".bapak tua


"perkenalkan saya Arumi Fitrian saya adalah istri dari Satria Abdinegara, Dimana mas Satria pak? (raut tidak sabar dari Rumi membuat bapak tua bingung sekaligus berfikir keras)". Rumi

__ADS_1


"maksud nyonya saya tidak mengerti ? (nampak wajah bingung dari sang bapak tua)".bapak tua


tanpa permisi Rumi masuk rumah yang terbuka lebar pintu depanya dan disana Rumi melihat keserdehanaan diruangan itu ,dan Rumi dapat melihat rak-rak yang berisi dengan botol-botol yang berbaris dengan rapih.


" mas ....mas Satria...ini aku mas...aku disini untukmu...keluarlah mas....aku sangat merindukanmu mas Satria...(nampak Rumi masuk tanpa enggan memeriksa setiap kamar yang ada namun Sungguh sayang ia tidak menemukan sosok itu, sosok yang sangat ia rindukan)


pak sebenarnya mas Satria ada dimana (Rumi memutuskan kembali kearah luar rumah bapak tua itu dan menjelaskan hingga dirinya mendatangi kediaman bapak tua itu)". Rumi


"oh... seperti itu, (bapak tua manggut-manggut disaat Rumi menjelaskan bahwa dirinya melihat tayangan di televisi pada waktu itu dan mengenali sosok yang bapak tua temukan).


Nak Satria telah dibawa oleh keluarganya (dengan mode tenang)". bapak tua


"keluarganya? siapa Pak (Rumi sangat penasaran)". Rumi


"tunggu....(nampak bapak tua mencari sesuatu didalam lemarinya).


ini alamat rumah keluarganya, saya mendapat kartu ini dari salah satu keluarga nak Satria (bapak tua memberikan sebuah kartu disana tertuliskan sebuah nama yang Rumi sangat kenali Dimas panungkas)". bapak tua


"kak Dimas bergumam". Rumi


terasa lega didadanya ternyata suaminya berada ditangan orang yang tepat.


dengan memohon maaf dan banyak berterima kasih kepada bapak tua dan memberikan sebuah amplop coklat /sebagai tanda terima kasih namun tepatnya Rumi memberikan uang tunai kepada bapak tua itu sebagai hadiah akan kebaikkan hatinya atas rasa kemanusiaan dan keperdulian.


tanpa Rumi mau menunggu bapak tua bercerita terlebih dahulu dan lebih lanjut, dengan rasa rindunya yang sudah menggebu-gebu Rumi pamit undur diri meninggalkan kediaman rumah bapak tua itu.


dan akhirnya Rumi memutuskan untuk segera ke tempat Dimas.


ya Rumi akan menemui seseorang yang telah berjasa dihidupnya, kakak yang selalu baik dengan sejuta kebaikkannya.


_skip_

__ADS_1


"mas...mas... Satria hiks... akhirnya aku menemukanmu....(dengan rasa kerinduan yang sudah terlampau lelah Rumi mendekap tubuh ideal milik suaminya dari belakang ,Rumi sangat dapat mengenali gaya berdiri dan dalam gaya apapun dari suaminya itu meskipun dirinya tidak melihat dari sisi depan sang suami, Rumi mendekapnya dengan sangat erat hingga tidak memberikan kesempatan untuk siapapun untuk melarangnya, ya Rumi sangat merindukan aroma tubuh itu ,tubuh seseorang dengan sejuta kasih sayang dan perhatiannya)". Rumi


__ADS_2