Tangisan Suci

Tangisan Suci
Kado misterius


__ADS_3

Jam didinding menunjuk jam 3 dini hari Dimas masih setia dengan terjaganya. ia merenungi kisah cintanya kenapa bisa jadi rumit seperti ini kekasih yang ia sayang dan cintai selama hampir 10 tahun dan hampir saja ia nikahi ternyata memiliki sifat yang demikian, dibenaknya apa belum jodohnya? tapi mengapa kalau tidak berjodoh kenapa selama ini hubungan yang tadinya baik-baik saja ternyata tidak berjalan dengan semestinya tunangannya berfikiran sepicik itu, dan dengan beraninya terang-terangan selingkuh didepannya.


"Kau terlalu dibutakan cinta hingga kau tidak bisa membedakan mana yang baik dan salah. maaf...maafkan aku Sisi....aku tidak bisa bersamamu lagi...rasanya terlalu sakit untuk aku pertahankan...(dalam lamunan Dimas)". Dimas


Sementara penghuni lainnya sudah terlelap dengan mimpi-mimpi indanya.


"Cklekkk...(Dimas membuka kamar pintu sang ibu ,terlihat sosok tua dengan raut lelahnya tertidur lelap memejamkan matanya) cup ....(Dimas melabuhkan kecupan sayang kepada sang ibu yang sangat ia banggakan dan sayangi itu) maafkan Dimas Bu, Dimas sudah mengecewakan ibu... bergumam". Dimas


"Cklekkk....(Dimas membuka pintu kamar sang adik kesayangannya dan mengelus sayang rambut yang sebagian menutupi wajah manisnya) maafkan kakak selama ini kau ternyata tidak nyaman dengan kehadiran Sisi, tapi kau menyembunyikan ketidaknyamananmu demi kakak...maafkan kakak". Dimas


"Kak, kak Dimas kenapa kau pulang telat...emmmm kau belum memberiku kado ulang tahunmu.... ummmem...(dengan tiba-tiba Rumi mengigau hingga membuat Dimas terkaget dan salah tingkah)". Rumi


"Huffft.... untunglah cuma mengigau kalau dia tau aku sekarang ada di kamarnya bisa-bisa aku babak belur (Dimas cepat-cepat beranjak dari kamar Rumi) untunglah....huffft (Dimas nampak mengelus dadanya diluar pintu kamar Rumi)". Dimas


Pagi menyambut kembali dengan kisah yang mungkin sedikit berbeda.


"Kak Dimas....(Rumi terbangun dari tidurnya) Hem huaapppppp.....(menguap) apa kak Dimas sudah pulang ya ,aku sampai memimpikannya....(ya kehilangan sosok Ardi membuat Rumi sangat menyayangi Dimas dan selalu menempel padanya)". Rumi


Cklekkk pintu dibuka...Rumi melongok kearah pintu disampingnya (kamar Dimas).


"Pintu kamarnya tertutup rapat aku coba cek dulu deh orangnya ada didalam kamarnya tidak ya (Rumi nampak berdebat dengan isi fikiranya sendiri namun sejurus kemudian ia melangkahkan kakinya ke arah kamar Dimas)". Rumi


"Tok...tok..tok....(ketukan dipintu).. tidak ada jawaban.. bergumam.


Sekali lagi dicoba...tok...tok..(ketukan dipintu) kak Dimas..ini Rumi apa Rumi boleh masuk?...umm...(nampak Rumi menyunggingkan bibirnya sepertinya ia akan berbuat sesuatu disaat ia tidak mendapat sebuah sautan)". Rumi


Cklekkk...suara pintu kamar Dimas ia buka dan nampaklah kak Dimas kesayangannya tengah tertidur dengan posisi tengkurap menyembunyikan wajah tampan dan murah senyumnya.


perlahan Rumi mendekat kearah ranjang Dimas.


"3...2...1...banjir.....!!!!!!!! rumah kita kebanjiran kak haha....(tertawa jahat) kak Dimas ayo cepat bangun nanti kakak masuk terlambat.....!!!! (dengan teriakkan yang membahana)". Rumi


"Hah...banjir.....(Dimas terbangun dengan terkaget-kaget)". Dimas


Dengan gerakan cepat Dimas terbangun hingga menabrak tubuh Rumi yang nampak membungkukkan diri guna meneriaki Dimas hingga posisi keduanya saling berguling diatas kasur karena Dimas menahan tubuh Rumi yang akan terjatuh tertabrak tubuhnya. deggg...deg..deg..... suara detak jantung diantara keduanya terutama bagi Dimas yang berdetak sangat kencang seperti ia pertama kali baru melihat Rumi yang sedang memasak didapur dengan mata bulatnya tepat 8 tahun lalu kini mata bulatnya tersanding dihadapan matanya dengan jarak hanya sejengkal saja.


"Apa seindah ini dirimu...ini sangat terlihat jelas kau begitu mengagumkan kenapa aku baru menyadarinya ya kau memiliki keindahan yang hakiki...membatin". Dimas


"Matanya terlihat sembab dan bengkak..membatin.

__ADS_1


Kak...kakak....cepatlah pindah tubuhmu sangatlah berat (Rumi berteriak-teriak sejak tadi namun Dimas asyik menikmati pesona indah wajahnya sang adik nakalnya).. Hem...am (menggigit)". Rumi


"Aaw.....sakit, kenapa kau selalu melakukan ini (Dimas meringis mengusap bekas gigitan dipundaknya dan segera bangun dari menindihnya Rumi karena habis sudah lamunan yang indah itu) ". Dimas


"Itulah hukuman bagi yang sudah membuatku kesusahan, (dengan bibir manyunnya) sedari tadi malam kakak kemana saja , aku tidak biasa merayakan ulang tahunku tanpamu kak, itu terasa aneh.


apa kailan bertengkar lagi? kenapa tidak pulang, hingga sampai acara ulang tahunku usai (sedikit melemahkan nadanya)". Rumi


"Huffft...(nampak Dimas memejamkan matanya dia terlihat manis walau masih dengan wajah bantalnya)...hubungan kita usai (dengan nada datar)". Dimas


"Usai? maksud kakak, kakak putus dengan kakak Sisi..?". Rumi


"Eem..(mengangguk) kita sudah tidak bersama lagi hanya itu saja. cukup aku tidak mau membahasnya lagi.." Dimas


"Aku turut prihatin". Rumi


"Sudahlah jangan berbohong kau suka an kakak Dimasmu sekarang tidak ada lagi kata *tunggu dulu* ( ya biasannya mereka berdua pasti akan merasa garing menunggu Sisi yang super lelet itu /urusan dandan walaupun dengan keadaan segenting apapun Sisi selalu merasa tampilnya kurang sempurna)". Dimas


"Hehe....maaf ya kak (dengan mengedip- ngedipkan matanya)". Rumi


"Hem...(geleng kepala), sudah aku duga". Dimas


"Ini bukalah...ini kado ulang tahunmu (menyodorkan kearah Rumi)". Dimas


"Wah...asyik bingkisannya terlihat besar (dengan antusias yang sudah tidak tertahankan) aku buka ya kak... wah...ini sungguh aku inginkan ini terlihat sangat menggemaskan , terima kasih kak cup....(kecupan singkat Rumi labuhkan dipipi mulus Dimas)". Rumi


Ya setiap tahunnya Dimas akan selalu memberikan boneka yang sama namun dengan versi yang berbeda.


entah kenapa jantung Dimas merasakan detak jantung yang sama saat ini kepada sang adik. ketika rasa cinta itu pernah ada ,rasa yang ia berikan untuk Sisi mantan kekasihnya.


rona wajah Dimas terlihat memerah ini pertama kalinya Rumi menciumnya ya walaupun itu tanda sayang seorang adik kepada kakaknya.


di dada Dimas memiliki debaran yang berbeda.


"Sekali lagi terima kasih ya kak, aku akan segera bersiap-siap ke sekolah... (Rumi mencubit kedua pipi Dimas dan berlalu kegirangan) ". Rumi


"Ini salah Dimas...ini tidak boleh terjadi...bergumam". Dimas


Dimas dan Rumi adalah seorang siswi dan seorang guru namun arah mereka berbeda ya karena Dimas dan Rumi berbeda sekolah/mengajar.

__ADS_1


_kip_


"Benar mi kamu pulang tidak bareng kita (nampak sebuah mobil terparkir dipinggir jalan)". Dona


"Eem... aku di jemput ibu, ibuku sehabis dari swalayan pulangnya sekalian lewat sini (tersenyum ramah)". Rumi


"Ha sudah kita duluan ya..dahhhh (melambai)".Dona


"Dah... hati-hati (melambai)". Rumi


Beberapa menit kemudian.


"Mana ya ibu tadi memberi kabar sudah diperjalanan?! (sambil menendang - nendang bekas botol minum yang sudah habis ia minum sendiri)". Rumi


Dctttttttttt...pragggggh...tanpa sengaja netra Rumi melihat sebuah mobil mewah berhenti di seberang sana mobil itu nampak oleng menabrak pembatas jalan dan beberapa menit kemudian sepertinya mengalami kerusakan hingga menimbulkan asap yang keluar dari depan mobilnya.


"Ah....tolong...tolong...(Rumi berteriak histeris memanggil-manggil masa namun naas keadaan tidak berpihak padanya tidak ada satupun orang yang terlihat biasanya kawasan itu cukup ramai dengan terburu-buru ia mendekat kearah mobil dan mengintip kaca mobil didalam nampak ada seorang pengemudi namun tidak nampak jelas rupanya pengemudi itu nampak memejamkan matanya.) bagaimana ini... bergumam (dengan segala ke panikkannya ia mencoba membuka pintu mobilnya namun tetap saja tidak bisa karena pintu mobil nampak terkunci dari dalam...asap semakin pekat) aaa.... tuan cepat bangun ...tuan aku takut mobilnya akan terbakar...aaa bagaimana ini (netranya melihat batu di pinggir'an sana dengan tekad yang bulat ia mengambil batu yang berukuran sedikit besar itu dan melemparkannya kearah kaca mobil , dengan beberapa lemparan akhirnya kacanya bisa hancur juga nampak batu itu mengenai pelipis sang pengemudi hingga nampak darah segar mengalir disekitar wajah yang menggunakan sebagian topeng diwajahnya) akhp...maafkan aku tuan...(tangan Rumi merayap menjangkau mencari pembuka kunci pintu cklekkk... pintu terbuka dengan sigap Rumi menyeret seorang pengemudi bertubuh ideal itu namun terlihat sangat kekar) aduh...tuan kenapa tubuhmu terasa sangat berat tubuhmu lebih berat dibanding tubuh kak Dimas dan lagi kenapa tuan panas-panas seperti ini memakai topeng, apa tuan habis dari menghadiri sebuah acara kostum bertopeng... bergumam (Rumi menggerutu dengan segala kerepotanannya...) maaf tuan aku menyeretmu...aku sungguh lelah..huffff...hah.....huff....(nampak Rumi menyandarkan laki-laki bertubuh kekar dipinggir jalan dekat sebuah pohon,ia mengelap keringat yang bercucuran dipelipisnya, ia melihat topeng yang dikenakan laki-laki yang tidak sadarkan diri itu dan memikirkan sesuatu)...maaf tuan aku ingin membersihkan darah yang mengalir ini ..(perlahan tangan Rumi merayap dan membuka topeng yang melekat diwajah misterius laki-laki yang memejamkan matanya itu).


akhp..... Monster...(Rumi memekik terkesiap melihat rupa yang sangat menyeramkan itu, dan perlahan mata yang sedari tadi terpejam itu akhirnya membukakan matanya dengan lebar-lebar)". Rumi


"Topengku....(sorot mata elang itu menatap kearah tangan Rumi yang masih setia memegang topeng kesayanganya itu) lancang sekali kau membuka topengku...(tangan kekarnya seketika menyambar pergelangan tangan Rumi dan meremasnya dan mengambil topengnya dan memakainya kembali tanpa melepaskan cengkeraman tangannya kepada Rumi)". Rama


"Ahhh...sakit tuan lepaskan aku, aku hanya berusaha menolongmu (Rumi meringis kesakitan)". Rumi


"Diam jangan memberontak (dengan suara baritonnya, laki-laki bertopeng itu nampak merogoh saku celananya dan menempelkan benda pipih itu ketelinganya)". Rama


"Ahk...sakit (memberontak dalam ketakutan)". Rumi


📲 *"Persiapkan kamar untuk penjahat yang baru aku tangkap, dan datang kemarilah .....(menyebutkan sebuah lokasi dengan nada mengerikan dan misterius kemudian menutup panggilan diselullernya dengan kasar)".* Rama


"Ahhh..penjahat yang baru tuan itu tangkap???...apa itu aku???.. bergumam". Rumi


"Ia penjahat itu adalah ...kau gadis ingusan, kau telah melakukan kejahatan yang sangat besar dan kejahatan itu tidak bisa diampuni olehku. kau telah melihat wajah asliku kau harus aku lenyapkan (dengan senyum menyeringai)". Rama


"Ti...tidak....(dengan cara andalannya membalas seseorang yang telah membuatnya merasa disusahkan Rumi mengigit pergelangan tangan Rama namun cara itu tidak membuat Rama melepaskan cengkramannya sedikitpun) ampun ini orang...kuat sekali aku harus bagaimana ayo berfikirlah Arumi Fitrian...membatin (dengan mengumpulkan keberanian Rumi mendekat dan menendang barang pusaka laki-laki berwajah monsternya itu dan akhirnya rencana itu berjalan mulus laki-laki berwajah Monster itu melepaskan cengkeramannya dan nampak memegangi bekas tendangan itu dengan jeritan nestapanya)". Rumi


"Awww....si..-lan.. gadis ingusan, gadis liar...awas kau tidak ada kata ampun..untukmu. (Rama kelimpungan menahan rasa sakit yang amat hebat diarea terlarangnya)". Rama


Dengan kesempatan emas itu Rumi segera bangkit dan berlari kabur.

__ADS_1


"Ibu....kak Dimas tolong Rumi...hiks...(dengan derai air mata ia sangat nampak ketakutan, Rumi berlari sekuat tenaga yang dibenaknya yang terpenting bisa lolos dari kejaran laki-laki berupa monster itu)". Rumi


__ADS_2