Tangisan Suci

Tangisan Suci
Keluarga kecilku


__ADS_3

"ka, kenapa kau menangis...(Caca kaget disaat teman sekaligus saudara barunya yang berada disampingnya mulai memperlihatkan sisi lainnya)". Caca


"aku bahagia ca, aku bahagia melihat mommy Rumi selalu dengan senyum disetiap harinya... ternyata betul meskipun Daddy satria bukanlah Daddy Kandungku namun Daddy Satria bisa membuat mommy terlihat sebahagia ini... sebelum mommy mengenal Daddy satria ...(kata-kata nya terhenti)". Raka


entah apakah ini yang disebutkan dengan sudah berjodoh?!!! dengan adanya Satria dan Caca yang masuk dalam kehidupan Raka , menjadikan Raka menjadi anak yang penurut dan sedikit alim, kenakalan yang sangat kentara dalam diri sosok Raka kini perlahan menghilang. ya mungkin semuanya itu tidak terlepas dari peran keluarga Satria yang memberikan kasih sayang yang baru dan terkesan sangat memberikan rasa nyaman tersendiri bagi Raka.


"terima kasih ka, kamu sudah mengizinkan Daddy untuk menikahi mommy...(tanpa diduga Caca merangkul Raka seperti layaknya seorang saudara sejati hal itu membuat Raka terkejut sekaligus merasakan kenyamanan rasa nyaman ini seperti ketika dirinya mendapatkan kenyamanan ketika sang mommy mendekapnya)". Caca


"Caca...!!! (Raka terkejut namun Raka tidak menolaknya)". Raka


pemandangan itu terlihat sangat manis sepasang anak lelaki dan perempuan yang saling memberikan dukungannya dengan mendukung kedua orang tua nya.


ya semenjak seminggu yang lalu semenjak Rumi dan Satria resmi/sah menjadi sepasang suami-istri, Rumi dan Satria memutuskan untuk meninggalkan masa silam mereka.


kini hanya ada masa depan yang siap mereka raih dengan bersama.


mereka melangkah bersama berharap menjemput masa depan yang cerah dan bahagia, segala kesedihan, kegundahan, sakit dan hancurnya harapan seakan lenyap ketika mereka memutuskan untuk hidup bersama, hidup dalam sebuah ikatan suci *pernikahan* ya meskipun satria dan Rumi hanya menikah dengan cara siri namun itu tidak merubah atri sebuah pernikahan yang sesungguhnya.


mereka melakukan semua ini demi kelangsungan masa depan yang ingin satria dan Rumi raih bersama yang tentunya bertujuan lebih mudah untuk mengklamufasekan dari orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dan penuh ambisinya dengan pemikiran bahayanya.


Satria memboyong Rumi beserta kedua anaknya kesebuah perkampungan kecil dan sangat jauh dari jangkauan kata modern, dikampung itu tiada kata Internet dan sebagainya yang berkaitan dengan dunia perlayaran.


menjadikan suasana kampung yang asri ,dan penduduknyapun hidup aman makmur. dengan hasil bumi yang melimpah serta gotong royong yang masih sangat kuat, saling bermusyawarah menjadikan satu sama lain saling mendukung dan kekerabatan yang masih sangat terasa menjadikan penghuni kampung itu tidak kekurangan dari segi apapun.


pangan,obat-obatan, kerajinan, dan sebagainya mereka menggunakan cara tradisional, dengan cara turun temurun hanya satu yang masih nampak asing bagi warga kampung itu, yaitu pendidikan, pendidikan yang sangat tertinggal jauh dari kata pendidikan, pendidikan mengenai pengetahuan pendidikan nasional dan internasional.


Rumi dan Satria yang mempunyai ilmu yang mereka dapatkan dalam perjalanan hidup dan cukup pengalaman di bidang pendidikan mulai mendirikan sekolah kecil-kecilan dan dengan tanpa pamrih menyalurkan pengetahuan mereka untuk anak-anak kampung itu.


ya Satria dan Rumi membawa lengkap semua barang-barang mereka teruntuk alat yang sebagai penghidupan keluarga kecil mereka seperti sebuah laptop, ponsel dan alat komunikasi dan elektronik lainnya.


satria akan keluar dari kampung ketika ia membutuhkan jaringan internet /sinyal. dan kegiatan itu ia lakukan untuk kelangsungan hidupnya bersama keluarga kecilnya Selain untuk mendapatkan dana cara itu juga adalah satu-satunya cara untuk satria dan Rumi agar tetap dapat bertukar kabar dengan orang-orang yang ia sangat sayangi /keluarganya diseberang sana.


ya mereka adalah orang-orang yang rela berkorban untuk kebahagiaan hidup Mereka.


sementara itu.


* di sekolahku *

__ADS_1


"mas apa kau sudah selesai?...(dengan merapihkan buku-buku yang terlihat sedikit berantakan)". Rumi


"Belum sayang, apa kau merasa lelah? (Satria yang masih dengan beberapa tumpukan rak lemari yang masih terlihat baru jadi itu, ya Satria bersama para warga saling bergotong royong membangun sekolah sederhana ini)". Satria


"tidak mas...(Rumi dapat melihat betapa seriusnya sang suami dengan tugasnya hingga mengundang senyum samarnya) mas apa aku boleh membantumu? (perlahan Rumi melangkah tanpa sepengetahuan Satria)". Rumi


"duduklah dengan manis aku akan selesai dengan segera...(tanpa menoleh)". Satria


"awas ibu Rumi....".warga 1


"aw...". Rumi


"apa ibu guru tidak apa-apa? (terlihat khawatir)". warga 2


"sayang...(Satria menoleh dan dengan segera satria turun dari tangga dan segera mendekat kearah istrinya tengah berada bersama beberapa warga dengan keterkejutannya) huffft... lihatlah kakimu Sampai tergores seperti ini (Satria berjongkok dan mengusap darah yang mulai muncul dari luka goresan tersebut) ". Satria


"aku tidak apa-apa mas, ini terlihat hanyalah luka kecil...". Rumi


"diamlah aku akan mengobatinya...( seseorang warga memberikan obat tradisional kepada Satria)". Satria


"tahanlah ini sedikit sakit dan setelah itu kau akan segera merasakan baikkan dengan waktu yang lumayan cepat...(satria menatap sang isteri yang belum ia apa-apakan itu dengan perasaan yang sama/ debaran yang memberi sensasi luar biasa!!)". Satria


belum di apa-apakan maksudnya??? ya karena persiapan matang-matang dan segala hal sesuatunya yang sangat menguras tenaga, waktu dan pikiran hingga membuat keduanya seakan melupakan malam istimewanya, bukan melupakan si tepatnya belum ada kesempatan.


🌷 maaf ya jika imaginasi author Sampai ketitik ini... karena author anggap saja semua para pembaca sudah 17+ ya... mohon bijak🌷


"bapak guru sebaiknya bapak bawa ibu guru untuk beristirahat saja (pulang), kasihan ibu guru Rumi terlihat begitu lelah...". salah satu warga


"tapi kalian akan kekurangan orang ...". Satria


"serahkan semuanya kepada kami pak, kami sudah biasa dengan hal-hal seperti ini (sahut para warga yang lain". warga


"terima kasih, kalian sungguh sangat baik hati...(dengan senyum ramahnya)". Satria


"Jangan berterima kasih kepada kami pak Satria karena Kamilah yang berterima kasih kepada bapak dan keluarga sudah berkenan untuk tinggal...(dengan tatapan bersyukur)".para warga


ya kampung ini adalah kampung yang pernah satria singgahi diwaktu masa kuliahnya dulu disaat itu ia mendapatkan tugas dari kampus untuk objek pengamatan studinya.

__ADS_1


dan alangkah tidak menyangkanya para warga disini masih ingat betul dengan sosok Satria, ya diwaktu itu satria bersama teman-temannya yang pernah membantu mereka bagaimana caranya mendapatkan energi listrik dari alam, dan beberapa hal berguna lainnya.


dengan senang hati dan Punuh rasa syukur disaat para warga mendapati sosok penerang bagi Mereka telah kembali singgah dikampung tercinta mereka dan lebih alangkah senangnya ternyata sosok penerangnya membawa setra Merta istri dan kedua anaknya.


_skip_


hari sudah mulai siang , namun terik sang mentari tidaklah terlihat sebab bangunan rumah sederhana milik Satria beserta sang istri tercinta sedikit menjauh dari penduduk lainnya.


rumahnya sangat sederhana namun rumah sederhana ini cukup luas ,ya rumah ini adalah rumah yang sempat warga buat untuk sebuah ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Satria dan teman-temannya sewaktu dulu dengan telaten Secara bergantian warga merawat dan membersihkan rumah itu dan kini rumah sederhana itu menjadi tempat tinggal satria bersama istri dan kedua anaknya.


rumah sederhana itu di sekililingi pohon-pohon rindang dan pemandangan yang setia menyejukkan mata.


"mommy, Daddy...(disaat netra Caca melihat sosok yang sangat tidak asing) kalian sudah kembali...(dengan senyuman simpulnya)". Caca


tidak ada transportasi Selain berjalan kaki, ya karena jarak diantara rumah warga satu dan yang lainnya sangatlah dekat hanya satu rumah yang satria beserta anak dan istrinya tempati yang sedikit menjauh.


mobil yang satria dan Rumi bawa ia titipkan di salah satu tanah lapang milik warga. ya karena posisi rumah yang satria tempati tanahnya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan posisi rumah milik warga yang lainnya.


"Caca kenapa kau main diluar sendirian, dimana Raka?".Rumi


dengan berjalan lebih hati-hati.


"Raka ada didalam mom...". Caca


"baiklah, Daddy akan membersihkan diri dulu (Satria mengelus pelan pucuk kepala Caca) sayang (beralih kepada Rumi) ayo bantu aku...(dengan tatapan sedikit iseng)". Satria


"mas...(Rumi mendaratkan pantatnya disebuah kursi panjang yang terbuat dari potongan kayu besar) kau ini...pergilah... aku akan menyiapkan makan siang untuk anak-anak beberapa menit lagi...". Rumi


ya Rumi akan membersihkan diri setelah Satria.


"baiklah, tapi nanti malam kau harus membantuku...(dengan tatapan sesuatu)". Satria


blussssss... ucapan sederhana yang Satria ucapankan teruntukknya membuat rona seketika dikedua pipinya.


ya Rumi bisa mengartikan dengan peribahasa *membantuku.*


hanya senyuman yang Satria dapatkan disaat sang empunya hanya diam menatap dengan bahasa protesannya.

__ADS_1


__ADS_2