
sementara itu diwaktu yang sama namun ditempat yang berbeda.
"ada apa dengan perempuan itu, apa sebaiknya aku mengejarnya aku takut ini ada sangkut pautnya dengan Satria...(Ardi yang baru sampai didepan pertokoan milik Dimas yang baru akan mulai memarkirkan mobilnya sedikit kaget dan menjadi penasaran dengan Nona/ temannya yang terlihat baru akan memasuki mobilnya di area pelataran toko milik Dimas dengan keadaan menangis)". Ardi
sekitar 20 menit Ardi mengikuti mobil milik Nona, bukannya nona balik kekopi shopnya malah kini laju mobilnya berhenti ditepi jalan yang memperlihatkan pemandangan pantai.
Ardi ikut menepikan mobilnya namun ia menjaga jarak dan tidak keluar dari mobilnya.
netra Ardi menangkap gerakkan dari arah dalam mobil Nona, dan terlihat Nona keluar dari dalam mobil dan berjalan sedikit menepi dan rautnya mengarah kepemandangan pantai lepas.
"kau jahat dosen, kau jahat... apa masalahmu kepadaku, kenal saja tidak...dosen egois...dosen arogan...tidak mengerti perasaan perempuan (berteriak meluapkan kekesalannya).
aku berjanji akan mengalahkan keyakinanmu dosen... bergumam". Nona
"dosen? apakah yang dimaksud Nona itu adalah kak Dimas???, Hem... sebenarnya apa yang mereka tengah permasalahkan?...
mungkinkah ini tentang Satria... bergumam?!!!". Ardi
_skip_
"kau darimana saja Ardi aku sudah menunggumu sedari tadi, kalau kau telat seperti ini aku bisa saja menyuruh Satria untuk menemaniku (Dimas yang sudah standby di depan toko oleh-olehnya)". Dimas
"maafkan aku kak, aku sedikit ada kendala...(namun Dimas bisa menangkap kebohongan dari raut Ardi)". Ardi
"kendala? ya sudah baiklah kita bicarakan nanti dijalan". Dimas
ya hari ini adalah hari terakhir dirinya kerumah sakit untuk melihat hasil akhir dari pengobatan rawat jalannya.
* di mobil *
"Ardi, sebenarnya adakah yang ingin kau tanyakan, apakah ini ada sangkut pautnya dengan kendalamu?". Dimas
melihat Ardi seakan ingin mengucapkan sesuatu namun ditahan.
"emm... sebenarnya ini memang menganggu pikiranku semenjak tadi kak, ekhm... sebenarnya aku tadi sudah sampai di tempatmu, tapi ketika aku ...(Ardi mengatakan dengan apa yang sudah ia lihat dan dengar)". Ardi
"aku melakukan semuanya ini hanya karena aku tidak ingin Sampai ada yang terluka lagi...kau pasti paham dengan hal itu Ardi...(menerawang)". Dimas
"aku tau kak, tapi menurut sejarah pengalamanku berteman dengan Nona, Nona adalah salah satu perempuan dengan pendirinya yang kokoh kau akan sedikit sulit merobohkan keyakinannya...". Ardi
"jadi kau sudah mengetahui perempuan itu seperti apa ya!!! huffft....(nampak Dimas menghembuskan nafas beratnya) bantulah aku untuk menghentikan aksi nekadnya.. Ardi (melirik kepada sosok bertubuh sedikit kecil dengan salah satu kakinya yang tidak normal/pincang akibat sebuah insiden)". Dimas
"entahlah apakah aku bisa membantumu kak,..dilain sisi aku sedang bingung dengan keadaan Rumi...(nampak Ardi memejamkan netranya)". Ardi
"aku yakin Rumi akan baik-baik saja bila dia menuruti keinginan dan perintah tuan Rama,...namun...(kata-kata terjeda)". Dimas
"dia bukan manusia seutuhnya kak, tuan Rama adalah manusia setengah..-,
dia benar-benar sudah menjadikan Rumi tumbal akan keganasannya...(nadanya berganti dengan getaran amarah yang tertahan Ardi masih ingat betul kekejaman yang sudah dilalui adiknya dari Rama, ya waktu Ardi mengajaknya untuk meninggalkan Rama pada waktu itu Raka baru berumur sekitar 2 tahun dan disana ia bisa menyaksikan kekerasan fisik dan mental yang Rumi terima dan belum dengan cerita yang Rumi bawa betapa remuknya hati seorang kakak melihat adik kandungnya diperlakukan semena-mena disaat dirinyapun tidak berdaya)". Ardi
"huffft...(suara hembusan nafas Dimas semakin berat disaat dirinya mengingatkan akan sosok gadis dengan manik bermata bulatnya) bagaimana kalau kita mencoba bernegosiasi dengannya Ar?". Dimas
"hanya Rumi yang bisa mengendalikannya, tapi aku tau keyakinan Rumi saat ini tidaklah baik untuk menemui kita...(nampak raut kecewa dari Ardi)". Ardi
__ADS_1
"aku tau...pasti disaat ini Rumi mengira kita tidaklah memihaknya...(Dimas menjadi gusar dan sedih)". Dimas
"aku kangen sekali dengan Raka , apa kabarnya, dia pasti sangat sedih memaksa menerima semua keadaan ini!!! dia adalah anak yang kritis, aku takut Raka tidak bisa menerima keadaan ini dan melakukan hal-hal yang diluar jalurnya...!!!". Ardi
"Ardi...". Dimas
"ya, ada apa kak?". Ardi
sesekali melirik kearah Dimas yang duduk disebelahnya.
"Rumi telah melahirkan seseorang anak bersama Satria!!". Dimas
dengan nada yang Pelan namun itu sangat jelas ditelinga milik Ardi.
dctttttttttt....(Suara mobil yang direm secara mendadak)
"apa,..........apa yang barusan kau katakan kak?". Ardi
nampak melebarkannya matanya dan masih butuh penjelasan.
"ya Rumi telah melahirkan seseorang bayi bersama Satria...(nampak Dimas mengurut hidung mancungnya dengan memejamkan netranya)". Dimas
"oh... tuhan". Ardi
nampak Ardi dengan raut bahagiannya namun sejurus kemudian ekspresinya berubah.
"kau pasti memikirkan hal yang sama dengan ku?". Dimas
_skip_
nampak Satria tengah mondar-mandir didepan rumahnya menunggu bidadari kecilnya yang hilang hilang tanpa jejak.
waktu menunjukkan pukul 5 sore.
"gladis apa kau benar sudah menghubungi teman-teman Caca?". Satria
satria nampak semakin ruwet dengan pemikirannya, setelah Nona tidak bisa dihubungi kini giliran Caca yang hilang dalam keadaan masih ngambek kepadanya.
"sudah mas, gladis jadi khawatir jangan-jangan Caca menang benar diculik...(dengan lelehan air matanya)". gladis
"jangan memperkeruh keadaan gadis, Caca tidak mungkin pergi dengan orang yang tidak dikenalnya, aku jadi Curiga dengan om yang Caca sukai... jangan-jangan dia biang keroknya... bergumam". Satria
"maksud mas, om yang Caca sukai apakah om Adam?". gladis
"siapa lagi kalau bukan dia...(pemikiran picik)". Satria
dari arah pintu gerbang perumahan terlihat sebuah mobil pribadi berwarna putih tengah melaju dan beberapa saat memarkirkan lajunya.
cklekkk... terlihat sosok mungil dengan raut bahagianya dengan sebuah boneka besar yang lucu digendongnya.
"aku tidak salah dengan pemikiranku... bergumam". Satria
menatap dua sepasang insan, seperti seorang keponakan dengan pamannya.
__ADS_1
"assalamualaikum Caca pulang bi,(bukannya Caca menyalami Daddynya kini malah Caca hanya menyalami bibi cantiknya)". Caca
"wa'alaikumussalam...ca, kamu darimana saja bibi Sampai khawatir menacarimu Dimana-mana tidak ada, dan bibi sudah menanyakan kebaradaanmu namun teman-teman Caca tidak ada yang tau juga (dengan tatapan leganya dan meraih Caca kedalam pelukannya)". gladis
"maafkan Caca bi, Caca tidak meminta izin dulu kepada bibi (sedangkan Daddynya ia acuhkan)". Caca
"Caca kenapa kau berbohong kepada om Adam (Adam sedikit kecewa dengan pengakuan Caca yang belum minta izin, padahal Caca bilang kepadanya sudah mendapatkan izin dari pihak keluarganya)". Adam
"hihi... maafkan Caca om, (nyengir tanda canggung)". Caca
"sebenarnya...(akhirnya Adam menjelaskan....)". Adam
"Caca, (bibirnya bergetar setelah mendengar penuturan Adam)". Satria
"tidak apa-apa dad, bukannya Tante Nona lebih penting dari Caca, om Adam sekali lagi maafkan Caca, yang telah membohongi Om (Caca masuk tanpa permisi dengan tangisan kecilnya)". Caca
"Caca....(Adam tau sekarang masalahnya ternyata Caca masih belum terima dengan kedekatan Daddynya bersama calon ibu barunya)". Adam
setelah kepergian Caca.
"aku meminta maaf padamu atas kenalkan anakku...". Satria
"tidak apa-apa tuan, saya sudah menganggap Caca seperti anakku sendiri". Adam
"anak apa tidak salah, laki-laki manis ini begitu lembut tidak seperti dosen Dimas... pantas saja Caca nyaman bersamanya disaat Daddynya mengacuhkannya ...membatin". gladis
"aku merasa tidak enak hati telah sangat merepotkanmu dosen". Satria
satria yang terlihat sinis dan waspada menjadi salah tingkah dengan penuturan Adam.
"sudah aku katakan tuan, Caca sudah aku anggap sebagai anakku sendiri, jadi apapun mengenai Caca saya tidak merasa keberatan". Adam
"baik dan kebapa'an sekali... membatin".gladis
menampilkan senyuman ramahnya.
"baiklah kalau seperti itu saya pribadi sebagai orang tua Caca banyak-banyak mengucapkan terima kasih atas kebaikan dosen". Satria
dengan beberapa percakapan ringan akhirnya Adam pamit undur diri.
"Caca sayang buka pintunya Daddy ingin bicara denganmu...(satria tidak habis kata untuk membujuk gadis kecilnya)". Satria
"mas... apa Caca belum juga mau membuka pintunya?". gladis
gladis yang sudah rapi dengan piyamanya nampak keluar dari dalam kamarnya.
"seperti yang kau lihat, (dan beralih kepada pintu yang setia menutup) Caca ayolah tidak baik seperti ini kau bisa sakit kalau tidak makan (satria mengetuk pintu seperti beberapa jam lalu)". Satria
"Caca masih kenyang dad, Caca hanya ingin istirahat (berteriak)". Caca
"Hem, sudahlah mas biarkan Caca untuk istirahat dulu. nanti juga dia akan keluar kamar dengan sendirinya, mas taukan Caca paling tidak betah berkutat sendirian!!". gladis
mencoba menenangkan.
__ADS_1