Tangisan Suci

Tangisan Suci
keputusan 2


__ADS_3

"untunglah....bergumam". Rumi


nampak Rumi meraih ponsel yang selalu berada setia di tas kecilnya.


rumi memainkan dengan lincahnya jari jemari lentiknya dilayar berbentuk pipih itu. ia terlihat mengirimkan sebuah pesan untuk seseorang yang berada disebarang sana.


📱 *" kak Ardi, aku sekarang sedang bersama mas Rama di mall (tidak usah disebut ya). aku tidak bisa menolak dan mengabaikan dengan begitu saja permintaan dari mas Rama untuk ingin lebih dekat dengan Raka (ya Rumi mengirimkan sebuah pesan untuk Ardi).*".


maafkan aku kak Ardi... maafkan aku mas Satria...membatin". Rumi


sekitar 15 menit ,Rumi kembali dan berusaha mencari akan keberadaan Raka dan Rama.


namun netranya tidak sengaja melihat orang yang begitu ia sangat kenal tengah melangkah sendiri dalam keramaian.


"Adam...(memanggil)". Rumi


"Rumi? (nampak Rumi dan Adam saling mendekat) ini benar kau, emm... sedang apa disini (nampak Adam menengok kanan dan kiri dan berbagai arah seperti mencari akan keberadaan seseorang yang mungkin saja ia kenal) kau sendirian? lalu di mana Raka sekarang...?". Adam


"aku tidak sendiri, aku disini bersama dengan Raka dan...(ucapanya terhenti disaat Sepasang anak dan Daddynya mulai menghampiri dengan senyuman simpulnya)". Rumi


deggg.....


"tuan Rama? (nampak Adam tidak percaya)". Adam


"Rumi apa kau benar tengah pergi bersamanya?!". Adam


"ia aku bersama mereka". Rumi


"wow... tuan Adam rupanya ada disini juga, selamat siang tuan...maaf kita harus pergi (dengan segera tangan Rama meraih tangan milik Rumi dengan posesifnya tangan Rama menggandeng tangan milik Rumi hingga perbuatannya tanpa ia sadar membuat Rumi menolak)". Rama

__ADS_1


"lepaskan mas, aku bisa berjalan sendiri (dan tanpa sadar penolakkan itu membuat Rama menjadi menahan geramnya , ya dia tidak mau membiarkan seseorang yang ada dihadapannya itu mendekati rumi nya)". Rumi


sementara itu adam hanya diam menyimak dengan interaksi yang ditunjukkan oleh keduanya.


_skip_


Adam berlalu dengan fikiran terganggunya, ya ia selalu saja memikirkan tentang Rumi beberapa tahun dekat dengan sosok Rumi menjadikan dirinya sudah terbiasa dengan sosok Rumi.


dan ketika netranya menatap dengan kenyataan yang ada Adam semakin khawatir bahwa Rama akan menyakiti Rumi dan Raka lagi. ya karena dirinya adalah saksi dimana masa dulu Rama memperlakukan Rumi secara kasar dan ketidakadilan nya.


"Hem, sebenarnya apa yang kau rencanakan tuan Rama... kenapa Rumi mau menuruti keinginannnmu?!...membatin". Adam


awalnya ia datang ke mall itu Karena ingin menemui seseorang namun melihat Rumi pergi bersama orang yang paling membuat menderita dihidup Rumi menjadikan Adam membatalkan pertemuannya dengan seseorang tersebut. dengan langkah yang pelan tapi pasti Adam mulai mengikuti dari jarak yang aman, dan tidak diduga-duga, orang surahan Ardi dan Romi tengah mengetahui Adam yang mengendap-endap secara samar membelah keramaian suasana mall yang ada.


sementara itu Ardi yang baru saja mendapatkan sebuah pesan netranya terbelalak.


pasalnya semenjak ia terakhir bertemu dengan Exel dan kembali dikediamanya, dengan segera ia mengotak Atik dengan tampilan didalam layar laptopnya dan melihat sebuah rekaman kamera pengawas dari beberapa kiriman orang suruhannya dan mendapati sebuah gambaran yang mengejutkan. didalam rekaman itu menunjukkan seseorang dengan rupa yang mirip dengan keponakannya *Raka* tengah tersenyum dalam seringaian misteriusnya dan disana Ardi dapat melihat Rama yang masih setia memejamkan netranya karena Satria yang telah memberikan pelajaran kepada Nya hingga Rama tidak sadarkan diri. disana terlihat mobil yang membawa Rama mengikuti sebuah mobil yang Romi tumpangi.


_skip_


ya tanpa kehadiran seorang Exel membuat fikiran Ardi setengah terpecah, gerakkan yang Rama lakukan cukup menguras energinya.


"jagalah dirimu sebisanya sayang...kak Ardi akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kau dan Raka...bergumam". Ardi


sementara itu diseberang sana...


"Bagus... ternyata kau mudah untuk aku kelabui... kenapa tidak dari dulu aku lakukan cara ini. Hem,... Ardi apa kau mampu mengalahkan kepintaranku...!!!". Romi


_skip_

__ADS_1


dua hari kemudian. kini Rumi sudah menerima Rama sebagai masa lalu yang telah kembali namun Rumi menganggapnya hanya sebagai seseorang yang bukan bagian penting dihatinya ya karena hatinya tetaplah milik seorang Satria.


bippp....bippp... nampak sebuah mobil pribadi yang tidak asing bagi Rumi tengah memarkirkan lajunya.


"mas Rama...bergumam". Rumi


Rama nampak keluar dengan senyuman mengembangnya. Rumi yang baru keluar dari rumah bersama Raka untuk menjalani aktifitasnya paginya sebagai pelajar-pengajar sudah rapih dengan setelan masing-masing.


"Daddy....(Raka mengecup punggung tangan milik Daddy kandungnya) Daddy kenapa Daddy kesini? apa Daddy akan menjemput Raka?! (dengan senyuman simpulnya, ya Raka si bocah laki-laki berumur 7 tahun itu sudah menerima Rama sebagai Daddy kandungnya itu semua tidak terlepas dari interaksi yang beberapa hari lalu Rama tunjukkan hingga membuat raka mudah menerima sosoknya)". Raka


"anak pintar,anak Daddy yang paling tampan...kau benar sayang Daddy memang sengaja datang kesini ingin menjemput mu dan mommy Rumi (dengan senyuman hangatnya)". Rama


"Hem, apa benar kau ingin menjemput Raka mas? baiklah sayang ... kau ikut daddy yah. maafkan mommy...mommy akan mampir dulu ke Daddy Dimas (Rumi kesana bukan teruntuk utama Dimas namun teruntuk Satria) jadi mommy berangkat tanpamu...(dan menoleh kearah Rama) mas aku nitip Raka ya...maaf aku tidak bisa berangkat bersama Kalian (dengan senyuman ramahnya)". Rumi


"apakah kau akan menemui kekasihmu (tatapan menyelidik)". Rama


"maaf mas bukannya kita sudah sepakat tidak untuk saling mengusik masalah pribadi masing-masing...., (dan beralih kepada Raka) sayang... cepat berangkatlah nanti kau bisa telat (dengan menunjukan waktu dipergelangan tangannya)". Rumi


"eem...( Raka mengangguk) baiklah ayo dad, kita berangkat (Raka mengajak Rama untuk segera memasuki mobilnya, sebelum itu Raka pamit kepada sang mommy dengan mengecup punggung tangannya dan mengecup sekilas dipipi)". Raka


Rama tidak dapat menolak ajakan dari anaknya dengan pasrah namun tatapnya tidak rela ia tidak bisa mengajak Rumi bersamanya.


perlahan mobilnya meninggalkan Rumi yang melambai-lambaikan tangannya. posisi ini mengingatkan beberapa tahun silam disaat dirinya berangkat ke perusahaan yang dipimpinnya, disaat itu Rama kecil masih menginjak umur 1 tahun.


"andai aku tidak memilih kebodohan yang sudah pernah aku lakukan...(rama sedikit menggenggam kemudi dengan rasa kesalnya,rasa kesal itu ia berikan untuk dirinya sendiri) namun aku akan tetap berusaha dan terus berusaha untuk mendapatkan dirimu lagi sayang... membatin". Rama


Raka yang duduk manis disampingnya lebih memilih untuk terdiam, dengan umurnya yang masih disebut anak ingusan atau bocah masih kencur ini mengetahui kecemburuan yang tercipta diraut sang Daddy. kini Rama yang diharu-harinya mendapati sang mommy yang selalu diperhatikan lawan jenisnya membuat Raka sedikit mengerti dan membiarkan sang mommy berjalan tanpa larangan dari dirinya, Raka cukup mengerti dengan keadaan sang mommy dan yang ia tau sang mommy tengah melabuhkan hatinya untuk seorang dosen tampan dan jago silat ya dosen itu adalah ayah dari temannya sendiri, si gadis ceria dengan penuh semangat positifnya hal itu mengingat Raka dengan sosok mommynya.


"maafkan Raka dad, mom... Raka hanya ingin yang terbaik untuk kalian Raka tidak memihak kepada siapapun... membatin". Raka

__ADS_1


ya sejatinya Raka kecil menginginkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya namun keadaan yang membuat semuanya terasa begitu sulit dan hanya rasa sesak yang Raka dapat tangkap dari mata polosnya disaat sang mommy menangis.


__ADS_2