
bagi tersambar petir disiang bolong... hingga terasa panas disekubur tubuhnya ,dan bagaimana dengan keadaan hatinya???
setelah kepergian suaminya Rumi ambruk terduduk dilantai kehilangan keseimbangan.
"my love...kenapa kau tega seperti ini kepadaku, (pandangannya kosong ia begitu syok) kenapa kau tidak sekalian saja menceraikan aku itu jauh lebih baik dibandingkan aku harus berbagi cinta dengan perempuan itu (Rumi berucap dengan nada yang bergetar begitu sesaknya kenyataan yang secara tiba-tiba mendera dihatinya ,rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata)". Rumi
"hiks......(dalam tangisan didalam hati) ya Allah kenapa ini semuanya terjadi setelah aku melahirkan anaknya? kenapa tidak dari dulu saja disaat aku belum mencintainya...apakah aku egois ingin memilikinya sendiri tanpa mau berbagi suami". Rumi
Rumi yang sengaja tidak menatap kepergian akan suaminya itu, itu karena ia sudah tidak tahan dan dengan begitu saja kristal beningnya lolos mengalir melewati pipi mulusnya. ia menangis tanpa bersuara begitu sakit kenyataan yang ia rasakan, Rama memberikan luka yang begitu terlampau dalam di relung hatinya.
"Raka maafkan mommy... maafkan mommy.... mommy juga tidak menyangka hal ini akan terjadi kepada kita....(begitu kalut dirinya hingga berjam-jam lamanya Rumi masih bersimpuh meratapi nasibnya yang harus rela berbagi suami dengan mantan istri dari suaminya yang akan suaminya nikahi kembali)". Rumi
dari arah taman belakang bi Sumi yang menggendong Raka mendekat, ya karena Raka sudah terlalu lama bermain di taman belakang dan rewel ingin tidur siang.
mendengar suara rengekan Raka , Rumi segera menghapus air matanya dan mencoba untuk bangkit dengan berpegangan di kursi yang berada diruangan depan itu.
"sayang maafkan mommy.... (dengan langkah yang perlahan Rumi meraih raka dan mendekapnya dengan lelehan air matanya yang tanpa suara)". Rumi
sedangkan bi Sumi yang melihat semua itu hanya bisa ikut bersedih,ia tau bahwa majikannya tengah mengalami permasalahan yang serius dalam keutuhan rumah tangganya.
hari berganti hari kini Rumi terlihat lebih segar dibanding hari yang sebelumnya namun siapa yang tau akan kondisi hatinya.
kini ia terlihat memijakkan kakinya disebuah bangunan gedung yang mencirikan dan sengaja disewakan untuk sebuah acara-acara resmi seperti halnya dengan pernikahan.
"mommy....(Raka mendekap erat dan menyusup ke dada mommynya) ". Raka
Raka nampak tidak nyaman dengan banyaknya orang yang berdatangan dan masuk kedalam ruangan itu dengan berbondong-bondong, walaupun ia pernah merayakan sebuah perayaan ulang tahun pada beberapa bulan yang lalu bahkan dengan sangat megah dan meriah nya namun entah Raka saat ini terlihat gelisah, ya mereka yang berbondong-bondong itu adalah orang khusus sewaan untuk menghadiri acara pernikahan dari suaminya dan dara istri yang dulu sempat menghilang.
sedangkan dari pihak keluarga Wijaya tidak ada satupun yang hadir, ya karena memanglah Rama tidak mengundang Mereka, Rama tau bahwa keluarganya sudah terlanjur kecewa kepada dara dan mereka pernah bilang jikalau dara kembali, keluarga Wijaya tidak akan menerimanya sebagai anggota keluarga lagi. maka dari itu Rama merahasiakan nya dari pihak keluarga Wijaya terkecuali istrinya Rumi.
__ADS_1
"tidak apa-apa sayang, kita ada di acara Daddy mu...(Rumi mulai masuk dan duduk di kursi yang sudah disediakan yaitu dibelakang dimana Rama dan dara berada". Rumi
"Daddy.... (Raka yang melihat sosok Daddynya ingin meraih kearah dimana Daddynya berada)". Raka
"jagoan Daddy, (Rama menoleh dan tersenyum senang bahwa istrinya masih menurut akan perintahnya) terima kasih sayang kau telah hadir disini ...(ia tersenyum kearah Rumi)". Rama
"eem... (Rumi mengangguk dan membalas senyuman milik suaminya) aku disini bukan karena kalian aku disini karena Raka". Rumi
deggg... ada ucapan yang sangat menusuk di telinga namun semuanya seakan bungkam dan tidak mau ikut hanyut dalam perasaan itu.
"Daddy... (lagi-lagi Raka ingin meraih Daddynya)". Raka
"darling, (dara merasa risih dengan suasananya, apa lagi disaat Rama akan meraih raka) acara akan segera mulai (mengelus pelan pundak milik Rama dan Rama tersenyum kearahnya dan menuruti perkataannya)".dara
dan netra Rumi melihat semua itu.
Rumi memberikan makanan/cemilan kesukaan anaknya namun anaknya tidak mau dan ia membuka tas bayi milik anaknya dan memberikan sebuah mainan kesukaan Raka yaitu sebuah boneka yang khusus Rumi buatkan untuknya /kado di saat ulang tahun yang Rumi buat atau rajut sendiri untuk raka dan Alhamdulillah pada akhirnya Raka pun menurut diam tanpa memperhatikan Rama yang berada didepannya itu.
entah apa yang ada sekarang dibenak Rumi, apakah ia harus memberontak ataukah pasrah dengan keadaannya. namun yang dipentingkan saat ini hanya satu Raka anak semata wayangnya, jikalau ia sampai terpisah dengan Raka ia takut sesuatu yang buruk anak terjadi padanya. ia tidak mau jikalau sampai terpisahkan dari anak tersayangnya. satu-satunya cahaya kekuatan dan harapan didalam kehidupannya.
"sah....? sah......".Amil dan para tamu undangan
duarrrrrrrrr.....rasa nyeri yang begitu menuntut hingga kristal bening lagi-lagi menetes membasahi wajah manis milik Rumi. dengan cepat ia mengusapnya hingga tidak ada satu orang pun yang tau bahwa ada hati yang terluka.
"selamat untuk kalian (tanpa menyalami keduanya)". Rumi
"terima kasih...(dara membalas ucapan dari Rumi) apakah ini anak Kalian darilng? ".dara
"ia ini anak kita". Rumi
__ADS_1
"Hem.... kenapa sama sekali tidak terlihat mirip, apakah ini memang benar-benar darah dagingmu darl , kenapa kau tidak meragukannya (menatap sinis kearah Rumi dan anak yang sedang digendongnya)"dara
"Hem...kau terlalu lama bersembunyi nyonya dara hingga otakmu mengecil dan jalan fikiranmu menjadi picik, (Rumi melirik kearah tepat di manik milik suaminya) semoga kau bisa mengajari cara bahasa dari istri lamamu yang telah kembali , jadikan ia sebagai istri yang tau bagaimana caranya berbicara dengan benar. setidaknya jangan menilai seseorang dari sampulnya saja (Rumi berjalan mundur ) aku pamit semoga Kalian selalu bahagia...!!!". Rumi
"darling lihatlah istri pelarian mu sungguh lancang kepadaku (dengan nada manjanya dan semakin mengeratkan pelukan dilengan Rama)".dara
"Hem.... Kalian tolong bersikap dewasalah, jangan saling menyerang seperti itu". Rama
"tapi darling dia terlihat sangat angkuh".dara
"kita pamit, aku rasa sudah tidak ada gunanya kita berada disini bukanya acaranya memang sudah selesai???". Rumi
Rumi sudah tidak kuat bila harus terus menatap akan kebersamaan mereka,menyaksikan keharmonisan tanpa memikirkan bagaimana perasaan nya. terutama Raka secara tidak langsung menatap risau kearah dara.
"sudahlah dara... kau tidak boleh seperti itu, dia juga istri sah ku. dan Raka memanglah darah dagingku.
baiklah hati-hati, aku menitipkan Raka sepenuhnya padamu untuk seminggu kedepan aku tidak bisa pulang... aku dan dara akan pergi keluar kota. cup....(Rama mengecup pipi tembem milik Raka dan mengelus kepalanya) jangan nakal, ayah akan pergi dulu Raka sama mommy Rumi dulu yah...) ". Rama
"eem....aku mengerti (dengan memejamkan matanya dan sedikit menunduk)". Rumi
"doakan tante yah semoga daddy mu bisa segera memberi adik buatmu (dara melirik kearah Rumi dengan menatapnya rendah)".dara
Rumi pulang membawa sejuta luka, begitu getir kenyataan yang ia terima.
sepanjang jalan ia menangis dalam sesak tanpa bersuara.
dan sesampainya di rumah ia menyerahkan Raka kepada bi Sumi ,ia berlari ke kamar dan menguncinya rapat-rapat.
"hiks.....kau jahat....kau benar-benar jahat.....my love....apa sepahit ini balasan yang aku harus terima....hahhhhhhhhhhhhh....jahat...". Rumi
__ADS_1