Tangisan Suci

Tangisan Suci
Kepedihan yang mendalam


__ADS_3

"ibu...hiks.... tidak...ini pasti tidak mungkin....tidak.. ini tidak mungkin....kak...katakan padaku bahwa ibu baik-baik saja. ibu masih bersama kita. (Rumi menggila dengan penampilan yang sangat kacau dengan menggoyang-goyangkan tubuh laki-laki dewasa dengan wajah tampannya)". Rumi


"cukup... Rumi ... jangan memperkeruh keadaan, kak dimaspun merasakan hal yang sama sepertimu...(nampak Ardi menangkap tangan milik Rumi yang masih terus saja menggoyang-goyangkan lengan milik Dimas yang menatap kosong)". Ardi


nampak jam didinding menunjukkan pukul 10 malam.


beberapa kali Ardi menghubungi nomer dari Dimas Namun Dimas tidak mengangkatnya, dan disaat ardi meminta Adam untuk menyusul Dimas, Adam memberikan kabar duka dari rumah sakit. dengan terkejut Rumi yang sedang kalut dengan masalah yang tengah merundungnya kini ia semakin dibuat sesak nafas dengan keadaan ini. dengan berita yang Adam beritahukan kepada dirinya. dengan derai air mata yang tiada henti disepanjang jalan menuju kerumah sakit Rumi mengingat akan masa-masa indah bersama sang ibu Rosa. ibu yang telah menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.


nampak dari arah kamar penanganan ,keluar sebuah brankar didorong oleh suster dan beberapa dokter yang menanganinya. terlihat ibu Rosa dengan tubuh kakunya dan mata yang terpejam dengan setianya.


"ibu....(Dimas bibirnya keluh ia terlalu lama untuk menangis hingga Suaranya serak dengan langkah lemahnya. Dimas membuka kain penutup yang menampilkan wajah pucat milik mendiang sang ibu Rosa dengan menampilkan senyuman tenangnya) ibu...hiks...(Dimas menggapai wajah pucat itu dan mengecup pelan dikeningnya, dan digantikan dengan Rumi yang berlari menghampiri)....". Dimas


"ibu....hiks.... maafkan Rumi Bu...ini semua gara-gara Rumi, jangan pergi Bu ...(dengan menggoyang-goyangkan tubuh kaku milik ibu Rosa) Rumi janji tidak cengeng lagi. Rumi berjanji akan kuat dan tegar , Rumi janji akan selalu tersenyum... Rumi mohon kembalilah Bu.... hiks.. kembalilah bersama Rumi..(Rumi benar-benar kacau dengan kejadian sedih dan duka yang berturut-turut menghampirinya)". Rumi


baru saja Ardi akan melangkahkan kakinya dimana Rumi berdiri untuk menenangkan Rumi, netranya melihat Dimas bergerak.


"jangan salahkan apa yang terjadi karenamu, ini sudah jalan takdirnya... biarkan ibu beristirahat dengan tenang. berjanjilah demi ibu...kau akan kuat untuk menjalani hari-harimu...(Dimas mendekap erat tubuh milik Rumi yang bergetar hebat dan beberapa kali terlihat akan terjatuh karena lemas hingga lututnya tidak sempurna untuk berdiri dengan tatapan penuh ketulusan dan nampak Dimas sangat posesif kepada sosok Rumi dengan memejamkan matanya dalam-dalam)". Dimas


"Dimas aku tau itu bukan cara seorang kakak menenangkan adiknya, Namun itulah cara seseorang yang menenangkan kekasihnya ketika kekasihnya tengah gundah... tapi aku akui kau adalah laki-laki yang hebat , kau bisa membungkam laki-laki yang berdiri disana lihatlah laki-laki itu tidak bisa berkutik dan melarangmu untuk melakukan hal itu...(ya laki-laki itu Adam tunjukkan untuk seorang Satria yang hanya bisa diam dengan seribu bahasanya).... membatin". Adam


"huffft.....hemmm.....(nampak Satria tidak rela Dimas memperlakukan Rumi demikian namun ini bukanlah moment yang pas untuk mempeributkan tentang perasaan, Satria sadar ibu Rosa dan Dimas adalah dua sosok yang sangat begitu penting di hidup Rumi)". Satria


huffft..... nampak Ardi meneteskan kristal beningnya. entah kenapa rasanya hidupnya dan adiknya selalu diliputi dengan rasa sedih dan tekanan yang begitu menyesakkan.


_skip_


"aku pulang dulu sayang...aku harus menjemput Caca, sudah terlalu lama aku meninggalkan caca. aku akan menjemput Caca dirumah ibu / dikampung". Satria


"mas...maaf aku tidak bisa ikut menjemput caca, dan terima kasih untuk semuanya, kau telah kembali seperti janjimu...dan satu lagi mas aku ingin menanyakan Hem... (nampak Rumi ragu)".Rumi


"katakanlah sayang...apa yang ingin kau katakan? ". Satria


"Hem.. tidak...ini bukan saat yang tepat, aku akan menanyakan hal ini nanti...". Rumi


"kau ini... membuatku penasaran saja, baiklah aku akan pergi dan aku janji akan segera kembali setelah Caca berada dirumah! (dengan senyuman simpulnya)". Satria


"eem... hati-hati dijalan mas!". Rumi


"Dimas (Satria mendekat dan menepuk-nepuk pundak teman seprofesinya itu memberikan dukungannya agar Dimas dapat tabah dan selalu tegar untuk menjalani hidupnya)". Satria


"Hem...terima kasih dosen Satria (nampak Dimas tersenyum samar)". Dimas


"kak...aku pamit". Satria


"eem... hati-hati dijalan.

__ADS_1


terima kasih kau telah berhasil membawa kebenaran, meskipun kini Rama menjadi bumerang setidaknya Rumi sudah terlepas dari jeratan Romi (dengan tatapan tegas sekaligus lelahnya)". Ardi


"Hem...(Satria paham mengerti)". Satria


setelah kepergian Satria.


terlihat para orang berbondong-bondong dengan pakaian khas hitamnya mulai meninggalkan tanah pemakaman kini tinggallah Dimas, Ardi dan Rumi yang masih setia menatap kepada sebuah gundukan tanah yang masih terlihat baru.


"kak ayo kita Pulang....(Ardi menyadarkan Dimas yang masih setia dengan usapan tangannya dibatu nisan yang memperlihatkan nama ibu Rosa)". Ardi


"aku masih ingin disini Ardi, Hem...(Dimas menoleh kearah keduanya) pulanglah terlebih dahulu ajaklah Rumi untuk pulang...dan terima kasih untuk semuanya!! (dengan senyum tipisnya)". Dimas


"kak...(rumi menatap tidak tega Kepada laki-laki tampan yang selalu baik kepadanya itu dengan mata sebabnya dan bengkaknya)". Rumi


"kau beristirahatlah ikut pulang bersamanya... bukannya kau dari semalam Belum tidur aku tidak mau kalau kau sampai sakit, Raka masih sangat membutuhkanmu...(dengan tatapan meyakinkan)". Dimas


Raka? degggg... Rumi sampai lupa dengan keberadaannya karena terlalu fokus dengan duka yang ia rasa.


"ayo....(ardi mengusap pelan pundak milik Rumi untuk menyadarkan lamunan dari Rumi)kak Dimas berjanjilah kepada kami jangan melakukan hal-hal yang membahayakan dirimu ".Ardi


ya Ardi takut Dimas kalut dan melakukan hal yang berbahaya untuk keselamatan dirinya.


"pulanglah...aku berjanji tidak akan melakukan hal yang berbahaya..". Dimas


"tapi kak...Rumi ingin kita pulang bersama..(Rumi kekeh).". Rumi


"Rumi...(lagi-lagi Ardi memperingatkan adik semata wayangnya itu karena semenjak tadi terlalu memaksakan kehendaknya)". Ardi


huffftt..... dengan nafas yang panjang dan beratnya Dimas mulai bangkit.


"baiklah....kita akan pulang bersama". Dimas


"terima kasih kak...(Rumi merasa lega, ya Rumi tidaklah sanggup untuk kehilangan keluarganya lagi Rumi takut Dimas akan melakukan hal-hal yang tidak di inginkan meskipun Dimata Rumi, Dimas adalah laki-laki dewasa)". Rumi


sementara itu dikediaman Wijaya


"makanlah tuan muda sejak tadi pagi tuan Belum makan (dengan tatapan gelisah)". pelayan


"aku tidak lapar, yang aku butuh hanyalah mommy dan Daddyku, katakan kepada tuanmu aku ingin pulang...(dengan tenaga yang tersisa)". Raka


"aku tidak akan mengantarkanmu pulang ataupun membiarkan kau bertemu dengan sembarangan orang diluar sana sayang...(Rama muncul dari balik pintu yang tertutup rapat)". Rama


"sayang? om kenapa kau memanggilku dengan panggilan itu... (dengan tatapan marahnya)". Raka


"karena aku adalah Daddy kandungmu Raka, Daddy akui Daddy telah melakukan kesalahan terbesar yaitu telah menyia-nyiakan Kalian. maafkan Daddy nak....(dengan gaya memohon)". Rama

__ADS_1


"baiklah...aku terima kau sebagai Daddyku tapi pertemukan aku dengan mommy dan daddy Romiku". Raka


"huffftt...(nampak Rama menghembuskan nafas beratnya ia tidak menyangka keturunannya sudah bisa bermain taktik) baiklah aku akan kabulkan permintaanmu jagoanku, tapi harus Raka ingat Raka akan tinggal bersama dengan Daddy". Rama


"eem...(mengiyakan)". Raka


ada senyum yang samar yang tidak bisa ditangkap oleh Rama.


"sekarang makanlah Daddy tidak mau mommy menyalahkan Daddy karena tidak memberimu makanan yang cukup". Rama


"Hem, (dengan segera Raka mulai memakan makannan yang disajikan sang pelayan, dengan lahap ia memakan makanan yang disajikan untuknya itu, yang terpenting baginya mommy dan Daddy Rominya dan selanjutnya ia kan tetap berusaha kabur dari orang asing yang mengaku-ngaku sebagai Daddynya)". Raka


_skip_


Rumi yang baru saja tiba dirumah Kediaman ibu Rosa mendapatkan sebuah telepon dari nomer yang tidak asing baginya.


Rumi meraih ponsel didalam tas kecilnya.


"kak...Raka menelpon!!! (dengan raut sedikit kaget Rumi melihat nama sang penelpon)". Rumi


nampak dilayar ponselnya sebuah nama yang sangat ia sayangi dan jaga itu.


"angkatlah....". Ardi


sementara itu Dimas duduk diteras disebuah kursi yang berada diteras rumahnya. dengan Ardi yang memperhatikan Rumi yang mengangkat sebuah panggilan dengan berdiri membelakangi keduanya.


📲 *" Raka sayang apa ku baik-baik saja sayang? Sekarang kau ada dimana? kenapa kau bisa menghubungi mommy dengan milik nomer Raka degggg......apa kau ada dirumah sayang?".* Rumi


📲 *"Raka baik-baik saja mom, ia mom... Raka ada dirumah bersama Daddy....".* Raka


ya setau Rumi dan Raka pintu kunci rumah hanya Raka dan Rumilah orang yang mengetahuinya di taruh dimana.


dan nomer telepon yang Raka gunakan adalah nomer telepon yang ada di laptopnya (Raka).


📲 *"Daddy...? siapa yang kau maksud sayang...".* Rumi


📲 *" Daddy Rama....(terdengar suara yang jelas dan tenang disebarang sana)".*Raka


📲 *" akhp....(Rumi menutup bibirnya dengan tangannya karena kaget, Ardi dan Dimas terlihat penasaran dengan isi dari percakapan diantara Rumi dan anaknya itu)".* Rumi


📲 *"...mom... mommy apakah mommy masih disana? (nampak Raka bingung dengan mommynya yang menutup telepon Secara sepihak)".* Raka


"kenapa kau terlihat seperti itu Rumi, bukannya Raka telah menelpon mu setidaknya Rama memberikan ruang kepada Raka untuk menghubungimu...(Ardi dengan tatapan bingungnya)". Ardi


"dia...dia ada di rumahku bersama Raka kak...". Rumi

__ADS_1


"a..apa...(kedua-nya)". Dimas dan Ardi


bukan tidak mungkin setelah Rama mengetahui kediamannya, bisa saja Rama mengganggu dan mendatanginya diwaktu kapanpun yang ia mau.


__ADS_2