
tok.tok...suara sebuah pintu yang diketuk.
"siapa? masuk....!!!". Satria
ceklkkk... suara pintu dibuka.
menampilkan seorang berpostur tinggi dengan khas wajah rupawannya.
"selamat siang dosen Dimas, ada keperluan apa sepertinya ada sesuatu yang sangat penting (setelah Satria menyadari siapa yang baru masuk kedalam ruangannya)". Satria
"jelaskan siapa dirinya dosen...(tanpa berbasa-basi Dimas menunjukkan dengan bahasa netranya yang ia arahkan kepada gladis)". Dimas
"Hem, maafkan aku dosen.
kau benar aku salah tidak memperkenalkan dia terlebih dahulu. (ya setidaknya ucapankan dan tingkah laku yang baik sangat terjaga dilingkungan sekolah ini, apa lagi bagi para pengajar seperti Dimas dan Satria mereka adalah sebagai suri tauladan jadi mereka harus mencontohkan dengan hal yang baik dalam kebaikkan).
dia adalah adikku, adik Kandungku dia akan ikut tinggal bersama ku untuk beberapa hari kedepan, maaf dosen aku memasukkan gladis kedalam kelas mu tanpa sepengetahuan darimu terlebih dahulu, maafkan atas kelancanganku (ya disini Dimas menjadi salah satu wali kelas disekolah paforit di tersebut, sedangkan Satria tidak, ya Satria sudah meminta izin dan mengantongi izin dari selaku kepala sekolah namun hanya Dimas yang belum ia kasih tau itu semua karena keadaan yang kurang mendukung).". Satria
"gladis...?!....adik....?!.... bergumam". Dimas
_skip_
waktu menunjukkan pukul 12:20 siang .
* dikantin *
"gladis aku akan Pulang (jam mata pelajaran habis bagi Satria), apa kau bisa pulang sendiri?". Satria
"ia pak dosen aku bisa Pulang sendiri, aku kan sudah besar dan aku ingin mampir ke toko buku yang ada didepan sana setelah pulang apa boleh?(dengan menunjuk senang kearah sebuah bangunan yang lumayan cukup terlihat besar diseberang sana)". gladis
"Hem, baiklah setelah kau selesai dengan kepentinganmu cepatlah pulang, jaga sikap dan bicaramu dan ingat jangan melakukan hal-hal yang membuatmu merugi ok?! (dengan tatapan tegasnya, ya Satria memperingati adiknya ini karena gladis termasuk gadis yang sedikit lupa waktu bila menyangkut akan kesenangannya)". Satria
"siap komandan (disaat kakaknya memberikan izin)". gladis
gladis melambai disaat netranya melihat langkah kaki kakaknya meninggalkan kantin, tanpa disadari dari arah yang tidak terduga ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi diantara keduanya.
# Flash back off #
__ADS_1
"Caca,...". Satria
"Raka,...". Rumi
"ayo kita Pulang...(keduanya)". Rumi dan Satria
Satria dan Caca ikut pulang bersama Rumi (pulang dikediaman rumah milik Rumi), disana mereka melakukan sebuah acara makan siang bersama. entah apa yang direncanakan keempat insan berbeda usia itu.
mereka nampak serius sesekali terdengar suara tawa yang menghiasai meja makan itu.
dan selang beberapa jam kemudian Satria nampak keluar bersama anak gadisnya ditemani Rumi yang ikut mengantar mereka, sepertinya Satria tengah berpamitan kepada Rumi seorang janda beranak satu itu.
terlihat jelas senyuman hangat diantara keduanya. hingga menimbulkan rasa iri bagi setiap laki-laki yang melihatnya yang mempunyai rasa kepada Sang wanita tersebut.
Satria mulai meninggalkan pelataran rumah milik Rumi dengan mobil yang ditumpanginya bersama anak gadisnya.
* 1 bulan kemudian *
"apa kau siap sayang?! (nampak Ardi menatap penuh kebahagiaan kearah dimana adiknya duduk manis tengah menunggu acaranya segera dimulai)". Ardi
"huffft....(nampak Rumi berusaha meyakinkan keputusannya untuk menjadi pendamping dari seorang laki-laki yang ia sangat cintai) insyaallah Rumi siap kak (dengan senyuman untuk mengusir ketegangan)". Rumi
terlihat disana sudah banyak orang-orang yang begitu sangat Rumi sayangi yang tengah menunggu akan kedatanganya ,semua mata tertuju padanya terutama bagi sosok laki-laki yang berada ditengah-tengah sana yang menatapnya dengan perasaan bercampur rasa.
takjub, haru, bahagia, serta rasa yang begitu medebarkan jiwa... laki-laki itu tersenyum dengan senyuman mengembangnya menatap akan kedatangannya.
waktu terasa ingin terhenti disaat kebahagian ini Rumi rasakan, disaat sang bapak penghulu mengatakan sah dan para saksi juga demikian.
hanya tawa dan tangis kebahagiaan yang mampu Rumi rasa disaat ia mengenal sosok Satria.
ya semenjak mereka (Rumi dan Satria pulang bersama) tepat 1 bulan yang lalu dan melakukan makan siang bersama, dengan hati-hati dan penuh pengertian mereka meminta izin kepada kedua anaknya untuk melanjutkan hubungan'annya kesebuah ikatan suci kejenjang pernikahan. dan alangkah Rumi dan Satria bahagianya anak-anak mereka menyetujuinya tanpa penolakkan yang berarti.
dengan berjalan dengan Pelan seiring berjalannya waktu hubungan keduanya maju dengan penuh kepastian.
perlahan satria memperkenalkan Rumi kepada kedua orang tuanya dan begitupun Rumi memperkenalkan keluarganya seperti Raka dan Ardi beserta kak Dimasnya. dan beberapa hari kemudian Satria melamar Rumi dan selang beberapa Minggu mereka melangsungkan kesebuah pernikahan.
hanya pernikahan yang sangat sederhana dan hanya orang terdekat mereka yang dapat menjadi saksi.
__ADS_1
pernikahan yang singkat dan sangat sederhana itu yang mampu mereka persembahkan dihari bahagiannya untuk menghindari kemungkinan hal-hal yang tidak diinginkan.
disaat dari anak masing-masing dan keluarga terdekat mengizinkan dan mendukung keduanya hubungan yang Rumi jalani semakin terasa ringan dan mudah. dengan tanpa sepengetahuan tuan-tuan berkuasa akhirnya Rumi dan Satria resmi menjadi sepasang suami-istri.
"mas...". Rumi
Rumi memperlihatkan air mata bahagianya disaat satria mengecup mesra kening Rumi dengan kehangatannya satria menghapus air air mata itu dengan penuh perasaan.
"jangan menangis lagi sayang... sekarang aku ada disini, aku akan berusaha untuk selalu melindungi dan menjagamu memberikan yang terbaik dan akan berusaha untuk selalu membahagiakan dirimu dan keluarga kecil kita.... ". satria
"cup....(Rumi mengecup punggung tangan milik suaminya itu dengan senyum dan perasaan harunya)... terima kasih mas, aku akan selalu berusaha menjadi seorang istri yang patuh dan menjadi seorang ibu yang akan memberikan kasih sayang kepada anak-anak kita dan akan berusaha memberikan rasa nyaman untuk keluarga kecil kita...". Rumi
semua tamu /para saksi ikut terharu dengan suasana yang ada tanpa terkecuali Adam dan Dimas mereka seakan merelakan akan diri Rumi yang dipersunting seorang dosen yang bernama Satria. satu satunya seseorang laki-laki yang dapat meluluhkan hati dari Arumi Fitrian.
Adam dan Dimas meskipun ada rasa sakit yang mendera dihati keduanya namun disisi lain mereka merasa sedikit lega karena seseorang yang sedang bersanding dengan Rumi bukanlah sosok tuan-tuan yang semena-mena.
ya mereka mengenal Satria terutama Dimas, dalam kesehariannya yang selalu bersinggungan langsung dengan satria menjadikan ia tau bahwa satria adalah seorang laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.
_ skip_
"ca, (terlihat Raka yang baru keluar dari pintu kamar menegur Caca yang sedang asyik dengan mainannya)". Raka
"ada apa ka, sini kita main bareng (caca menggeser posisi duduknya dan fokus kepada mainan nya kembali)". Caca
"apa kau bahagia dengan pernikahan yang orang tua kita lakukan? (terlihat Raka mendekat kerah dimana Caca duduk)". Raka
"kenapa kau bertanya seperti itu , (nampak Caca dengan raut penasaran nya) tentu aku senang Daddy bisa bersatu dengan mommy...(dan kembali dengan mainannya tanpa menatap Raka kembali)". Caca
"hufft... (nampak Raka yang berumur 7 tahun itu mencicipi kue kering yang ada di meja) apa kau juga senang tinggal di desa yang sangat sepi ini?". Raka
"bukannya kebahagiaan orang tua kita adalah kebahagiaan kita juga...jadi apapun dan di manapun Caca tidak keberatan, yang penting Daddy dan mommy selalu bahagia...(pengucapan itu begitu tulus terdengar hingga Raka menoleh dan menatap Caca yang masih setia dengan mainannya)". Caca
nampak Raka menerawang.
"kau betul ca,....". Raka
"ka,?!".Caca
__ADS_1
Caca yang sedari tadi asyik dengan mainannya mulai memperhatikan Raka yang tengah berucap dengan tatapan sedihnya.l