
"a.. aku...(dalam kebingungan, mendapatkan tatapan seperti itu dari Rama membuatnya takut)". Rumi
"Rumi...larilah... laki-laki seperti dia pasti akan mengulangi kesalahannya... percayalah kepadaku (Ardi beringsut berusaha bangun)". Ardi
"kak Ardi...(Rumi berlari kearah Ardi namun dicegat oleh Rama ya Rumi tertangkap)..akh...mas lepaskan aku mas... biarkan aku menolong kak Ardi (meronta)!". Rumi
"aku tidak mengizinkanmu untuk berkeliaran tanpaku lagi Rumi, aku tidak bisa memberikan kebebasan itu lagi... maafkan aku Rumi ini terlalu beresiko untukku..., aku hampir saja kehilanganmu untuk yang sekian kalinya, karena orang-orang di sekitarmu selalu saja menginginkan kita untuk berpisah...(Rama memeluk erat dengan tingkat keposesifa'nnya kepada Rumi dengan menahan amarah serta rasa cemburunya, ya lagi-lagi istri tercintanya diluar sana keindahannya dapat dinikmati orang lain meskipun hanya sekedar menatap dan berinteraksi sewajarnya saja dengan nya ) sekarang masuklah...(memberikan perintah)". Rama
Rumi sangat malu dan risih diperlukan seperti itu dimuka umum, apa lagi disaksikan oleh orang yang sangat ia sayangi Ardi kakak kandungnya sendiri, meskipun orang yang memeluknya adalah suaminya sendiri.
"lepaskan aku mas aku mohon... jangan lakukan apapun Kepada kak Ardi.(Rumi diam dalam gerakkan merontanya, ia tau Rama akan berbuat apa kepada pengacau seperti kakaknya apa lagi yang sudah menghadiahi sebuah Bogeman kepadanya, posisi seperti ini terlihat sangat buruk bagi keselamatan kakaknya) aku akan membawanya pulang mas aku tidak mungkin membiarkan dirinya dalam kondisi seperti ini... (melemah ,ya Rumi tau jika ia melawan dengan nada tingginya maka bisa dipastikan keburukkan adalah milik dirinya dan kak ardinya) biarkan aku membawanya ke rumah sakit, atau sekedar mengobati lukanya... tolong biarkan aku melakukannya". Rumi
"aku bilang masuklah (dengan nada yang tertahan) kak Ardimu biar orangku yang mengurusnya, kau cukup uruslah saja aku (ada keangkuhan dinadanya)". Rama
"baiklah...tapi kumohon jangan lakukan keburukkan apapun kepada kak Ardi ,lalu bagaimana dengan Aydan, Aydan masih ada disana (rumah kak Ardi)". Rumi
"hem....hufft...baiklah ...ini demi dirimu Rumi, aku mau mengabulkan permintaanmu, aku melepasnya untukmu!.
aku akan meminta balas budi mu setelah ini... membatin.
(dengan senyum samarnya).
hem...orangku akan membawanya ke rumah sakit, dan aku akan mengutus orangku untuk menjemput Aydan, jangan memberiku alasan apapun lagi. Sekarang masuklah...". Rama
"baiklah mas...(dan beralih menatap Ardi) maafkan Rumi kak...Rumi telah gagal menjadi adik yang baik... Rumi tidak bisa meninggalkan mas Rama.
ini demi kebaikan semuanya kak, aku tidak mau lagi orang-orang yang aku sayangi terluka lagi karena mas Rama.
hiks... (hatinya seperti diremas) mungkin inilah jalan yang terbuka untukku, meskipun hatiku tidak menginginkannya kak...membatin.
(dengan kristal bening yang meleleh Rumi pergi meninggalkan Ardi dengan tatapan ketidakpercayaannya)". Rumi
"Rumi...(tertegun).
apa yang difikirkan oleh-nya, hingga ia lebih memilih masuk kedalam sarang singanya (Rama)...apa ia ingin mengorbankan dirinya lagi untuk kebaikkan semua orang...membatin". Ardi
setelah kepergian Rumi.
"sekarang kakak sudah tau kan dengan jawabannya, Rumi sudah bisa menerimaku lagi...jadi biarkan kami merangkai/membangun bahtera rumah tangga kami sendiri, berjalanlah di lintasan masing-masing tanpa saling mengganggu. ayo aku bantu...(Rama mengulurkan tangannya bermaksud membantu)". Rama
__ADS_1
"cih... aku tidak Sudi memiliki ipar sepertimu lagi (Ardi menepis)". Ardi
"haha...(tertawa kecil) jangan merajuk kau terlihat menggemaskan bila seperti ini, Maafkanlah aku kakak ipar aku menghajarmu hanya sebagai tanda pembelaanku, Hem... aku tidak mungkin diam saja disaat aku dalam keadaan seperti tadi... sekarang bangunlah orangku akan membawamu kerumah sakit". Rama
Rumi sudah tidak nampak akhirnya Ardi memutuskan untuk pergi dari kediaman Rama tanpa mengindahkan perkataan dari Rama.
"aku hanya bisa menunggu, disaat itu... disaat diwaktu Rumi memutuskan untuk pergi meninggalkanmu lagi ... tuan Rama yang terhormat! (dengan nada yang sinis)". Ardi
Ardi melenggang dengan luka di sekujur tubuhnya yang lumayan parah dengan tubuh sempoyongan.
"Hem....". Rama
Rama melihat kepergian Ardi dengan tangan yang mengepal kuat.
dan salah satu tangannya meraih benda pipihnya yang setia berada dikantong celananya.
📲 *" pastikan iparku selamat sampai rumah, dan panggilkan dokter andalan keluargaku untuknya!".* Rama
📲 *" siap tuan Rama laksanakan".*seseorang di seberang sana
panggilan ditutup.
📲 *" bawa bayiku pulang dikediaman iparku, tanpa ada keluhan apapun!!".* Rama
📲 *" baik tuan".* seseorang diseberang sana
panggilan ditutup.
setelah rasa cukup dengan memberikan perintahnya kepada anak buahnya, Rama melenggang pergi dengan langkah lebarnya menyusul Rumi yang lebih dulu masuk kedalam rumah megahnya.
cklekkk... suara pintu yang dibuka menampilkan Rumi yang sedang berdiri membelakanginya dengan tatapan fokusnya.
"apa kau menyukainya? (mengawali)". Rama
"mas...sejak kapan kamar ini didekor ulang? (menoleh), terakhir aku meninggalkan kamar ini... bergumam (dengan pemikirannya)". Rumi
"ini terlihat indah bukan sayang? lebih indah disaat kita melakukannya tepat didepan sana!!! (Rama menunjuk sebuah kaca besar yang menampilkan cerminan dirinya dengan seringainya)". Rama
"tidak, ini tidak patut...,aku lebih nyaman dengan suasana kamar yang dulu. (disaat Rumi dapat mengartikan gerakkan Rama) mas... apakah kau sudah mengirim orang mu untuk membawa kak Ardi kerumah sakit? dan apakah salah satu orangmu sudah kau perintahkan untuk menjemput Aydan? ". Rumi
__ADS_1
"aku sudah menuruti semua keinginanmu sayang, jadi apa salahnya jika aku memintamu untuk membalas budiku! (mendekat).
kita perlu mencobanya sekarang disana..kita lupakan sejenak tentang yang lain , sekarang waktunya untuk kita ...dunia kita.". Rama
Rama mendekat dan meraih pinggang ramping milik Rumi dengan kedua tangannya dan mengelus pelan perut ratanya, serta meraba ketitik sensitif lainnya.
"mas... tidak bisakah nanti,(betapa semerautnya pikirannya mengingat dirinya meninggalkan Aydan, satria dan kak ardinya dalam keadaan yang spontan. ditambah Rama yang selalu menginginkannya disaat dalam kondisi apapun membuat batinnya terenyuh dalam kegetiran seorang diri. apakah memang sudah ditakdirkan seperti demikian ? hidupnya berakhir bersama seseorang yang tidak dicintainya lagi?)...". Rumi
"stttt.... jangan menolakku!
hem...uffffs....(Rama selalu menikmati bahkan tertagih disaat-saat seperti ini baginya sang istri adalah candu yang tidak dapat digantikan oleh perempuan manapun).
jangan sia-siakan kebaikkan ku kepadamu...(Rama menggiring Rumi kesebuah kaca besar yang menampilkan pancaran dari diri keduanya ,dan perlahan membuang kain yang membungkus kulit keduanya)". Rama
"(seketika Rumi memejamkan netranya) mas...apa kau bahagia dengan cara yang seperti ini, (disaat Rumi harus lagi mencoba diam dan menerima disetiap sentuhan Rama yang mulai menelusuri tubuh mulusnya dengan tanpa izin dan relanya )". Rumi
"tentu...aku sangat bahagia kau menurut seperti ini...hemmm....dan sekarang coba bukalah matamu sayang bukannya ini terlihat begitu indah, (mereka bagaikan sebuah patung dengan keutuhan yang berbeda dalam penyatuan duniawi) kau akan mengingat ini diingatanmu kapanpun dan dimanapun ... lihatlah tidak ada yang bisa menggantikan diriku untukmu... kau adalah milikku seutuhnya...dan masih banyak ucapan-ucapan dengan bahasa dewasanya yang membuat sekujur tubuh menjadi semakin memanas dibarengi Rama yang mulai memusatkan kendalinya tanpa memperdulikan raut padam milik sang istri)". Rama
_skip_
"hiks...kau tega mas.
aku merasa rendah dimatamu... apa ini bukti cintamu kepadaku? kenapa harus dengan cara seperti ini hiks... kenapa kau perlakukan aku seperti ini... keterlaluan....(dibawah guyuran air shower Rumi merancau dengan tangisan yang tertahan ia masih ingat betul permainan panas yang ia lakukan bersama suaminya didepan sebuah cermin yang sengaja Rama adakan di kamarnya, ya kaca besar itu menggantikan fungsi tembok hingga disaat berhubungan layaknya suami-istri Rama dan Rumi bisa saling melihat penampakkanya) kau benar-benar gila mas...kau sakit jiwa..mesum... predator...pe.-kosa...(dan masih banyak umpatan kekesalannya yang dilontarkannya untuk Rama).". Rumi
baru saja Rumi asyik dengan ngedumelnya Rama sudah membuyarkan kesendiriannya.
"makan malam sudah siap sayang, jangan lama-lama ...aku menunggumu! (dengan menggedor pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam dengan teriakkan samarnya)". Rama
"turunlah duluan mas, aku akan menyusul...(sedikit berteriak)". Rumi
"aku akan tetap menunggumu...". Rama
"huh...dasar bayi gadungan...bayi si..-man... bergumam (Rumi segera menuntaskan ritual mandinya ia tidak ingin Rama ikut menyusulnya diambil dari pengalaman yang sering ia dapatkan ya sepertinya suaminya adalah seorang p..-la s..-k yang tanpa rasa untuk melakukan secara berulang-ulang).
baiklah aku akan segera selesai, jangan berdiri didepan pintu tunggulah aku disofa saja...(mode yang sama)". Rumi
cklekkk... pintu kamar mandi dibuka.
"mas kau sedang apa? (terkejut)". Rumi
__ADS_1
"aku menunggumu... (dengan senyum lebarnya)". Rama