
"apa!!!!! Romi Wijaya?, (nampak raut kaget sekaligus cemas dari pihak Dimas yolollkkkklllljkkloytyklppll baru beberapa menit memasuki ruang inap sebuah rumah sakit di kota itu)". Dimas
"seperti yang aku sudah beritahukan kepadamu dosen Dimas (Alan menatap dengan pandangan tenang kearah dimana seseorang tua renta tengah membaringkan tubuhnya dengan mata yang terpejam)". Alan
"Rumi....Raka bagaimana dengan mereka?". Dimas
"Hem....(nampak Alan menoleh kearah lawan bicaranya tanpa senyumannya) ternyata Raka selama dalam waktu dekat ini sudah mengenal tuan Romi, dan alangkah Raka membuat kami semua syok, ketika ia menyebut tuan Romi dengan sebutan Daddy.... sepertinya mereka terlihat sangat dekat. entahlah... akupun bingung dibuatnya, ketika aku berusaha membawa Raka dan ibu Rosa untuk ikut bersamaku Raka kabur dan lolos dari pengawasanku bersamaan dengan ibu Rosa yang tiba-tiba mengalami penurunan kesehatannnya. dengan terpaksa aku membiarkan Raka pergi dan membawa ibu Rosa kerumah sakit. dan nyonya Rumi aku tidak mengetahui kabar selanjutnya karena aku segera kesini dan hanya memberikan kabar padamu". Alan
"Hem...ibu pantas saja kesehatannya menurun, ia pasti sangat dibuat syok dengan semua kejadian ini. maafkan Dimas Bu, Dimas terlalu sibuk dengan perasaan Dimas sendiri. Dimas mengerti sekarang bukan Dimas sendiri yang kecewa dengan keadaan ini. maafkan anakmu ini yang masih kanak-kanak'an, huffft....(nampak Dimas menghela nafas panjangnya), Hem...ini semua gara-gara nyonya gila itu aku jadi meninggalkan ibu terlalu lama dan kejadian ini sampai terjadi...membatin". Dimas
puk..puk Alan menepuk bahu milik Dimas yang terlihat sedang menerawang itu.
"saya percaya ibu anda akan baik-baik saja, dokter sudah memberitahukan kepada saya bahwa ibu Rosa hanya mengalami kelelahan dan kurang istirahat. emm....dosen Dimas saya rasa sekarang waktunya saya untuk undur diri ". Alan
Dimas menatap lawan bicaranya dan melirik kearah seorang wanita dengan tampilan anggunnya disebelah seseorang yang bernama Alan itu.
"terima kasih ... terima kasih untuk semuanya, terima kasih kalian sudah perduli dengan keselamatan ibuku...". Dimas
"hem...sama-sama...itu sudah tugas kami tuan (dengan senyum ramahnya)". Lis
"jangan sungkan, tuan Ardi adalah atasan saya dan nyonya Rumi begitu baik sudah menganggap kami sebagai keluarganya sendiri... jadi begitu dengan dosen Dimas dan ibu Rosa saya sudah menganggap ibu Rosa adalah sosok seorang ibu yang tidak sengaja mengingatkan kepada ibu saya yang jauh disana dosen Dimas. jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada kami". Alan
"benarkah, hem...terima kasih...(Dimas begitu terharu atas penuturan yang Alan ucapan)". Dimas
__ADS_1
_skip_
pagi menyambut kembali.
dengan cerita yang tercipta dengan rasa yang berbeda.
"hiks...ibu kenapa Bu....??? (seorang perempuan cantik dewasa tengah menangis disisi seorang ibu yang berlanjut usianya)". Rumi
"ibu tidak kenapa-kenapa nak, mana Raka ibu sangat merindukannya...(dengan tatapan sendunya)". ibu Rosa
ya Rumi yang mendapat kabar dari kakaknya Ardi bahwa ibu Rosa sedang berada dirumah sakit. Rumi yang mendapat kabar itu segera untuk pergi ke rumah sakit. dengan seseorang yang selalu membuntuti gerak gerik nya.
cklekkk...suara sebuah pintu dibuka oleh seseorang yang mereka kenali. seseorang itu datang bersama seorang anak laki-laki kecil dengan senyuman yang tiada padamnya.
Rumi dan ibu Rosa menengok kearah sumber suara.
"sayang...kau ikut datang kesini bersama mommymu?! kemarilah nenek sangat merindukanmu, (masih menyimpan rasa tidak percaya dengan tenaga yang lemah nenek Rosa berusaha bangkit dari rebahannya)".ibu Rosa
ya ibu Rosa sekitar 1 jam lalu telah sadar dari tidurnya, dan Dimas sedang ada panggilan mendesak dari kantornya. Rumi dan Dimas tidak saling bertemu Dimas sudah terlebih dahulu meninggalkan ruangan inap milik ibunya dengan penjagaan dari anak buah Ardi.
"hati-hati..(Rumi membantu nenek Rosa yang semakin lemah itu).". Rumi
ya ketika jam pagi dikegiatan Rumi dan anaknya untuk pergi ke sekolah. disaat dua Sepasang anak dan ibu itu baru mulai keluar dari pintu utamanya alangkah terkejutnya mereka. ada seseorang yang sudah standby didepan rumahnya, siapa seseorang yang melakukan hal seromantis atau hal yang sangat mengganggu itu??? ya dialah Romi Wijaya.
__ADS_1
dengan berat hati Rumi yang berniat akan naik mobilnya sendiri kini malah pergi ke sekolah menggunakan jasa seorang sopir yang tampan dan licik. itu semua atas permintaan dari Raka anaknya,jadi mau tidak mau Rumi tetap menurutinya.
dengan kemenangan yang pasti Romi mulai masuk dan mulai mengendalikan hidup Rumi.
"Hem... syukurlah ibu baik-baik saja. rumi sangat mengkhawatirkan ibu disaat ia mendengar kabar dari kak Ardi bahwa ibu ada dirumah sakit Rumi terus menangis (tanpa beban dengan gaya khas coolnya Romi mendekat kearah ibu Rosa dimana Raka dan Rumi berada dengan meletakkan sebuah parsel buah yang ia baru ambil dari tangan anak buahnya dibawah)". Romi
"terima kasih nak Romi sudah bersedia datang kesini..., tidak usah repot-repot (ibu Rosa memperhatikan sosok pria dewasa tampan yang kini berada tepat disampingnya itu)".ibu Rosa
"tidak apa-apa Bu, ibu adalah keluargaku sejak dulu.". Romi
"dulu ...tuan Romi sempat menjadi kekasih anakku (Rumi), dan untuk beberapa waktu saudara kembarnya (Rama) menikahi anakku (Rumi)...dan sekarang tuan Romi mulai mendekati anakku lagi, disaat anakku sudah bisa lepas dari Rama...ya Allah nasib apa yang akan dialami anakku???...membatin". ibu Rosa
melihat ibu Rosa melamun Rumi menjadi khawatir.
"Bu....(Rumi mengusap tangan yang nampak layu penuh kelembutan itu, ya tangan itu pernah merawatnya dan menyentuhnya disaat Rumi membutuhkan dukungannya dulu semasa kecil dan remajanya)". Rumi
"ibu tidak apa-apa nak...(tersenyum meyakinkan bahwa ia baik-baik saja)".ibu Rosa
selalu seperti ini, ibu Rosa adalah sosok yang pandai menyembunyikan perasaannya.ya Rumi tau bahwa sebenarnya ibu Rosa tidaklah baik-baik saja.
"bu...percayalah Rumi akan baik-baik saja, Rumi hanya butuh doa dari ibu Rumi yakin Rumi bisa melewatinya (dengan tatapan meyakinkan). nah....ibu sekarang makan ya (dengan telaten Rumi mulai menyuapi ibu Rosa dan ibu Rosa pun mau menuruti apa kata Rumi ya bagi ibu Rosa Rumi adalah sosok gadis yang tegar , gadis yang kuat, dan sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri)". Rumi
sedangkan Raka nampak asyik bercengkrama dengan Daddy Rominya di sofa yang tidak jauh dari keduanya (Rumi dan ibu Rosa).
__ADS_1
keduanya (Rumi dan ibu Rosa ) ada keharuan tersendiri melihat Raka sebebas dengan suara tawanya, ya memang benar raka sangat masih membutuhkan seorang figur ayah. dan Daddy sesungguhnya bukanlah seorang yang bernama Romi Wijaya namun seseorang itu bernama Rama Wijaya