
_skip_
seminggu kemudian.
kini hubungan Rumi dan Rama terlihat semakin baik.
ya Rumi sudah bisa menerima Rama kembali seperti layaknya seorang pasangan suami-istri normal lainnya.
menjalani hari-hari bersama dengan berbagi rasa dan cerita.
dan baby Aydan kini sudah sehat meskipun rewel sejak diawal minggu yang lalu membawa dampak yang signifikan kepada perubahan tingkat kerewelan dari baby Aydan.
tapi itu tidaklah membuat Rumi dan Rama khawatir berlebih karena mereka sudah berkonsultasi dengan dokter spesialis anak dengan perubahan yang ditunjukkan oleh baby Aydan.
dengan Rama yang selalu berusaha dalam kerja kerasnya membahagiakan Rumi beserta keluarga kecilnya dengan perhatian, sigap dan keadilan Rama kepada kedua putra mereka membuat Rumi cukup menerima sosok suaminya, ditambah dengan kesetiaan yang ditunjukkannya membuat Rumi semakin menerima sosoknya untuk yang kedua kalinya. ya rumi menghargai semua usaha Rama yang selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya.
namun berbeda dengan keadaan orang-orang yang terlihat berkumpul disalah satu ruang inap, disana dengan tatapan yang bisa diartikan memiliki perasaan yang berbeda-beda.
🌾 Di sebuah rumah sakit 🌾
"mas Satria aku mohon cabut kembali kata-katamu, bukannya esok adalah hari dimana kita akan melangsungkan sebuah acara yang paling bahagia (derai air matanya sudah membanjiri pipinya sejak tadi, begitu hancur perasaan dan impiannya)". Nona
nampak di seberang sana terlihat kecil mungil tengah tersenyum polos menyaksikan drama diantara Daddy dan Tante yang ia tidaklah sukai.
"maafkan aku Nona, maafkan atas kehilafanku (nampak Satria yang sudah sadar dengan posisi yang bersandar menatap kasihan sekaligus beratnya kearah lawan bicaranya)". Satria
"tidak mas aku tidak menerima keputusan sepihakmu, aku mohon padamu mas kita lanjutkan hubungan kita ini (tatapnya begitu berharap, berharap laki-laki yang ada dihadapannya laki-laki yang sangat dicintainya menarik lagi keputusannya)". Nona
"tidak bisa Nona, aku sungguh tidak bisa. aku tidak mungkin menghianati cintaku kepada istriku meskipun selama ini aku benar menyukaimu". Satria
begitu kalut dan rasa sesal yang ada di saat satria mengingat akan ucapan khilafnya kepada sang istri tercinta istri yang sangat dicintainya sebagai sang pengganti mendiang istri pertamanya.
dan betapa bodoh dan terburu-burunya ia mengucapkan tiadalah akan menyesali untuk berpisah dari Rumi.
perbuatan /keputusan yang dulu nyatannya kini ia sedang sesali mungkin akan seumur hidup akan membekas di hati.
__ADS_1
meskipun Satria pada waktu silam mengalami sebuah hilang ingatan namun tetap saja ia menyesali kesalahannya atas semua perbuatannya kepada Rumi.
dirinya gagal untuk melindungi bahkan dirinyalah yang kini telah menyakiti.
"harus berapa kali lagi aku harus katakan padamu mas....?!, sudah aku katakan berkali-kali mantan istrimu sudah bahagia dengan suami barunya ...tuan Rama, tidakkah kau mengerti juga mas?
biarkan mantan istrimu bahagia dengan tuan Rama mas.., dan dirimu berhak bahagia juga meskipun bukan dengan nyonya Rumi!.
aku mohon mengertilah...". Nona
lagi-lagi mendekati Satria yang nampak kurang baik dengan keadaannya.
dan beberapa kali merangkul dan bersandar didada bidang milik Satria dan Satria hanya diam disaat tubuh sexy dan glamour tengah mendekapnya dan enggan untuk melarangnya karena baginya ia juga merasa bersalah dan kasihan kepada Nona atas kehilafanya menaruh hati pada perempuan yang terlihat begitu mengharapkannya.
ya Satria dua hari yang lalu tersadar dari tidur panjangnya dan sekarang masih dalam masa pemulihan.
"Tante cukup, tidak bisakah Tante mengerti dan menerima keputusan Daddyku? , taukah Tante? dengan Tante melakukan penolakkan atas kenyataan ini membuat Daddy Satria ku merasa kesakitan. Caca mohon Tante sekarang pergilah biarkan Daddy Satria untuk sendiri dulu". Caca
Nona melepaskan rangkulannya.
"anak kecil , aku tau kau tidak menyukaiku ,tapi pantaskah anak kecil sepertimu terus menerus ikut mencampuri urusan para orang dewasa, sungguh kau tidak sopan! (dengan tatapan gerahnya)".Nona
ucapan itu jelas membuat Satria semakin yakin untuk meninggalkan Nona dan mengakhiri hubungannya sebelum semuanya terlambat dan menyesal diakhirnya.
"cukup Nona, aku mohon pergilah , hubungan kita telah berakhir... terimalah kenyataan ini. aku tidak bisa untuk melanjutkan, aku tidak mau kalau kau sampai menyesal , cinta tidak bisa dipaksakan dan sebuah keputusan yang menyakitkan bukanlah akhir dari hidup kita. aku yakin di depan sana ada laki-laki yang lebih jauh baik dariku dan lebih mencintaimu dari rasa cintamu kepadaku (akhirnya Satria dengan ketegasannya cukup membuat Nona diam)". Satria
sedangkan gladis hanya diam bungkam dalam terkejutan dan terkanya.
ya selama Satria tersadar Nona setiap hari bahkan setiap beberapa jam sekali absen keruangan itu dengan sejuta perhatian dan harapannya. awalnya gladis menyangka mas satrianya akan melanjutkan hubungan bersama perempuan cantik dan sexy itu namun nyatanya fikirannya melenceng jauh. ternyata sikap menerima dari kakaknya hanyalah sebagai rasa menghormati perempuan yang bernama Nona atas segala kebaikkannya.
biasanya Ardi ,Dimas, bahkan Adam menjenguknya namun waktu menunjukkan pukul 6 sore membuat ketiga laki-laki itu masih sibuk dalam aktivitas pribadinya.
"mari mba gladis antar ( disaat Nona benar-benar dengan tatapan kosongnya gladis merasa kasihan dan khawatir perempuan yang ada dihadapannya akan melakukan hal-hal yang diluar akal sehat karena mendapatkan keputusan sepihak dari mas satrianya, ya gladis bisa melihat dari tatapan dan cara perempuan itu memperlakukan kakaknya dengan begitu spesial namun tidak berlaku disaat dirinya dan Caca tanpa mas satrianya)". gladis
"hah....kau jahat mas, kau jahat...(tanpa mengindahkan perkataan gladis Nona melenggang pergi dengan tangisan kosongnya seperti hatinya yang terasa kosong dan mati)". Nona
__ADS_1
"mas....(gladis melirik kearah ranjang dimana kakaknya tengah bersandar)". gladis
"Hem,.. huffftt.....(nampak Satria memejamkan netranya dan menghembuskan nafas panjang dan beratnya) ini lebih baik gladis dibandingkan aku harus selalu menahan diri untuk berpura-pura dihadapannya (dengan posisi masih yang sama)". Satria
"hiks....dad, terima kasih dad ( Caca menghamburkan diri dalam pelukan sang Daddy betapa senangnya ia , Daddynya telah melepaskan perempuan yang terlihat tidak baik dimata Caca)". Caca
"terima kasih untuk apa sayang? ". Satria
"hihi....(malu-malu)". Caca
"dasar anak nakal...(satria mencubit hidung mancung kecil milik Caca).
maafkan Daddy ca, maafkan Daddy pasti sekarang mommy Rumi telah membenci Daddy.... begitu jahat dan kasarnya Daddy disaat itu memperlakukan mommy... Daddy salah ca, Daddy sangat menyesalinya...(Satria mendekap sosok kecil mungil itu dalam dekapannya meluapkan rasa sesal dan sedihnya)". Satria
Caca yang mengalami sebuah jahitan ringan dikakinya akibat kecelakaan seminggu yang lalu kini keadaan nya semakin membaik, tidak ada cidera yang serius Caca pingsan karena syok kaget ketika depan mobil yang dikendarai Rangga mengenai tubuh kecilnya hingga Caca terjatuh dan mengenai serpihan kaca atau sejenisnya hingga menimbulkan luka yang terbuka dibagikan kakinya.
"hiks....(gladis juga ikut menangis betapa kacaunya perjalanan cinta dari kakak tercintanya).
ini semua bukanlah salahmu sepenuhnya mas...ini adalah permainan hidup, bersabarlah, kuatlah mas, gladis yakin suatu saat nanti akan ada perempuan yang menerima kalian seperti mba Rumi....membatin". gladis
sementara itu dibelahan bumi yang berbeda.
"Aydan....(Rumi berteriak yang membuat seisi ruangan itu memfokuskan mata kearahnya)". Rumi
"e.... ".Aydan
anggap saja baby Aydan menangis ya.
"sayang , maafkan mommy yang sudah lalai...(mengecupi dan memeriksa tubuh gemuk menggemaskan itu)". Rumi
Aydan terjatuh disaat berusaha menggapai mainannya, ya meskipun diusianya yang baru sekitar 7 bulanan baby Aydan sudah bisa duduk, dan dapat menyusun dan mengelompokan mainannya sendiri.
ya perkembangan motoriknya terlihat sangat cepat dan jelas.
"apa Aydan baik-baik saja mom...(dan beralih kepada salah satu pelayan) panggilan aku dokter keluargaku...(dengan nada cemasnya)". Rama
__ADS_1