Tangisan Suci

Tangisan Suci
Laki-laki pembawa petaka


__ADS_3

"aku ada dimana? uhh...kenapa kepalaku terasa pusing (Rumi mengerjap kan pengelihatanya beberapa kali mencoba untuk melihat lebih jelas ia sedang berada dimana) ". Rumi


Rumi melihat dirinya berada di sebuah ruangan yang tidak ia kenali, netranya menelusuri setiap detail Rungan itu dan ia berusaha mengumpulkan ingatannya kenapa ia bisa berada ditempat asing itu.


cklekkk....suara pintu dibuka, terlihatlah seorang bertubuh ideal tegap dan misterius berdiri diambang pintu.


"hem..rupanya kau sudah tersadar...gadis nakal...". Rama


"deggg...si..siapa kau tuan (jantung Rumi memompa dengan cepat dan semakin cepat, ia masih sangat mengenali nada suara dari seseorang misterius itu namun ia juga tidak percaya dengan ingatannya itu)."Rumi


"aku pembawa petaka bagimu....(Rama muncul Dengan tatapan menyeringai, ia menunjukkan dirinya dengan menggunakan topeng yang sudah didesain senyaman mungkin ,perlahan mendekat kearah Rumi yang tidur terlentang dengan kedua tangan terikat disisi kanan/kiri nya itu)". Rama


"kau... kau bukanya laki-laki monster itu, (Rumi membelalakkan netranya betapa terkejutnya ia dengan penampakkan sosok Rama) hik...lepaskan aku tuan. kenapa kau melakukan ini tuan kenapa kau menyulik ku? aku tidak ada urusan denganmu (dengan wajah khas takutnya)". Rumi


"kenapa? bukannya kau menyebutku dengan panggilan monster? itulah sebabnya kenapa aku tidak butuh alasannya kenapa aku bisa menyulik mu? dan lihatlah... kenapa kau menangis? apa kau takut kepadaku... hahaha....(tawa Rama menggelagar memecah keheningan di ruangan itu) aku menyukai wajah takutmu itu ,itu terlihat sangat mengasyikkan.". Rama


"hiks....aku tidak takut padamu, (tubuh Rumi bergetar ia menerawang dengan apa kemungkinan buruk yang akan terjadi.


netra Rumi menelusuri keadaannya ia baru tersadar bahwa dirinya terikat dan dalam posisi yang tidak berdaya. dirinya pun sudah tidak menggunakan dress yang ia pakai ,piyama itu bukanlah miliknya) tuan kau sudah apakan diriku? kau kemananan bajuku...ini bukanlah bajuku...apa ...apa...(dengan nada yang bergetar) apa..kau telah mem..-kosaku kurang ajar...b..-ngan...be..-sek...tidak tau malu... laki-laki buaya...(dan semua segala umpatan Rumi layangkan terkhusus untuk Rama)". Rumi


"haha.....(Rama semakin bergairah melihat reaksi Rumi yang masih saja terlihat garang meski sudah diujung tanduk, Rama mendekat dan naik merangkak ke kasur yang otomatis berada diatas tubuh Rumi namun ia menjaga jarak agar tubuhnya tidak saling menyentuh) apa kau sengaja melimpahkan semua keburukan itu kepadaku hah...( tangan Rama merayap jemarinya berjalan diantara dagu dan leher Rumi) apa kau ingin aku melakukan hal itu kepadamu?". Rama


"lepaskan aku tuan (berteriak tepat diwajah Rama) pergi... laki-laki jahat...aku akan melaporkan kau ke pihak yang berwajib hingga kau akan mendekam di penjara atas perbuatanmu ini!!! (dengan keberaniannya yang masih tersisa)". Rumi


"gadis kecil berani-beraninya kau mengancam ku, plakkk.... (sebuah tamparan Rama layangkan tepat dipipi Rumi hingga membekas kan lebam dan sedikit robekan disudut bibirnya) sebelum kau laporkan aku ke pihak yang berwajib kau akan ku siksa terlebih dahulu hingga kau kehilangan daya untuk mengingat semuanya. dan tidak pernah bisa menghembuskan nafas legamu itu camkan itu...(Rama turun dari posisinya dan menghilang dibalik pintu dengan amarahnya yang meluap-luap)". Rama


"hiks.....mas Romi tolonglah aku". Rumi

__ADS_1


selepas kepergian Rama Rumi menangis dengan terisak-isak...hingga membuat tubuhnya semakin melemah .


sekitar setengah jam ada seseorang yang datang dan mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.


"tok..tok ...tok...ini saya nona, saya pelayan dirumah ini boleh saya masuk?". pelayan


"pelayan? .. bergumam.(Rumi menghentikan tangisannya ia masih ada secercah harapan untuk kabur pasalnya dirinya tidaklah sendirian bersama seorang pria berwajah Monster itu) masuklah bi , cepatlah...(antusias)". Rumi


cklekkk...pintu dibuka.


"Bi cepat bukakan ikatan ini, aku sungguh sangat lelah dengan posisi seperti ini...(dengan sorot penuh harapnya) ". Rumi


pelayan itu mendekat dengan senyum simpulnya, dan melepaskan ikatan pada tangan Rumi.


Rumi yang sudah tidak sabar lagi melihat kesempatan itu ,ia langsung menyeringai ia lari dengan sekuat tenaga tanpa tau arah yang terpenting ia bisa keluar dari sebuah ruangan itu. dan betapa ia terbelalak nya ia rumah yang ia tempati adalah rumah yang lumayan luas dan berdiri ditengah-tengah sebuah danau buatan yang terlihat sangat luas ia berusaha mencari jalan untuk keluar namun hasilnya nihil, di setiap pintu ia tidak akan menemukan sebuah pijakkan karena semuanya adalah air.


"hiks... bagaimana ini, mas Romi tolonglah aku....(Rumi menangis pilu ala anak labil dan penuh umpatan yang ia layangkan untuk laki-laki berwajah monster itu)". Rumi


"Nona, ayo kita obati dulu luka nona (dengan tatapan menenangkan)". pelayan


pelayan itu muncul dari belakang Rumi dan sejurus kemudian ikut duduk disamping Rumi. pelayan itu berumur sekitar 50 tahun, pelayan itu terlihat berwajah hangat dan penyayang.


"aku tidak mau...aku hanya ingin pulang (dengan wajah layu nya) ".Rumi


"ayolah nona, (pelayan itu membujuk dengan wajah bermohonya)".pelayan


"sekali tidak mau ya tidak mau...(Rumi membentak ia masih sangat kesal dan takut akan sosok monster itu)". Rumi

__ADS_1


"tapi nona..(ada kegetiran diucapkannya)". pelayan


"(Rumi merasa bersalah karena membentak seseorang yang nampak berwajah hangat dan sudah nampak tua itu) huffft...baiklah aku mau kau obati, ini demi kamu aku tau pasti tuanmu akan memarahimu jikalau tugas darinya tidak terlaksana!! ". Rumi


"eem...(mengangguk) namun ia nampak senang dengan penuturan Rumi ternyata gadis disampingnya ini tidak terlalu berlarut-larut dalam suasana hati nya. ia bisa dengan cepat menyesuaikan keadaan)". pelayan


dan pada akhirnya mereka saling mengobrol, terutama Rumi ia bertanya kepada pelayan itu tentang tuannya namun tetap saja hanya sedikit informasi yang Rumi dapatkan dari pelayan wanita tua itu. seperti nya ada hal Besar yang sengaja disembunyikan.


percuma saja Rumi berenang atau semacamnya ,karena menurut penuturan pelayan tua itu danau itu sudah dipasangi alat pendeteksi dan berbagai keamanan yang 100% jikalau kita kabur menjeburkan diri atau semacamnya akan tertangkap juga.


hanya pasrah dan menunggu sang tuannya berubah pikiran maka ia itulah jalan yang harus ditempuh Rumi.


"sebenarnya apa maunya, kenapa harus aku korbannya, dasar pyscopat... berwajah monters...hah...aku lelah memikirkan nya, bi aku lapar ini sudah waktunya jam makan malam...aku ingin makan yang banyak untuk melawan laki-laki jahat itu". Rumi


namun aneh dengan reaksi pelayan tua itu, pelayan itu hanya tersenyum menyaksikan gerutu'an dari pihak Rumi tanpa menambahi ataupun mengurangi.


"baik nona, mari saya antar ke dapurnya (tersenyum)". pelayan


disinilah mereka berdua berkutat dengan berbagai bahan makanan.


Rumi memegang sebuah pisau besar dan memotong sebuah daging besar namun pandangannya menerawang jauh...ia merindukan mas rominya. yang siang tadi masih bersama nya.


# flash back #


"loh...mau kemana lagi sayang? bukanya calon suamimu sudah memberitahumu untuk tidak keluar rumah sering-sering?".ibu Rosa


"tapi mas Romi kan tidak melarangnyakan Bu... (dengan tatapan rayuannya,) Rumi hanya ingin pergi ke pantai (dengan membawa sebuah bunga putih yang berarti memiliki arti bersih/suci) Rumi hanya ingin mengunjungi kak Ardi walau jasadnya sampai sekarang belum ketemu Rumi sangat ingin melihatnya Bu , Rumi ingin memberitahukan kepada kak Ardi bahwa Rumi beberapa hari lagi Rumi akan melepas masa lajang Rumi dan itu adalah sebuah kebahagiaan bagi Rumi, walau bagaimanapun kak Ardi adalah kakak Rumi walaupun ia sudah tiada Rumi ingin berbagi kebahagiaan walau hanya menyapanya lewat pantai ...(tidak usah disebut ya, ya karena laut yang merenggut nyawa Ardi terhubung dengan pantai..tidak usah disebut) dengan tatapan sedihnya...". Rumi

__ADS_1


"baiklah ibu akan antar, karena malam ini kak Dimas mu pulang larut (sebuah pertemuan) tunggu ibu , ibu akan ambil tas dulu sebentar dikamar (ibu Rosa berlalu berjalan kearah kamar)".ibu Rosa


"Hem... terima kasih Bu kau selalu mendukungku, aku sungguh sangat menyayangi mu ". Rumi


__ADS_2