
🌾 Di kediaman Arumi 🌾
"nak...(ibu Rosa mengusap pelan tangan Rumi) ibu bangga padamu, tapi apa kau sudah yakin dengan keputusanmu... jika ini baik untukmu apakah ini juga baik untuk Raka?". ibu Rosa
"seperti yang ibu lihat Raka sama sekali sudah tidak menanyakan daddynya... biarlah Bu sekarang Raka sudah cukup memiliki Daddy..Daddy supernya (nampak Rumi tersenyum dalam kegetiran meski bagaimanapun ia pernah memiliki kisah cinta dengan seseorang disebarang sana)". Rumi
"ibu akan tetap mendukung apapun keputusanmu, selama keputusan itu keputusan yang terbaik untukmu dan Raka.
ibu tidak ingin kau sampai memiliki kata menyesal nak. semoga keputusanmu adalah juga ketetapan yang diberikan Allah kepadamu nak...(ibu Rosa tersenyum menguatkan)".ibu Rosa
ya ibu Rosa dan Rumi sedang berbicara 4 mata dikamar milik Rumi.
sedangkan yang lainnya tengah berkumpul diruang tamu bersama Raka kecil.
setelah cukup curhatnya Rumi dan ibu Rosa memasak untuk makan malam mereka semua. perjalanan yang lumayan memakan waktu dengan jarak tempuh yang lumayan jauh membuat mereka terserang rasa lapar. mereka sengaja tidak turun di suatu tempat sembarangan, mereka tidak mau kalau sampai keluar Wijaya melihat mereka bersama bisa-bisa ibu Rosa dan Dimas akan kena teror dari pihak keluarga Wijaya. jadi setelah mereka usai dengan tempat pertemuan Rumi dan Ardi mengajak ibu Rosa dan Dimas dikediaman Rumi yang jauh dari jangkauan keluarga Wijaya atas bantuan dari seorang Exel.
"Daddy Ardi siapa om itu Daddy, (ya disana dimaslah yang paling diatas umur ketiganya (Ardi , Adam, Alan) menjadikan Raka kecil menilai ia pantas dipanggil dengan sebutan om...)". Raka
"ia adalah kakak dari ibumu, kakak Daddy Ardi juga...(Ardi mempersilakan Dimas untuk berkenalan dengan raka super aktifnya itu dengan bahasa tubuhnya)". Ardi
sementara Adam dan Alan hanya duduk manis memperhatikan interaksi diantara keluarga itu.
"anak manis siapa namamu? perkenalkan aku Dimas, aku adalah kakak dari mommy mu (dengan lembut dan senyum khasnya Dimas meraih tubuh kecil itu dan mensejajarkan pandanganya)". Dimas
__ADS_1
"namaku Raka om..mommy selalau menyebut Raka dengan panggilan Raka sayang...apa om adalah orang baik seperti daddy Ardi, Daddy Alan dan Daddy Superhero...(dengan wajah polosnya)". Raka
"(Dimas terkekeh akan ucapan anak berusia 3 tahun itu dan menoleh kearah Ardi ia tidak terlalu mengerti dengan sebutan Daddy untuk beberapa Daddy yang disebutkan oleh Raka dan Ardi hanya mengangguk)..umm... ia om Dimas adalah orang baik seperti daddy yang Raka sebutkan tadi...(Dimas tersenyum kaku ia sangat kebingungan mengapa Raka kecil menyebutkan beberapa Daddy, dibenaknya apa Rumi telah menikahi pria-pria yang tengah memperhatikannya itu)". Dimas
"hem... kak Dimas wajahmu terlihat bingung dan lucu...(Rumi muncul bersamaan dengan ibu Rosa dengan senyum simpulnya)". Rumi
"eh.... apa ia seperti itu (Dimas menoleh kearah sumber Suara dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia masih tidak percaya melihat sosok Rumi yang kini menjelma menjadi sosok yang terlihat elegan dengan penampilannya yang juah berbeda dengan dulu, dulu Rumi adalah sosok penuh semangat dengan segala keceriaan dan kepolosannya namun kini Rumi terlihat lebih tenang namun tetap saja sewaktu-waktu akan terlihat pecicilan)". Dimas
"haha...kak Dimas sudahlah jangan seperti itu, aku sangat kangen kepadamu...(Rumi masih ingat dengan beberapa tahun silam disaat Rumi bermanja dengan sejuta keinginannya disaat Dimas masih bersama dengan pacar seangkatannya, dan Dimas selalu ada untuknya menggantikan sosok Ardi yang dulu pernah terpisah denganya) kak Dimas sendiri apa tidak kangen dengan Rumi...(tersenyum menggoda)". Rumi
Rumi menatap lekat wajah tampan dengan senyuman yang nampak ramah Dimata setiap insan yang melihat.
deggg..... tatapan itu membuat yang sedang dipandang menjadi bereaksi.
"a..aku kangen , aku kangen dengan gadis kecil yang selalu membuntutiku kemana-mana diwaktu dulu...(ada sedikit keraguan dipengucapannya)". Dimas
sementara di seberang sana ada sosok dengan raut muram menahan segala gejolak didada.
"kenapa aku jadi dalam posisi seperti ini, kenapa aku harus menyaksikan obrolan diantara mereka (Rumi dan Dimas) ..ini membuatku merasa panas dan ingin mencari sebuah pe.._san amarahku... membatin". Adam
"oh ya Adam, Alan apa Kalian sudah berkenalan dengan kakakku? (Rumi meyakinkan keduanya dengan tatapan senangnya)". Rumi
perlahan Adam dan Alan bangkit dari posisi duduknya dan menghampirinya Dimas yang berdiri dari samping Rumi.
__ADS_1
"Alan teman Rumi...(Alan mengulurkan tangannya kearah Dimas dan Dimas menyambut uluran tangan dari alan yang pertanda sebuah cara berkenalan)". Alan
"Dimas kakak Rumi (dengan senyum ramahnya)...". Dimas
"Adam teman Rumi...(dan adampun mengulurkan tangannya bermaksud berjabat tangan dan dimaspun membalas jabatan tangan itu)". Adam
"Dimas kakak Rumi...(dengan senyum ramahnya, namun Adam sepertinya masih terbawa perasaan yang sempat tadi memanas hingga jabatan tangannya terasa semakin kuat dan ada penekanan membuat Dimas sedikit tidak nyaman)". Dimas
"kak...Adam Kalian (Rumi terlihat bingung dengan mereka berdua yang berlama lama berjabat tangan tanpa mau saling melepaskan)". Rumi
"hei... kalian apa kalian suka sesama jenis hingga berlama-lama saling menatap seperti itu... (dengan kekehan kecilnya, Ardi mencoba mencarikan suasana yang terlihat menegang itu)". Ardi
"is....tidak bukan seperti itu...(dengan segera Adam melepaskan tangannya dari Dimas)". Adam
"maaf...(dimaspun segera melepaskan pegangan tangannya dari Adam) hem...tidak seperti itu Ardi kau jangan membuat gosip yang tidak-tidak...aku laki-laki normal , ia kan Bu anakmu ini laki-laki normal dan dilahirkannya juga secara normal (dimaspun mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang itu , dengan mengajak ibunya berbicara)". Dimas
"Hem... kau ada-ada saja nak. itu memang benar nak ...ayo kita makan bersama ibu dan Rumi sudah memasak untuk Kalian...(dengan senyum keibuanya membuat perasaan damai seketika bagi yang melihatnya. ya ibu Rosa menangkap gelagat aneh dari keduanya (laki-laki yang bernama Adam dan anaknya Dimas tengah menunjukan kekuatan batin mereka)". ibu Rosa
"Hem...hampir saja... please brother, pakailah cara yang gentleman untuk mendapatkan hati adik semata wayangku, Rama jangan harap aku akan membiarkanmu untuk mendapatkan lagi hati adik kesayanganku. kisahmu cukup Sampai disini... membatin". Ardi
"sepertinya tuan Adam diam-diam menyimpan perasaan terhadap Rumi... apa dia pantas untukku jadikan rival ,dia terlihat begitu tegas dan agresif tidak sesuai porsi wajahnya yang manis dan lihatlah... laki-laki cantik itu memiliki lesung dikedua pipinya...membatin". Dimas
"apa dia tidak ingat umur, ya walaupun dia terlihat ramah dan dewasa namun lihatlah laki-laki tampan itu meminta perlindungan dari ibunya? apa tidak salah , bagaimana caranya ia bisa melindungi Rumi... aku tidak boleh kalah darinya
__ADS_1
.. membatin". Adam