
dengan langkah seribunya Rama mendekat kearah mereka berdiri.
"singkirkan tanganmu tuan (dengan suara yang tertahan)". Rama
dengan kaget Adam mulai bangun dan menatap lekat kearah Rama yang sudah berada dihadapannya.
"mas...kau pulang kenapa tidak memberi kabar, apa kau sudah lama menunggu kita? (ada sedikit kekakuan di senyum Rumi pasalnya mereka sudah lama tidak bertemu)". Rumi
"kenapa aku harus memberi tahumu kapan aku akan Pulang, siapa dia kenapa kalian terlihat dekat? apa kau tengah berselingkuh Rumi (Rama mendekat kearah Rumi dan menggenggam erat pergelangan tangannya hingga Rumi meringis kesakitan)". Rama
"kau bicara apa mas, aku tidak melakukannya mas. dia hanyalah temanku. dia adalah orang baik yang rela menyempatkan waktunya untuk Raka.". Rumi
"perkenalkan tuan aku Adam , benar tuan kita tidak melakukannya. saya dan Rumi hanya sekedar teman. (mencoba membantu menjelaskan)". Adam
"diam kau aku tidak bertanya padamu. (dan kembali menatap kearah Rumi) kau pintar mengelak sekarang, sudah tertangkap basah tapi tidak mau mengakuinya, (Rama melirik kearah bi Sumi yang mematung) cepat bawa Raka masuk (Rama menyeret Rumi dengan kasar disusul bi Sumi yang membawa Raka kecil dengan kebingungannya)". Rama
"mas lepaskan jangan seperti ini mas....(terdengar rintihan yang berasal dari bibir Rumi)". Rumi
Adam yang menyaksikan perlakuan Rama kepada Rumi tercengang, ada niatan untuk melerai Namun ia rasa itu terlalu ikut campur. perlahan Adam meninggalkan rumah itu dengan sejuta kesedihan dan kekhawatirannya.
brakkkk.....Rumi dilempar di atas kasur dengan kasar.
"hiks....(menangis) mas dengarkan penjelasan aku dulu, kau salah paham mas. aku tidak pernah berniatan seperti itu dan kau bisa lihat kita tidak melakukan apapun (hal yang tidak senonoh), ada bi Sumi kita tidak berdua mas. kita hanya ingin Raka merasakan kebahagiaan dimasa kecilnya!!!". Rumi
"kita? sedekat apa hubunganmu dengan laki-laki asing itu? (Rama mendekat dan menjambak rambut panjang milik Rumi)". Rama
"benar mas aku dan Adam hanyalah berteman mas". Rumi
plakkk....(Suara keras sebuah tamparan yang dilayangkan Rama untuk Rumi).
"hiks....mas kenapa kau berubah seperti ini, kenapa kau seenaknya menamparku? apa salahku? (Rumi meraung dengan memegangi bibinya yang nampak sobek akibat tampan keras yang Rama berikan)". Rumi
__ADS_1
"salahmu keluar rumah tanpa seizin ku dengan bertemu laki-laki lain ". Rama
"memang kau perduli kepada kita kemana selama ini kita keluar? Selama 1 tahun apa kau perduli dengan keberadaan kita? kau sibuk dengan keluarga barumu mas, kau melupakan Raka yang juga sebagai anak kandungmu, ingat mas dia juga butuh kasih sayang seorang figur ayah. jadi apa masalahmu hingga melarang kita untuk keluar mencari kesenangan kita sendiri. sudah pernah aku katakan lepaskanlah aku , biarkan aku mencari kebahagiaan ku sendiri jika kau tidak menganggapku lagi...". Rumi
"plakkk....(sebuah tamparan Rama layangkan lagi dipipi putih mulus Rumi) berani-beraninya kau menginginkan aku melepaskanmu...sudah aku bilang kita akan tetap bersama. apa gara-gara laki-laki asing itu kau menjadi berubah seperti ini. awas saja dia akan aku leny_kan (dengan tangan yang mengepal)". Rama
"cukup mas, jangan pernah bilang aku yang berubah... (kini Rumi menjadi garang ia sudah menghilangkan tangisan lemahnya) dan cukup jangan salahkan orang lain atas apa yang terjadi...". Rumi
drttttt....drttt.....suara ponsel Rama bergetar dengan deringannya.
📲 *" baiklah ...aku akan pulang".* Rama
"bayimu mas? haha....(Rumi senyum penuh sinis) biarlah aku urus diriku sendiri kau tidak perlu repot-repot mengurusku ,aku takut bayimu akan mati sedetik saja tanpamu". Rumi
"kurang ajar kau....jaga ucapanmu (Rama mendekat dan mencekik leher Rumi hingga Rumi gelagapan dan memegangi lengan Rama yang mencekiknya) jangan pernah bicara tidak sopan mengenai dara dan ingat Rumi kau tidak akan pernah bisa lari dari genggamanku , (Rama melepaskan cekikannya dan mendorong kasar tubuh Rumi, hingga Rumi lagi-lagi jatuh kekasur dengan perihnya hati) dan satu hal lagi yang perlu kau ingat jangan sekalipun lagi menemui laki-laki asing itu apalagi membiarkan anak kita dekat dengannya, jikalau aku melihat Kalian bertemu lagi maka dengan janjiku akan aku habisi dia". Rumi
brakkkkk .... suara pintu ditutup secara kasar. tidak ada lagi keharmonisan yang dulu sempat ada tidak ada lagi kebersamaan yang dulu mengisi hari-harinya kini hanya luka yang Rumi dapatkan dari sosok Rama Wijaya.
cklekkk.....suara pintu dibuka.
"ya Allah...nyonya (bi Sumi yang terlihat baru keluar dari kamar Raka segera menghampiri Rumi dan merangkulnya)".bi Sumi
bi Sumi melihat wajah nyonyanya babak belur penuh lebam dan sangat terlihat sobekan dibibir Rumi.
"kenapa ini semuanya terjadi bi....mana suamiku yang dulu, yang bilang mencintaiku....(dengan menatap kosong)". Rumi
"sabar nak... Allah tidak akan membiarkan hambanya terus-menerus dalam kesedihan, percayalah akan ada hari indah yang menantimu (memberiku dukungan)".bi Sumi
"mana Raka bi, apa Raka tidur? (melepaskan rangkulannya)". Rumi
"Hem... tuan muda tidur ,ia nampak kebingungan dengan kejadian tadi (nampak bi Sumi meneteskan kristal beningnya)".bi Sumi
__ADS_1
"sudah tidak apa-apa bi...(Rumi mengusap air mata itu)". Rumi
"bibi bangga padamu nak selama ini kau bertahan dengan keyakinan mu untuk tetap bertahan demi Raka". bi Sumi
"mau bagaimana lagi bi tidak ada pilihan (ia menerawang)". Rumi
_skip_
satu hati berlalu tanpa sosok Adam dan kini Raka rewel meminta untuk bertemu dengan om superheronya ,Raka sendiri sampai lupa dengan sosok Daddynya.
"nak , om tidak ada di rumah om Adam pergi tugas....(sebisa mungkin Rumi memberi pengertian namun tetap saja Raka menyebutkan nama om superheronya)". Rumi
ada ketakutan Rumi disetiap ia mengingat ancaman dari sang suami.
bahwa ia akan melakukan kejahatan kepada Adam jikalau ia sampai menemuinya lagi.
dalam kekalutan dan kesedihannya ada sebuah ketukan dipintu rumah sederhananya.
tok...tok...tok....(sebuah ketukan dipintu yang semakin lama semakin membuat penasaran siapa gerangan)
cklekkk.....pintu dibuka.
"Adam......(Rumi tidak percaya dengan apa yang ia lihat ,namun ia dengan cepat harus bisa menguasai keadaan)". Rumi
Dan Rumi melihat seseorang lain yang begitu familiar namun ia seperti baru pertama kali melihatnya.
"Rumi....(dengan senyum mengembangnya)". Adam
"si..siapa dia (Rumi bertanya kepada Adam dengan penuh menatap sosok yang begitu familiar baginya namun ia sendiri tidak mendapat jawaban dari ingatannya)". Rumi
"Alan...(laki-laki asing itu memperkenalkan diri dengan senyuman simpulnya)".Alan
__ADS_1