
_skip_
🌾 di sebuah sekolah 🌾
"pak dosen tunggu (gladis mengejar Dimas yang hendak masuk kedalam mobilnya)". gladis
"ada apa gladis kenapa kau harus berlarian mengejarku (Dimas melihat gladis dengan nafas memburunya)". Dimas
"gladis hanya mewakili mas Satria, Maafkanlah kakakku pak...mas Satria sungguh menyesal telah mengatakan hal demikian kepada Mba Rumi.. hingga Mba Rumi mengalami sebuah kecelakaan....(dengan nada teduhnya)". gladis
"Hem.... huffftt.... seharusnya ini tidak pernah terjadi gladis, jujur aku masih menyayangkan hal itu terjadi.
Hem...tapi aku mengerti sebagai sesama laki-laki, akupun pasti kecewa dengan keadaan serumit ini...aku sudah memaafkan Satria gladis... tidak perlu setakut ini, aku mengerti". Dimas
"tapi karena kejadian ini kita semua harus kehilangan mba rumi untuk yang kesekian kali...(hingga tanpa terasa kristal beningnya lolos gladis mengingat akan masa yang mas satrianya lalui itu terasa begitu berat)".gladis
"Hem....(Dimas menuntun gladis masuk kedalam mobilnya dan menutup pintunya setelah gladis sudah benar duduk dengan posisi baik) ini pakailah (Dimas memberikan sapu tangannya)". Dimas
"terima kasih pak (gladis meraih sapu tangan yang diberikan Dimas)".gladis
" bagaimana kabar Satria, aku rasa aku pun sudah keterlaluan terhadapnya, seharusnya aku tidak menyalahkannya terlalu berlebih... huffftt...(nampak Dimas menerawang pada waktu silam)". Dimas
"mas Satria dia cukup baik (dengan mengusap tangisan terakhir dengan nada yang masih menyimpan kesakitan)". gladis
_skip_
disinilah Dimas yang sudah berumur berdiri saling menatap dengan seseorang laki-laki tampan dengan kisah sedihnya.
"apa kabarmu bro? maafkan aku...aku tau ini bukanlah keinginanmu. dan maafkan aku atas keegoisanku yang sudah menghakimi mu hingga kita jauh dari kata seperti dulu...aku tau ini semata adalah perbuatan dari tuan Rama". Dimas
"aku sudah melupakannya kak, dan satu harapanku melihatnya bahagia meskipun tidak dengan diriku (nadanya begitu lirih Dimas tau Satria belum bisa merelakan itu semua namun Dimas tau Satria adalah tipe laki-laki seperti apa)". Satria
"Hem... aku mendukungmu (menepuk sebagai bentuk menguatkan dan simpatinya kepada Satria)". Dimas
"bagaimana Aydan? bukannya tinggal beberapa bulan lagi Aydan genap 1 tahun, apa kau berniat akan merayakan ulang tahun pertamanya? aku akan ikut andil Satria... jangan memikirkan ini sendirian ingatlah kau tidaklah sendirian kau memiliki kami (dirinya dan Ardi)". Dimas
"Hem...aku pastilah akan merayakan ulang tahun Aydanku, dan terima kasih kak atas segala dukungannya kepada kami...". Satria
"huffft....(nampak Dimas sangat kasihan melihat Aydan yang dimasa kecilnya harus terpisah dengan sang ibunya, dibenaknya kenapa anak dari seorang adik yang begitu ia sayangi bernasib selalu sama, apakah tuan Rama hanya mencintai adiknya semata tanpa memikirkan kesejahteraan anak-anak dari istrinya seperti Raka yang kini jauh disana hidup mandiri diusianya yang masih sangat belia/ kecil)...
itu adalah tugas kami Satria, keluargamu dan keluargaku adalah satu keluarga besar... (ya karena disini Aydan adalah anak kandung dari Arumi Fitrian)". Dimas
__ADS_1
drttt... drttt.... drttt
nampak seluller milik Satria bergetar dengan deringan nyaringnya.
"Satria sebenarnya siapa yang tengah menghubungimu? kenapa kau tiada mengangkatnya? (disaat Satria hanya sekilas melihatnya dan menaruh benda pipih itu kembali kedalam tempat bersemayamnya)". Dimas
"panggilan dari Nona kak, jujur aku rasa dia sudah keterlaluan... bagaimana bisa ia merayuku di depan suaminya sendiri....!. (dengan perubahan raut risau dan lelahnya)". Satria
"perempuan nekad...dan gila....bergumam.
entahlah Sat, semenjak dulu aku sudah untuk memperingatkan Ardi untuk tidak membawanya lebih jauh kedalam hidupnya, bahkan ketika kau sempat hilang ingatan....aku tau betul tatapan liarnya... ". Dimas
"maafkan atas kecerobohan ku...". Satria
"sudahlah itu hanya masa lalu...". Dimas
drttt... drttt...lagi-lagi selluler milik Satria bergetar dengan deringan nyaringnya.
"huffftt....(hembusan berat), kak apa sebaiknya aku angkat saja...(menunjukkan)". Satria
📲 *" assalamualaikum Nona,..(terdengar teriakkan seorang laki-laki di seberang sana dengan nada amukkan nya dan samar-samar seseorang perempuan menangis tersedu-sedu)".* Satria
📲 *" tolong aku mas...(dan tidak beberapa lama panggilan terputus sepihak...) tuttt..tuttt...".* Nona
"bagaimana sat, apa yang dibicarakanya apa perempuan itu tengah berulah lagi? (raut penasaran)". Dimas
"Hem.... sepertinya Nona tengah bertengkar dengan kak Ardi, (menggeleng) aku rasa aku tidak baik untuk ikut campur...(dengan raut yakinnya)". Satria
🌾 Di kediaman Wijaya 🌾
"aduh...". Rumi
"nyonya... hati-hati". kepala pelayan
"terima kasih....(disaat pelayannya mempersilahkan untuk duduk, nampak perlahan raut kesakitan Rumi hilang)". Rumi
"tunggu sebentar nyonya saya akan ambilkan air minum (pelayan itu pergi undur diri dengan sopan)". pelayan
tap...tap.... suara langkah kaki memasuki kedalaman dirumah dikediaman Wijaya.
"sayang....(dengan senyuman kerinduan)". Rama
__ADS_1
"my lover kau sudah Pulang ....(Rumi hendak bangun bermaksud menyambut kedatangan sang suami tapi lagi-lagi rasa nyerinya datang menyapa lagi) ah...". Rumi
"kau kenapa sayang...(Rama menghambur dan berusaha mencari jawaban dengan tatapan khas khawatirnya)". Rama
dari arah dapur muncul sang kepala pelayan.
"nyonya...(merasa lega disaat netranya melihat sang tuan sudah kembali) anda sudah pulang tuan Besar syukurlah...ini tuan (menyerahkan) tadi saya lihat nyonya seperti kesakitan". Kep. pelayan
"benarkah? (dan beralih kepada sang istri) my eyes kau kenapa ...". Rama
"entahlah mas sejak siang tadi perutku sesekali mendapat sakit diarea sini (dengan menunjukkan posisinya)". Rumi
"baiklah... segera hubungi dokter keluargaku, sekarang juga! (memberi perintah kepada kep. pelayan)". Rama
"siap tuan besar!!!". Kep. pelayan
sedangkan Rumi rebahan di sofa empuknya dengan kepala diatas kedua paha Rama.
ya meskipun Rama baru pulang dari kantornya lelahnya padam sudah bila menyangkut istri kesayangannya itu.
"mas kau kan baru Pulang, kau pasti sangat lelah gantilah dulu pakaianmu, dan bersihkan dulu tubuhmu...aku tidak apa-apa untuk beberapa saat ditinggal sendiri, aku seorang ibu yang tengah hamil mas... percayalah aku kuat (dengan senyuman yang bagi Rama adalah senyuman penenang sekaligus semangatnya)". Rumi
"stttt.... (menatap intens dengan menutup bibir merona milik sang istri dengan raut menahan sakitnya) jangan fikirkan tentangku, kesehatanmu lebih penting dari apapun...". Rama
"terima kasih my love...ah...sakit (Rumi dengan refleks mencengkram pergelangan tangan milik suaminya dengan bibir yang saling menggigit)". Rumi
"my eyes...!!!.
(dan beralih kepada kep. pelayan dan tangan kanannya) huhungi dokter dan berikan telephonenya padaku". Rama
Rama bangkit dan membiarkan Rumi rebahkan di sofa empuknya sendiri.
dengan menempelkan telepon di telinganya sesaat panggilan diangkat sang empunya.
📲 *" apa pantas aku menunggu kalian yang lalai dari tanggung jawab kalian? sedangkan istriku sudah kesakitan... percepat atau kalian selesai dalam hitungan 5 menit dimulai dari sekarang (dengan Suara keras dan galaknya)".* Rama
tutt..... panggilan diakhiri
mendengar teriakkan Rama membuat penghuni menghela nafas sesak dan gemetarnya.
"mas , jangan marah-marah...(Rumi menggapai dengan senyuman yang dibuat senatural mungkin ya karena sakit di bagian perutnya semakin menuntut)". Rumi
__ADS_1
"my eyes....(Rama menggenggam tangan perempuan yang sangat dicintainya itu dengan posesif) aku mohon bertahanlah....(dengan salah satu tangan yang mengelus perut Rumi) Daddy mohon jangan sakiti mommy... jangan nakal didalam sana". Rama
Rumi tersenyum sekilas mendengar penuturan suamianya, yang kini rasanya benar-benar bisa ia cintai.