
Rumi mengelus perutnya yang sudah rata kembali.
Aydan baru berumur 2 bulan lebih. rasanya ia tidak mau untuk terburu-buru untuk memiliki anak lagi.
apalagi dengan bukan orang yang ia cintai.
Rumi menatap Rama yang terlelap disisinya dengan senyuman puasnya.
lagi-lagi rasa bersalahnya bergelayut seakan memberikan beban di pundaknya.
"Aydan maafkan mommy!
mas Satria, maafkan aku mas!". Rumi
ya Rumi paling merasa bersalah kepada dua insan itu, ia merasa ia bukanlah seorang ibu yang baik dan juga bukan istri yang setia meskipun ini bukanlah kemauannya dan bukan sepenuhnya adalah salahnya.
keadaan ini begitu rumit dan begitu menguras emosinya.
🌷 fikirnya kenapa ia ditakdirkan ada didalam karangan ini? kenapa tidak yang lainnya saja? hihi.... author mohon besar ampun kepada Rumi 🌷
🌷 maaf bagi para pembaca, rasanya terkadang author imaginasi yang ada adalah milik author seorang... maafkan author yang khilaf ini.... 🌷
"aku mohon jangan tinggalkan aku... (Rama dengan masih dengan mata yang terpejam entah mimpi apa yang ada rasanya memang benar Rama benar-benar Besar takut akan kehilangan dirinya hingga cara yang tidak wajar ini Rama lakukan terhadapnya)". Rama
"mas... apakah sebegitu besarnya dirimu takut akan kehilanganku lagi, tapi kau telat mas... hatiku sudahlah milik orang lain meskipun kini kau telah mendapatkan ragaku kembali... membatin". Rumi
perlahan Rumi bergeser dan bangkit namun rasa nyeri yang ada disekujur tubuhnya membuat ia enggan untuk melangkahkan kakinya, ia bisa saja membangunkan suaminya namun rasa sungkannya membuat ia menahan rasa hausnya.
__ADS_1
Rumi memutuskan untuk mencoba memejamkan netranya namun entah mengapa rasanya kantuknya tiada kunjungan datang.
netranya melihat ponsel milik suaminya tergeletak dengan begitu saja biasanya sang suami akan menyimpan ponselnya di lemari kesayanganya. mungkin terlalu lelah hingga ia lupa untuk menyimpannya fikirnya.
dengan rasa penasaran yang tinggi ia mulai meraih benda kecil berbentuk pipih itu yang tergeletak dinakas. jelas disana ia melihat gambar dirinya tengah tersenyum disaat berada di rumah yang berada ditengah-tengah danau sekitar sepuluh tahun yang lalu foto itu sepertinya suaminya ambil dengan cara diam-diam atau jangan-jangan rumah itu memilih sebuah kamera pengawas yang Rumi sendiri tidak tau.
dan sedetik kemudinya ia berusaha membuka kuncinya namun sayangnya tidak bisa terbuka setelah ia beberapa kali mengacak angka password yang berbeda, sepertinya Rama sengaja meletakkan ponselnya dengan sembarangan tempat karena dia sudah memberi kode pengaman.
"huffftt....(akhirnya Rumi memutuskan untuk bangun dan mengobati rasa dehidrasi nya meskipun tubuhnya begitu terasa remuk dibuat oleh Rama) ahhkp....(Rumi memekik disaat tanganya dipegang oleh tangan yang terasa kekar)". Rumi
"kau mau kemana sayang jangan pergi...(Rama berbicara dengan mata yang tertutup)". Rama
"huffft...aku kira dia terbangun... bergumam". Rumi
melihat Rama diam dengan mata terpejamnya Rumi perlahan meletakkan tangan kekar Rama yang memegang tangannya.
perlahan Rumi berdiri dan mulai melangkah meninggalkan Rama yang tertidur dengan lelapnya.
"emmm.... segarnya, rasanya aku sudah tidak minum selama beberapa hari (disaat Rumi berhasil meneguk beberapa tugukkan air mineral yang berada di lemari pendingin, dan disana ia mulai mencari makanan ringan, dengan duduk sendiri dikursi empuk berhadapan dengan sebuah televisi berukuran besarnya)". Rumi
Rumi memutuskan untuk menonton siaran ditelevisi dan disana ia bisa melihat seorang bapak tua dengan keahlian memproduksi jamu-jamunya yang kini viral di berbagai media.
bapak tua itu mengatakan...
" meskipun saya kini tinggal di kota saya akan tetap memproduksi jamu-jamu saya seperti memproduksinya ketika waktu didesa dengan cara tradisionalnya tanpa bahan-bahan yang berbahaya saat dikonsumsi oleh para penikmatnya". bapak tua
disana Rumi melihat beberapa jenis jamu dengan botol-botol yang bersejajar rapi dengan beberapa variasi bahan dan fungsi yang berbeda.
__ADS_1
dan alangkah Rumi dibuat terkejut disaat netranya melihat disaat penayangan ditelevisi-nya menyorot juga seseorang dengan wajah yang Rumi selama ini sangat rindukan.
ya bapak tua itu mengatakan seorang berwajah yang Rumi sangat rindukan itu, dia adalah anak nya.
deggggg........
"mas Satria...(bibirnya bergetar ternyata benar hatinya mengatakan dan tetap percaya mas satrianya masih hidup) hiks....mas...(Rumi mengeluarkan isakkanya namun itu bukanlah isakkan kesedihan melainkan tangisan rindu dan harunya ternyata benar hati mereka saling percaya dan menguatkan satu sama lain.
Rumi mulai mencatat denah lokasi/ tempat tinggal bapak tua itu. ya Rumi akan memutuskan akan pergi ke sana, meskipun terhalang oleh badai petir didepannya akan ia coba lalui)". Rumi
"sayang, kenapa kau meninggalkan aku tidur sendirian, kau malah melihat siaran malam di televisi...?! (Rama sudah berdiri tidak jauh dari tempat Rumi terduduk yang hanya menggunakan celana minimnya dan kaos putih polosnya menatapnya sedikit curiga)". Rama
"mas kau bangun, m..maaf aku tidak bisa tidur (Rumi segera mengusap air matanya disaat sebuah suara menegurnya) aku memutuskan untuk mengemil dan menonton acara di televisi". Rumi
"kau...(Rama dapat melihat sebotol air mineral dan beberapa makanan ringan yang Rumi letakkan di atas meja, namun netranya ia fokusnya tepat diwajah Rumi yang memperlihatkan sisa air matanya) kau menangis? (nampak wajah curiganya berubah menjadi khawatir disaat ia melihat sang istri menangis)". Rama
"emmm...ini (Rumi mencoba melenyapkan sisa air matanya) aku tadi melihat berita di televisi dan disana aku melihat bapak-babak yang sudah renta tengah mengais rezeki meskipun diusianya yang sudah tidak muda lagi...(kata-kata terpotong)". Rumi
"aku mengerti kau pasti merasa iba ia kan?". Rama
"eem...(mengangguk mengiyakan)". Rumi
"Hem, kemarilah...(Rama merentangkan kedua tangannya berharap Rumi menghampirinya dan ternyata benar Rumi perlahan bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menghampiri Rama dan masuk kedalam dekapannya, mendapatkan reaksi yang begitu menyenangkan Rama dengan senyum senangnya membalas dekapan milik sang istri) apa kau sudah dengan acara menontonnya? ayo kita lanjutkan tidur aku tidak mau kalau kau sampai sakit karena begadang!! (Rama menuntun Rumi dengan sangat lembut dengan bahasa yang lembut pula menjadikan Rumi semakin rindu akan sosok Satria, ya Satria selalu memperlakukan dirinya seperti Rama disaat seperti ini memperlakukannya menjadikan Rumi semakin rindu akan sosok Satria)". Rama
"mas... maafkan aku, selama ini aku telah merahasiakan siapa ayah dari Aydan yang sebenarnya...(disaat Rumi mendapatkan dekapan hangat dari Rama disisa kesadarannya)". Rumi
Rama mendekap sayang sang istri berharap dibangunnya ia mendapati sang istri berada masih dalam dekapannya masih utuh dengan tubuh dan hatinya.
__ADS_1