
sementara itu dilain tempat.
"hah...hahhhh....hah...(tidur dalam gelisah), hahhhh.....(terbangun).
Satria...???... kenapa anak kecil itu memanggilku dengan sebutan itu... bergumam". Arif
Arif terbangun dari tidur malamnya, terbangun dari mimpi didalam lelapnya. karena tidak bisa untuk memejamkan matanya lagi Arif memutuskan untuk mengambil air wudhu dan menunaikan sholat malamnya berharap mendapatkan ketenangan dalam perasaan aneh yang mendera dada-nya, memohon ampun kepada sang pencipta dengan apa yang sudah ia lalui hingga dirinya terperangkap dalam keterbatasan ingatannya.
dan setelah selesai dengan sholat malamnya Arif yang tidak bisa melanjutkan tidurnya beranjak dari kamarnya dan memutuskan untuk keluar.
"nak, (disaat pak tua melihat Arif yang baru akan melangkahkan kakinya untuk keluar rumah)".pak tua
"eh bapak, kenapa bapak belum tidur dijam seperti ini? (Arif melihat pak tua yang nampak membereskan botol-botol jamu tradisional yang ia jual kedalam rak lemarinya)". Arif
"Hem, ia nak, bapak mendapat banyak pesanan buat esok hari jadi bapak menyelesaikan ini semua Sampai selarut ini. dan kau sendiri kenapa belum tidur? (pak tua penasaran dengan Arif yang tidak biasanya keluar kamar pada malam hari selarut seperti sekarang)". Pak tua
"maafkan Arif pak, Arif tidak membantu bapak (dalam senyum kecanggungan ketidak enakkan hati), Arif terbangun dan tidak bisa tertidur lagi (dengan memegangi dada-nya yang terasa berdegub), Arif bermimpi aneh pak (Pak tua menyimak setelah usai dengan jamunya) entahlah ada seorang anak kecil yang memanggil-manggil Arif dengan sebutan Satria....(nampak Arif mengingat mimpi yang begitu nyata sampai membangunkannya dari tidur lelapnya) apakah anak itu adalah anak Arif pak...? tapi kenapa Arif sama sekali tidak mengingat apapun (tatapannya begitu bingung dan penasaran)". Arif
"Hem, apapun yang terjadi pada nak Arif bapak akan selalu mendoakan yang terbaik ...(mendengar penuturan Arif pak tua nampak simpati) mungkin anak dalam mimpi nak Arif adalah anak nak Arif, mungkin keluarga nak Arif sangat merindukanmu nak... ber do'alah semoga keluargamu dan orang-orang menyayangimu selalu sehat dan selamat. kita sekarang hanya bisa berdoa semoga saja apa yang kita jalani adalah yang terbaik untuk kita dan perbanyaklah bersyukur meskipun yang kita jalani terasa berat. tetap bersabarlah nak semoga Allah segera mempertemukanmu dengan keluargamu. dan disaat itulah mungkin jalan yang sudah Allah pilihkan untukmu (mencoba menasehati)".pak tua
"bapak benar, terima kasih pak untuk segala yang bapak berikan untuk Arif, maaf Arif tidak tau dan Belum bisa membalas kebaikkan bapak!
Arif akan terus berusaha untuk mengingat masa lalu Arif...(dengan tatapan pastinya)". Arif
__ADS_1
"Hem, (nampak pak tua senang dengan semangat yang arif tunjukkan)".pak tua
_skip_
kini nampak Arif duduk disalah satu kursi yang bersejajar dengan menatap indahnya sang rembulan yang memancarkan sinar terangnya yang ditemani bintang-bintang memperindah suansa langit malam.
keadaan itu begitu tenang namun menyajikan kesan pilu untuk Arif. dan keadaan itu membuat sekilas ingatan Arif terlihat.
"ahh....". Arif
nampak Arif mencoba melepaskan dan merilekskan fikirannya.
setelah stabil.
ah....dadaku...(Arif meraba dada-nya yang semakin berdegub kencang dan tidak karuan).
selamatkanlah orang-orang yang telah menyayangiku dan selamatkanlah orang-orang yang aku sayangi....
semoga suatu hari nanti kita dipertemukan dalam keadaan yang baik....membatin". Arif
🌾 Dikediaman Rama Wijaya 🌾
kamar itu terasa begitu memberikan kesan angker bagi para dokter yang dengan ketar-ketirnya berusaha menyelamatkan seseorang perempuan dengan kendala dalam proses persalinan nya.
__ADS_1
"sudah telat untuk dibawa kerumah sakit... bergumam!". salah satu dokter spesialis yang menangani Rumi
"apa maksudmu dokter...(Rama mendengar gumaman sang dokter dan menatap horor dan melepaskan pegangan eratnya di jemari-jemari milik sang istri tercintanya dialihkan dengan mencengkram kerah kemeja seragam yang dokter spesialis itu kenakkan)". Rama
"s.ssssalah satu dari ibu dan calon bayi harus ada yang mengalah (dokter berterus terang dengan tatapan pasrahnya /pasrah karena disini keadaan kurang baik memihaknya)". salah satu dokter
Rama menghempas kasar tubuh sang dokter itu dan sejenak melenggang mendekat kearah lemari besarnya.
"tidak ada yang berhak menentukan untukku untuk memilih sebuah pilihan, berikan aku kabar baik, kabar yang aku inginkan. istri dan bayiku akan baik-baik saja (Rama menodongkan senjatanya kepada para dokter beserta para bagiannya)". Rama
karuan saja para dokter dan bagian yang menangani persalinan Rumi dibuat setengah jantungan dengan wajah pucatnya.
"mas Rama apa yang kau lakukan mas...". Rumi
dengan menahan rasa sakit yang mendera teramat / Rumi dibuat kesal sekaligus marah kepada Rama yang tidak pandang bulu dan waktu selalu saja menodongkan senjatanya kepada siapapun jika keinginannya tidak terpenuhi. ditambah rasa sakit dan sedihnya merindukan seseorang yang telah memiliki hatinya membuat kondisi Rumi semakin menurun. ya selama ini Rumi terbebani dengan perasaan terpaksanya ia menjalani hidup bersama rama tanpa rasa , rasanya hanya kehampaannya disaat segalanya bisa ia dapatkan namun baginya keserdehanaan yang ada pada diri Sarita yang mampu mambahagiakannya.
meskipun selama ini Rama memperlakukanmu begitu agung namun Rumi tidak merasakan akan kesucian hatinya baginya Rama adalah laki-laki yang dengan rasa obsesi dan keposesifa'nnya terhadapnya yang mengatas namakan dengan cinta.
yang Rumi ingin menjalani kehidupan yang sederhana , dengan keluarga yang sederhana dan cinta yang sederhana namun itu terasa sempurna baginya.
"sayang mereka tengah berbohong, percayalah padaku kau dan anak kita akan baik-baik saja... bertahanlah (Rumi dapat melihat dengan jelas raut ketakutan dari Rama, itu terlihat sangat jarang baginya... apakah Rama seperti ini disaat Rumi mutuskan untuk meninggalkannya dulu???)". Rama
"aku ikhlas mas... apapun yang terjadi nanti aku yakin itulah yang terbaik, karena aku percaya dengan jalan yang tuhan sudah gariskan. turunkan senjatamu mas...kau menyakiti mereka...(Rumi tersenyum diakhir kesadarannya)". Rumi
__ADS_1
"sayang....sayang... kenapa kau memejamkan matamu..sayang tidak.....(Rama menjatuhkan senjatanya disaat netranya melihat Rumi memejamkan matanya sedangkan posisi bayinya belum berhasil dilahirkan, Rama berlari dan mendekapnya , mendekap Rumi yang hilang dari kesadarannya) aku mohon bangunlah...aku mohon...(tangannya merayap mengelus perut yang sudah terlihat turun ke bawah, disana ia bisa dengan jelas menyaksikan darah yang terlewat dari kata banyak hingga ia dibuat syok) dokter.....apa yang kalian lihat, cepat selamatkan istri dan bayiku...(Rama menangis meraung-raung melihat sang istri dan bayinya diujung maut)". Rama