
"ayo...bangunlah...(Rama menuntun Rumi untuk mengikuti arahnya dan duduk di kasur empuknya) maafkan aku yang sudah melakukan semua ini kepadamu, apa kau mau memaafkan aku?". Rama
"eem...(mengangguk mengiyakan).
entahlah apakah kau pantas untuk ku maafkan , melihat apa yang sudah kau perbuat kepadaku dan orang-orang disekelilingku/keluarga dan sahabatku. rasanya terlalu jauh kau menghancurkan dan merampas secara paksa tentang kehidupanku mas, aku melakukannya semuanya ini semata karena aku mengikuti alur permainan hidup ...membatin!". Rumi
tok...tok....suara kamar milik Rama diketuk oleh seseorang dari arah luar.
Rama dan Rumi saling melirik.
"bukalah...". Rama
"eem...(mengangguk mengiyakan)". Rumi
Rumi perlahan bangkit dan mengusap air mata sedihnya.
dan.... cklekkk....pintu ia buka.
"hiks.....Aydanku , anak mommy..apa kau baik-baik saja sayang... mommy setengah mati merindukanmu...(Rumi menggapai mengambil alih Aydan dari tangan pengasuhnya),anak mommy... anak shaleh...(menciuminya dengan gemas dan rasa syukur)". Rumi
"Hem, (nampak Rama memainkan salah satu tangannya, menggunakan bahasa tangannya dan seketika membuat pengasuh yang membawa Aydan undur diri)". Rama
"saya permisi nyonya, tuan (dengan sopan)". pengasuh
"terima kasih bi...(Rumi mengiyakan pengasuh itu pergi)". Rumi
"tuan...-tuan sungguh saya telah berdosa kepada nyonya Rumi yang telah berbohong kepadanya, yang telah menuruti perintah tuan yang terbilang cukup aneh dan keterlaluan ini...membatin. (melenggang pergi dengan rasa bersalahnya)". pengasuh
setelah kepergian sang pengasuh.
"apa sekarang kau sudah bisa mempercayaiku lagi Hem...? aku akan berusaha membahagiakanmu...(menatap hangat)". Rama
"terima kasih mas, (menatap senang)". Rumi
"akan aku lakukan apapun agar kau selalu merasa bahagia sayang ,asal kau mau bersamaku. (Rama menghampiri kedua-nya dan mengelus pucuk rambut perempuan yang sangat dicintainya).
mulai dari sekarang aku mohon kepadamu lupakanlah masa lalumu dan berjalanlah bersamaku, menjalani hari-hari saling berbagi cerita dan rasa apakah kau mau melakukannya untuk masa depan rumah tangga kita?". Rama
rasanya momen ini terlalu rumit untuk dicerna, jujur cintanya masih untuk seseorang yang begitu mirip dengan wajah bayinya.namun keadaan ini begitu memaksanya untuk mengikuti alurnya.
"eem...(hanya sebuah anggukan sederhana itu bisa membuat seorang Rama si tuan berkuasa berbunga-bunga)". Rumi
"terima kasih sayang , terima kasih atas semua ke lapanagan hatimu". Rama
"jangan selalu berterima kasih kepadku mas, disini akupun meminta maaf padamu, (entah apa yang sekarang ada di benak seorang Rumi hingga ia melayangkan kata-kata maafnya kepada seseorang yang sangat ia benci seseorang yang telah sengaja memporak-porandakan kehidupannya), mungkin selama ini aku terlalu keras dengan ambisiku untuk menghindarimu mas.. .entahlah mas aku juga disini merasa bersalah padamu, seharusnya aku yang lebih bisa bersabar dengan keadaan yang aku jalani...(menatap alim)". Rumi
__ADS_1
mmmm....e.... anggap saja suara bayi Aydan ya!!!!!
"sayang apa kau lapar, kau pasti sudah sangat kangen dengan air asi mommy...,(dan beralih kepada Rama) mas aku permisi dulu aku ingin memberinya asi...". Rumi
"jangan...(Rama menahan lengan milik Rumi)". Rama
"kenapa mas...? apa kau melarang ku untukku menyusuinya?". Rumi
"emmm... tidak, maafkan aku (akhirnya Rumi diperbolehkan keluar dari kamar bersamanya, membawa Aydan kekamarnya untuk diberikan ASI ekslusif nya)". Rama
selepas kepergian Rumi.
"apakah aku bisa menahan semua ini untuk jangka waktu yang lama... bergumam". Rama
Rama menatap kepergian sang istri tercinta yang membawa anak bersama sang rivalnya dengan perasaan sedih sekaligus menyimpan seribu gejolak dihatinya.
_skip_
beberapa hari kemudian.
Dimas sudah tersadar dari lelapnya, dan menjalani rawat inap untuk beberapa hari.
"terima kasih gladis, ini waktunya kau untuk kesekolah... belajarlah dengan rajin supaya kelak kau berhasil, dan menggapai cita-cita mu...!". Dimas
"Hem...(Dimas hanya tersenyum hangat semenjak beberapa hari gladis merawatnya/membantunya. menjadikan Dimas tidak sekaku dan sesinis seperti pertama kali dirinya berjumpa dengan gladis, dan kini Dimas mulai menerima gladis menjadi benar anggota keluarganya)". Dimas
"gladis be..rang...kat (kata-kata nya terpotong-potong disaat netranya melihat kakaknya yang datang berbarengan dengan sosok wanita cantik dengan gaya beraninya, nampaknya semakin hari semakin heboh saja dandanan perempuan yang sudah cukup umur itu)".gladis
"kau kenapa (Dimas belum menyadari kedatangan Satria)". Dimas
"gladis, kau ada disini? bukanya kau berangkat dengan Caca, apakah Caca ada disini juga? (sedikit kaget melihat adik kesayangannya bukannya dijam-ham sekarang ada disekolah malah ada di toko oleh-oleh Dimas, dengan mengedarkan pandangannya)". Satria
"kau sudah sampai!!! (Dimas menyapa kedatangan orang yang ia sudah anggap sebagai saudaranya)". Dimas
"cepat berangkatlah nanti kau bisa terlambat (melirik gladis)". Satria
"gladis berangkat...(menyalami kedua-nya/ Dimas dan Satria namun tidak dengan Nona)". gladis
"gladis...(Satria menegur)". Satria
"e..., gladis berangkat dulu Tante Nona (tanpa memberikan senyuman itu terkesan sangat hambar)".gladis
"hati-hati dijalan (memberikan senyuman ramahnya)". Nona
setelah kepergian gladis.
__ADS_1
"oh ya tunggu aku kembali, sebentar, aku masuk kedalam dulu ya honey...(satria memperlihatkan beberapa barang bawaannya kepada Nona) mas Dimas (panggilan akrab, menunduk sopan sebagai tanda pamit) ...". Satria
"honey? apakah mereka benar pacaran / memiliki hubungan dekat?.
apa benar Satria akan melamarnya?...ini tidak boleh terjadi... membatin!". Dimas
"emm...(mengiyakan dan melihat pujaan hatinya masuk ke salah satu ruangan didalam dengan senyuman senangnya)".Nona
kini tinggal Dimas dan Nona yang tengah berdiri di beranda depan.
"sambil menunggu Satria kembali silahkan apa nyonya mau duduk dulu...(Dimas menawari)". Dimas
"emm...(menggelang) tidak terima kasih aku hanya sebentar dosen Dimas...(tersenyum ramah)". Nona
"ini kesempatan kapan lagi meskipun hanya sebentar...membatin.
nyonya apakah kalian benar tengah memiliki suatu hubungan dekat, aku peringatkan kepadamu nyonya Satria sedang mengalami sebuah hilang ingatan, bijaklah dengan keadaan. jauhilah Satria, buang jauh-jauh niatan untuk memiliki hubungan dekat dengannya (jelas , singkat,dan padat)". Dimas
"ahkp...(Nona membekap mulutnya tidak percaya sang dosen ingin merecoki hubungannya bersama laki-laki pujaannya)..a..apa maksudmu dosen kenapa kau mengurusi masalah orang lain? (tidak terima)". Nona
"Satria dan Rumi bukanlah orang lain bagiku, bagiku Mereka adalah keluargaku..adikku...orang yang aku lindungi. jadi aku peringatkan sekali lagi kepadamu nyonya menjauhlah dari Satria jangan mengumbar perasaan yang seharusnya tidak perlu ada, kau tau Satria mencintai Rumi lebih dari apapun yang kau tau. cinta mereka tidak akan pudar dimakan masa. satria akan kembali pada Rumi disaat masa itu telah tiba, aku yakin Satria bisa pulih dengan ingatannya, kau harus paham dengan hal itu...! (Dimas menekan disetiap bait katanya)". Dimas
Nona menggeleng.
"tidak , aku tidak akan mundur.
aku percaya dengan cinta yang aku punya untuk mas Satria (kekeh)". Nona
"terserah, aku tidak perduli dengan cinta yang kau punya nyonya. yang perlu kau tau, aku tidak akan membiarkan dirimu memiliki Satria yang masih menjadi suami sah dari adikku Rumi (dengan nada tegasnya)". Dimas
beberapa waktu kemudian.
"honey.... honey...(nampak Satria kebingungan mencari pacarnya /calon istrinya yang ia tinggalkan sebentar bersama mas Dimasnya)". Satria
"mas...(kata-katanya terpotong)". Satria
"nyonya Nona? dia pergi terburu-buru, dia bilang ada keperluan mendadak (Dimas mencoba menjelaskan disaat tatapan satria mencari kebenaran)". Dimas
"benarkah... tidak biasa my honey seperti ini, pergi tanpa pamit... bergumam".Satria
"sudahlah jangan terlalu berfikiran negatif (Dimas meninju pelan bahu milik Satria yang tingkat ketampanannya satu dua dengan dirinya), mungkin dia sudah membuat janji tapi lupa... hingga disaat dia tersadar dengan begitu saja meninggalkan dirimu tanpa pamit dengan terburu -burunya". Dimas
"seperti itu yah...(menerawang), kau benar mas.. bukannya suatu hubungan harus saling menjaga dan mengerti perasaan satu sama lain ya..., baiklah aku akan segera memperkenalkan Nona kepada kedua orang tuaku bagaimana mas?". Satria
"aku baru ingat satria belum ingat dengan masa yang sudah ia alami bersama Rumi, dan itu otomatis Satria belum bisa ingat dengan kematian ke-dua orang tuanya... membatin". Dimas
__ADS_1