
"mas , akh....". Rumi
nampak netranya belum sempurna untuk dapat melihat keadaan sekitar, karena rasa pusing yang menderanya.
"kau sudah sadar sayang, maafkan aku ,aku telah membuatmu bersedih... pelan-pelan saja (Rama yang setia menemani dengan posisi duduk disampingnya dengan selalu menatapnya melihat Rumi terbangun dengan sigap membantu Rumi untuk bersandar di bantal yang dibiarkan ditumpuk sedikit meninggi)". Rama
"mas apa yang terjadi denganku? kenapa kepalaku terasa sangat pusing.. (dengan memegangi kedua pelipisnya).
dimana Aydan dan Raka mas...". Rumi
"tuan ini racikan yang dokter recomend-kan ...(bibi pelayan yang baru masuk dengan membawa sebuah nampan berisi obat dan vitamin)". pelayan
"mas itu apa mas?". Rumi
"sayang minumlah terlebih dahulu ini adalah vitamin yang diberikan oleh dokter". Rama
"aku tidak sakit mas, aku akh... ...(lagi-lagi rasa pusingnya menguasai, akhirnya dengan menurut Rumi meminum obat dan vitaminnya).
mas sebenarnya aku kenapa?
apa aku tengah terkena penyakit?". Rumi
"sttt..... jangan mengucapkan dengan hal yang tidak-tidak dan belum pasti, kau sehat sayang dari mulai sekarang kau hanya perlu beristirahat lebih. sekarang tetaplah berbaring Hem, (tangan Rama merayap menarik selimut dan menutupi tubuh Rumi dengan selimut sampai batas perutnya dan tanganya berhenti tepat disana, netra Rumi memperhatikan gerakkan yang suaminya beri) jika kau ingin bertemu dengan Aydan dan Raka maka aku akan membawa mereka datang kesini (dengan tatapan sayangnya).
sayang... terima kasih, kau selalu menghadirkan kebahagiaan dihidupku.
maafkan aku jika fikiranmu selama ini tentangku sejauh itu, yang perlu kau tau apapun yang kulakukan kepadamu, kepada anak kita itu semata karena aku tidak mau lagi terpisah dengan kalian untuk kedua kalinya! (tatapan yang semula meradang kini berubah adem seratus delapan puluh derajat) ". Rama
deggggg.....Rumi baru tersadar bahwa dirinya tadi marah, kecewa, dan bersedih karena suaminya.
dan kenapa dengan wajah diraut suaminya yang tiba-tiba melemah dan melembut menatapnya dengan perasaan sangat berharganya , tatapan itu terlihat lebih dari biasanya.
bagi Rumi beberapa waktu ini dirinya sangat tidak mau melihat wajah jahat itu, wajah itu mengundang rasa kesal dan sebal untuk dipandang wajah yang tidak terlalu tampan bahkan terkesan jauh dari kata tampan ya kerena bekas operasi yang samar terlihat itu masih terlihat jelas dengan jarak sedekat itu. yang menyisahkan bekas atau semacam goresan-goresan lembutnya.
"mas... jangan menatapku seperti itu, bukannya kau tadi marah-marah kepadaku ,kau selalu saja menekanku...(baru saja Rumi sedikit melemah dengan nada manjanya kini emosinya mulai naik lagi)". Rumi
__ADS_1
"sttt.... sudah jangan marah-marah. maafkan aku sayang, sungguh aku tidak akan membuatmu merasa demikian lagi.
sekarang aku akan membiarkanmu dengan segala keinginanmu, tidak melarang apapun yang kau mau.
aku tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan calon buah hati kita yang sedang tumbuh berada di sini...(menyentuh perut Rumi dan membuat sebuah pola berbentuk love)". Rama
"calon buah hati?... bergumam.
apa maksud ...(baru saja ia tersadar dengan kebiasaan suaminya yang tanpa sedikitpun memberinya waktu untuk menolak berhubungan i..-tim, dan ia baru teringat bulan ini tamu bulanannya/ jadwal menstruasinya telat sudah hampir 2 bulan berturut-turut).
mas...apa aku tengah hamil?". Rumi
"ya sayang ,kau tadi pingsan dan dokter yang memeriksa mu mengatakan hal demikian, kalau kau meragukannya sekarang juga kita pergi kerumah sakit untuk benar memastikannya! (dengan bibir yang selalu menampilkan senyumannya)". Rama
"aku..aku ingin kekamar mandi mas, tolong bantu aku untuk berdiri (Rumi menyingkap selimutnya dan bersiap untuk bangkit dan dengan senang hati Rama membantunya)". Rumi
"hati-hati sayang, pelan-pelan saja...". Rama
pintu kamar mandi ditutup tanpa Rama diperbolehkan masuk.
nampak Rumi sedikit masih dengan rasa pusingnya.
sementara itu Rama ramai menggedor-gedor pintu yang tertutup itu.
"sayang jangan lama-lama, kenapa kau tidak memperbolehkan aku masuk... jangan berbuat yang aneh-aneh (ya Rama teringat saat Rumi mengunci diri didalam kamar mandi disaat itu baby Aydan dalam tanda persalinan)". Rama
_skip_
cklekkk.... suara sebuah pintu dibuka.
"sayang... apa kau baik-baik saja, sebenarnya apa yang kau lakukan didalam tadi". Rama
dengan wajah penasaran dan khawatirnya melihat sang istri keluar dengan wajah datar dan sendunya.
"sekarang apa kau sudah puas mas, (Rumi memperlihatkan hasil dari testpack nya yang bergaris dua itu bertanda benar dirinya tengah mengandung anak dari tuan Rama yang ke-dua)". Rumi
__ADS_1
"kenapa kau bicara seperti itu sayang.
sudah aku katakan, kita akan segera memiliki seorang bayi, kau tengah mengandung buah hati kita!
(senyuman Rama hilang seketika disaat Rumi hanya diam)
kenapa kau terlihat tidak senang dengan kehamilan mu?". Rama
"hiks.....kau egois mas, (dengan langkah pelannya Rumi melewati Rama tanpa meminta bantuannya)". Rumi
"ini adalah hal yang sangat wajar Rumi, kenapa kau bilang aku egois...aku sumaimu aku berhak memintamu untuk mengandung anak-anakku...(Rama dengan nada yang tidak bisa diartikan namun terkesan dari dalam hati)". Rama
"apa kau memikirkan dengan anakku Aydan, dia masih sangatlah kecil mas, berjalan saja Aydan belum mampu lalu bagaimana dengan ASI yang wajib harus Aydan dapatkan? kau tega mas...!". Rumi
dengan isakkanya.
"aku...(tercekat).
(begitu terpukul dirinya sebagai seorang laki-laki di posisi seperti ini, dilain sisi ia sangat menginginkan seorang anak yang bisa menyatukan dirinya dengan istrinya sendiri, dilain sisi kini malah terkesan melukai sang istri).
Rumi...apa kau menyesal telah mengandung anakku lagi (tatapannya tidak bisa diartikan)?". Rama
bibirnya bergetar ada rasa sesak dan nyeri disana, sekejam-kejamnya dirinya ia betul memiliki rasa cinta untuk seseorang yang menatapnya dengan tatapan sebalnya.
"aku....(tercekat).
(dilain sisi ia sangat memprioritaskan baby Aydan, dan dilain sisi ia tidak boleh mengabaikan dengan apa yang sudah ada dalam kandungnya sekarang)
berilah aku sedikit waktu untuk sendiri mas (datar)". Rumi
"Hem.... huffftt.... baiklah, tapi aku mohon padamu jangan sakiti dirimu dan calon anak kita.
aku Rama Wijaya tidak akan melepaskanmu bila hal itu sampai terjadi.
aku berharap kau bisa segera menerima kenyataan ini bahwa dirimu memanglah ditakdirkan untuk diriku Rumi....(dengan penekanan intonasi disetiap katanya) ". Rama
__ADS_1
kamar itu sudah rapih , kamar yang tadinya berantakan akibat amukkan dari pihak Rumi sudah tidak ada lagi yang berserakan, ya itu karena sudah dibersihkan oleh para asisten dirumah itu.
Rama keluar kamar itu dengan membawa perasaan senang sekaligus rasa sedihnya ya ternyata istrinya belum bisa benar-benar menerimanya bahkan dengan anak yang dititipkan dirahimnya.