
betapa senang dan leganya perasaan Rumi disaat netranya bisa menemukan kekuatannya kembali. orang yang sangat dan bisa membuat hari-harinya terasa lebih bermakna dan penuh warna.
setelah mereka masuk rumah.
satria menjelaskan dengan apa yang ia lalui hingga ia bisa pulang telat tidak sesuai dengan yang sudah ia perkirakan.
"bapakku meninggal setelah ibuku meninggal beberapa jam kemudian...ibu meninggal karena penyakit tuanya dan bapak tidak bisa terima dengan hal itu bapak terlalu sedih hingga membuat mendadak bapak terkena serangan jantung. kami telat membawa bapak ke rumah sakit...hingga bapak tidak bisa tertolong dan meninggal dalam perjalanan kerumah sakit....(Satria menceritakan semua itu dengan posisi menunduk, raut sedihnya ia sembunyikan dalam ucapanya)". Satria
"mas....(Rumi mengelus pelan punggung lebar itu ia juga merasakan kesedihan yang suaminya rasakan) semoga kau selalu ditabahkan dan selalu dikuatkan, maafkan aku mas aku tidak ada ketika kau berada dalam kesedihan diwaktu yang lalu...". Rumi
"tidak apa-apa sayang, mungkin inilah takdir yang sudah digariskannya (satria mencoba tabah dalam dukanya)". Satria
sedangkan Caca menangis histeris tidak mau kalau nenek dan kakek yang selalu menyayanginya meninggalkan mereka. Caca ingin melihat nenek dan kakek nya yang berada di daerah yang cukup jauh disana.
"sayang... kemarilah...(Satria mendekap erat anak semata wayangnya itu dan berusaha menenangkan).
bagi Caca neneknya adalah pengganti sang mendiang ibunya, yang bisa memberikan kasih sayang tulusnya...
tapi aku bersyukur kini ada kau yang selalu memberikan kasih sayang itu, aku percaya Caca akan cepat bisa menerima keadaan ini (Satria menatap sayang kearah Rumi yang mendekap erat anak-anaknya)". Satria
" bagaimana dengan gladis mas?". Rumi
"gladis sudah cukup besar untuk mengurus rumah, untuk saat ini aku titipkan ia kepada tetanggaku. aku harap ia bisa bijak dalam keadaan ini. dan untuk selanjutnya aku belum memikirkannya untuk sekolah dan masa yang akan datang ...(ucapanya terhenti sejenak dan beralih kepada Rumi) sayang gladis adalah seorang remaja yang masih sangat labil aku takut dia tidak bisa menyaring pergaulan yang semakin semeraut ini...(kata-katanya terhenti lagi dan nampak jelas kerisauan yang ada)". Satria
"mas apa tidak sebaiknya kita ajak gladis saja bersama kita? (melihat suaminya dalam kerisauan Rumi mencoba memberi ide)". Rumi
"entahlah ...aku masih bingung.."Satria
"dadd, Caca takut ... Caca takut jika mommy Rumi juga akan meninggalkan Caca!!! (disisa isakkanya)". Caca
"mommy ada bersama Caca, dan mommy akan terus bersama kita (dan beralih kepada sang isterinya yang kini tengah mengandung buah hati mereka) iakan mom...mommy akan selalu bersama kita? (Satria memberikan pertanyaan ringannya, ia belum tau dengan penampakkan yang Caca lihat tadi siang)" Satria
"mas....(nadanya bergetar, kerisauan yang kembali menghinggap didadanya) orang-orang Wijaya ada disini mas, tadi siang Caca melihatnya ketika ia bermain bersama teman-temannya". Rumi
"apa?...(kaget)". Satria
_skip_
Terlihat beberapa rombongan baru terlihat tiba disuatu daerah dan nampak beristirahat disalah satu tempat peristirahatan.
"hei.... semuanya kita berhenti dulu, aku lelah tempat ini begitu sukar untukku (Romi menggerutu pasalnya jalanan terlihat semakin sempit dan jelek untuk dilalui)". Romi
"apa benar mereka ada ditempat seperti ini? (rama membayangkan istri dan Putra kecilnya hidup di lingkungan yang sangat minim ini, rasa iba yang timbul dari benaknya)". Rama
__ADS_1
"awas saja kau jika sampai aku tidak mendapatkannya (Romi melirik kesalah satu bawahannya yang memberitahukan lokasi tersebut)". Romi
"saya yakin tuan karena tempat ini adalah tempat terakhir dalam penelusuran kami, anak buahku mungkin sudah lebih dulu Sampai ditempat itu karena mereka sudah masuk kedalam sejak beberapa jam yang lalu (menjelaskan dan memberikan pengertian sebisa mungkin)". bawahan Romi
sementara itu dilain tempat.
tok..tok.. sebuah pintu rumah sederhana disebuah kampung diketuk oleh beberapa anak remaja keadaan sudah malam namun sepertinya sang tamu tidak mengindahkan peraturan yang ada dikampung tersebut.
"ia sebentar (berteriak) siapa sih malam-malam... bergumam.
kalian (sedikit terkejut pasalnya gladis mengenali sang tamu dimalam harinya itu)?". gladis
"hi... gladis kita keluar yuk , nongkrong-nongkrong seperti yang lain mumpung kakakmu tidak ada".salah satu teman main gladis
"maaf gladis tidak bisa, kapan-kapan saja ya (menolak Secara halus mencoba memberi pengertian ia takut karena sudah berjanji akan mematuhi pesan dari kakaknya)". gladis
"tidak asik ni gladis...ya sudah bila tidak keluar kita bersenang-senang di rumahmu saja...(nampak teman-teman gladis membawa alat-alat musik dan beberapa kantong cemilannya)". teman gladis
"kalian bawa apa? awas jangan yang aneh-aneh ya...(protes'an yang tidak berarti apa-apa bagi temannya itu)". gladis
"yuhuuu....kita masuk bro...(teman-teman gladis masuk menyerbu ya mereka merasa baru mendapat sebuah markas baru untuk pesta amburadulnya)". teman-teman gladis
dengan terpaksa gladis menuruti keinginan mereka pasalnya gladis tidak ada teman main selain mereka (teman dekat). sewaktu orang tua gladis masih ada mereka bersikap selayaknya remaja pada umumnya dan ketika ada salah satu teman pindahan disekolahnya (teman baru dan membawa budaya baru/ pergaulan yang tidak disaring) membuat semua teman-temannya ikut-ikutan dan kini gladis yang ikut-ikutan.
gladis diam memperhatin,kenapa teman- temannya malah menganggur kan alat musik yang mereka bawa malah asyik dengan cemilan yang mereka bawa.
ya gladis yang dulu gadis penuh energi dan semangat tingkat dewanya kini terlihat sedikit muram karena kehilangan orang yang begitu berpengaruh dihidupnya (sang mendiang kedua orang tuannya,ditambah mas satrianya yang pergi bersama keluarga barunya).
disisi lain gladis bersyukur melihat kakak semata wayangnya bisa menemukan kebahagiaan yang sempat hilang dulu. dan disisi lain dirinya sangat kesepian tanpa Caca dan mas satrianya.
"gladis....(teriak tetangga yang Satria minta tolong untuk menjaga adik semata wayangnya itu untuk sementara waktu)". tetangga gladis
"teman-teman gladis keluar dulu ya, sepertinya ada yang memanggil gladis!!". gladis
gladis berlalu tanpa jawaban dari temannya.
"eh..ibu.
ia Bu ada apa?". gladis
"malam sudah larut, suruh pulang teman-temannya kau ini perempuan nak, tidak baik di mata umum menerima tamu bukan dijam-jam nya...!". tetangga gladis
"tapi gladis tidak enak Bu kepada mereka...dan gladis ...(kata-katanya terpotong)".gladis
__ADS_1
"siapa si gladis orang yang memanggilmu itu, (diambang pintu terlihat salah satu teman gladis penasaran dengan dialog yang terdengar sampai kependengaranya ) biarkan gladis menikmati masa mudanya dong Bu... biarkan gladis jadi anak gaul (terlihat teman gladis membawa sebuah botol yang menurut gladis adalah minuman penghilang dahaga, dan menurut pengelihatan ibu tetangga gladis itu adalah botol minuman yang memabukkan)!".salah satu teman gladis
"hem...(geleng-geleng kepala) tidak seperti itu nak... berkunjung ada waktunya...ibu tidak mau gladis jadi omongan para tetangga yang lainnya. seharusnya kau sebagai temannya tidak mengajaknya dalam keburukan". tetangga gladis
"keburukan? lihatlah gladis tetanggamu itu sangat kampungan, kita hanya bersenang-senang eh malah dikatakan mengajakmu dalam keburukan...(dan masih banyak kata-kata yang kurang enak didengar ditelinga)". teman-teman gladis
_skip_
dialog yang dilakukan ibu tetangga gladis dan teman-teman gladis mengundang masa hingga ujung-ujungnya gladis yang kena imbasnya.
"hiks...mas Satria, gladis ingin ikut bersama mas dan Caca...(dalam isakkan malamnya, ya kehilangan orang-orang yang sangat disayanginya membuat gladis menjadi cengeng)". gladis
tanpa disadari gladis ada sosok tampan yang menatapnya puas sekaligus kasihan.
puas karena ia sebulan yang lalu membuat ruang gerakkan menjadi kaku dan terasa bad mood-nya selalu datang.
kasihan karena gadis itu nampak terpuruk tidak seperti dulu ia pertama kali mengenalnya.
"ada apa denganku...(nampak sosok tampan itu berusaha menghempaskan perasaan anehnya)".sosok tampan
🌾 Di kediaman Satria 🌾
nampak suasana rumah sudah sepi.
Raka dan Caca sudah nampak tertidur dikamarnya masing-masing.
"sayang tidurlah malam semakin larut, jangan begadang itu tidak baik untuk calon buah hati kita... (satria meraih tubuh sang istri yang masih setia dengan terjaganya)". Satria
"aku takut mas...aku takut mereka akan memisahkan kita (dengan senang hati Rumi menyambut dekapan sang suami yang memperlakukannya dengan selalu lembut dan penuh kasih sayang)". Rumi
"aku akan berada di depanmu, tidak akan aku biarkan mereka membawamu.
akan aku lakukan apapun demi kebahagiaan mu sayang.!!! (dengan menepuk-menepuk pelan punggung milik sang istri berharap segala kegundahanya hilang)". Satria
"berjanjilah kepadaku mas, jangan pernah untuk melepaskan aku...aku sungguh tidak sanggup hidup tanpamu dan anak-anak (dengan mengeratkan pelukannya)". Rumi
"aku berjanji tidak akan melepaskanmu sayang, tidak pernah dan tidak akan.
dan aku meminta padamu berjanjilah untuk selalu bahagia kapanpun dan dimanapun!!! (beralih mengusap rambut sang istri yang dengan khas nya selalu ia biarkan tergerai)". Satria
"aku berjanji mas, aku akan selalu bahagia (perlahan Rumi menutupkan netranya tidur dalam dekapan kehangatan sang suami yang terasa nyaman dan selalu membuat jiwanya tersirami dalam kesejukan hati) ". Rumi
malam berlalu dengan seiring berjalannya waktu berharap esok akan tetap baik-baik saja.
__ADS_1