
_skip_
jam didinding menujuk angka 10 malam.
Ardi yang terbangun dari tidur lelapnya setelah melakukan aktivitas yang tidak seharusnya yang terjadi diantara dirinya dan teman dekatnya itu Nona nampak mengumpulkan kesadarannya.
"Nona... bergumam". Ardi
Ardi yang tidak menemukan sosok itu langsung bangkit dan memakai kembali setelan kemejanya yang berceceran dilantai.
dengan langkah khas pincang dan buru-burunya ia mencari keberadaan Nona seluruh ruangan diapartemennya namun hasilnya nihil Nona sudah tidak ada dikediamanya.
"Nona, aku akan mencoba menghubunginya... bergumam (hanya satu nama itulah yang pertama ia ucap dalam kesadarannya yang sudah ia mampu kuasai dan hanya satu nama itu pula yang terpenting sekarang diingatannya ia sampai lupa dengan tujuan utamanya yang ingin menjenguk Satria dengan setelan rapihnya dengan gerakan cepat Ardi mulai menghubunginya)". Ardi
drtttt.... drttttt.... nampak panggilan masuk namun sang empunya tidaklah menjawab panggilan darinya.
"kenapa tidak diangkat..ayolah... angkat!!!". Ardi
nampak Ardi beberapa kali menghubungi nomer teman dekatnya itu namun lagi-lagi seakan diabaikan.
"apa dia marah padaku yang sudah menidurinya.... bergumam". Ardi
Ardi menerawang...
betapa berg..-rahnya Nona tidak ada sedikitpun terlihat keberatan dengan perlakuan dirinya yang tengah menguasainya dan betapa Ardi kaget namun sudah terlanjur disaat ia mengetahui ternyata teman dekatnya itu sudah tidak pe..-wan lagi, dengan tatapan menuntut ingin mendapatkan kenik...-tan yang lebih darinya.
deg ggggggg.... ia baru tersadar dengan prasangka yang selalu kak Dimasnya layangkan untuk temannya itu, bahwa Nona bukanlah seorang perempuan baik-baik.
tapi disini dirinya juga sudah melakukannya, dan apakah dirinya adalah laki-laki yang baik, setelah memakai dan dengan tanpa beban membuang pakaian yang sudah ia pakai dan mengganti dengan pakaian yang baru???
"huffft.... kenapa aku bisa melakukan hal sekonyol ini sebelum aku menikahinya, sungguh aku sangat berdosa kepadanya (nampak Ardi berfikir keras, setelah beberapa memakan cukup waktu akhirnya Ardi mantap dengan pemikiran dan meutuskan suatu keputusan yang yang harus diambilnya, menikahi perempuan yang sudah ia sentuh itu adalah satu-satunya hal yang berada di otaknya saat ini).....aku harus bertanggung jawab, aku akan menikahinya...ya kau benar Ardi jangan jadi pengecut dan bersikap tidak adil kepada perempuan... bergumam". Ardi
akhirnya Ardi yang tidak mendapatkan kabar dari Nona ia segera menyusul ketempat tinggal Nona berada untuk memastikan keadaan Nona baik-baik saja, ia tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa kepada perempuan yang sudah ia sempat nik..-ti itu.
selang beberapa waktu Ardi sampai diapartemen milik Nona, Ardi turun dari mobil pribadinya dan melangkah kakinya dengan sejuta pikirannya.
apakah Nona baik ?ataukah Nona depresi? ataukah Nona bisa saja menyesal dan melukai dirinya!
semua pertanyaan itu berputar-putar di otaknya.
Ardi sudah berdiri dipintu depan milik Nona, ya sejatinya Ardi belum pernah ketempat Nona namun dengan alamat yang ia dapatkan dari pencariannya ia dengan mudah bisa mendapatkan alamat Nona.
telunjuk Ardi memencet bel untuk beberapa kali namun lagi-lagi sang empunya tidak menunjukkan batang hidungnya.
__ADS_1
"kemana anak itu... bergumam (Ardi Sungguh pusing dengan pencariannya akhirnya Ardi memutuskan untuk menghubungi seseorang disebarang sana)". Ardi
📲 *" aku memerlukan bantuanmu...aku akan mengirimkan profilnya... baiklah jangan biarkan aku menunggu terlalu lama aku beri waktu untukmu setengah jam.... berusahalah dengan baik!!! dan panggilan ditutup....". Ardi
huffft......(nampak Ardi membuang nafas beratnya).
🌾 Di rumah sakit 🌾
* di salah satu ruang inap *
"dad, ayolah makan sedikit saja...a...buka mulutmu dad..,.(nampak Caca merayu seseorang dengan tatapan yang tidak bisa diartikan namun sudah jelas tatapan kosong itu menyimpan sejuta kesedihan) bukannya Daddy yang mengajari Caca untuk selalu makan dalam keadaan apapun, apa lagi dalam keadaan sakit seperti Daddy... bukannya orang yang sedang sakit harus mendapatkan asupan gizi yang bagus untuk cepat sembuh? (dengan tatapan sedihnya)". Caca
"Daddy masih kenyang sayang, Daddy hanya perlu untuk beristirahat... (dengan senyum hangatnya meskipun senyuman itu terasa begitu getir)". Satria
"Ca, biarkan Daddymu untuk beristirahat (gladis menghalau Caca yang memaksakan kehendaknya ya gladis tau niatan Caca baik dan itu membuat jiwanya semakin sakit melihat keadaan kakak dan keponakannya)". gadis
"bibi gladismu benar, sekarang malam sudah semakin larut sayang, tidurlah!. bukannya esok hari kita akan pulang kerumah jadi Caca harus bangun pagi-pagi kalau tidak mau Daddy tinggal disini...(dengan senyuman candanya)". Satria
"ok. siap. cup...(satu kecupan sayang Caca labuhkan dipipi sang Daddy).
Caca tidur duluan... (dengan mudahnya Caca menurut dan segera turun dari ranjang Daddynya dan berjalan dimana tempat tidurnya yang sudah disiapkan, dengan lucu khas anak-anak Caca dengan segera menarik selimut tebalnya)
selamat malam dadd, selamat malam bi". Caca
"selamat malam sayang (keduanya)".gladis dan Satria
"mas, kenapa mas Satria masih terjaga? (gladis yang baru selesai dengan panggilan diteleponnya mendekat kearah ranjang sang kakak semata wayangnya)".gladis
"aku sangat menyesalinya gladis.... aku telah menyakiti orang yang paling aku cintai... aku gagal gladis...aku gagal...!.
kenapa aku sebodoh ini... bodoh... bodoh...bodoh...(Satria akhirnya menunjukkan sisi lemahnya kepada adik semata wayangnya, baginya sangat menyebalkan dan sangat menyakitkan dirinya sadar dalam keadaan yang sudah hancur tanpa sisa)". Satria
"mas.....aku mohon kepadamu untuk bersabar (tercekat bibirnyapun keluh untuk mengomentari kehancuran yang diderita kakak tersayngnya)". gladis
baginya (Satria) hancur sudah harapan-harapan indah hidup bersama sang istri tercinta, satu-satunya perempuan yang ia cintai.
betapa terburu-buru dirinya, betapa bodohnya ia bahkan ia menyesali segala ucapanya yang sudah terucap dari bibirnya.
pastilah ia sangat menyakiti perasaan perempuan yang begitu sangat ia cintai dengan perlakuan kasar dan ucapan pengakuannya yang akan menikahi Nona perempuan yang kini ia sudah putuskan (mengakhiri hubungan asmaranya), dan satu lagi yang sangat mengganjal di hatinya saat ini juga yaitu tentang keturunan yang ia titipkan di rahim sang kekasih hati, yang kini sudah berhasil dilahirkan perempuan terkasihnya.
"Aydan Allbiru... bergumam". Satria
ya nama itulah yang dirinya persiapkan untuk calon buah hatinya, bukti cinta diantara dirinya dan kekasih hati diwaktu lalu disaat buah hatinya hadir ditengah-tengah kebahagiaan yang disuguhkan. namun sekarang sudah sirna bagaikan ditelan air bah.
__ADS_1
"Rama Wijaya...bergumam". Satria
tangannya mengepal kuat di saat menyebutkan satu nama yang merubah segalanya. merampas cintanya dan membuat dirinya terperangkap dalam penderitaan hati untuk menyesalinya.
"mas, (gladis mengelus pundak rapuh itu).... percayalah kebaikkan akan berpihak kepada orang-orang yang bisa menerima dengan ketentuannya (sang pencipta) aku yakin dengan hal itu... pasti ada hikmah disetiap peristiwa, bersabarlah suatu saat mba Rumi pasti bisa memaafkan mas Satria". gladis
"jikapun suatu saat nanti Rumi dapat memaafkan diriku, apakah Rumi juga akan kembali kepadaku gladis...(dengan tatapan rapuhnya mencari jawaban)". Satria
"mas...(lidahnya benar-benar tercekat dengan pertanyaan sederhana namun mengandung arti yang sulit itu sejatinya dirinyapun Sampai sekarang belum betul cukup berpengalaman dengan yang namanya Cinta)". gladis
melihat gladis tidak bisa menjawab pertanyaannya Satria hanya bisa menghembuskan nafas nestapanya dengan sejenak memejamkan netranya.
rasanya begitu perih berdenyut didada.
betapa hancurnya diri dan hidupnya.
_skip_
🌾 Di belahan Bumi yang berbeda 🌾
"hemmmmmm.....(Rumi memegangi dadanya yang terasa begitu berdenyut dan tiba-tiba terasa sesak, dengan tiba-tiba ingatannya tertuju kepada seseorang yang jauh disana)... mas Satria... bergumam". Rumi
"nyonya, apa nyonya baik-baik saja (dari arah belakang sang penjaga yang akhir-akhir ini terlihat perduli kepada kegiatan sang majikan)".sang penjaga
melihat Rumi terdiam dengan salah satu tangan yang bertumpu disebuah kursi disebuah taman ,sang penjaga yang sedari tadi memperhatikan gerakkan dari sang nyonya berniat membantu dan mencari kesempatan untuk mendekati.
"emmm ...terima kasih penjaga aku tidak apa-apa (Rumi bersegera membuang jauh-jauh seseorang yang sempat menguasai ingatannya dengan memperbaiki posisinya yang terlihat tidak begitu nyaman)". Rumi
"penjaga tidak tau diri, apa yang kau ingin lakukan kepada istriku...hahhhh.(nampak Rama tengah melangkah dan beberapa penjaga mengekor di belakangnya berjalan kearah mereka dengan tatapan marahnya disaat sang penjaga mendekatinya tanpa menyentuhnya hanya sekedar bertanya)". Rama
"mas... aku tidak apa-apa, penjaga ini hanya bertanya kepadaku (Rumi mencoba menghadang dengan ucapanya)". Rumi
saling berhadapan.
"berlututlah (dengan perintah tidak terbantahkan)". Rama
"saya tuan (menurut)". penjaga
"kau tau apa kesalahanmu?". Rama
"ampuni saya tuan, yang sudah terlalu lancang (dengan kedua lutut yang ia tumpukan ditanah, ia baru tersadar dengan siapa ia bersaing. ya tuan Rama bukanlah tandingannya dirinya bukanlah apa-apa dibandingkan tuan Rama yang memiliki segalanya. mimpi apa ia bisa memiliki persamaan menyukai majikannya sendiri berani-beraninya dirinya mengusik singa yang sedang tertidur. tamatlah riwayatnya)". penjaga
tangan Rama merogoh sesuatu didalam saku celananya dan nampak mengambil benda pipih yang tidak lah asing lagi, dan menekan layar dibenda pipih itu dan menunjukkan sebuah rekaman kepada sang istri tercinta.
__ADS_1
"sayang lihatlah (Rama sedikit menarik Rumi agar lebih mendekat dengannya dan memperlihatkan gerakkan sang penjaga yang diam-diam memperhatikannya)". Rama
"a..apa.. kau (Rumi membekap bibirnya)". Rumi