
"hiks... kenapa aku selalu dihadapkan dengan sebuah keputusan tanpa sebuah pilihan....mas kau tega mas...kau jahat...aku sudah salah telah mempercayaimu, janjimu hanyalah sebuah kebohongan. kenapa....kenapa... kau tega...kau sungguh begitu tega mas...". Rumi
Rumi menangis dengan lutut beralas lantai, sungguh hancur harapannya, hanya rasa benar-benar hancur yang kini ia rasakan. hati yang sudah pernah hancur dulu kini ia berani berusaha untuk menatanya kembali dan disaat ia menemukan keyakinan kembali untuk membuka hatinya lagi untuk mencintai, namun lagi-lagi hanya luka yang ia dapati, perlahan Rumi membuka sebuah kotak dimana ia menyimpan semua kenangannya bersama Satria ya walaupun hanya beberapa bulan saja Rumi menjadi kekasih Satria pertemuan dengan cara yang baik serta sebuah getaran yang sama membuat keduanya begitu yakin akan bisa bersatu namun nyatanya kini Rumi akan dinikahi orang lain dan Satriapun malah pergi tanpa kabar.
" mas Satria ,sebenarnya kau sedang dimana? kenapa kau begitu tega meninggalkan diriku sendiri dalam keterpurukanku.mana janjimu yang pernah dulu kau ucapkan mas... bukannya kau telah berjanji akan menikahiku? dan kau selalu bilang kepadaku bahwa kita putus untuk sementara.( Rumi meringkuk dengan tangisan pilunya ia menatap sebuah foto yang tengah tersenyum hangat seakan tersenyum padanya)". Rumi
"mas...apa kau lihat gaun itu? gaun itu akan aku kenakan besok, aku akan menikahi tuan Romi Wijaya. kau akan menyesal meninggalkan aku dengan cara yang seperti mas......hiks..(Rumi menangis tersedu-sedu)....cukup...mas... jangan berikan aku senyuman palsumu itu lagi mas...itu sungguh menyakitiku (Rumi mengajak bicara sebuah foto yang menampilkan senyuman hangatnya yang tiada padam, ya foto itu adalah foto dari pemilik seorang pria yang sangat Rumi cintai *Satria* seakan foto itu adalah lawan bicaranya. ya Rumi sangat sedih dan merasa tidak berdaya ingin rasa mengadu namun semakin rasa sakit yang ia dapat setelah ia mengetahui bahwa kekasih hati sudah benar pergi meninggalkannya dan menyerah untuk memperjuangkannya) kau akan menyesal mas...kau akan menyesal mas...ketika kau menyaksikan aku sudah menjadi milik orang lain ingat itu mas ...kau akan menyesalinya (dengan nada putus asa dalam kehancuran harapannya)". Rumi
sebuah gaun putih ala khas gaun pengantin dengan mewahnya tengah tergantung indah disebuah patung. ya gaun itu baru saja Romi kirimkan untuknya, gaun itu adalah gaun untuk acara pernikahan dirinya dengan Romi Wijaya, mantan iparnya sendiri yang akan dilaksanakan esok hari.
# flash back #
"kak...ibu sudah tidur Rumi pamit dulu, Rumi takut Raka sudah menunggu di rumah (ya karena Raka tengah pergi bersama Ardi sedangkan Rumi berkunjung kerumah ibu Rosa yang kini lebih sering sakit-sakitan ya kesehatannya terus menurunkan semenjak kejadian di acara ulang tahun Raka, Rumi melirik kearah Dimana tasnya berada dan mulai meraihnya)". Rumi
"tunggu Rumi, aku sudah mengetahui semuanya... maafkan aku yang selama ini terlalu mengharapkan mu dan tanpa sengaja selalu menganggumu (Rumi yang akan meraih tas ia urungkan niatnya untuk segera pergi dari rumah ibu Rosa)". Dimas
"kak...(Rumi perlahan mendekat kearah dimana Dimas berdiri) tidak kak...tidak seperti itu, kau terlalu berharga untukku , kau lebih pantas mendapatkan wanita yang lebih jauh dibandingkan diriku. kau terlalu baik kak dan aku tidaklah sama denganmu. aku terlalu menyedihkan dengan segala masa laluku. aku lebih rela jika kak Dimas tetap menjadi kakak tersayangku. (dengan senyuman simpulnya)". Rumi
"baiklah, jikalau memang harusnya seperti itu aku bahagia asalkan kau bahagia (membalaskan senyuman dari Rumi) bagaimana....(ucapan Dimas terpotong oleh sebuah suara yang berasal dari tas milik Rumi)". Dimas
drttttt...drtttt...sebuah suara panggilan.
__ADS_1
"angkatlah....(ya sedari tadi Dimas memanglah mendengar beberapa kali suara panggilan yang berasal dari dalam tas milik Rumi)". Dimas
Dimas melirik dan menyuruh Rumi untuk mengangkat panggilan itu.
"eem...(Rumi mengiyakan)". Rumi
"mas Romi... membatin". Rumi
setelah ia melihat sebuah nama yang dalam waktu dekat ini terus menempel pada hidupnya. dan mengangkatnya .
📲 *" kau dimana sayang, kenapa kau tidak ada dirumah (terdengar suara risau diseberang sana)".* Romi
baru saja Rumi mengangkat panggilan itu dan langsung disambar sambutan
📲 *" aku akan kesana (terdengar suara antusias dari sebarang sana)".*Romi
📲 *" tunggu tidak usah mas, aku akan segera pulang ".* Rumi
ya Rumi yakin jikalau Romi akan membuat onar jika sampai bertemu dengan Dimas
📲 *" kenapa aku tidak boleh kesana,hei apa kau tengah berselingkuh dengan kakak angkatmu itu (terdengar suara sensitif dari pihak Romi)".* Romi
__ADS_1
📲 *" tidak, tidak seperti itu mas, aku hanya tidak mau kau repot-repot datang kesini. tunggulah aku akan segera pulang. (tuttttt..tuttt Rumi mengakhirinya obrolannya)".*Rumi
📲 *" aku...tuttt.tutt...hemm...(Romi melepaskan selluler dari pendengarannya)". Romi
"untung saja aku mencintaimu, (dengan raut sedikit kesalnya)". Romi
"siapa?....(Dimas yang sejak tadi penasaran dalam diamnya)". Dimas
"mas Romi kak, (nampak Rumi lesu dan duduk disebuah sofa ruang keluarga) andaikan aku bisa menemukan sebuah bukit yang memperkuat bahwa Romi bukanlah ayah dari anakku kak...". Rumi
"Hem...(Dimas menyimak)". Dimas
"aku dulu terlalu sakit hingga aku tidak tau akan mengalami hal seperti ini, aku harap dengan aku meninggalkan dan melupakan segala tentangnya itu akan membuat semuanya mudah. namun alangkah liciknya mas Romi menggunakan cara ini untuk mendapatkan kepercayaan Raka...(nampak Rumi memijat pelipisnya dengan jemari-jemari lentiknya)oh ya kak Dimas, kakak mau menanyakan hal apa tadi? ( Rumi baru teringat dengan obrolan yang sempat terputus tadi)". Rumi
"maafkan aku Rumi...aku tidak bisa membantumu untuk membuktikan semua ke salah pahaman ini. emmm...kalau Romi sekarang Romi menguasai mu bagaimana dengan Satria?". Dimas
"Hem...kami putus kak, tapi ini semuanya hanya untuk sementara (ada raut kecewa diucapkannya)". Rumi
"kasihan sekali Rumi, Hem... kenapa dia selalu dihadapkan dengan keadaan seperti ini (Dimas memang seakan tidak rela bila Rumi memilih laki-laki lain bersamanya...namun dengan rasa sayang yang tulus Dimas lebih rela melihat Rumi bahagia meskipun tidak bersama dengannya)... membatin". Dimas
"yang sabar sayang...emmm...maaf...(karena rasa sayang yang begitu tinggi membuat Dimas selalu ingin lebih terhadap Rumi) maksudku bersabarlah Allah tidak akan menguji hambanya di luar kemampuannya...aku yakin kau pasti bisa menghadapi ini semua, yakinlah. aku dan semuanya akan berusaha lebih keras lagi mengumpulkannya bukti-buktinya (Dengan memberikan senyuman semangatnya)". Dimas
__ADS_1
"deggg....senyuman itu, adalah senyuman disaat-saat aku sangat sedih akan kehilangan kak Ardi diwaktu dulu, disaat itu kak dimaslah yang mati-matian untuk membujukku supaya bangkit ... membatin(disaat Romi memberitahukan bahwa Ardi telah menjadi korban pembunuhan sebuah perompak di kapal pesiar diwaktu silam dulu)". Rumi