
_Skip_
"Kakak....(berteriak) kakak...kenapa perasaan Rumi menjadi tidak enak seperti ini... bergumam.
Ibu....(Rumi melihat jam 3 sore didinding kamarnya ia segera mencuci wajahnya ia bangun dari tidur siangnya mencari ibu Rosa seperti biasanya ibu Rosa akan berkutat didapur sebagai chef-nya) ibu....(diambang pintu)". Rumi
"Ada apa sayang ibu disini (ibu Rosa menoleh sambil mengaduk-aduk masakan yang sedang dimasaknya)". ibu Rosa
"Rumi kefikiran kak Ardi bu, Rumi takut terjadi apa-apa dengan kak Ardi tadi Rumi mimpi buruk (dengan manjanya)". Rumi
"Huffft...mba ambil alih masakannya, ini sudah matang 5 menit lagi sudah harus ditiriskan ya ". Ibu Rosa
Ha ibu Rosa memiliki 3 seorang karyawan 2 perempuan sebagai membantu pekerjaannya didapur dan sebagai pelayan dan 1 sebagai yang belanja di pasar (Maman). sedangkan Rumi dan Ardi sebagai pembantu kecil terkadang ikut membantu terkadang tidak karena mereka memfokuskan dengan kegiatan di sekolahnya.
Rumah makan ibu Rosa tidak jauh dari rumahnya, itu menjadikan ia (ibu Rosa) tidak repot untuk bolak-balik antara rumah dan rumah makannya.
* Diruang tamu *
"Coba sini cerita, ibu mau dengar tadi Rumi mimpi apa? (dengan sikap keibuannya)". Ibu Rosa
"Hiks....(menangis) tadi Rumi mimpi kak Ardi pergi ,perginya jauh dan kak Ardi minta tolong ke Rumi tapi Rumi tidak bisa menolongnya, kak Ardi ingin menggapai tangan Rumi tapi tangan Rumi terlihat kecil dan lemah...jadi kak Ardi tidak bisa menggapai tangan Rumi hiks...(isakkan)". Rumi
"Sudah...sudah jangan menangis lagi nanti anak ibu cantiknya hilang, itu hanya mimpi sayang mimpi itu hanyalah bunga tidur. (menenangkan dan memberikan pengertian)". Ibu Rosa
"Eem...baiklah Rumi anggap itu sebagai bunga tidur tapi Rumi ingin sekali sekarang mendengar suara kak Ardi?". Rumi
"Hem...kak Ardikan sedang menghadiri acara di sekolahnya (acara yang mengharuskan Ardi pergi keluar kota bersama beberapa teman berprestasinya dan beberapa perwakilan gurunya)". Ibu Rosa
"Tapi Rumi sangat kangen dengan kak Ardi bu (dengan sorot yang memelas)". Rumi
"Baiklah ibu akan menelpon salah satu guru kak Adri yang ikut serta dalam acara ini ya kamu tenang dulu ". Ibu Rosa
Drtttt......drttttt...,suara panggilan masuk.
📲 *"Kita sudah dijalan bu, kita akan membicarakannya nanti".* Salah satu guru Ardi
📲 *"Baiklah pak ,kita akan menunggu disekolah jam 4 sore nanti (tutttt...panggilan ditutup)".* Ibu Rosa
__ADS_1
_Skip_
Terlihat satu bis sekolah yang baru memarkirkan mobilnya. satu persatu penumpang di dalam bis nampak turun namun ibu Rosa dan Arumi tidak melihat sosok anak laki-laki yang ia tunggu kedatangannya sejak 30 menit lalu.
Tap..tap ...nampak bapak guru yang bertanggung jawab atas diadakannya acara ini berjalan menghampiri ibu Rosa dan Arumi.
"Ayo bu masuk dulu keruang tamu (tersenyum sopan)". Bapak guru selaku panitia
"Ada apa ini pak, kenapa nak Ardi tidak terlihat dimana sebenarnya anak saya? (nampak khawatir dan resah)". Ibu Rosa
"Kak Ardi....(Rumi menggenggam erat tangan sang ibu sangat nampak ketakutan diwajah manisnya)". Rumi
Mereka Arumi, ibu Rosa dan beberapa bapak/ibu guru yang menjadi penanggung jawab duduk saling bertatapan muka.
"Maafkan kami bu, nak Ardi dibawa oleh tuan Romi. tuan Romi membawanya untuk masa depan nak Ardi. tuan Romi sungguh baik hati ia akan membiayai segala kebutuhan nak Ardi dan menjunjung tinggi nak Ardi. ibu taukan mengenai desas-desus tentang keluarga Wijaya? keluarga Wijaya melahirkan dua seorang tuan muda yang sangat pintar dan .....(kata-kata itu terpotong) maafkan kami ini diluar kemampuan kami (dengan menundukkan pandangan terlihat sekali senyum yang dibuat-buat dan ada nada penyesalan di rautnya)". Bapak guru sebagai panitia
"Tidak......hiks....(tangis Rumi pecah Rumi masih ingat dengan tatapan elang sang tuan Romi, ini sangat menghancurkan perasaannya)". Rumi
"Kenapa ini bisa terjadi, kemana tanggung kalian sebagi panitia ? seharusnya kalian tidak mengizinkan tuan Romi membawanya , apapun alasannya seharusnya kalian bisa menahannya hiks....(ibu Rosapun ikut meradang dengan tangisan kekhawatiran)". Ibu Rosa
"Maafkan kami...kami tidak ada kekuatan untuk menentangnya ". Para penanggung jawab
_Skip_
* Di kediaman ibu Rosa *
"Apa?...(Dimas yang baru pulang dari tempatnya berkuliah/luar kota sangat kaget dengan berita yang di tuturkan oleh sang ibu tercinta)". Dimas
"Tenanglah dulu dar (sisi nampak simpati dengan keadaan ini dan mencoba menenangkan sang kekasih dengan memegang lengan dan mengelus-elus pelan)". Sisi
"Itu benar sayang, ibu tidak tau harus berbuat apa. ibu sangat khawatir dengan keadaan Rumi sudah seminggu dia menangis terus tidak mau sekolah dan untuk makanpun susah, ibu takut Rumi sakit". Ibu Rosa
"Baiklah aku akan mencoba untuk membujuknya supaya Rumi tidak terlalu kalut dengan kejadian ini, ini memang berat baginya namun menangisinya sampai matipun itu tidak akan membawa perubahan apa-apa baginya". Dimas
Tok...tok..tok... suara pintu diketuk dari luar.
"Bukalah Rumi ini kak Dimas". Dimas
__ADS_1
"Rumi ingin sendiri kak (terdengar begitu pilu)". Rumi
"Ini tidak baik... membatin.
Kak Dimas ingin bicara sesuatu denganmu, Rumi taukan kak Dimas tidak bisa tiap hari ada dirumah". Dimas
"Maafkan Rumi kak, Rumi ingin sendiri dulu". Rumi
"Huffft ...(terdengar helaan nafas lelah) bukalah Rumi, jangan seperti ini apa kau tidak kasihan kepada ibu..ibu sangat mengkhawatiranmu, hingga pusing ibu kambuh lagi". Dimas
Beberapa saat kemudian.
Cklekkk....suara pintu dibuka terlihat sangat kacau penampilan Rumi yang tidak mandi selama beberapa hari dan makanpun ibu Rosa hanya menaruhnya didepan pintu. dengan mengendap-endap Rumi kecil akan membawa masuk sepiring nasi beserta pelengkapnya.
Rumi berdiri dengan kelopak mata yang dilengkari warna menghitam dan rambut panjangnya ia biarkan tergerai tidak karuan.
"Hiks....kak Dimas aku sangat merindukan kak Ardi maukah kak Dimas mencarikan kak ardi untukku? (dengan tatapan setengah memohon nya)". Rumi
"Kemarilah....(tangan Dimas meraih tubuh kecil Rumi masuk kedalam dekapannya guna untuk sedikit mengurangi bebannya dengan begitu Rumi akan merasa mungkin lebih baik kerena masih ada seseorang yang betul menyayanginya selain kak Ardinya)". Dimas
Suasana haru tercipta, perlahan ibu Rosa dan sisipun ikut menenangkan Rumi bahwa dia tidaklah sendiri.
_Skip_
"Aku akan menemuinya bu". Dimas
"Jangan nak ibu tidak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu,tuan Romi bukanlah orang yang mau menerima dengan apa yang ia tidak kehendaki ". Ibu Rosa
"Aku hanya ingin memastikan keadaan Ardi baik-baik saja. aku sudah berjanji kepada Rumi untuk mencarinya bu". Dimas
"Tapi nak ,ibu...(kata-kata ibu Rosa terpotong)". Ibu Rosa
"Aku juga janji kepada ibu aku akan baik-baik saja,aku tidak akan melakukan hal yang merugikan diriku bu". Dimas
"Tapi tuan Romi itu sangat berkuasa dan licik...ibu takut dengan keselamatanmu nak". Ibu Rosa
"Ini demi Rumi bu, apa ibu mau melihat terus-terusan Rumi kesakitan seperti itu?". Dimas
__ADS_1
"Huffft..baiklah nak, ibu akan mendukungmu (dengan sejuta pertimbangan akhirnya ibu Rosa menyetujuinya)". Ibu Rosa
Sedangkan sisi hanya setia mendengarkan tanpa mau berkomentar. ia tau sendiri bagaimana sifat dari sang kekasih kalau ada keinginan dan sisi tau bagaimana tentang desas-desus yang beredar tentang kekuasaan tuan Romi ia hanya memasrahkan keadaan ini dengan ikut mendoakan dengan hal yang terbaik.