
🌾 Apartemen milik Ardi 🌾
"hiks...Caca mohon om temukan Daddy Satria, (dengan mata penuh memohon kepada Adam dan sosok yang kini hanya berdiam diri di apartemennya)". Caca
"baiklah, tenanglah om akan mengeceknya terlebih dahulu (ya om Ardi akan mengeceknya di komputer kesayanganya, nampak Ardi mulai melihat dari kamera pengawas yang ia pasang di kopi shopnya yang memperlihatkan keadaan didalam ruangan dan disekitar area kopi shop nya, bagi Ardi Caca adalah pengganti Raka meskipun Raka tidak akan bisa tergantikan dari posisinya)". Ardi
"bagaimana om, (nampak Caca sudah tidak sabar dengan hasilnya ya karena selama hampir setahun ini Caca benar-benar ditinggalkan orang-orang yang paling ia sayangi)". Caca
"Adam....(Ardi melirik kearah Adam)". Ardi
"ekhm Caca , om minta tolong kepada Caca apa Caca bisa mengambilkan air mineral yang ada di kulkas om Ardimu membutuhkannya...(ya Ardi mengetahui kedekatan Caca dengan Adam seperti layaknya seorang keponakan/ bahkan seperti seorang kedekatan ayah dan anaknya)". Adam
"baik om, Caca bisa Caca akan ambilkan buat om Adam dan om Ardi (patuh)". Caca
selepas kepergian Caca Ardi memperlihatkan sosok yang sudah hampir setahun menghilang, jelas Adam dan Ardi disana melihat Satria masuk kedalam sebuah taxi dan alangkah Ardi terkejut disaat Satria masuk taxi itu setelah seorang perempuan yang ia kenali terlebih dahulu masuk kedalam mobil taxi yang sama.
"Nona...bergumam". Ardi
"sebenarnya siapa Nona itu tuan?(Adam nampak penasaran dengan satu nama yang malah disebutkan Ardi)". Adam
"kita masih beruntung Adam, Satria masih milik kita...(dengan wajah semangatnya)". Ardi
sementara itu nampak Adam masih kurang paham dengan raut senang Ardi.
🌾 Di kediaman Satria 🌾
drttt...drtttt....nampak sebuah seluller bergetar dengan nada deringnya.
"huapppps...siapa sih siang bolong menelpon (nampak gladis dengan masker serta mentimun diatas kedua bola mata yang tertutup, mendengar selullernya bergetar dengan nada yang ribut terus-menerus membuat gladis beranjak dan membubarkan mentimun yang ada di matanya itu) om Ardi, tumben dia menghubungiku... sepertinya ada hal yang penting... bergumam.
__ADS_1
hallo, om....a..apa...be.. benarkah...hiks..tunggu aku om, tunggu gladis kesana, ok gladis akan menghubungi dosen Dimas (nadanya bercampur aduk,rasa senang serta rasa terharunya menjadi satu ini adalah kabar terbahagia disepanjang perjalanan hidupnya, rasanya doa-doanya telah didengar sang pencipta.
dengan semangat ia segera menghubungi bapak dosennya yang selama ini tidak bosan untuk membantunya)". gladis
_skip_
sementara itu di.
🌾 Dikediaman Rama Wijaya 🌾
"sayang kenapa kau ada disini...(Rama yang baru pulang dari kantornya ini memang siang hari namun rasa rindu kepada sang istri dan takut istrinya akan kabur jika ia terlalu lama meninggalkan sang istri membuat jiwanya selalu terpanggil untuk menatapnya Secara langsung. melihat sang istri tercintanya tengah melamun di dekat kolam ikan dengan sebuah buku-buku yang Rumi biarkan terbuka namun dirinya dengan pandangan kosongnya)". Rama
"Hem, mas... kau sudah pulang? (ini bukan yang pertama kalinya bagi Rumi mendapati sang suami pulang bukan di jam kantornya, dan Secara tiba-tiba seperti ini.
meskipun segalanya Rama persembahkan untuk Rumi segala suatu macamnya pekerjaan dan tanggung jawab rumah Rama serahkan kepada para pelayan dan asistennya. ya Rumi hanya kebagian tugas memberi asi kepada jago'anya, dan melayani suaminya melayani disini hanya Rama yang tau ya... Namum bagi Rumi hari-harinya terasa begitu hampa ya Rama melarang keras teruntuk Rumi dan anaknya keluar dari lingkungan rumah mewah itu yang bagi Rumi bagaikan sebuah penjara)". Rumi
"apakah jagoan kita tengah tertidur Hem.......(dengan satu tangannya meraih dagu Rumi namun Rumi mengalihkan pandangannya, ya Rumi takut Rama akan menagih hal intim dengannya ya karena selama beberapa bulan Rama tengah menunggunya)". Rama
"Aydan...,Hem...ia mas (dengan menurunkan tangan Rama yang berada di dagunya) mas... bisakah kau untuk duluan, aku akan mengembalikan buku-buku ini terlebih dahulu...(berusaha menghindar)". Rumi
Rama tersenyum melihat reaksi yang selalu istrinya tunjukkan ini bukan pertama atau kedua kalinya sang istri selalu menghindarinya berusaha terus untuk mempertahankan keyakinannya, namun dengan masih mode sama bertahan dan mencoba mengalah Rama lakukan sebisa mungkin mengingat sang istri yang berjuang menggadaikan nyawanya untuk kelahiran anak tercintanya Aydan.
"baiklah aku duluan, tapi ingat jangan lama-lama, aku menunggumu untuk melayaniku (dan berbisik tepat didaun telinga milik Rumi) malam ini aku menagih jatahku, bukanya kau sudah usai dengan masa n..-fasmu.
(dan kembali menegakkan tubuhnya menatap tepat manik sang istri) tidak mungkin seorang suami yang beristri sepulang kerja dianggurkan dengan begitu saja...(nadanya menggoda)". Rama
Rumi memejamkan matanya sejenak ini adalah hal yang biasa Rama ucapkan teruntuk dirinya.
"baiklah mas.....(akhirnya Rumi menyetujuinya juga setelah bayangkan bagus melintas di benaknya)". Rumi
__ADS_1
* malam *
seperti permintaan Rama tadi siang ia ingin menagih jatahnya malam ini.
dengan berusaha tetap tenang Rumi yang hanya menggunakan gaun malam minimnya (ya semua itu semata permintaan tuan berkuasa) perlahan keluar dari ruang ganti dan disana ia sudah melihat Rama yang berdiri tegap dengan tatapan kelaparannya menatap lurus kearahnya.
Rama menyambut akan kedatangan Rumi dan meraih jemari-jemarinya dan saling menautkan.
"apa kau sudah siap sayang, jujur aku sangat senang kau bersedia dengan cara seperti ini...! (ya sebelum Aydan lahir Rama dan Rumi memang sering melakukanya namun semua itu atas permintaan Rama yang ia lakukan tanpa seizin dari Rumi dan setengah memaksa kepadanya)". Rama
"aku...aku siap mas.
maafkan aku mas Satria, aku berdosa kepadamu...aku yakin kau masih bernafas disana...aku yakin kau masih hidup... membatin". Rumi
mendengar ucapan Rumi bibir Rama mengembang menampilkan sosok Rama yang dulu yang pernah menyayanginya dengan tulus dan cara yang baik. disaat itu Rumi masih mengandung Rama kecil dan disaat itu Rama baru akan melakukan sebuah operasi dengan tampilam wajah monsternya.
Rumi dan Rama saling menatap entah getaran apa yang ada , hingga Rumi menurut dengan Rama yang menuntun langkahnya kearah ranjang yang selalu mereka hangatkan berdua.
disisi ranjang Rama menanggalkan habis gaun malam yang Rumi kenakan dengan cara yang pelan dan perlahan hingga membuat Rumi me..-sah disaat Rama menyentuh bagian-bagian sensitifnya.
Rama meraih dagu Rumi dan mendaratkan bibirnya tepat dibibir milik Rumi, mengecup beberapa kali singkat dan beberapa menit mengecupnya dalam-dalam.
Rama mengulangi kecupan-kecupan singkatnya disaat ia berhasil merebahkan tubuh polos yang sudah pasrah itu.
perlahan Rama menanggalkan pakaiannya sendiri tanpa sisa.
Rama ikut menyusul Rumi yang sudah tertidur dengan posisi pasrahnya.
Rama merangkak naik mulai menguasainya, menjalankan tugasnya mereka melakukanya di malam itu dengan rasa yang mungkin sedikit sama rasa yang pernah mereka rasakan disaat waktu yang mereka lalui ketika mereka belum sama-sama merasakan hampa.
__ADS_1