
"Jadi seperti itu kejadiannya (ibu Rosa memotong berbagai jenis olahan lauk-pauk untuk ia jual di rumah makannya beserta beberapa karyawannya dan Rumi ikut serta dalam membantu)". Ibu Rosa
"Hiks....aku sangat rindu ibu...(tanpa terasa air mata Rumi meluncur dengan begitu saja hingga mengundang iba bagi pendengarnya)". Rumi
"Sudah sayang ada ibu Rosa disini, kamu lihatlah mereka mereka juga hidup mandiri .
Nak Rumi ibu sudah menganggap kalian sebagai anak ibu, bagaimana? apa kau mau menjadi anak ibu? (dengan senyum khasnya)". Ibu Rosa
"Terima kasih bu, kami sangat berterima kasih ibu adalah seorang perempuan baik hati sampai berfikiran untuk menjadikan kami anak ibu. tapi bu, itu terlalu besar untuk kami (muncul Ardi dari pintu luar dapur)". Ardi
"Tidak apa-apa nak, ibu seorang janda beranak satu. ibu masih sangat kesepian karena anak ibu kuliah diluar kota. dan akan pulang sebulan sekali. ibu tidak akan keberatan dengan adanya kalian ibu malah terasa senang serasa mempunyai teman (senyum ketulusan)". Ibu Rosa
"Baiklah, tapi aku minta persetujuan dari anak ibu. kita hanya tidak mau sampai ada salah faham bu (memberi pengertian)". Ardi
"Hem....baiklah ,kalian adalah anak-anak yang baik". Ibu Rosa
* 1 Bulan Kemudian *
Drnnnnnn.....dctttt.... suara sebuah sepeda motor berhenti dihalaman rumah ibu Rosa nampak seorang laki-laki remaja turun dari motor yang dikendarainya.
Seperti biasa seseorang itu akan membuat kejutan akan kedatangannya. namun sang ibu sudah hafal benar dengan kedatangan putra semata wayangnya
jadi insting seorang ibu itu sangat kuat.
"Hem...(tersenyum sesuatu)...". Dimas
Langkahnya menelusuri samping rumahnya yang menuju kearah dapur.
"Aku pulang....(netra Dimas kaget menemukan sosok yang asing didapurnya gadis kecil dengan mata bulatnya sedang berkutat dengan peralatan dapur yang seperti seorang chef handal seperti ibunya) mba...siapa gadis kecil ini (perlahan Dimas melangkahkan kakinya untuk semakin mendekat dan menunjuk kearah Rumi)". Dimas
"Kak Dimas (kaget) o..dia ,dia namanya Rumi kak ...selebihnya kak Dimas tanya saja langsung kepada ibu kakak (tersenyum simpul)". Karyawan
"Hei...kamu (menunjuk) hati-hati jangan main api...(ada kekhawatiran di nada bicaranya)". Dimas
"Eem...(mengangguk sopan) Rumi sudah biasa kak ,tidak apa-apa Rumi akan berhati-hati (tersenyum sopan)". Rumi
"Deggggg..... senyuman itu perasaan apa ini, hei... Dimas lihatlah dia adalah gadis kecil mana ada bisa buat jantungmu berdetak kencang tidak karuan, sadar kau sudah ada sisi ... membatin.
Baiklah aku akan keluar... bergumam (mengetok kepalanya sendiri sambil berlalu keluar)". Dimas
Para karyawan geleng-geleng melihat tingkah aneh anak dari majikkannya.
__ADS_1
Sedangkan Rumi hanya tersenyum sopan kepada mereka dengan kejadian yang berlangsung tadi.
"Mba kakak yang tadi siapa?". Rumi
"Namanya kak Dimas, dia adalah anak semata wayang ibu Rosa". Karyawan
"Hem... seperti itu ya (mengangguk tanda paham)". Rumi
Sementara itu.
"Hem...rupanya ibu ada disini (Dimas ikut duduk mensejajarkan duduknya dengan sang ibu tersayangnya)". Dimas
"Kau pulang nak (meraih tangan sang anak dan mengelusnya) apa kau sudah bertemu dengan Rumi?". Ibu Rosa
"Kenapa ibu bisa tau? jangan-jangan ibu punya magic ya...(tersenyum jahil) hem... sebenarnya siapa itu Rumi bu kenapa ibu pekerjaan gadis kecil itukan melanggar peraturan bu?". Dimas
"Haha...(terkekeh) anak ibu sudah pintar rupanya...ibu tidak memperkerjakan dia nak, ibu hanya kasian dengan Rumi ,ia terlihat selalu sedih akan masa yang dilaluinya sangat sulit dan menyedihkan jadi ibu membantunya sedikit melupakan kesedihan dengan menyibukkan dia membantu ibu memasak didapur. ekhm... apakah boleh ibu mengadopsinya menjadi anak ibu, menjadi saudaramu ibu sangat menyukai anak itu ? (dengan mata yang berbinar)". Ibu Rosa
"Em....(nampak berfikir) apa benar dia sudah tidak memiliki orang tua? Dimas hanya takut suatu hari nanti orang tuanya akan mencari dan menganggap ibu sebagai pelaku penculikan !!!". Dimas
"Haha...(terkekeh) Rumi dan Ardi tidak mungkin berbohong nak, mereka adalah anak-anak yang baik!!!". Ibu Rosa
"Ardi adalah kakak kandung dari nak Rumi, mereka kehilangan orang tua mereka sejak nak Rumi berumur 5 tahun dan nak Ardi berumur 10 tahun dan mereka 5 tahun lalu sempat tinggal di panti...(tidak usah disebut ya) mereka kabur dari tangan tuan Romi". Ibu Rosa
"Tuan Romi? tuan Romi yang tinggal di kota (tidak usah disebut ya) bukannya itu tuan Romi yang berkuasa di negeri ini bu? (membenarkan posisi duduknya antusias)". Dimas
"Hem...mau tuan Romi yang berkuasa ataupun tidak apa salahnya kita membantu mereka (Rumi dan Ardi) mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang figur orang tua (memberi pengertian)". Ibu Rosa
"Hem...baiklah aku sangat lelah aku ingin segera tidur, untuk masalah mereka aku pikir-pikir dulu cup...(sebuah kecupan singkat Dimas labuhkan dipipi sang ibu) aku mau istirahat dulu (tanpa menunggu jawaban ia melangkahkan kakinya kearah kamarnya)". Dimas
"Hem... (geleng-geleng) anakku sudah besar (tersenyum senang)". Ibu Rosa
malam pun datang. Ardi yang bertugas membantu belanja di pasar sayur bersama bapak Maman telah datang bersama barang belanjanya.
"Kak ardi...(nampak Rumi berlarian untuk menghampiri kakaknya) sini aku bantu kak". Rumi
"jangan sayang biarkan kak Ardi saja ini berat sayang (sambil memindahkan barang-barang bawaannya satu persatuan dari mobil ke dapur)". Ardi
Ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi diantara kakak beradik itu, sepasang mata itu adalah Dimas yang sejak tadi memperhatikan si gadis kecil dengan mata bulatnya.
"Biarkan aku saja yang membantu kau (nampak Dimas menghampiri keduanya /kakak beradik itu dan mengambil sayuran yang ada ditangan Rumi. sejenak Rumi termenung dan perlahan menyingkir mempersilahkan barang bawaan yang sempat ia pegang ia serahkan kepada Dimas)". Dimas
__ADS_1
"Eh...kak Dimas". Rumi
"Kau masuklah saja bantu ibu untuk menyiapkan makan malam (menunjuk menggunakan dagunya karena posisinya ia membawa barang )". Dimas
"Eem...terima kasih kak (Rumi meninggalkan tempat itu dengan senyuman kecilnya)". Rumi
Sementara itu Dimas diam-diam memperhatikan langkah kaki Rumi yang perlahan pergi meninggalkannya.
_Skip_
Disinilah ibu Rosa ,Dimas ,Rumi dan Ardi mereka duduk disebuah lingkaran meja makan secara bersamaan hanya sebuah meja sederhana yang memberi jarak diantara mereka.
"Aku menyetujuinya bu, aku akan anggap mereka seperti adikku sendiri (dengan tegas dan penuh keyakinan)". Dimas
"Syukurlah, ibu sangat senang nak (ibu Rosa menghambur memeluk sang anak tersayangnya)". Ibu Rosa
"Ibu...Dimas malu bu, Dimas sekarang buka Dimas yang dulu lagi". Dimas
"Hahahhha....(tawa yang lepas tanpa beban)". Keempat insan dengan perasaan yang hampir sama.
Pecahlah tawa bahagia diantara mereka sekarang mereka menjadi satu keluarga yang utuh saling berbagi cerita dan kisah.
Hari-hari dilalui Ardi dan Rumi dengan penuh keceriaan dan kegembiraan.
kesedihan perlahan hilang dan Rumi sudah bisa menganggap ibu Rosa menjadi pengganti sang mendiang ibu Nana, namun sejatinya didalam lubuk hatinya terdalam seorang sosok mendiang ibunya tidaklah akan bisa tergantikan.
Ardi masuk kelasnya sekolah menengah pertama sedangkan Rumi masuk disekolah dasarnya. dengan akte dan kartu keluarga yang diperbaharui dibuat oleh ibu Rosa dengan bantuan Dimas.
* 1 Tahun Kemudian *
Kini Ardi sudah memasuki sekolah menengah atas sedangkan Rumi baru kelas 6 sekolah dasar. kepintaran Ardi membuatnya mendapatkan berbagai penghargaan di sekolahnya dan menjadi juara umum dan mendapatkan beasiswa kemanapun ia akan mengenyam pendidikan/universitas untuk kejenjang selanjutnya.
pada hari ini ia akan menghadiri sebuah undangan di sekolahnya atas nama pendidikan dan gabungan dari berbagai perusahaan yang mendonasikan sebagian hasilnya ke bidang ilmu pengetahuan. sebagai bentuk kepedulian dan menjunjung tinggi anak-anak berprestasi.
dan alangkah terkejutnya Ardi salah satu orang yang mendonasikan adalah tuan dengan sebutan nama tuan Romi Wijaya.
tuan Romi yang sempat mencarinya tepat satu tahun lalu.
_Skip_
"Apa kabar Ardi Ramadan (dengan senyum menyeringai)". Romi
__ADS_1