
pagi berjumpa kembali.
"mas, apakah boleh hari ini aku meminta izin untuk membeli produk kesehatan?! (dengan penuh hati-hati disaat Rumi memasangkan dasi ke kerah kemeja sang suami)". Rumi
"produk kesehatan? (ada sedikit nada tidak percaya, sejatinya dirinya selalu memberikan apapun yang terbaik untuk sang istrinya hingga tidak ada satupun hal yang ia lewatkan untuk kelangsungan hidup sang istri tercintanya) produk kesehatan yang seperti apa yang kau mau sayang?". Rama
"ya produk kesehatan yang tradisional misalnya! aku bosan mas ,aku kangen dengan aroma obat kesehatan yang alami mas (berusaha membujuk)".". Rumi
"baiklah kau mau obat tradisional seperti apa? aku akan menyuruh kepala asisten untuk mendapatkannya untukmu (merenggangkan tangannya ke kanan dan kekiri disaat sang istri mulai memakaikan jas kerjanya)". Rama
"Hem, bukan seperti itu mas, aku ingin mendapatkannya sendiri...(dengan nada semanja mungkin)". Rumi
"perempuan ini...Hem, aku akui aku tidak kuasa untuk menolak keinginannya namun aku tidak akan kecolongan seperti waktu lalu (disaat Rumi berusaha kabur disalah satu dipusat perbelanjaan terbesar dikotanya beberapa bulan lalu) sebenarnya apa yang tengah ia rencanakan...membatin.
Hem... bagaimana ya? (Rama pura-pura berfikir)". Rama
"ayolah mas, kali ini saja? (dengan memijit-mijit lengan milik suaminya Rumi berasumsi sumainya pasti akan luluh dengan sikapnya yang seperti itu)". Rumi
"baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu tapi setelah kau mengandung Rama kecil yang baru disini (dengan senyum tipisnya mengelus perut sang istri yang sudah rata kembali dengan posisi yang berhadapan dengannya)". Rama
"mas...ih...mas...kau keterlaluan, kau tidak tau saja sakitnya melahirkan seperti apa, jika kau yang menanggung bebanya sih tidak apa-apa (dengan manyun sinisnya)". Rumi
"mana ada laki-laki bisa hamil? (Rama terkekeh dengan ucapannya sendiri)". Rama
"ih..mas kamu selalu semena-mena saja kepadaku, berikan aku sedikit kesempatan..aku(ucapanya terpotong)". Rumi
__ADS_1
"aku akan memberikanmu kesempatan,jika kau menyanggupi permintaanku yang tadi (Rama berlalu dan beberapa langkah menunggu sang istri untuk mengikutinya dan menyusulnya mensejajarkan langkahnya tanpa menoleh) aku tidak mau sarapan sendirian (disaat sang istri sepertinya tengah menggerutu dibelakang sana)". Rama
"tuan Rama yang berkuasa... bergumam". Rumi
Rumi menatap horor ketika Rama membelakanginya namun sesaat berubah dengan wajah manisnya disaat Rama menoleh dan memberikan tangannya /mengulurkan tangannya untuk melangkah bersama keruang makan.
"sayang jagoan daddy...cup....(Rama mengecup hangat putra keduanya disaat Rumi meraih putra kedua-nya dari pengasuhnya) tampannya anak Daddy, lihatlah sayang bayi kita sangat mirip denganku, sangat tampan! (dengan menoel-noel pipi bayi merah yang sudah memiliki perubahan ditubuhnya/semakin bertambah berat badannya)". Rama
"dia memang tampan mas....!!!
setampan Daddynya... bergumam.
(ya Rumi persembahkan untuk Satria seorang, namun Rama mengartikan Daddy Aydan ya adalah dirinya)". Rumi
"kau pintar merayuku hari ini... apakah ini semua karena permintaanmu itu sayang? (Rama memainkan matanya)". Rama
jujur keharmonisan yang tuan dan nyonya-nya tunjukkan membuat hati mereka merasa senang dan lega.
tidak ada teriakkan, tangisan bahkan amukkan.
bagi mereka hadirnya Aydan dirumah megah itu menambah kesan hangat apalagi disaat ketiga insan itu tengah berkumpul rasanya bagaikan di kebanyakan rumah idaman yang rata-rata orang mimpikan.
sebelum Aydan lahir nyonya Rumi terlihat kaku,datar dan sering menangis namun entah setelah kelahiran Aydan nyonya Rumi sedikit berubah menjadi hangat bahkan tidak jarang memperlihatkan senyum dan tawanya. apakah sebenarnya nyonya Rumi adalah sosok yang penuh kehangatan , namun kenapa dulu ia tidak memperlihatkan sisi hangatnya yang seperti sekarang?
dan kemana sang tuan muda Raka , sekarang dimana ia... kenapa tuan besar Rama tidak membawanya serta. (ya karena pada waktu silam tuan besarnya pernah membawa tuan muda Raka dengan raut amarah dan umpatannya, disaat tuan muda Raka menolak mentah-mentah pengakuan dari sang tuan besar Rama).
__ADS_1
apalagi disaat tuan Romi yang sering mengunjungi kediaman tuan besarnya yang terlihat mencari waktu, dan kesempatan untuk mendekati dan mendapatkan hati nyonya Rumi nya.
dan kemanakah sang tuan Romi yang notabene nya adalah saudara kembar dari tuan besarnya sekarang? kenapa setelah kejadian ribut-ribut disaat tuan Romi dan nyonya mereka kepergok tengah berdua dengan cara yang sedikit intim hingga menyebabkan tuan mereka penuh Angkara murka dan hasilnya sebuah ruangan hancur berantakan kerena sebuah pertunjukkan pertarungan.
dan kini sang tuan Romi tidak pernah memperlihatkan hidung batangnya lagi?. kemanakah gerangan?!.
sebenarnya kisah apa yang tengah tuan besar mereka lakoni, kenapa terlihat serumit dan segila itu.
entahlah mereka juga tidak berhak tau, yang mereka berhak tau hanyalah tugas mereka yang harus melayani majikannya dengan sepenuh hati.
"aku memang memiliki permintaan kepadamu mas, tapi benarkan Aydan sangat tampan seperti Daddynya...(Rumi tersenyum tanpa menoleh kearah Dimana sumainya berada yang ada dihadapannya namun ia menatap lekat mata bayi mungil itu ,mata itu mengingatkan akan dirinya bermata dengan manik bulatnya dan hidung mancungnya sangat mirip dengan mas satrianya. dan pandangan Rumi beralih kepada sang pengasuh) bi aku sarapan dulu yah (menyerahkan Aydan kepada sang pengasuh) mommy isi dulu gizinya dan setelah itu mommy akan memberimu asi ok..". Rumi
entahlah perasaan Rama mengatakan dirinya terasa terabaikan disaat Aydan menempel pada Rumi, namun ia dengan segera menghempaskan perasaan cemburunya, Aydan kan adalah anaknya, anak kandungnya kenapa ia harus cemburu kepada bayi merahnya.
"sayang tunggu mommy yah...(disaat Aydan akan dibawa oleh pengasuhnya dan beralih kepada Rumi) ayo sayang kita sarapan dulu (dengan senyum senangnya ya berkat Aydan juga sang istri yang dulu terlihat buruk sekarang jauh lebih baik dan terkadang terasa menginginkan perhatian darinya, mungkin karena kerja keras Rama untuk meruntuhkan tembok pembatas diantara dirinya dan Rumi lahan perlahan luntur dengan siraman -siraman kasih sayang yang Rama selalu berikan kepada sang istri)". Rama
"eem...(mengiyakan)". Rumi
"terima kasih istri tercintaku.
cup...cup..cup...(rama mengecup singkat kening,hidung dan bibir sang istri ,itu adalah ritual pagi yang selalu dilakukan Rama ketika ia akan berangkat kekantornya untuk Rumi dan hal itu membuat seisi rumah/penghuni rumah merasa bergelora bersemu merah dikedua pipinya bagi siapa saja yang menyaksikannya)". Rama
"hati-hati mas, cup...(kecupan singkat Rumi labuhkan dipipi sang suami dan mengecup punggung tangan milik suaminya yaitu semua atas permintaan Rama dan Rumi hanya pasrah menurutinya)". Rumi
selepas kepergian Rama.
__ADS_1
"sayang jagoan mommy... pelan-pelan saja (Rumi merasa senang sekaligus geli dibuat bayi merahnya yang kini bertambah dengan berat dan tingginya, ya baby Aydan menyusu dengan tidak sabaran hingga rasanya asi Rumi tersedot kuat) tampannya anak Daddy...mommy sangat merindukan daddymu sayang, lihatlah hidungmu begitu mirip dengannya...(Rumi mengelus pelan lembut kulit bayinya) dan apakah kau tau sayang mommy akan berusaha mempertemukanmu dengan daddymu...(Rumi menerawang disaat saat masa yang selalu indah terasa disaat dirinya berada dalam dekapan seseorang yang sekarang masih ia anggap menjadi suaminya)". Rumi
tanpa disadari Rumi mata sang tuan berkuasa ada dimana-mana, sedang-kan dirinya asyik mengobrol dengan sang buah hati melampiaskan rasa kerinduannya yang jelas bukan ditunjukkan untuk tuan Rama yang berkuasa.