
* Di dalam mobil *
"Daddy Caca sangat senang dad, (dengan mata penuh binarnya)". Caca
"betulkah...apa yang membuatmu terlihat begitu senang seperti itu? (Satria menyetir dengan sesekali melihat kearah sang anak)". Satria
"itu dad, Daddynya Raka...om Adam, Caca sangat menyukainya... selain manis om Adam juga sangat baik kepada Caca (terlihat Caca tersenyum- senyum sambil menerawang penuh binar)". Caca
"Hem, (Satria mendelik sedikit kaget akan penuturan sang anak, ada rasa yang berbeda namun Satria mencoba menghempaskan fikiran buruknya segera) apa yang membuatmu tersenyum-tersenyum seperti itu...apa kau menyukai om Adam karena ia telah memberikanmu sebuah boneka itu? (Satria dapat melihat Caca yang sedari tadi merangkul sebuah boneka kecil berwarna coklatnya)". Satria
"eem...(mengiyakan)". Caca
"huffft.... syukurlah, Untung saja aku tidak termakan perasaan burukku, ternyata benar ini hanya prasangka yang ku bayangkan saja....membatin. (ya Satria sangat takut jika Caca kecilnya sampai menyukai Adam dalam artian yang berbeda, bukannya itu sangat terlihat aneh dan menggelikan seorang anak kecil menyukai pria dewasa????)". Satria
setelah dirinya menunggu akan kedatangan Adam yang membawa anak dan anak dari kekasihnya dan beberapa saat menunggu akhirnya terlihatlah Adam dengan sosok kecil cantik dengan keceriaan yang selalu terlihat dirautnya telah kembali, Satria mengantar Rumi untuk pulang ke rumahnya, dan sekarang dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
# Flash back #
setelah cukup dengan dialognya Rumi dan Satria tersadar dengan dunia nyatanya bahwa mereka bukanlah hidup hanya berdua ,ada banyak mata dan sesekali mendapatkan ucapkan berupa sapaan. dan itu membuat keduanya sangat malu tapi senang.
"mas...(Rumi segera melepaskan dekapannya)". Rumi
"Hem, tidak apa-apa bukanya ini kewajaran seseorang yang saling mencintai...(dengan santainya)". Satria
"ekhm, (Dimas merecoki keduanya) dosen... apa anda baik-baik saja, lalu bagaimana dengan Ardi kenapa dia tidak ikut datang kembali? dan apakah tuan Rama berubah pikiran hingga dia tidak mengamuk? (dengan tatapan menunggu jawaban ya meskipun Dimas sudah mendengar samar penuturan dari Satria namun ia enggan untuk terkesan menguping ia ingin mempertanyakan secara langsung)". Dimas
"Hem...kak Ardi , dirinya akan menemui tuan Exel dan tuan Rama aku hanya sedikit memberikan pelajaran kepadanya...!!!. Dimas...(satria menepuk pelan pundak Dimas) terima kasih sudah menjaga Rumi...(dengan senyum simpulnya)". Satria
"Hem, tidak usah berterima kasih ini sudah menjadi kewajibanku...(membalas senyuman, dalam artian berbeda)". Dimas
tap..tap...dari arah pintu masuk terlihat seseorang laki-laki dewasa tampan dengan seseorang anak kecil ber ukuran sekitar 7 tahun dengan wajah datarnya sedangkan disampingnya terlihat seorang gadis kecil dengan wajah penuh binar dan senyuman manis yang selalu terlihat.
__ADS_1
"sayang....apa kau baik-baik saja".Rumi
dengan segera Rumi menangkap anak tersayangnya itu.
begitupun dengan Satria.
"Caca, apa yang kau bawa apa kau meminta untuk dibelikan??? (Satria mengelus rambut lurus panjang milik anak semata wayangnya dengan penuh perhatian)". Satria
"Caca tidak mintanya dad, om Adam yang membelikannya". Caca
Satria bangun dari posisinya dan menoleh kearah dimana seorang laki-laki dewasa dengan sebuah lesung dipipinya.
"tuan... maaf sudah merepotkanmu dan terima kasih sudah menjaga Caca. saya pribadi sangat berterima kasih...(dengan senyum ramahnya)". Satria
ya karena Satria menyadari Caca adalah seorang gadis manja dengan segala keinginan dan keceriaan menjadikan Caca sosok yang sedikit ambisius dengan apa yang diinginkannya.
"sama-sama ,tidak apa-apa tuan ini sudah menjadi tugas saya (membalas senyuman)". Adam
ya sejatinya Adam dan Satria sangatlah jarang berkomunikasi seperti ini menjadi ada sedikit kecanggungan diantara keduanya ya karena keduanya sering terlihat berselisih tatap disaat mendampingi Rumi dan itu membuat keduanya merasa canggung.
deggg.... suasana sedikit terasa aneh, ya caca meskipun adalah seorang anak yang penuh dengan kemanjaannya namun bukan berarti Caca dengan mudah menerima setiap orang yang dikenalnya se'akrab itu.
# Flash back off #
"kita sudah sampai (Satria memarkirkan mobilnya dan setelah itu ia membuka pintu mobilnya dan mengandeng anak semata wayangnya turun dan mulai memasuki rumahnya) bu...(Satria sedikit berteriak)". Satria
dari arah dapur muncullah seorang pelayan dengan wajah keibuanya ya seorang pelayan sekaligus pengasuh bagi Caca, seorang pengasuh itu berumur sekitar 55 tahunan sewaktu Satria pergi untuk menemui Rama ,Caca dititipkan dikampung karena Satria hanya menyewa seorang pengasuh sekaligus pelayanan hanya separuh hari saja (pagi-sore).
pengasuh ini sudah Satria anggap sebagai ibunya sendiri.
padahal Satria masih memiliki orang tua yang lengkap namun disaat dirinya diminta untuk tetap tinggal di kampung bersama anak semata wayangnya ia menolak, karena ingin bangkit dan berusaha melupakan tentang masa lalunya. masa disaat-saat indah bersama sang mendiang sang istri yang sempat membuat hidupnya terpuruk karena kehilangan sosok yang sangat ia cintai dan sayangi sebagai tempat melabuhkan hati dan sebagai semangat hidupnya.
__ADS_1
namun seiring berjalannya waktu ia tersadar ada Caca si gadis kecil dengan segala ke ceriaanya yang masih sangat membutuhknnya , dan bukanya masihlah panjang masa depannya!!! ia tidak mungkin untuk terus-menerus terpuruk dengan keadaan hingga Satria merantau ke daerah lain dan menetap dengan bakat dan kemampuan yang ia punya ia dapat masuk disalah satu sekolah paforit didaerah tersebut sebagai tenaga pengajar dan sampai sekarang ia menekuninya dan selang beberapa tahun ia dipertemukan dengan seorang perempuan yang bisa membuat hatinya merasakan debaran yang sama disaat dirinya pertama kali mengenal dan merasakan dengan yang namanya Cinta.
"ia nak....(seseorang itu tersenyum hangat kepada Satria) eh... Caca, cucu ibu Sudah kembali...apa pestanya meriah sayang?". pengasuh
"seru....dan sangat meriah Bu". Caca
ya Caca disini ikut-ikutan memanggil dengan panggilan ibu karena satria memanggilnya seperti itu.
"Hem,... maafkan Satria Bu, ibu jadi pulang kemalaman (Satria memberikan sebuah amplop berisi uang tunai)". Satria
"terima kasih nak, tidak apa-apa lagian rumah ibu kan tidak terlalu jauh dari sini hanya beberapa gang saja...". pengasuh
setelah pengasuh selesai dengan tugasnya dan sudah pulang kerumahnya,kini tinggallah Caca kecil bersama dengan sang Daddy.
"Caca sini....(satria menepuk kursi disebelahnya duduk setelah melihat anak semata wayangnya keluar dari dalam kamar) Daddy ingin menanyakan sesuatu kepadamu... Hem...(nampak Satria memutarkan tubuhnya hingga posisinya saling berhadapan) Caca...(dengan pelan) apa saja yang Caca lakukan disaat om Adam membawamu bersama Raka? (dengan tatapan mencari jawaban". Satria
_skip_
sementara itu Ardi telah tiba di kantor milik Exel.
"tuan, kau mau kemana? (disaat Ardi melihat Exel mengemasi barang-barangnya)". Ardi
"aku sudah selesai Ar, aku tidak bisa membantu lebih dari ini... maafkan aku aku harus pergi.". Exel
"baiklah, (nampak Ardi pasrah namun ia masih penasaran yang terpendam) terima kasih untuk semua, selama ini kau sudah berkorban dan banyak menyita waktumu untuk membantu keluargaku tapi boleh aku mengetahuinya kesepakatan apa yang sudah kau lakukan bersama tuan Rama??!". Ardi
"berhati-hatilah Ardi, Rama yang sekarang lebih pintar dan mempertimbangkan segala sesuatunya dia lebih teliti... rahasiaku ia mengetahuinya, dan kita telah melakukan sebuah kesepakatan jika aku ingin hidup bebas tanpa gangguannya maka aku harus pergi dari kehidupan kalian dan jika aku langgar maka keluargaku akan menjadi amukkannya. dan yang perlu kau ingat Ardi, * Rama akan membiarkan Rumi dan menjauh dari kehidupan Rumi bersama anaknya asal Rumi tidak membuka hatinya untuk orang lain. dan ketika orang lain mulai mendekatinya maka orang tersebut akan Rama hancurkan beserta keluarganya. (Exel mengungkapkan dengan rasa bersalahnya)". Exel
"kesepakatan Macam apa itu, ini tidaklah masuk akal jelas ini bukan sebuah kesepakatan Exel...(nampak Ardi tidak terima)". Ardi
"aku sudah mengancamnya dengan bukti kejahatan yang ia pernah lakukan, namun dia tidaklah takut bahkan lebih mengancamku lebih dari itu... maafkan aku kawan hanya sebatas ini yang bisa aku lakukan. aku pergi, semoga keajaiban segera datang dan akan menolong Kalian (Exel menepuk pelan pundak Ardi yang nampak geram yang tertahan)". Exel
__ADS_1
ya Exel bisa bertaruh apapun demi kawannya Ardi yang beberapa tahun lalu ia kenal. namun apalah daya disaat Rama memainkan keluarga kecilnya untuk menaklukannya.
"tunggu... tidaklah usah meminta maaf. ini bukanlah salahmu kawan, aku berterima kasih, berbahagialah ...keluarga kecilmu menanti akan ke datanganmu...sampai jumpa kawan!! (Ardi tersenyum kearah lawan bicaranya dan sesaat saling berpelukkan)". Ardi