Tangisan Suci

Tangisan Suci
Hari ini 3


__ADS_3

"dokter ahhhh.....(Rumi menjerit dengan rasa yang ada)". Rumi


"tenanglah nyonya...dorong..terus..". dokter spesialis


rasanya bagai diiris mendengar jeritan Rumi yang tiada henti-henti.


Rama yang semula memutuskan untuk menunggu kini ia kembali memutuskan menggenggam tangan lemah itu.


"bertahanlah sayang...kuatlah demi anak kita, aku yakin kau pasti bisa. maafkan aku , maafkan aku yang sudah memaksamu untuk menerima ku untuk yang kedua kalinya....(rama menggenggam erat dan menautkan diantara jemari-jemari Rumi dengan tatapan teduhnya menatap tepat dimanik yang menunjukkan kegelisahannya) dan maafkan aku Sampai kapanpun aku tidak akan bisa untuk melepasmu. aku begitu sangat mencintaimu... Rumi..aku benar-benar sangat mencintaimu". Rama


"hiks....(hanya tangisan yang mewakili perasaan Rumi seluruh tubuh dan hatinya bagaikan dalam genggaman tangan yang senantiasa selalu mengatur hidupnya bahkan rasa sakit yang berkali -kali lipat yang Rumi dapatkan disaat Rama selalu ada dalam tatapannya yang selalu meminta untuk berhubung badan dengannya. Rumi sangat benci kepada Rama benar-benar benci. ya semuanya itu tidak terlepas karena Rumi membenci seseorang yang telah melenyapkan kebahagiaannya bersama orang-orang terkasihnya)". Rumi


"pergilah mas aku tidak mau melihat mu...dokter tolong usir dia... hiks...". Rumi


melihat itu dokter terpaksa memberanikan nyalinya demi keselamatan dan ketenangan pasiennya dengan sedikit memainkan kosakatanya.


"tuan , bukan maksud nyonya seperti itu...mungkin sang calon bayi yang memintanya... jangan bertanya kepada nyonya kenapa, semakin nyonya gelisah dan menangis semakin sulit untuk kami...(dengan bahasa sehalus dan selembut mungkin memberikan pengertian pamungkasnya)".salah satu dokter spesialis


grebbb.... Suara sebuah pintu yang ditutup secara cepat dan mengandung kekesalan dihati.


"apa-apa'an ..Hem... huffffft (nampak Rama menyandarkan punggungnya dipintu yang tertutup rapat itu dengan mengatur nafasnya yang nampak sempat naik-turun)". Rama


setelah kepergian Rama.


"dorong terus nyonya, kami percaya nyonya bisa...ya bagus...terus..!".para dokter


"ahhhhh.... sakit ..aku mohon sayang kuatlah... bantulah mommy... daddymu ingin melihat kelahiranmu..ahhh...(disini Rumi persembahkan untuk mas satrianya seorang)". Rumi

__ADS_1


dengan sekuat tenaga dan seluruh nafas Rumi berikan untuk anak yang berusaha ia lahirkan hingga Suara tangisan mungilah yang mengisi ruangan itu.


Suara tangisan itu sampai ke pendengaran sang tuan berkuasa Rama.


dengan segera Rama masuk menerobos para dokter yang masih sibuk dengan tugasnya.


"anakku.... bayiku...ini Daddy sayang...Daddy kandungmu...(terlihat Rama tidak sabar disamping sang bayi yang baru akan dibersihkan)". Rama


dan beralih kepada Rumi.


"sayang terima kasih, aku tau kau pasti bisa.. terima kasih aku sangat bahagia...(Rama seakan melupakan dengan apa yang sudah terjadi beberapa menit lalu penolakkan Rumi bagi sosok Rama adalah hal yang biasa rasa bahagiannya memiliki anak keduanya bersama orang yang paling ia cintai mengalahkan segalanya bahkan Rama sampai menyalami para dokter dengan senyuman kegirangan)". Rama


"mas...(ada tatapan iba disaat melihat raut bahagia dari seseorang yang paling ia benci, ya Rumi sedikit merasa bersalah kepada Rama yang sudah tidak berterus terang bahwa anak yang baru ia lahirkan adalah anaknya bersama satria, namun bukan tanpa alasan Rumi melakukannya. ia tidak mau kalau sampai anaknya menerima amukkan dari Rama dan bahkan disingkirkan dari rahimnya sebelum waktunya)". Rumi


_skip_


2 bulan kemudian


"om...hiks...". Caca


Caca mendekap erat om manis dan tertampannya.


"tenanglah, coba Caca ceritakan kepada om Adam dengan pelan, ayo... (Adam dengan sabar mengiring Caca disebuah kursi di kafe yang ia kelola itu dan menepuk-nepuk punggung yang terus bergetar karena isakkanya. ya bagi Adam ternyata Caca bukalah sosok gadis hanya dengan tingkat kemanjaannya saja melainkan Caca juga adalah gadis yang asyik setelah Adam mengenalnya lebih dekat)". Adam


# Flash back #


"kebiasaan om Adam selalu melarang Caca untuk membantun nya...(sedikit kesal namun tidak berani protes yang)". Caca

__ADS_1


Caca yang bosan berada di kafe milik Ardi yang kini dikelola oleh Adam nampak keluar dari area kafe dan duduk disebuah kursi memanjang ditaman kecil didepan kafe tersebut tanpa sepengetahuan Adam.


"Daddy.... bergumam! (disaat netranya melihat sosok yang paling ia rindukan) Daddy ...Daddy Satria...(memanggil-manggil dengan tidak sabaran Caca yang berumur hampir 8 tahun itu berlari-lari cepat kearah seorang laki-laki yang akan menaiki sebuah taxi)". Caca


dan alangkah sedihnya Caca disaat laki-laki yang begitu sama rupa dengan Daddynya tidak mendengar panggilanya dan melaju dengan taxi yang ditumpanginya.


# Flash back off #


"Satria... bergumam". Adam


"eem...(mengiyakan)". Caca


"apakah Caca tidak salah lihat... membatin.(Adam menerawang pada hampir 1 tahun lalu disaat ia syok dengan kondisi Caca dan Satria dan disaat itu ia bingung untuk memilih siapa yang akan ia selamatkan diantara keduanya)". Adam


"om Caca mohon carilah Daddy Satria...(di sisa isakkannya)". Caca


"baiklah sekarang cara tenang, om akan memberitahu hal ini kepada tuan Ardi.


sekarang Caca ambil tasnya ikut pulang bersama om (dengan tatapan semangat entah kenapa ia sesemangat ini padahal Satria adalah orang yang dicintai perempuan yang dulu ia sangat cintai dan karena Satria lah cintanya harus kandas sebelum berperang)". Adam


"siap, terima kasih om (dengan senyuman cerianya)". Caca


"nah, seperti itulah kau akan terlihat lebih manis disaat tersenyum seperti itu...(Adam memberikan senyuman manisnya)". Adam


deggggg.......


Caca melongo mendapatkan senyuman yang begitu manis namun Caca belum bisa mengartikan getaran didadanya.

__ADS_1


__ADS_2