
"Ya sudah,akang nikahi saya agar saya ada yang lindungi dan ada yang ngangkat harkat derajat saya kang! gak papa saya jadi yang kedua! saya juga masih perawan kang!" kata Indri.
Semua santri langsung ricuh mendengar perkataan Indri yang gak tahu malu.Dia minta di nikahi oleh laki laki yang jelas sudah mempunyai istri.
"Indri!" bentak Maya dengan tiba tiba karena sudah tidak tahan menahan amarah.
"Apa?" tanya Indri dengan santai.
"Dasar gak tahu malu! wanita tidak punya harga diri kau!" kata Maya dengan nada bicara yang sangat tinggi.
"Aku rela menjual harga diriku karena cinta!" kata Indri yang tak kalah meninggikan nada bicara.
"Naya,pinjam tasbih!" kata Maya sambil menamprakan tangannya.
"Gak bawa!" kata Maya.
"Bawa dulu cepat! biar syetan yang ada di diri wanita ini bisa kepanasan!" kata Maya.
Kang Hatim hanya diam dengan tangan di lambai lambai yang terlihat dari bawah meja dengan harapan Hana bisa mengerti namun Hana hanya menyaksikan perdebatan antar teman temannya.
"Teh,lihat itu!" bisik Ros yang melihat isyarat kang Hatim.
"Apa?" tanya Hana sambil melihat tangan kang Hatim.
Hana menatap wajah kang Hatim dan kang Hatim mengangguk.
Hana pergi menghampiri kang Hatim.Sementara Maya,Naya dan Indri masih sibuk debat.
__ADS_1
"Kamu percaya sama saya kan?" tanya kang Hatim setelah Hana sampai di depan.Hana mengangguk menjawab pertanyaan kang Hatim.
"Sekarang,kamu ke rumah teh Dawa,suruh teh Dawa ke sini! cepat!" kata kang Hatim.Hana mengangguk dan langsung pergi ke rumah teh Dawa.
"Apa urusan kamu? ini urusanku dan urusan kang Hatim!" kata Indri.
"Kang Hatim guruku! suami dari temanku! urusan mereka urusanku juga!" kata Maya.
"Apa salahnya coba,aku hanya minta di nikahi sama laki laki yang cinta!" kata Indri.
"Jelas salah! dasar abrohah!" kata Maya.
"Gak ada yang salah bodoh,sudah kang Hatim katakan tadi,bahwa laki laki punya hak menikahi empat orang wanita!" kata Indri.
Maya tidak berkata kata lagi dan langsung menampar wajah Indri hingga Indri tersungkur dan memegang pipinya.
"Hey hey!" teriak kang Hatim yang takut jika mereka lanjut berkelahi.
Semuanya melihat ke arah kang Hatim yang berteriak.Wajahnya merah padam dengan nafas yang memburu.
"Kang,lihat pipi saya jadi merah di tampar Maya kang!" kata Indri dengan tidak tahu malu minta perhatian kang Hatim dengan membuka cadarnya dan memperlihatkan pipi merahnya itu.
"Kelakuan kalian seperti anak kecil! Apa kalian tidak malu sudah besar bertengkar?" tanya kang Hatim.
"Maya duluan kang!" kata Indri.
"Diam!" bentak kang Hatim.
__ADS_1
"Hatim!" panggil teh Dawa dengan buru buru naik ke madrasyah lantai dua tempat ngaji para santri.
Bukan hanya teh Dawa yang datang.Teh Zahra juga datang karena di suruh umi yang mendengar keributan dari sini.
"Ada apa ini?" tanya teh Dawa.
"Kenapa kamu bentak bentak Hatim?" tanya teh Zahra.
"Tanya saja sama mereka!" jawab kang Hatim.
"Sudah tenang dulu!" kata teh Zahra.
"Ada apa ini? kenapa kalian ribut?" tanya teh Dawa dan para santri langsung diam termasuk Maya dan Indri.Mereka menunduk takut.
"Hana mana?" tanya kang Hatim.
"Di rumah umi!" jawab teh Zahra.
"Apa kalian tidak tahu? kalian membuat keributan di madrasyah lantai dua dengan dinding yang bukan terbuat dari tembok,tapi dari GRC itu bisa terdengar ke mana mana.Buktinya teh Zahra bisa tahu kalau di sini ada keributan hingga dia naik ke sini! padahal,yang di panggil ke sini saya! Suara berisik kalian terdengar sampai ke baitussalam awal!" kata teh Dawa.
"Maaf teh!" kata Maya.
"Ada apa dengan kalian? kenapa kalian bertengkar?"
"Indri membuat saya kesal teh,Indri meminta kang Hatim menikahinya di depan kami semua teh!" kata Maya.
"Saya cuman minta di nikahi kang Hatim,gak salah kan teh? kan kang Hatim ustadz,sudah memenuhi syarat bisa menikahi empat wanita!" kata Indri membuat semuanya kaget.
__ADS_1
*jangan lupa gabung dengan grup chat Author Syiba ya😇🙏