Ustadz Muda

Ustadz Muda
#252


__ADS_3

Detik demi detik berubah menjadi menit.Menit ke menit menjadi jam.Jam ke jam menjadi hari.Dari hari ke hari menjadi minggu.Semakin lama dari minggu ke minggu menjadi bulan.Semakin lama semakin lama dari bulan menjadi tahun.


Begitu juga umur,semakin lama memang hitungan kita sebagai manusia semakin nambah hitungan.Tapi hakikatnya jatah umur kita semakin mengurang.


Badan yang tadinya sehat smakin lama semakin sering sakit sakitan.Kulit yang tadinya kencang menjadi keriput.Mata yang tadinya sangat jelas saat melihat sesuatu,makin lama makin buram.Telinga yang tadinya bisa mendengar dengan jelas,semakin tua semakin melemah.Lisan yang tadinya bisa bicara dengan jelas,menjadi tidak jelas.Kaki yang selalu berjalan dengan tegak bisa berjalan dengan cepat,kini mulai kurang langkah.


Begitu juga dengan sepasang suami istri yang selama ini selalu romantis dalam rumah tangga mereka.Saling menjaga satu sama lain walau sesekali ada salah faham antara satu sama lainnya,namun karena di dasari dengan rasa cinta dan rasa kasih sayang yang kuat,rumah tangga mereka masih berdiri dengan kokoh.


Semakin hari,ada aja undangan untuk si Ustadz Muda kang Hatim ceramah.Hana juga selalu ikut kemanapun suaminya pergi ceramah.


Kari ini juga kang Hatim ada undangan ceramah.Niatnya dia ingin pergi sendiri tanpa membawa Hana.Tapi Hana kekeh ingin ikut.


Kang Hatim melarang istrinya ikut karena Hana hamilnya sudah semakin tua semakin besar.Rasanya amat bahaya jika kang Hatim membawanya.


"Tunggu aja di sini ya! Jangan ikut! Nanti akang nyuruh teman kamu buat nemenin kamu!" bujuk kang Hatim.


"Gak mau ah! Pokok nya bagaimanapun aku mau ikut!" kata Hana.


"Ayolah hubbi,akang takut ada apa apa di jalan kalau kamu ikut! Takut perut kamu keram,atau apa gitu!"


"Ya gak papa,kan kalau di jalan tinggal bawa ke rumah sakit! Atau ke klinik!"


"Iya gampang! Tapi kan hari ini akang ceramah ke kampung! Jauh dari rumah sakit! Jauh dari klinik!"


"Ah alesan aja itumah! Aku tahu akang pasti gak mau aku ganggu kan?"


"Astaghfirullah hubbi,bukan gitu! Kalau emang akang gitu,ngapain akang dari kemarin bawa bawa kamu!"


"Atau jangan jangan mulai ada main ya?! Mentang mentang aku udah jadi gendut!" kata Hana.

__ADS_1


"Ih,kamu apa apaan sih? Coba deh kamu berpikir positif tingking! Jangan negatif mulu! Selalu aja mikir nya gitu!" kata kang Hatim.


"Aku mau ikut!" kata Hana dengan manja.


"Nanti akang telepon teh Alvi buat nemenin kamu!"


"Gak mau! Mau ikut!"


"Teh Zahra gimana? Biar kamu bisa belajar kalighrafi?!"


"Ikuut!"


"Ngaji deh ngaji! Kamu boleh ikut ngaji sama santri!"


"Gak mau! Ikut! Ikut ikut!"


"Besok kita ke Jakarta!"


"Iya beneran!"


"Tapi tetep! Nanti mau ikut!"


"Ih kamu! Ayolah bi! Akang mohon! Ini terakhir akang ngisi acara ceramah! Besok gak lagi! sampai kamu lahiran! Setelah ini akang fokus jagain kamu!"


"Tapi beneran gak ada main di belakang aku kan?"


"Tidak hubbi! Gak mungkin!"


"Bukan karena aku gendut,akang malu bawa aku?"

__ADS_1


"Bukan! Akang khawatir sama kamu! Kamu juga kalau ikut akan di larang sama umi karena umi juga khawatir sama kamu! Dari kemarin aja udah gak dibolehin ikut! Dari pada umi yang larang! Mending akang yang larang!"


"Ya sudah deh!"


"Mau di temenin siapa?" tanya kang Hatim.


"Maya sama Naya aja!"


"Ya sudah! Nanti akang suruh mereka berdua ke sini! Akang berangkat habis maghrib!"


"Biasanya ba'da ashar?" tanya Hana.


"Jadwal akang jam sebelas! Jadi bisa santai!" jawab kang Hatim.


"Bukannya di dua tempat ya?"


"Iyaa! Akang mulai ceramah jam sebelas,sampai setengah dua belas paling lama,terus berangkat ke lokasi ke dua sekitar satu jam setengah! Naik panggung jam setengah tiga sampai jam empat paling lama!"


"Yah,terus pulang ke rumah jam berapa?" tanya Hana.


"Kira kira pagi lah!"


"Yaaaah! Gak jadi dong ke Jakarta nya!"


"Akang usahain ya!"


"Ya sudah deh! Lihat besok aja ya? Kalau akang cape ya gak apa gak jadi ke Jakarta juga!" kata Hana menyenderkan tubuhnya.


"Terima kasih ya! Kamu istri sholehah! Calon ratu bidadari syurga! Perhiasan yang paling indah di dunia!" kata kang Hatim mencium pucuk kepala istrinya.

__ADS_1


"Love you hubbi!" kata kang Hatim.


"Love you too habibii!" jawab Hana.


__ADS_2