
"Cara yang kedua,panggil orang tua c wanita itu dan jelaskan baik baik!" kata kang Rahmat.
"Kamu milih cara yang mana?" tanya teh Dawa.
"Kan sudah ku katakan! aku tidak mungkin menikahinya! jadi panggil saja orang tuanya dan kalian jelaskan dengan baik! alasan aku tidak mau menikahinya karena aku belum bisa bahagian hubbi,dan aku akan setia pada hubbi!" jawab kang Hatim dengan memeluk Hana dengan tangan kanannya.
"Teh,kita pulang yu?" ajak teh Dawa.
"Kenapa?" tanya teh Zahra.
"Aku jadi ingin balik ke masa muda!" kata teh Dawa.
"Emang teh Dawa waktu muda romantis gitu?" tanya kang Hatim.
"Rom...."
"Boro boro Tim,mau meluk aja di susah!" jawab kang Rahmat motong jawaban teh Dawa.
"Ooh gitu ya kang? kenapa bisa gitu?" tanya kang Hatim.
"Eh kan dia mah terkenal galak! jadi akang gak berani mau meluk meluk seperti kamu! akang hanya bisa diam menunduk walau kami menikah bukan karena perjodohan tapi karena akang ngajak ta'aruf dan tidak di sangka mau,tapi tetap akang canggung! apalagi kan dia akan guru akang!" jawab kang Rahmat membuat teh Dawa menatapnya sinis.
"Terus bisa luluh gimana kang?" tanya kang Hatim.
"Tim,nanti kita lanjut berdua ya ngobrolnya,bahaya Tim,nanti gak bisa masuk rumah lagi,atau harus tidur sama Zulfi!" kata kang Rahmat yang menyadari posisinya tidak aman.
"Tim,awas kamu!" kata teh Dawa.
__ADS_1
"Apa?" tanya kang Hatim.
"Malam ini Hana teteh bawa ke rumah teteh tidur sama teteh,dan kamu,Kang Rahmat,dan Zulfi tidur di sini!" kata teh Dawa.
"Eh kenapa bawa bawa Hana,gak bisa! aku gak bisa tidur tanpa Hana! Hana sumber kehangatan bagiku Auw!" kata kang Hatim hingga pahanya di cubit oleh Hana.
"Bagus Na,dasar bucin!" kata teh Dawa.
"Dasar galak!" kata kang Hatim.
"Hana jadi teteh bawa!"
"Gak bisa!"
"Heh,malah berantem!" kata teh Zahra.
"Kembali ke laptop!" kata kang Ahmad.
"Jadi gimana?" tanya teh Zahra.
"Sudah,besok pagi kabarin orang tua perempuan itu dan suruh datang ke sini!" jawab kang Hatim.
"Kamu saja yang ngabarin!" kata teh Dawa.
"Gak mau ah,malu!" kata kang Hatim.
"Aku aja!" kata teh Zahra.
__ADS_1
"Terus,yang ngomong sama orang tuanya siapa?" tanya kang Hatim.
"Kamu!" jawab kakak kakaknya.
"Oh no!" jawab kang Hatim.
"Kita sama sama saja!" kata kang Rahmat.
"Ya sudah,nanti teteh kabarin orang tua Indri,dan nanti kita kumpulnya di sini saja! kalau di rumah umi,takutnya umi tahu masalah ini!" kata kang Hatim.
"Iya,rencana kami juga begitu!" kata teh Dawa.
"Ya sudah,sekarang kita pulang yu? dah malam,belum sholat isya!" kata kang Ahmad.
"Iya,ayo!" kata teh Zahra.
"Tim,kami pulang dulu ya!" kata teh Zahra.
"Iya,tapi habiskan dulu teh nya! sayang,sudah capek capek hubbi membuatkan teh hangat gak di habiskan!" kata kang Hatim.
"Iyaaa!" kakak kakak kang Hatim langsung menghabiskan teh hangat yang sudah mulai dingin itu sambil senyum senyum bahagia melihat keromantisan adik mereka.
"Sudah habis tuh,kamu pulang dulu ya!" kata teh Zahra sambil berdiri diikuti adiknya dan adik iparnya.
"Iyaa!" jawab kang Hatim dan ikut berdiri begitu juga Hana dan mereka mencium tangan kakak kakanya.
*Gabung di grup AuthorSyiba ya,jadi kalian bisa ngobrol sama Author,bisa mengkritik,bisa bertanya tanya masalah,bisa curhat,siapa tahu Author bisa bantu menyelesaikan masalahπ πππ
__ADS_1