Ustadz Muda

Ustadz Muda
#191


__ADS_3

Tempat pemandian jenazah sudah siap untuk di pakai.Yang akan di mandikan duluan adalah ayah Bima duluan.


Kang Hatim meminta bantuan kepada kakak kakak iparnya agar membawa jenazah ayah Bima ke tempat yang sudah di sediakan.Yang di siapkan langsung oleh kang Hatim sesuai dengan sunah sunah yang ada menurut kitab kasifatussaja atau sarah dari kitab safinah.Yang di antaranya harus di tempat tertutup,tidak langsung menghadap ke langit alias ada atapnya,menyiapkan kayu sidri tidak lupa menyiapkan air hangat.


Setelah ayah Bima di bawa dan sudah di tempatkan dengan sempurna,kang Hatim mulai memandikkan ayah Bima yang lagi lagi di bantu oleh kakak kakak iparnya yang memang mereka semua adalah Ustadz.


Setelah selesai,ayah Bima di bawa lagi ke dalam rumah untuk di kafani yang lagi lagi di bantu oleh kakak kakak ipar kang Hatim.


Setelah selesai ayah Bima di kafani dengan sempurna seperti dalam kitab safinah yaitu menggunakan tiga lapis kain kafan putih,kemudian giliran bu Nuraeni yang di bawa ke pemandian oleh kakak kakak kang Hatim di bantu oleh pembantu di rumah itu dan sebagian tetangga yang ikut membantu.

__ADS_1


Hana juga bukan tidak mau membantu,namun di cegah sama kang Hatim karena saat Hana berdiri saja sudah oleh tidak kuat menahan kesedihan dalam hatinya yang menimbulkan lemas pada badannya.


"A-aku mau lihat ibu!" kata Hana dengan lemas.


"Iya,nanti juga lihat lagi setelah di mandikan! tunggu sebentar ya!'' kata kang Hatim.


"Iya non Hana! Yang sabar aja ya! Lagian kalau non Hana ikut memandikan jenazah bu Nuraeni,takut air mata non Hana netes ke jenazah bu Nuraeni! Kan tidak boleh!" kata salah satu tetangga yang duduknya tidak jauh dari Hana dan kang Hatim.


"Kata orang orang tua! kata mereka kalau jenazah terkena tetesan air mata maka saat di akhirat nantinya akan terjadi hujan besar!'' jawab tetangga itu.

__ADS_1


"Mitos bu,emangnya orang itu udah ke akhirat gitu? Apapun yang terjadi di akhirat setelah orang meninggal,tidak akan ada yang tahu seperti apa di sana! Yang ada di dalam Al-Qur'an,atau Hadist atau kata ulama ulama,itu hanya gambaran! Tidak ada yang tahu seperti apa di sana aslinya!" kata kang Hatim dengan nada bicara tidak memojokkan namun dengan lembut membuat si ibu itu mengangguk angguk mengerti dan tidak tersinggung.


Tidak lama kemudian,bu Nuraeni sudah di bawa kembali ke daloam rumah untuk di kafani yang sempurna sesuai kitab safinah yaitu memakai qomish atau baju gamis kemudian memakai kerudung,memakai sarung kemudian di tambah dua lapis lagi jadi total lima lapis kain kafan putih.


Hana semakin menangis setelah melihat ibu dan ayahnya terbungkus menggunakan baju terakhir mereka dengan keadaan tidak bisa berbuat apapun.Jangankan berbuat sesuatu walaupun Hana mengharapkan ucapan selamat tinggal dari kedua orang tuanya pun sekarang sudah tidak bisa.


Jangankan seorang Hana seorang anak tunggal yang sangat manja kepada orang tuanya namun harus masuk pesantren demi mencari ilmu hingga terpaksa harus berpisah dengan orang tuanya hinggga jarang bertemu,pasti saat di tinggalkan akan sangat sakit sekali rasa yang dia rasakan.Seorang yang selalu dekat dengan orang tuanya pun akan merasakan apa yang di rasakan oleh Hana saat kehilangan orang tuanya.Apalagi saat kehilangan seorang ibu yang bukan hanya anggap sebagai ibu saja.Melainkan di anggap sebagai teman curhat keluh kesah,di anggap sebagai ATM pribadi dan ibulah yang melahirkan kita yang menyusui kita yang membesarkan kita.Begitu juga dengan ayah.Dia yang selalu mencari nafkah untuk anak anak dan istrinya yang selalu menunggu kepulangannya di rumah.Bahkan saat seorang ayah sedang tidak semangat bekerja karena capek,namun dia teringat anak dan istrinya di rumah sehingga dia semangat lagi memaksakan dirinya untuk kerja.


#Sanditeguhmaulana

__ADS_1



^^^mampir ygy^^^


__ADS_2